Niat pertama yang akan Xiao Na lakukan di dalam apartemen miliknya adalah segera membersihkan diri dan istirahat. Karena besok adalah hari yang cukup berat untuk dirinya bertanding melawan para orang tua keras kepala. Sejujurnya ia memang sudah menyiapkan jika hal ini terjadi.
Maka dari itu, wanita itu cantik dengan wajah polos dari make up mengenakan piyama berwarna merah itu pun melangkah menghampiri lemari pendingin miliknya untuk meminum air. Sebab, tenggorokannya merasa sangat kering.
Namun, tiba-tiba telinganya mendengar suara bel apartemen yang berdenting pelan. Sejenak wanita itu terdiam sembari menerka-nerka seseorang yang ada ke apartemennya. Sebab, tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan dirinya, selain Yushi dan Tong Xin. Lagi-lagi kedua sekretarisnya itu yang tahu.
Tanpa pikir panjang, Xiao Na pun melangkah menghampiri pintu apartemen miliknya, lalu mengintip melalui lubang kecil yang ada di sana. Kemudian, mata wanita itu terlihat melebar saat mendapati seorang lelaki berperawakan kecil tengah berdiri tepat di depan pintunya sembari terus menatap lurus ke depan.
Langsung saja Xiao Na memutar knop pintunya, lalu berkata, “Bagus! Kamu datang ke sini untuk berlari dari kenyataan.”
Demo yang mendengar penuturan Xiao Na pun meringis pelan. Seperti dugaannya, wanita itu telah mengetahui tentang dirinya yang kabur dari tempat pelatihan hanya untuk menghindari orang tuanya.
“Maaf, Xiao Na jie. Sebenarnya, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk tetap bersama tim,” sesal Demo menunduk lesu. Ia memang sangat merasa bersalah, terlebih kepada Xiao Na.
Xiao Na terlihat menghela napas pelan, lalu mempersilakan untuk Demo masuk ke dalam apartemennya. Ia tidak bisa meninggalkan lelaki itu sendirian. Apalagi pikiran Demo yang masih labil membuat dirinya harus tetap bersabar. Sebab, lelaki itu belum genap dua puluh tahun, dan artinya memang harus banyak mendapat bimbingan agar mengerti apa yang dimaksud dengan dirinya.
Setelah itu, Xiao Na pun menyuruh Demo untuk duduk di sofa panjang yang ada di tengah ruangan, sedangkan dirinya kembali ke kamar. Tentu saja ia ingin mengabari Li Xian dan Su Yuan kalau Demo sedang berada di apartemennya sehingga kedua lelaki itu tidak perlu mencarinya lagi.
“Wei, Li Xian! Demo sedang berada di apartemenku, jadi kau tidak perlu mencarinya lagi, dan tolong kabari Su Yuan. Aku tahu kalau lelaki itu pasti sangat cemas,” ucap Xiao Na singkat, lalu kembali menutup teleponnya, dan kembali ke ruang tengah.
Xiao Na lagi-lagi hanya bisa menggeleng pelan melihat sikap Demo yang sangat polos. Sebenarnya, ia sangat marah, tetapi ia tahu kalau lelaki itu semakin dikasari maka akan semakin memberontak.
“Demo, bisa kamu ceritakan kenapa kabur dari dorm?” tanya Xiao Na melangkah mendekati sofa panjang berwarna putih itu, lalu mendudukkan diri di sofa lainnya. Sebab, sofa itu berbentuk huruf ‘L’ dengan sisi panjangnya telah diduduki oleh Demo.
Demo yang awalnya terlihat hendak membuka-buka majalah di sana pun langsung terhenti, lalu menoleh ke arah Xiao Na yang turun dari tangga. Kemudian, lelaki itu langsung menekuk kakinya dengan posisi di atas sofa, dan menjawab, “Beberapa hari yang lalu Mama dan Papaku datang ke dorm, dan bertemu dengan Manajer Su. Aku tidak tahu apa yang mereka berdua katakana, tetapi tiba-tiba mereka langsung memaksaku untuk keluar dari dorm.”
Xiao Na mengangguk pelan. Ia tahu setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan dirinya pun ingin menjadi salah satu dari orang tua tersebut.
“Lalu, aku yang tidak mengerti situasi pun hanya memberontak, karena ini merupakan mimpiku sejak dulu. Tapi, Papaku malah marah besar, dan terus memaksaku untuk keluar dari sana. Akhirnya, aku yang marah pun langsung keluar malam itu juga,” ucap Demo menunduk menatap sepasang sandal rumahan yang cukup pas di kakinya.
“Lantas, selama beberapa hari ini kau dimana?” tanya Xiao Na penasaran.
Perlahan Demo mengangkat kepalanya, lalu menjawab, “Aku tinggal di hotel dekat pelatihan, tapi aku masih takut untuk kembali ke sana. Karena Mama sama Papaku masih memaksa untuk diriku pulang.”
“Demo, tahukah kalau tindakanmu ini cukup membahayakan. Apalagi kalau kau sampai hilang. Bukan kau saja yang rugi, tetapi aku juga. Karena aku yang membawamu ke sini,” ucap Xiao Na lembut. Ia memang harus menenangkan jiwa kekanak-kanakkan Demo.
“Maaf, Xiao Na jie. Aku hanya ingin mereka tahu impianku saja,” balas Demo dengan nada sangat menyesal.
“Iya, aku mengerti. Kalau kamu memang sangat ingin mewujudkan mimpi, maka berusahalah. Aku yang akan menghadapi orang tuamu. Untuk malam ini aku perbolehkan kamu untuk tanggal di sini, dan besok kamu harus tetap kembali ke pelatihan,” putus Xiao Na tegas, membuat Demo mengangguk pelan.
“Tapi ... kalau Mama sama Papaku datang. Bagaimana, jie?” tanya Demo dengan wajah memelas.
“Besok aku akan menemui mereka, jadi beritahu orang tuamu untuk datang,” jawab Xiao Na tersenyum lembut.
Sontak Demo yang mendengar hal tersebut mengangkat kepalanya semangat, lalu menatap Xiao Na tidak percaya. “Benarkah? Terima kasih, Nyonya Bos!”
“Sudahlah jangan berlebihan. Aku ingin istirahat. Kalau kamu ingin membersihkan diri dulu, ada kamar mandi di dekat dapur. Lalu, kalau kamu ingin tidur, kamarnya ada di dekat tangga. Jangan masuk ke kamar yang lain, karena itu milik Yushi dan Tong Xin.” Xiao Na menatap Demo serius, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Xiao Na jie, selamat malam!” ucap Demo tersenyum lebar, tetapi hanya dibalas gelengan kepala oleh wanita itu.
Setelah menatap kepergian Xiao Na yang mulai menaiki tangga untuk menuju kamarnya, Demo pun bangkit menuju dapur. Ia ingin membersihkan diri dulu, sebelum akhirnya masuk ke alam mimpi. Karena dirinya memang harus menyiapkan tenaga untuk ikut berperang bersama Xiao Na. Sejenak lelaki kecil itu tampak bersyukur memiliki bos seperti Xiao Na yang sangat baik. Meskipun banyak rumor yang mengatakan kalau wanita itu sangat jahat dan sombong, tetapi bagi dirinya dan semua tim, Xiao Na adalah bos yang sangat baik. Wanita itu bahkan rela melakukan apapun demi mewujudkan mimpi mereka.
Setelah selesai membersihkan diri dan melepas hoodie berwarna hitam itu pun Demo langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang telah diucapkan oleh Xiao Na. Kamar itu tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil juga. Cukup pas dengan sedikit barang yang ada di sana. Namun, Demo langsung menyadari kalau kamar ini jarang sekali dipakai, terlihat dari segala furniture yang terlihat masih sangat baru.
“Nyonya Bos, aku tidak akan mengecewakanmu,” ucap Demo yang berjanji pada Xiao Na dan dirinya sendiri. Lalu, mulai menutup mata dengan tenang.