Awal Yang Buruk

1070 Words
Acara pernikahan diadakan dengan sederhana, dan dekorasi seadanya saja. Tidak banyak yang datang hanya ada keluarga kedua belah pihak dan juga tetangga dekat saja. Kania tak mau ia difitnah gara-gara pernikahannya, makanya hanya ini yang bisa dilakukan keluarga Daffa untuk waktu yang singkat. Tadinya kelurga Daffa ingin Kania dan Daffa menikah di rumah sakit saja, tanpa ada acara. Namun, ditolak mentah-mentah oleh Kania karena ia tak ingin menjadi bahan fitnah karena pernikahan tersembunyinya itu. Kania melihat ke arah jendela kamarnya, terlihat banyak mobil berjejer di halaman rumah Kania bahkan sampai di luar halaman. Pantas saja nenek memaksaku, ternyata dia orang kaya batin Kania dengan senyum ejekannya. “Hei anak pembawa sial, sini kamu,” perintah Mila. Dengan cepat Kania berjalan ke arah Mila, ia takut jika membantah perintah neneknya, Mamanya yang akan menjadi sasaran. “Cepat sini, lelet!” marah Mila dan menarik tangan Kania agar segera mendekatinya. Kania berjalan menuruni anak tangga, tiba-tiba suasana menjadi sepi saat ia datang. Sedari tadi Kania menundukkan pandangannya, ia terlalu malu menatap semua orang apalagi dengan dandanan yang menor seperti ini. “Selamat ya Kania,” ucap salah satu sepupunya. Kania hanya merespon dengan senyum tipisnya. "Apa aku sudah menikah?" batin Kania bertanya-tanya. "Secepat itukah, tidak adil," batin Kania miris dengan nasibnya. Dada Kania tiba-tiba sesak mengetahui nasibnya, ia harus terlihat baik-baik saja di depan semua orang, berpura-pura bahwa ia bahagia dengan pernikahan tak masuk akalnya ini. "Sakit sekali ya tuhan," batin Kania menangis. Namun tak sampai mengeluarkan air matanya. Pura-pura baik saja, suatu hal yang sering dilakukan Kania. Bahkah kata-kata itu sudah tertanam di otaknya. Tanpa sadar ia sudah berada di depan suaminya, ia terdiam tak tau apa yang harus dilakukan. “Kania ayo jabat tangan suami kamu,” kata Anella—bunda Daffa, ia gemas melihat Kania yang hanya terpaku di tempatnya. Kania masih diam terpaku, dengan kepala ditundukkan. “Kania.” Kali ini Dania menepuk punggung Kania, agar tersadar. “Ehh, apa,” kata Kania terkejut atas tepukan mamanya. "Cantik," batin Daffa. Untuk pertama kali bisa melihat wajah Kania dengan jelas. Daffa sudah memperhatikan Kania semenjak Kania menuruni anak tangga tetapi ia tidak bisa melihat dengan jelas karena Kania menundukkan kepalanya. Daffa memberi kode kepada Kania untuk menjabat tangannya, ia tau diri untuk tidak memaksa Kania. Sebenarnya Daffa kesal dengan Kania, tangannya hampir kebas menunggu balasan uluran tangan Kania. Namun Daffa, tidak bisa berbuat apa-apa tidak mungkin ia memarahi Kania di hari pertama in menjadi suami Kania. Kania melihat beberapa detik ke arah Daffa, lalu dengan ragu-ragu ia menyambut uluran tangan Daffa. “Daffa ayo,” kata Bunda menyuruh Daffa mencium kening Kania. Dengan sangat terpaksa Daffa melakukan itu. “Maaf,” kata Daffa lalu mencium kening Kania. Kania terkejut benda kenyal itu menempel di keningnya, ini pertama kali ia seintim ini dengan laki-laki selain ayahnya. “Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan,” batin Kania, ia terlalu malu hanya sekedar melihat ke arah Daffa suaminya. Ya sekarang Daffa sudah menjadi suaminya. Sedangkan ia berstatus istri dengan umur semuda ini, ia tak tau apa rencana semesta sehingga menghadirkan Daffa dalam hidupnya. Entah itu berakhir bahagia ataupun sedih, tak ada yang tau bukan. Tapi, ia berharap semua akan baik-baik saja. *** “Terimakasih ya, nak, sudi menjadi menantu kami,” ucap Aditiya—ayah Daffa dengan nada lembut. “Iya Om,” balas Kania dengan nada yang sama. “Jangan panggil om dong sayang panggil ayah dan bunda saja, ia kan Daf” kata Anella mengejek Daffa. Daffa tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang orangtuanya bahas, sedari ia sibuk mengecek email yang masuk dari cabang perusahaan keluarganya di Singapura. Ia terlalu lama meninggalkan singapura karena neneknya sakit, di tambah lagi pernikahan mendadaknya. Ouh jadi namanya Daffa batin Kania, baru tau nama suaminnya. “Ya sudah, kalian pasti capek kan, Kania, ajak Daffa ke kamar,” kata Dania menarik tangan Kania untuk segera masuk ke kamarnya. Daffa memperhatikan aktivitass, lalu ia menatap Kania yang sudah berdiri tak jauh darinya sambil menundukkan kepala. Ia tau Kania sedang menunggunya. Ia penasaran kenapa Kania selalu menundukkan kepala, banyak hal yang ganjal di kepala Daffa. Pertama kenapa orangtua Kania menikahkan Kania dengannya, sedangkan Kania baru masuk kuliah apakah orangtua Kania tidak ingin melihat Kania sukses dulu baru menikah. Kedua, kenapa Kania seakan-akan memiliki banyak beban, tapi yang ia lihat orangtua Kania sangat menyanyangi Kania. Tapi kenapa menikahkan Kania? Daffa rasa keluarga Kania bukan dari keluarga miskin, bisa ia lihat keluarga Kania termasuk keluarga berada, sepertinya ia belum mengenal Kania. "Apa aku semenakutkan itu sehingga kamu tak menoleh padaku," batin Daffa jengkel atas sipat Kania. Kania dan daffa melangkahkan kaki menuju kamar Kania di lantai atas. Sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara, Kania yang masih menunduk dan Daffa yang mengikuti langkah Kania dari belakang. “Silakan masuk Mas.” Kania mempersilakan Daffa masuk. Daffa masuk, melihat sekeliling kamar Kania, sederhana dan tidak banyak furniture-furniture di kamar Kania. Hanya ada meja rias kecil, satu meja belajar dan ranjang untuk tidur. “Maaf mas, kamar Kania tidak sebesar kamar mas,” kata Kania sambil melihat Daffa yang berjalan menjelajahi kamarnya. “Tidak apa-apa,” jawab Daffa seadanya. “Saya keluar dulu Mas,” pamit Kania, ia memilih keluar karena tau pasti Daffa butuh privasi untuk membersihkan diri. “Di bayar berapa sama keluarga saya, sehingga kamu mau menikah dengan saya?” tanya Daffa dengan nada ejekannya. “Maksudnya?” tanya Kania tak mengerti perkataan Daffa. “Pasti dibayar mahal kan, mana ada orang seperti keluarga kamu, mau yang gratis,” sarkas Daffa lagi sambil menatap lurus ke arah Kania yang tepat berdiri di depannya. Kania mengepalkan tangannya mendengar perkataan Daffa. Ia sedikit sakit mendengar perkataan Daffa. Walaupun ia tak dianggap di rumah ini, tapi tetap saja mereka semua adalah keluarganya. "Sabar Kania, sabar, bukankah kamu sudah terbiasa diperlakukan buruk seperti ini," batin Kania menyemangati dirinya sendiri. “Berapa?” tanya Daffa lagi. Kania menghela napas menjawab pertanyaan Daffa. “Saya keluar dulu Mas,” kata Kania, ia tak mau menjawab pertanyaan Daffa, yang dapat menimbulkan masalah lain di hidupnya nanti. Untuk hari ini sudah cukup ia mengeluarkan air matanya. “Mau kemana?” tanya Daffa sambil membuka jas yang ia pakai untuk acara resepsi mereka. “Keluar, nanti saya ganggu mas lagi,” ucap Kania sambil menundukkan kepalanya. Ia tak berani melihat Daffa dengan keadaan Daffa setengah telanjang seperti itu. “Di sini saja, siapin baju saya, saya mandi dulu,” perintah Daffa, berjalan menuju kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD