Vivian Hilang

1425 Words
Siluet bayangan menghalangi matahari yang masuk lewat jendela kamar Zio yang kini sudah terbuka meskipun pemiliknya masih meringkuk dan memeluk guling dengan begitu erat. “Zio, mau sampai kapan kamu tidur?” “Ayam-ayammu sudah sedari tadi berteriak meminta makan.” “Para pekerja sudah sedari tadi menanyakanmu.” “Sudah dua kali juga Bibi ke kamarmu.” “Apa perlu Bibi menyirammu dengan seember air?” Zio terjangkit bangun begitu mendengar ancaman Zelina. Dia masih ingat dua hari lalu Zelina benar-benar menyiramnya dengan seember air hingga membuat Zio harus membeli kasur yang baru karena kasurnya yang basah kuyup tidak mungkin mengering dengan cepat. “Aku benar-benar akan memecat Bibi kalau sampai Bibi menyiram kasurku lagi,” ancam Zio pada Zelina yang sudah bekerja di rumah ini sejak kedua orang tuanya masih hidup. “Siapa juga yang menyiram kasurmu. Bibi menyiram sosok malas yang bersembunyi di bawah selimut dan berada di atas kasur itu,” balas Zelina dengan suara sengit. Dia tahu ancaman yang keluar dari bibir Zio tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan karena Zio sudah seperti anaknya sendiri, dia yang mengasuh Zio sejak bayi dan tetap setia menemani Zio hingga kini. “Bibi, aku sedang malas. Bisa kah Bibi Lin membiarkan aku tetap di kasur … hari ini saja,” pinta Zio dengan rengekan manja yang kerap dia lontarkan pada wanita tua yang sedang berdiri di depannya dengan sebilah tongkat yang dijadikan alat bantu Zelina untuk berjalan. “Apa yang membuatmu malas, Boys.” “Bukankah bulan depan kamu akan menikah dengan wanita pujaanmu dan untuk itu kamu harus semakin gigih bekerja agar orang tuanya semakin yakin menitipkan putri mereka padamu, Zi,” ujar Zelina yang malah membuat Zio kembali membaringkan badannya. “Aku malas membahas itu, biarkan aku sendiri sementara waktu,” pinta Zio sebelum membungkus dirinya dengan selimut yang menutupi hampir sekujur tubuh. Zelina terdengar mendesah, kasur Zio terasa sedikit goyah saat Zelina mendudukan tubuhnya di samping Zio. “Katakan apa yang terjadi hingga semalam kamu tidak makan dan pagi ini kamu pun terlihat malas?” tanya Zelina yang sudah hapal dengan watak Zio. Zio membuka selimut yang menutupinya. Dia tahu kalau dirinya tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari Zelina. “Vivian hilang.” “Hilang?” ulang Zelina dengan nada penasaran yang sama sekali tidak bisa dia tutupi. “Bagaimana mungkin dia hilang, Zi.” “Vivi bukan anak-anak.” “Dia tidak mungkin diculik, dia juga tidak mungkin tersesat, Zi,” oceh Zelina yang membuat Zio memaksa tubuhnya untuk bangkit dan duduk bersila di hadapan Zelina. “Aku tidak berpikir seperti itu, Bi.” “Lantas kenapa kamu bilang kalau dia hilang?” selidik Zelina dengan memicingkan matanya. “Rumahnya kosong, ponselnya tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan ponsel kedua orang tuanya.” “Dia tidak berada di toko dan tidak ada juga di rumah Oma Rose. Aku sudah mencarinya dan tidak ada yang tahu dimana dia,” aku Zio dengan nada kecewa yang tidak bisa dia sembunyikan. “Kamu sudah mengirim pesan pada Vivi?” “Sudah, tidak terkirim.” “Apa mereka sengaja pergi?” tebak Zelina yang membuat Zio kembali membanting badannya ke atas kasur. “Sudah lah, Bi. Tolong tinggalkan aku sendiri,” pinta Zio yang belum ingin membahas hal ini. “Katakan pada Ramon untuk menghandle semua tugasku,” sambungnya sebelum kembali menutupi dirinya dengan selimut. Zelina menghembuskan napasnya dengan kasar. Terlalu rumit perjalanan cinta anak asuhnya, Zio begitu gigih membuktikan kesungguhan cintanya pada Vivian. Dia tidak menyangka kalau Vivian kini menghilang. Entah sengaja menghilang atau dipaksa pergi oleh kedua orang tuanya. Prasangka buruk tidak bisa dia cegah. Semuanya bermunculan begitu saja mengingat betapa Damian dulu menentang hubungan Vivian dan Zio. Suara ketukan tongkat Zelina menandakan wanita tua itu kini benar-benar meninggalkan kamar Zio. Zio kembali membuka selimut yang menutupi wajahnya. Dia tidak mungkin kembali tidur. Kini ada satu tempat yang harus dia datangi untuk mengetahui semua jawaban dari pertanyaannya. *** “Paman Damian harus menjelaskan semuanya,” monolog Zio saat dirinya sudah berada di depan gedung pencakar langit, di perusahaan milik keluarga Vivian dan Zio yakin kalau Damian berada di sana. “Selamat pagi, saya mau bertemu dengan Om Damian," ujar Zio saat dirinya sudah berada di depan meja resepsionis. “Selamat pagi tuan muda, Tuan Damian sudah dua hari tidak ke kantor, semua urusan perusahaan dihandle oleh sekertarisnya. Apa tuan muda ingin menemui Mister Oliver?” tanya Resepsionis yang memang sudah mengenal Elzio sebagai calon suami dari Vivian. “Iya,” putus Zio dengan cepat. Dia mengira kalau Oliver pasti tahu keberadaan Damian dan keluarganya. Tidak mungkin sekertaris Damian, orang yang paling dipercaya oleh calon mertuanya tidak tahu kemana perginya Damian sekeluarga. “Mister Oliver,” panggil resepsionis pada pria yang baru keluar dari Elevator. Oliver langsung berjalan menuju meja resepsionis saat dia mengetahui Elzio berada di sana. Oliver sudah menebak kalau kedatangan Elzio pasti untuk mencari Damian. “Selamat pagi tuan Elzio, ada yang bisa saya bantu?” tanya Oliver dengan nada ramah karena dia tahu pria muda di hadapannya adalah calon menantu dari bos besar di perusahaan ini. “Saya tidak mau berbasa-basi. Katakan dimana Om Damian?” “Tuan Damian sudah tidak dua hari tidak masuk kantor. Nomornya pun tidak bisa kami hubungi,” ujarnya sama seperti yang sudah dikatakan resepsionis pada Elzio. “Tidak mungkin dia meninggalkan perusahaan ini begitu saja.” “Tolong katakan dimana Om Damian,” pinta Elzio dengan suara yang terdengar menggeram. Wajahnya terlihat memerah dengan kedua tangan yang terkepal. Elzio sudah tidak bisa menahan emosinya. Semua orang seperti sengaja menyembunyikan Vivian darinya. “Saya benar-benar tidak tahu dimana tuan Damian selama dua hari ini, Zi-” “Bohong!” teriak Elzio dengan menghantam meja kaca resepsionis dengan tangannya hingga darah terlihat mengucur dari jari-jarinya bersamaan dengan suara kaca yang pecah. “Kalian benar-benar kejam!” “Aku akan menemukan Vivian meskipun kalian menyembunyikannya di atas awan sekali pun!” teriaknya menggema. Seseorang di balik tembok merasa teriris mendengar teriakan dan luapan amarah dari Elzio. Namun, dia harus bertahan dan tetap bersembunyi di tempatnya. Dia tidak mungkin keluar dari sana dan mengatakan dimana Vivian sebenarnya. Oliver dan semua yang berada di sana hanya bisa diam membisu melihat kemarahan Elzio. Mereka tidak berkata sepatah kata pun hingga Elzio berbaik meninggalkan mereka dan terlihat menjauhi gedung milik Papah Vivian. Zio masuk ke dalam mobil dan memukul stir dengan tangannya yang masih mengeluarkan darah. Mau tidak mau Zio mengambil kotak p3k yang selalu dia bawa dan membalut lukanya agar darah segar berhenti menetes. “Vi, dimana kamu? Aku merindukanmu, Vi,” rintihnya dengan memandangi foto Vivian yang terlihat begitu bahagia dengan memamerkan cincin di jari manisnya. “Tuhan, tunjukan dimana Vivian berada,” mohonnya sebelum kembali menjalankan mesin mobil dan melanjutkan tujuannya mencari keberadaan Vivian. “Kamu dimana Vi.” “Kamu juga tidak berada di sini,” gumam Zio saat melewati sebuah taman yang sering dia kunjungi bersama Vivian di Sabtu sore. Zio mematikan mesin mobil, matanya tertuju pada sebuah ayunan di bawah pohon besar yang sering diduduki Vivian yang dengan manja akan meminta Zio terus mengayunnya dengan menceritakan impian-impian Vivian tentang pernikahan impiannya. “Sebentar lagi mimpimu akan menjadi nyata, Vi.” “Selangkah lagi semua khayalanmu akan aku wujudkan.” “Kembalilah Vi, aku tak mampu hidup tanpamu.” Guk … guk … guk …. Suara anjing menggonggong membuat Zio tersentak. Dia melihat seekor anjing yang terus menggonggong dengan menghadap ayunan yang menjadi objek penglihatannya sedari tadi. Zio keluar dari mobil, ada dorongan aneh yang membuat Zio memutuskan untuk mengusir anjing agar menjauhi ayunan yang menjadi tempat favorit Vivian selama berada di taman ini. Pemilik anjing besar pun datang, dia meminta maaf pada Zio karena mengira anjing miliknya telah mengganggu kenyamanan Zio. Zio hanya mengembangkan senyum di bibirnya melepas kepergian anjing besar bersama sang tuan. Dia sudah membalik badan dan bersiap untuk kembali berjalan menuju mobilnya. Namun, sebuah suara yang terdengar lirih membuat Zio menghentikan langkahnya. “Tolong … tolong aku.” Zio menengok ke segala arah untuk mencari sumber suara yang dia dengar, suara jeritan dari seorang perempuan yang meminta tolong. Namun, berulang kali Zio membalik dan memutar badannya. Dia tetap tidak menemukan siapa pun di sana. “Tolong aku, tolong ... aku di ayunan.” Mata Zio melebar mendengar teriakan yang mengatakan kalau ada seseorang yang berada di ayunan. Namun, netranya dengan jelas melihat tidak ada seorang pun berada di sana. “Tolong … aku butuh bantuanmu. Tolong aku ….” Zio bergidik, seketika bulunya meremang. Tidak ada siapa pun di sana. Namun, suara perempuan yang meminta tolong terus saja terdengar di telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD