“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Clara dengan tatapan mata berkaca-kaca dan raut muka kusut. “Cepat katakan pada dokter yang menangani Diva untuk mengambil darahku dan melakukan operasi Diva segera!”
Tatapan mata Astrid pun nampak kosong di suasana tegang ini. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bergegas berjalan ke luar kamar perawatan diikuti oleh Clara di belakangnya.
Dua wanita itu berjalan bersama dan juga mengkhawatirkan satu anak yang sama.
Reno menatap punggung Astrid dan Clara yang berjalan pergi hingga tak terlihat lagi, menghilang dari mulut pintu. Ia menghela nafas panjang dan membalikkan badan, menatap Diva yang terbaring lemah dan tak berdaya.
Ada sebagian hati Reno yang merasa aneh dan janggal kenapa Clara terlihat sangat cemas dan khawatir seperti itu. Padahal Clara baru mengenal Diva, beberapa pekan ini. Semua kejanggalan ini memaksa Reno mengingat akan kabar burung yang sudah terlanjur viral dan diklaim hoax mati-matian oleh Clara. ‘Benarkah Clara pernah hamil?’
Di ruangan lainnya Clara sedang terbaring sambil melihat kantung darah yang tergantung di bawah ranjangnya. Darahnya mengalir perlahan dan memenuhi sudah hampir seperdelapan bagian. Tatapannya menerawang. Suara tangisan bayi yang memecah keheningan malam terngiang di telinganya.
Clara menaruh darah dagingnya sendiri di depan pintu panti asuhan di jam empat pagi. Berharap tidak lama saat ia tinggalkan pintu yang tertutup rapat itu akan segera terbuka. Langit masih gelap ketika itu. Dan angin dingin menusuk kulit hingga menembus tulang belulang. Terasa ngilu. Apa lagi rasa dingin dari seorang bayi yang masih sangat kecil dengan kulit tipis terbalut selimut tebal yang melilitnya.
Clara menaruh hati-hati bayi yang baru berusia dua minggu itu. Benar apa yang dikatakan Nia padanya, harusnya saat bayi merah yang belum ia berikan nama itu terlahir di dunia ini, Clara sudah langsung menitipkannya di panti asuhan.
Jangan sampai terlanjur menyanyangi bayi yang tidak diharapkan kehadirannya itu. Jika sudah terlanjur sayang semuanya akan sulit dikendalikan.
Nia memaksa Clara dan mempengaruhinya untuk menaruh bayinya di panti asuhan dan mengatakan jika dengan adanya bayi di dalam kehidupannya saat ini, hidupnya akan selamanya menderita. Terkungkung selamanya di dalam kemiskinan.
“Sudah ya mbak ... Setelah ini beristirahat dan makan telur juga minum s**u,” kata seorang suster yang tersenyum ramah pada Clara.
Clara menganggukkan kepalanya dan menyentuh bekas jarum yang masih terasa sakit di lengannya.
Suster terlihat sedang merapikan kantung darah dan alat-alat medis lainnya. Lalu dengan sopan ia pamit undur diri.
Kepala Clara terasa sedikit pusing. Tapi rasa pening yang dirasakannya mengalahkan rasa cemas yang berperang di dalam hati.
Ujung mata Clara melihat sekilas bayangan yang berdiri di depan gawang pintu. Ia menoleh untuk memastikan siapa yang berdiri di sana.
Reno berjalan menghampiri Clara. “Terima kasih.”
Clara menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, sudah kewajibanku ....”
Reno menarik satu kursi yang ada di samping bed rumah sakit dan mendudukinya. Sepasang matanya menatap Clara lekat.
“Ada apa?” tanya Clara merasa tatapan Reno penuh tanya.
“Kenapa ini semua menjadi kewajibanmu?” Reno berbalik bertanya dengan nada bicara yang lugas.
Clara tak sanggup memalingkan muka dan menghindar dari manik mata Reno yang mengkilat. “Tentu saja ini kewajibanku. Karena Diva adalah fansku,” dalihnya.
Reno tersenyum tipis. “Dan kamu akan melakukan hal yang sama jika fansmu bukan Diva?” tanyanya lagi.
Clara menanggukkan kepalanya. “Iya, aku akan melakukan hal yang sama, siapa pun yang membutuhkan pertolongan.”
Reno mengatupkan bibirnya dan menghela nafas panjang. Entah mengapa di hatinya merasa ada yang janggal. Tapi ia tidak tahu apa itu.
“Ada apa ...?” tanya Clara lagi. “Apa ada hal lain yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan lah ...,” ujar Clara sambil mengusap lengannya yang kini berwarna biru keungu-unguan. Bekas suntikan di kulit mulusnya terlihat jelas membiru.
Tanpa sadar Reno menatap lengan Clara yang jelas terlihat bekas jarum suntik itu. “Aku merasa ... Jika sikap perhatian yang kamu berikan pada Diva terlalu berlebihan ...,” katanya dengan tatapan menerawang.
Clara mengigit bibir bawahnya. “Diva memang spesial ....” Pernyataan Clara mengejutkan Reno.
Reno langsung menoleh dan menatap Clara dengan tatapan sangat tajam. Dahinya pun berkerut dan dahinya beradu.
“Diva sangat sepesial bagiku. Karena dia ....” Suara Clara menjadi parau dan kalimatnya terputus.
Reno menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh Clara.
Mereka bertatapan sejenak.
“Karena dia adalah anakmu ...,” lanjut Clara. “Dan sekarang kamu adalah driver pribadiku dan juga pengawalku. Bagiku, keluarga dari teman, sahabat dan orang terdekat, keluarga mereka adalah keluargaku juga.” Clara bersusah payah berbicara tanpa berdebar dan terlihat panik.
Reno masih menatap manik mata Clara yang berwarna coklat gelap.
“Lagi pula ini adalah soal kemanusiaan. Tidak harus memiliki alasan untuk menolong kan?” kata Clara lagi dan kemudian memalingkan mukanya dari tatapan Reno.
“Apa benar dengan foto kehamilan yang viral di internet itu?” Pertanyaan Reno membuat Clara menjadi tidak nyaman. Terisirat kerisauan di wajahnya.
Reno menarik tangan Clara agar Clara mau memandangnya. “Ra ... Lihat aku dan jawab pertanyaanku. Apa yang aku rasa ini benar? Kamu pernah hamil dan membuang anakmu? Gosip yang beredar itu benar? Setelah kamu membuang anakmu, lalu kamu menyesalinya? Mencarinya hingga datang ke rumahku?” Reno memberondong pertanyaan dengan logika cerdasnya.
Clara menarik tangannya yang dipegang Reno dengan kasar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tak sanggup menatap ke arah Reno. Karena jika ia mamandang ke arah pria itu, buliran air matanya akan tumpah.
Dan pasti Reno akan semakin curiga.
“Rara ...,” panggil Reno sambil berusaha menyentuh dagu Clara. Agar dapat mengarahkan wajah wanita yang pernah dicintainya itu mengarah padanya.
Tapi saat tangan Reno akan menyentuh dagu Clara yang berbelah dua itu, suara Astrid mengejutkannya. “Mbak Clara ... Terima kasih ...,” katanya sambil berjalan menghampiri Clara. Astrid sama sekali tidak menaruh curiga atau rasa cemburu melihat Reno berada di samping Clara.
Tangan Reno yang sudah terangkat dan akan menyentuh dagu Clara kini langsung ia arahkan ke atas dan mengusap kepalanya sendiri.
Buru-buru Clara mengusap genangan air mata yang berada di ujung pelupuk matanya. Membuat pandangannya berkabut.
“Mbak ... entah bagaimana jadinya kalau engga ada mbak Clara ...,” ujar Astrid dengan suara serak menahan haru dan kesedihannya.
Clara menoleh kembali. Ia melihat Astrid yang memegangi telapak tangannya. Menggenggamnya sambil menangis.
“Terima kasih mbak ... kamu adalah seorang dewi yang hadir untuk menyelamatkan Diva dan juga hidupku. Tak bisa kubayangkan hidupku kelak jika terjadi sesuatu padanya.” Suara Astrid berasa menggema di indera pendengaran Clara. Rasa hangat atas genggaman tangan itu sangat dapat dirasakannya. Seakan menjadi dua sisi mata angin yang berlawanan.
Clara menatap sepasang mata Astrid yang sembab karena tangis. ‘Mampukah dia merebut Diva dari seorang wanita yang sangat baik seperti Astrid ...?’
Bersambung