Kamar 13

1298 Words
                “Aku menelponmu karena takut kamu khawatir, ternyata kamu baik-baik saja,” kata Reno kecewa dan dengan suara lirih. “Aku memang khawatir. Tapi aku tidak apa-apa jika kamu tidak pulang. Aku yakin kamu adalah pria baik dan setia yang tidak akan pernah tega menyakitiku dan Diva,” sahut Astrid kemudian. “Tentu. Aku tidak akan pernah bisa menyakiti kalian ...,” timpal Reno dengan wajah datar. “Sekarang kamu ada di dalam kamar?” “Iya, aku dan Clara bersebelahan kamarnya.” “Cepatlah beristirahat. Karena besok pagi kamu harus segera kembali lagi mengemudi untuk pulang kan ...,” kata Astrid lagi. “Iya, kamu benar. Selamat tidur. Sampaikan cium sayangku pada Diva,” jawab Reno dan kemudian mematikan panggilan telponnya tepat dengan suara halilintar yang menggelegar. Lalu suara gedoran pintu kamar yang terdengar nyaring. Hampir membuat jantung Reno berhenti karena terkejut. “Ren ... Reno!” Suara Clara memanggil namanya. Reno menarik nafas lega saat mendengar suara Clara. Tadinya ia kira siapa. “Iya, sebentar,” jawabnya sambil berjalan menuju pintu kamar dan kemudian membukanya. Terlihat Clara berdiri di depan pintu dengan wajah sangat ketakutan. “Ada apa?” tanya Reno cemas. “Boleh kita tukeran kamar?” tanya Clara dengan wajah penuh harap. Reno mengerutkan dahinya. “Tukeran kamar?” Clara mengangguk yakin. “Iya, tukeran kamar. Aku baru sadar kalo kamarku nomer tiga belas. Mana serem banget ...,” jawabnya sambil menyelonong masuk ke dalam kamar Reno tanpa permisi. Sayangnya Reno juga bukan pria bernyali besar jika dikaitkan dengan hal-hal seperti ini. Dia lebih baik dihadapkan dengan lima preman dan bisa dihempas dengan karatenya dari pada harus berurusan dengan hal-hal mistis. Clara yang sudah mengganti pakaiannya dengan jubah mandi berbahan handuk lembut berwarna putih yang seperti selimut, duduk di tepi ranjang. Enggan untuk beranjak lagi. “Ra, kenapa kamu malah duduk di situ?!” seru Reno dengan sepasang alis mengerenyit. “Kita tukeran kamar!” Reno menggelengkan kepalanya dan kemudian menarik tangan Clara agar berdiri dari ranjang. “Engga mau tukeran. Kamu di kamarmu saja!” “Engga mau Ren. Lagian kamar ini dan sebelah kan aku yang bayar,” gerutu Clara. “Urusan dan tanggung jawab kamu dong itu. Di sini kan kamu yang jadi Nyonyanya. Wajar dong kalo kamu yang bayar. Masa aku?!” “Please Ren ... Aku di sini aja.” Clara memohon. Dua telapak tangannya terkatup menjadi satu dan diarahkan pada Reno. “Please ...Minimal kamu lihat dulu kamarku di sebelah.” Reno menghela nafas panjang. “Oke. Tapi kalo tidak ada apa-apa. Kamu kembali lagi ya ke kamarmu.” “Iya .. iya ... aku akan kembali ke kamarku,” jawab Clara dengan mimik muka mengiba. Reno sudah akan melangkahkan kakinya untuk keluar kamar. Tapi lengannya langsung ditarik Clara. “Ren ....” “Ada apa?” tanya Reno dengan dahi yang mengerenyit. “Aku akan lihat kamar di sebelah.” “Kamu belum ganti pakaianmu? Ini masih basah ....” Clara menyentuh kemeja yang dikenakan Reno. Terasa basah di telapak tangannya. “Iya, aku belum sempat, tadi aku menelpon Astrid.” Mendengar jawaban Reno, perlahan tangan Clara yang memegangi kemeja Reno itu perlahan terlepas. Apa yang dikatakan Reno barusan, mengingatkan Clara jika harus ada batas di antara ia dan Reno. Kini hubungan mereka tidak lagi sama. Bahkan untuk menjadi sekedar sahabat pun sulit. “Periksalah kamarku. Tapi gantilah pakaian basahmu dulu,” kata Clara lagi. Reno terdiam sejenak. Menatap perubahan mimik muka Clara yang drastis berubah menjadi  datar. Tapi ia tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai perubahan ekspresi Clara itu. Langkah kakinya menuju kamar mandi yang ada di ujung kamar dan tangan kanan Reno mengambil jubah mandi yang tergeletak di samping Clara duduk. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Reno mengganti pakaiannya. Hanya sekitar beberapa menit dan Reno sudah keluar dari kamar mandi lagi. “Ayo kita ke kamarmu. Pasti kamu ketakutan hanya efek karena saat ini sedang hujan deras dan petir terdengar menyeramkan.” Clara berdiri dari duduknya dan mengikuti Reno berjalan menuju kamarnya yang ada di sebelah. “Aku tidak salah lihat Ren. Aku seperti melihat seorang pria berdiri di dekat jendelaku. Saat petir mengkilat, aku melihat bayangannya dengan jelas. Seorang pria bertubuh tinggi dan kurus berdiri di balik jendela.” “Di dalam kamar?” “Bukan. Dia berdiri di luar kamar tepat di balik jendelaku.” “Kreeeek ....” Suara pintu terdengar menyeramkan ketika di buka. Membuat bulu kuduk Reno berdiri seketika. Angin berhembus pelan dan menggoyang-goyangkan tirai jendela. Pemandangan taman di luar yang gelap dengan satu lampu taman yang tidak terlalu terang di tambah dengan suara halilintar memang terasa menyeramkan. Reno melangkahkan kakinya perlahan. Sepasang matanya menatap sekeliling kamar yang terasa dingin walau tanpa air conditioner yang menyala. Reno pun mendekatkan diri ke jendela dan kemudian menyibakkan tirai ke samping bersamaan dengan petir yang menyambar dan silaunya kilat menyilaukan mata. “Tidak ada apa-apa Ra ....” “Benar?” tanya Clara yang masih berdiri di gawang pintu kamar. “Iya. Lagi pula hari gini engga akan ada yang namanya hantu,” kata Reno sok berani. Padahal tadi jantungnya berdegup dengan kencang karena ketakutan setengah mati. “Aku bukan takut dengan hantu,” jawab Clara sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Lalu?” “Aku takut dengan manusia dari pada hantu,” jawab Clara lirih. “Dan nomer tiga belas itu, nomer sialku.” Reno tersenyum tipis. “Itu hanya mitos.” “Bagaimana jika yang tadi itu adalah paparazi?” Clara menunjuk ke arah jendela lebar dengan kaca tebal yang tembus pandang. Tirai penutup jendela bergerak-gerak tertiup angin. “Saat aku tidur dia mengambil fotoku. Atau seorang fans maniak yang tidak punya pikiran?” Reno terdiam. Menatap manik mata Clara. Dari sorot mata Clara nampak sekali wanita itu tidak berbohong. “Memang paparazi begitu menyeramkan seperti itu ya?” “Ck ....” Clara berdecak kesal. “Menurutmu? Paparazi bukan wartawan resmi. Mereka akan mengambil foto dan mencari informasi tentangku lalu dijual dengan harga tinggi.” “Dan kamu pernah di teror oleh fans maniak?” tanya Reno lagi. “Lebih tepatnya fans yang cinta buta. Awalnya menyenangkan. Merasa dihargai dan dicintai. Tapi lama-lama menyeramkan ...,” jawab Clara dengan tatapan mata menerawang. “Aku pernah mendapatkan hadiah mobil dari seorang fans. Lalu engga lama dia ngajak aku chek in di hotel. Lalu aku pernah mendapatkan telpon dari fans. Entah dari mana dia mendapatkan nomer telponku− ....” Clara menghela nafas panjang. “Dan hampir setiap tengah malam dia menelponku.” Reno menatap Clara. Ada rasa iba di dalam tatapan Reno itu. Namun kemudian Reno tersenyum simpul. Apa pun itu, semua yang dirasakan Clara sekarang adalah keinginan dan pilihannya di masa lalu. “Jadi karena itu kamu membutuhkan sopir yang sekaligus pengawal?” Tatapan Clara yang tadi lurus menerawang kini beralih menatap Reno. “Ya, betul. Dan aku sudah membayar mahal untuk mendapatkan jasamu. Aku harap kamu tidak mengungkit-ngungkit ini lagi!” tutur Clara mulai ketus dan angkuh. “Oke ... Oke ... Masalah mengenai kamarmu telah selesai. Kamarmu tidak ada apa-apa. Jadi aku akan kembali lagi ke kamarku. Besok pagi kita akan pulang. Dengan cuaca yang terang dan baik, aku yakin bisa dengan cepat memperbaiki mobilmu.” Clara menaikkan kedua alisnya ke atas. Ia tidak bersuara lagi dan membiarka Reno pergi dan kembali ke kamarnya. Hingga .... “Jegeeeer!!!” Suara halilintar menggelegar dahsyatnya bukan main. Spontan Clara berteriak dan memeluk punggung Reno dan belakang. Dan berberengan dengan halilintar yang menggelegar kencang, listrik pun padam. Gelap gulita. Kepala Clara tersadar di punggung Reno yang bidang dan hangat. Kedua tangannya terkait di pinggang Reno. ‘Deg!’ Jantung Reno berdegup kencang dan nyaris berhenti ketika Clara memeluknya. Clara memejamkan kedua matanya. Indera pendengarannya seraya berdengung karena suara halilintar yang kencang tadi. “Jangan pergi, Reno ....”   Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD