Daffa Marah

1193 Words
"Sudah pulang?" tanya orang itu, berdiri di samping mobilnya. Kania kaget mengetahui Daffa ada di depannya. "Pak Daffa? Kenapa ke sini?" tanya Kania. "Apakah butuh alasan Agar saya menemui kamu?" Daffa balik bertanya ke Kania. Kania mengaruk lehernya yang tidak gatal, binggung harus menjawab pertanyaan Daffa. " Ya, tidak juga sih Pak," jawab Kania seadanya. "Ya sudah, ayo masuk," kata Daffa sambil membuka pintu mobil untuk Kania. Kania hanya mengikuti saja ke mana Daffa membawanya, mau bertanya pun ia takut. Aura intimidasi Daffa sangat lah kuat sehingga membuat Kania tunduk padanya. Berada di samping Daffa saja rasanya seperti sedang ujian semester. Ia juga mendengar dari teman-temannya di kampus, kalau Daffa masuk di jajaran dosen killer di kampusnya. Menakutkan sekali berada di samping Daffa. "Tadi saya lihat, ada laki-laki yang masuk ke kos kamu, bukankah kosnya khusus cewek saja?" tanya Daffa setelah sekian lama mereka terdiam. Kania binggung bagaimana menjelaskan ke Daffa. "Pindah saja dari sana tidak aman buat kamu. Kenapa tidak tinggal di apartmen saja?" tanya Daffa sesekali melihat ke arah Kania. Bukankah uang yang diberi Daffa ke Kania lebih dari cukup hanya sekedar menyewa apartmen saja. Kania terdiam dengan pertanyaan Daffa, ia mencari jawaban yang pas untuk bisa menjawab pertanyaan Daffa. Tidak mungkin ia mengatakan 'uangnya tidak cukup untuk menyewa apartmen, bisa makan saja Kania sudah sangat bersyukur' sebisa mungkin ia menyembunyikan pekerjaannya dari Daffa. "Apartmen jauh dari kampus pak," kata Kania. "Kenapa tidak beli mobil saja?" tanya Daffa lagi. "Owh, kita ke rumah Bunda, ya," kata Kania melihat mereka memasuki komplek rumah mertuanya. Kania sering ke rumah Anella di saat ia libur kerja sehingga ia tau di mana letak rumah mertuanya itu. Kania berusaha menghindari pertanyaan dari Daffa, ia tak ingin Daffa menanyakan lebih lanjut mengenai kehidupannya. Terlalu dini Daffa tau tentangnya, ia harus mengenal Daffa terlebih dulu, baru memutuskan untuk mempercayai Daffa atau tidak. *** Mereka berdua di sambut hangat oleh Anella dan Aditya, yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka. "Ayo masuk Nak, kamu nggak kerja hari ini?" tanya Anella, kejoblosan mengatakan itu di depan Daffa. Daffa yang sedang menaiki tangga mengurungkan niatnya dan berbalik ke arah Kania dan Anella yang sedang duduk di ruang santai. Sedangkan Aditya, memijit keningnya atas kecerobohan istrinya. "Maksud Bunda apa? Siapa yang kerja? Kania?" tanya Daffa bertubi-tubi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Daffa. "Kita makan dulu baru ayah jelasin," kata Aditya lembut. Ia tak ingin menyulut amarah Daffa. "Berapa banyak kebohongan lagi," ucap Daffa lalu beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Daffa benci jika ada yang berbohong padanya, apalagi itu keluarganya sendiri. *** Suasana di meja makan berubah sunyi, tidak ada yang berani membuka suara. Sedari tadi Daffa memasang wajah dingin dan datarnya. Tidak biasanya Daffa begitu, Daffa adalah pribadi yang ramah jika di luar kampus, jika di kampus baru ia bersikap tegas karena bagi Daffa profesionalitas dalam bekerja itu penting. "Kenapa tidak meminta izin ke Mas jika ingin bekerja?" tanya Daffa dengan muka datarnya. Kania menundukkan kepala mendengar nada intimidasi yang di keluarkan Daffa. "Kenapa diam? Lupa kamu, kamu masih memiliki Mas dalam hidup kamu?" tanya Daffa lagi membungkam mulut Kania. Rasanya Kania ingin menangis saja mendengar nada dingin yang di keluarkan Daffa. "Daffa sudah, bicarain baik-baik. Kania juga punya alasan untuk nggak ngasih tau kamu Daffa," bela Anella. "Ayo Kania, Bunda antar kamu ke kamar," kata Anella sambil menuntun Kania. "Kania pulang aja Bun," ucap Kania lagi, semakin menyulut amarah Daffa. "Tidur di sini," ucap Daffa dengan nada dingin dan datarnya. Daffa memijit keningnya tanda ia pusing dengan masalah yang dihadapinya sekarang. "Nak, jangan terlalu keras dengan Kania. Salah kami juga tidak memberitahu kamu, bicarain baik-baik dengan Kania. Sudah banyak