Arti cinta

1350 Words
                Cahaya hangat mentari mulai menyusup dari kisi-kisi jendela kamar. Clara membuka kedua matanya perlahan dan melihat partikel debu-debu kecil berterbangan tersorot cahaya pagi mentari. Burung-burung berkicau lirih dan bunga-bunga yang bermekaran terlihat dari balik jendela kamar yang lebar. Suara dering ponsel bervolume makin nyaring membuat Clara terpaksa bangun dari tidurnya. Tangannya menggapai-gapai sembarangan ke samping ranjang. Dan akhirnya ia menemukan ponsel yang sejak tadi berdering berisik. “Halo ....” Clara menjawab panggilan telpon dengan mata terpejam. Tanpa membaca siapa nama si penelpon. “Halo ... Clara!” Suara seorang pria seraya kebakaran jenggot memanggil Clara. Terdengar panik. Sepasang mata Clara yang terpejam langsung terbuka, terbelalak lebar. “Wildan!” Clara langsung terduduk tegap di atas ranjang. “Clara! Kamu ada di mana?! Semalaman kamu menghilang bagai ditelan bumi. Tidak bisa ditelpon. Nia dan Gina juga tidak tahu keberadaan kamu!” Belum apa-apa Wildan sudah memberondong pertanyaan. Dari suaranya ia amat terdengar sangat cemas dan khawatir. Clara pun menjadi cemas. Namun kecemasan lain yang melanda hatinya. Bagaimana jika Wildan tahu ia dan Reno menginap di penginapan? Walau mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Sifat cemburu dan posesif Wildan membuatnya takut. “Kamu di mana? Apa harus supirku menjemputmu? Aku ingin menjemputmu, tapi dua jam lagi aku sudah ada jadwal bertemu dengan fotografer majalah online.” “Tidak-tidak ...!” sahut Clara terburu-buru. “Tidak usah menjemputku. Aku baik-baik saja.” Wildan mulai mengerenyit. “Kamu ada di mana?” “Saat pulang syuting video klip semalam, ban mobilku pecah dan aku terjebak hujan badai. Lalu ....” Clara tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena rasa takut yang menyelimuti hatinya. “Lalu ...?” tanya Wildan sambil memicingkan kedua matanya. “Aku dan Reno terpaksa menginap di penginapan terdekat. Petir menyambar sampai tiang listrik dan pohon juga tumbang. Bayangkan saja bagaimana menyeramkannya jika aku dan Reno memaksakan pulang saat itu juga?” Hening. Wildan tidak langsung menyahut. Jantung di dadaa Clara berdegup dengan kencang dan ia melirik ke arah bawah. Tempat Reno tertidur semalam beralaskan selimut bed cover. Namun Reno sudah tidak ada di sana. Selimut tebal yang digunakan sebagai alas pun sudah terlipat rapi. “Dan di mana Reno?” tanya Wildan kembali bersuara. “Reno berada di kamarnya. Kami kan memesan dua kamar. Jadi aku tidak tahu di mana Reno,” jawab Clara jujur. “Apa dia sempat berbuat macam-macam mencari kesempatan?” tanya Wildan penuh selidik. “Jika iya, aku akan segera memecatnya. Walau kamu yang menerimanya bekerja. Jika Reno macam-maca, aku tak segan memberhentikan!” “Tidak! Reno sangat baik dan sopan. Bahkan dia menjagaku dan melakukan tugasnya dengan baik,” sahut Clara cepat. “Sebentar lagi aku akan pulang. Semalam memang Nia dan Gina pulang lebih dulu, makanya mereka cepat sampai. Sedangkan aku tidak bisa pulang karena terjebak hujan badai.” “Baiklah. Suruh Reno segera mengantarkanmu pulang,” kata Wildan kemudian. “Hati-hati di jalan. Sebentar lagi aku juga akan berangkat berkerja. Bye sayang ....” “Bye juga sayang ....” Clara menutup panggilan ponselnya berbarengan dengan Wildan yang juga mengakhiri perbincangannnya. “Siapa? Pacarmu ya?” tanya Reno yang muncul tiba-tiba dari mulut pintu kamar. Clara tersontak kaget sambil mengusap dadaanya. Ia menoleh menatap Reno yang kini sudah memakai pakaian rapi. “Bajumu sudah kering?” tanya Clara, tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan Reno. Reno menganggukkan kepalanya. “Tidak terlalu kering. Tapi lumayan bisa dipakai,” sahutnya kemudian. “Wildan pasti khawatir. Semalam semenjak petir menyambar tiang listrik, tidak ada sinyal.” Clara menganggukkan kepalanya. “Hm ... sepertinya begitu. Apa sekarang listrik sudah menyala? Aku ingin mengisi batrai poselku.” “Belum. Tadi aku melihat beberapa orang pekerja PLN sedang membetulkan tiang listrik. Kamu masih ingin di sini atau mau langsung pulang?” “Langsung pulang lah. Haduh bahaya jika aku terlalu lama di sini ...,” sahut Clara asal dan kemudian turun dari ranjang. “Aku mandi dulu. Nanti aku menyusulmu di depan.” Reno tersenyum tipis. “Pasti kekasihmu akan murka jika kamu terlalu lama berduaan dengan pria lain,” gumannya lirih. Tapi masih dapat di dengar oleh Clara. Spontan Clara menoleh. Ia ingin menimpali apa yang digumankan oleh Reno. Namun pintu kamarnya sudah tertutup dan Reno telah menghilang. “Kenapa jadi masalah untuknya kalo Wildan marah padaku?” gerutu Clara sambil mencibir. ***   Pak Suyitno mengantarkan sarapan berupa roti bakar dan juga s**u murni hangat. Dengan sebuah nampan di tangan tuanya yang keriput dan bergetaran. Reno langsung berdiri dan menghampiri pak Suyitno dengan sigap menyambut nampan berisikan sarapan yang dipegang. Kedua matanya langsung tertuju pada telapak kaki Pak Suyitno yang menapak atau tidak. Karena saat semalam penampakan pria tua ini sangat menakutkan. “Terima kasih Tuan ...,” kata pak Suyitno sambil tersenyum. “Jangan panggil aku Tuan, pak. Panggil saja aku Reno,” kata Reno sambil menaruh nampan yang diberikan pak Suyitno di meja bulat yang ada di dekat taman. “Baiklah Nak Reno. Terima kasih sudah menginap di penginapan tua ini. Dan maaf atas ketidaknyamannya semalam karena listrik padam.”  Pak Suyitno terlihat secara resmi meminta maaf. Reno menganggukkan kepala cepat. “Iya pak, tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa aneh, memang tidak ada pengunjung selain kami?” Pak Suyitno menggelengkan kepalanya. “Hanya kalian pengunjung tempat ini setelah dua bulan yang lalu,” jawabnya sedih. “Apa dua bulan yang lalu?” “Tempat ini sudah kalah saing dengan penginapan moderen yang lain. Aku ingin menjual tempat ini. Tapi kenangan-kenangan bersama almarhum istriku tidak bisa aku jual. Hal itu yang memberatkanku menjual tempat ini,” jawab Pak Suyitno sambil menatap kesekeliling. Reno mengatupkan bibirnya. Ia menjadi iba mendengarnya. “Tempat ini sebetulnya bagus dan klasik pak. Tapi sayangnya hanya kurang terurus.” “Pengurusan tempat ini juga harus memakan dana. Aku kekurangan dana. Ketiga anakku juga tidak mau mengurus tempat ini. Mereka lebih suka dengan pekerjaan kantoran mereka.” “Bapak tinggal di sini sendirian?” tanya Reno yang mulai ingin tahu. “Aku tinggal dengan Yudi, satu-satunya pekerja di sini yang saat ini sedang pulang kampung,” jawab pak Suyitno yang terlihat semakin renta ketika sinar matahari yang sudah lebih tinggi menyinarinya. Keriput-keriput di kulit tangan dan wajahnya terlihat jelas dan membuat Reno semakin iba. Clara yang ternyata sejak tadi berdiri tak jauh dari sana mendengarkan semuanya. Ia mulai berjalan mendekat dengan kacamata hitam yang memiliki taburan berlian di bingkainya. “Aku akan membeli tempat ini,” kata Clara sambil berjalan. Kedua mata Reno dan Pak Suyitno langsung tertuju pada Clara. Clara membuka kacamata hitamnya. Saat ia membuka kacamata hitam Clara Nampak elegan dan terlihat sinar keartisannya. Tapi ternyata tidak untuk pak Suyitno. “Aku akan membeli tempat ini. Tapi pak Suyitno tetap tinggal di sini. Singkatnya aku akan mendanai semua anggaran penginapan ini dan akan aku renovasi. Juga kubuatkan iklan di internet dan aplikasi traveling,” kata Clara lagi. “Aku terharu dengan rasa cinta bapak pada mediang istrinya.” Pak Suyitno menatap Clara sedikit lama. Clara tersenyum. Ia tahu apa yang dikatakannya pasti akan membuat pria yang sudah berumur senja ini terkejut dan sangat senang dibantu oleh seorang artis. “Terima kasih Nyonya. Tapi anda siapa ya?” tanya Pak Suyitno polos. Senyuman di wajah Clara memudar. “Aku Clara, pak ….” “Clara?” tanyanya sambil mengerutkan dahinya. “Siapa ya?” “Dia artis pak …,” sahut Reno sambil menahan tawa. Clara menatap tajam Reno yang menertawakannya. “Maaf, bapak engga kenal artis baru. Yang bapak kenal mah Eva Arnaz.” Clara menelan ludahnya dan menoleh menatap Reno dengan wajah datar. Reno bersusah payah menahan tawa. Ia menutup mulut dengan telapak tangan. Walau muka lucu tak dapat disembunyikan olehnya. “Hentikan Reno, jangan ketawa …!” desis Clara lirih sambil menatap tajam Reno dengan kedua matanya yang membulat. “Maaf ….” Reno menutup mulutnya lagi. “Kita harus menghargai rasa cinta bapak kepada orang yang dikasihinya. Karena cinta bukanlah sekedar kata-kata ….” Clara menambahi. Reno menghela nafas panjang. “Terkadang ada orang yang merasa paling pintar mengerti cinta. Namun sebetulnya dia tidak tahu apa-apa …,” timpalnya pada Clara.   bersambung    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD