Sepasang mata Reno berkeliling memandangi seluruh ruangan ketika Bi Kesi, asisten rumah tangga Clara itu mempersilahkannya masuk.
“Silahkan duduk tuan ...,” ucap Bi Kesi pada Reno sambil tersenyum ramah. “Nyonya Clara akan segera tiba secepatnya.”
Tidak begitu lama, terdengar gema derap langkah kaki di rumah yang sangat besar dan juga ruangan luas ini. Clara berjalan menghampiri Reno dengan senyuman mengambang lebar di wajahnya. “Hai Reno,” sapanya.
Saat Clara telah tiba di ruang tamu, Bi Kesi langsung berjalan mundur dan menganggukkan kepalanya. Meninggalkan Reno dan Clara, lalu menuju kembali ke dapur untuk membuatkan Reno dan Clara jamuan minuman dan camilan.
“Aku tidak menyangka kamu tahu rumahku,” kata Clara sambil duduk di samping Reno.
Duduk mereka masih berjarak dan berjauhan di atas sofa yang besar dan panjang. Reno menatap Clara yang baru saja mandi dan aroma khas yang telah lama ia lupakan itu menusuk hidungnya. “Tentu saja aku tahu. Siapa yang tidak kenal dengan Clara? Seorang selebritis terkenal. Bahkan biodatanya dapat ditemukan dengan mudah di internet,” jawab Reno dengan wajah datarnya.
Clara merapatkan bibirnya rapat-rapat. Entah mengapa mendengar Reno mengatakan hal demikan membuat hatinya merasa tidak nyaman.
Bi Kesi datang kembali sambil membawa nampan di tangannya. Lalu ia menaruh dua gelas bermodel tinggi berisikan jus jeruk dan juga dua piring pancake dengan taburan madu dan juga buah stroberi di atasnya.
“Ayo, kita makan dulu Ren,” kata Clara sambil mengambil piring berisikan pancake itu dan kemudian memotong dan melahapnya. Seakan mereka makan bersama di ruang tamu.
“Terima kasih, aku sudah makan tadi di rumah. Ayolah makan bersamaku sekarang. Tadi aku belum sempat makan apa-apa karena kamu pagi-pagi sudah datang ke rumah dan mencariku. Untung saja aku sedang ada di rumah. Jika tidak kamu pasti akan kembali pulang tanpa bertemu aku.”
Reno menghela nafas panjang dan akhirnya ia mengambil piring yang sudah berisikan pancake di atas meja. Ia ikut menikmati pancake buatan bi Kesi yang lezat.
Setelah beberapa menit mereka menikmati sajian pancake yang manis dengan segelas jus jeruk kental segar. Clara menaruh piringnya di atas meja sambil tersenyum lebar. “Hm ... Ada apa kamu mencariku?” tanyanya sambil menaikkan kedua alis ke atas.
Reno telah menghabiskan separuh pancake dan menaruh piring itu kembali ke tempat semula, di atas meja.
Clara menunggu Reno menjawab pertanyaannya.
“Apa tawaranmu saat terakhir kali kita bertemu masih berlaku?” tanya Reno dengan tatapan serius.
“Yang soal pekerjaan itu?” Clara berbalik bertanya.
Reno menganggukkan kepalanya. “Hm ... Iya, yang itu.”
Kini Clara yang terdiam lebih dahulu tidak langsung menjawab. Ia mengamati Reno lebih dulu. Menatapnya lekat.
“Bagaimana ...? Apa tawaran itu masih berlaku?” tanya Reno lagi.
Wajah Reno tidak bisa menyembunyikan siratan pengharapan.
Akhirnya Clara menganggukkan kepalanya setelah beberapa menit. Kemudian di dalam keheningan dan pandangan mereka yang saling menatap Clara, mulai bersuara lagi. “Kamu sudah berbicara pada Astrid akan bekerja denganku?”
“Tentu aku sudah membahas hal ini dengan dia sebelumnya.”
“Baguslah. Karena aku tidak ingin ada masalah ke depannya karena kamu bekerja menjadi supir dan juga pengawal pribadiku.”
“Dan bagiamana dengan Wildan?” celetuk Reno membuat Clara yang tadinya akan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa mendadak langsung menegang.
“Hm ... Apa?” Kedua mata Clara mendelik.
“Apa kamu sudah mengatakan pada Wildan jika akan mengangkat seseorang untuk menjadi sopir dan pengawal pribadimu? Aku pernah membaca berita seputar selebriti di sosial media, jika Wildan tipe seseorang yang temperamen dan ringan tangan,” jawab Reno lantang.
Bibir Clara yang terkatup, tidak sadar perlahan terbuka. “Jadi kamu juga sering melihat pergosipan rupanya,” katanya sambil tertawa ringan.
Reno membalas tawa Clara. Suasana kebersamaan mereka sedikit mulai mencair. Tidak kaku seperti kemarin-kemarin.
“Bahkan berita soal kamu pernah hamil aku juga dengar.” Reno menambahi.
Seketika raut muka Clara yang tadinya tertawa berubah cepat menjadi datar.
Reno menyadari perubahan sikap Clara. Ia menatap manik mata wanita yang pernah memberikannya kebahagiaan dan juga kesedihan di masa lalu. “Apa berita itu benar ...? Kamu pernah hamil? Dan di mana anak yang kamu kandung itu ...? Kapan kamu hamil dan melahirkannya? Di foto yang beredar di internet, terlihat foto itu adalah kamu di masa lalu, Clara ....” Reno memberondong pertanyaan tanpa jeda. Entah mengapa hanya karena melihat selembar foto, sejak saat itu hatinya gelisah.
Berondongan tanya dari Reno, membuat tenggorokan Clara mendadak kering. Jantungnya berdegup sangat kencang. “I-itu hanya berita hoax!” sahut Clara mencoba menutupi kepanikan di wajahnya. “Maklum kan, aku sekarang artis. Dan aku termasuk artis yang sering dihujat. Banyak haters-nya!” Clara mencoba kembali tertawa walaupun terdengar dipaksakan.
“Jadi semua berita di internet yang kini mulai viral di mana-mana hanya hoax? Bahkan foto kehamilanmu yang mamakai daster di masa lampau itu pun hanya dibuat-buat?” Reno terlihat tidak mudah dibohongi.
“Itu foto masa lampau saat aku sedang casting audisi sebuah film. Aku belom terkenal saat itu. Masih merintis. Aku casting audisi film dan diminta memerankan ibu hamil,” dalih Clara dan kemudian ia langsung berdiri dari tempat duduknya. “Mulai sekarang kamu sudah berkerja denganku. Aku harap kamu cepat mengerti betapa sibuknya aku.”
Clara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. “Jam dua siang aku ada pekerjaan. Mengisi waktu sebagai bintang tamu di sebuah stasiun tv swasta. Kita berangkat sekitar pukul satu siang. Sebelum jam satu siang itu sepertinya kita masih memiliki waktu kosong karena tidak ada jadwal. Bisa kita menjemput Diva dan kita jalan-jalan bersama? Ada waktu sekitar dua jam. Kan lumayan ...,” katanya dengan wajah berbinar.
Reno mengandahkan wajah, menatap Clara yang kini berdiri di depannya. Baru saja Reno menggerakkan bibir, suara seseorang menyapa membuatnya mengurungkan niat untuk menjawab.
“Permisiii ....” Suara Nia menggelegar di ruang tamu yang berukuran luas.
Reno dan Clara menoleh ke sumber suara. Mereka menatap Nia yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu.
Begitupun dengan Nia, ia membalas tatapan yang tertuju ke arahnya. Namun Nia lebih mengamati sosok pria yang sedang duduk di sofa di depan Clara yang sedang berdiri itu.
Reno dan Nia saling menatap. Reno terkejut melihat Nia, salah satu teman Clara yang ia kenal.
Selama ini Reno tidak tau jika manager Clara adalah Nia.
“Kamu ... Reno kan?!” seru Nia sambil menunjuk ke arah Reno.
Saking terkejutnya Reno tidak langsung menjawab pertanyaan. Tatapannya masih tertuju pada wanita berbaju biru yang semakin dekat berjalan ke arahnya dan Clara.
“Dia Reno kan, Ra?” tanya Nia sambil menoleh ke arah Clara.
Clara menganggukkan kepalanya. “Ya, dia Reno.”
Nia menggelengkan kepalanya pelan. Tak percaya dengan yang ia lihat dan terjadi. “Dan apa yang dilakukan Reno di sini?”
“Reno akan menjadi supir dan pengawal pribadiku. Seperti saranmu, aku harus memiliki sopir dan pengawal pribadi, terutama dari haters dan paparazi.”
Mendengarnya, Nia langsung mengusap wajah dengan tangan kirinya. “Ya ampun ... Clara ... Apa yang kau lakukan,” desisnya lirih.
Bersambung