kesedihan yang ia terima selama ini," ucap aditya membuat Daffa sedikit tenang. "Yah, Daffa ke atas dulu," pamit Daffa. Kembali Ke Kania dan Daffa. Mereka masih terdiam dengan pemikirannya masing-masing. "Pak, saya tidur di bawah saja, saya takut menganggu Pak Daffa," kata Kania setelah melihat wajah tak bersahabat dari Daffa. "Terserah kamu," kata Daffa membelakangi Kania. Setelah Daffa pikir-pikir, sepertinya percuma saja ia bertanya ke Kania tentang kenapa wanita itu bekerja ataupun kenapa tidak ada yang memberitahunya bahwa Kania kuliah di kampusnya. Paling-paling Kania akan mengarang cerita sehingga membuat ia percaya. Daffa memilih mencari tau sendiri saja daripada bertanya ke Kania. "Baiklah Pak." Kania meratapi nasibnya, ternyata sama saja tidak ada yang berubah. Ia kira Daffa akan bersikap baik padanya, ternyata ia salah. Daffa sama saja dengan Ayah dan Neneknya, selalu memarahi Kania, tanpa mendengar dulu penjelasan dari Kania. "Pak Daffa tidak mau mendengar penjelasan saya?" tanya Kania, harap-harap cemas jika Daffa marah lagi. "Tidak perlu," kata Daffa lagi masih dengan nada dingin dan datarnya. “Tuhan ambil saja nyawa hamba, kenapa penderitaan ini tak pernah berakhir. Apa salah hamba,” batin Kania miris dengan hidupnya. Ia mencoba untuk tidur berharap ini semua adalah mimpi dan Kania terbangun di kosnya nanti. Daffa belum tidur, ia tidak bisa tidur setelah mengetahui sedikit tentang Kania, ia tak tau mengapa Kania banyak menyembunyikan sesuat darinya. Ia sedikit menyesal telah meninggalkan Kania setehun yang lalu. Daffa berjalan melihat Kania tertidur di lantai tanpa alas dan juga bantal. “Apa itu tak menyakitimu hmmm,” batin Daffa, melihat Kania meringguk karena dinginya marmer di kamar Daffa. Di tambah lagi pintu kamar balkon terbuka, membuat udara semakin dingin. “Maafkan aku, telah membentakmu tadi,” batin Daffa lagi, memindahkan Kania di atas kasur tepat di sebelahnya. Daffa tidak ingin menjadi suami yang jahat dengan membiarkan Kania tidur di lantai. Tadi ia hanya kesal dengan pertanyaan Kania, makanya ia membiarkan saja Kania tidur di lantai tanpa alas. *** Anella sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya. "Bun, Kania udah bangun?" tanya Aditya yang sedang membaca koran. "Sepertinya belum yah," jawab Bunda. "Itu Kania," tunjuk Aditya saat melihat Kania menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. "Sarapan dulu Kania!" teriak Anella yang melihat Kania berlari menuju pintu utama. "Di kampus aja bun!" balas Kania. "Anak itu, dia berusaha dengan sangat keras untuk hidupnya," beo Aditya sambil melihat Kania yang sedang menaiki ojek online yang di pesannya. "Andaikan kita cepat menemui Kania, pasti hidupnya tidak akan seperti ini," jawab Anella. "Sarah, maafkan kami," lanjut Anella lagi. "Sudahlah, yang penting Kania ada bersama kita sekarang," kata Aditya, tidak ingin Anella menyalahkan dirinya sendiri atas penderitaan Kania. "Tapi Kania tetap menderita bersama kita Aditya, Kania nggak mau menerima bantuan dari kita," ucap Anella dengan sendu. Bahkan ia sempat menghapus air matanya, yang tak sadar menumpahkan air matanya. "Anella, kita masih punya Daffa, Kania akan menolak bantuan dari kita. Tapi, tidak dengan Daffa, Kania tidak mungkin menolak apapun dari Daffa karena Daffa suaminya. Kamu tau kan Kania, sangat menghargai Daffa dalam hidupnya, " jelas Aditya menenangkan Anella. "Ia Yah, aku percaya Kania tidak akan menghianati Daffa, tapi bagaimana dengan Daffa? Sepertinya Daffa membenci Kania," bantah Anella lagi. "Anak kita orang yang bertanggung jawab, percaya saja padanya," kata Aditya. Aditya dan Anella pernah menawarkan kepada Kania untuk tidak bekerja. Tapi Kania menolak itu mentah-mentah, alasannya karena tak ingin merepotkan mereka. Mereka tau uang yang dikimkan Daffa untuk Kania di kuasai Wahyu tanpa memberi sepersen pun kepada Kania, saat mereka membahas ini, Kania seakan tuli tak ingin mendengarkan. .Mereka tau Kania membiarkan itu demi mamanya, Kania tak ingin mamanya menderita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD