Dikejar-kejar

1436 Words
Nada melangkah keluar dari ruangan rapat dengan langkah pelan namun pasti. Sepatu hak tipisnya beradu dengan lantai marmer kantor, meninggalkan gema yang nyaris seirama dengan detak jantungnya yang berdebar. Tadi, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di perusahaan ini, ia berbicara di depan jajaran direksi NCMG—perusahaan yang kini jadi dunia balas dendamnya. Bukan tanpa alasan Nada bisa bergabung dengan rapat dewan direksi, tapi Surya yang mengajaknya langsung. Selain karena penasaran dengan sosok Nada yang memang luar biasa pesonanya, ia juga ingin membuktikan kehebatan Nada yang ia dengar langsung dari Prof. Mahendra Wiratama. Nada menutup mata sejenak, menarik napas dalam. Aura wibawa yang tadi ia tunjukkan perlahan meleleh, digantikan oleh rasa campur aduk di dalam d**a. Ada bagian dirinya yang masih Kirana—perempuan lugu, penuh luka, yang pernah diperlakukan bak sampah oleh orang yang ia cintai. Tapi kini, ia memaksa dirinya jadi Nada, wanita baru yang hidupnya tak boleh lagi dipermainkan. “Bu Nada,” suara lembut seorang staf menyentak lamu Nada, “ada yang ingin bertemu dengan Anda di lobi.” Nada membuka mata. “Siapa?” “Seorang pria… sepertinya keluarga dari Pak Surya.” Alis Nada terangkat. Hatinya langsung berdebar tak karuan. Keluarga Surya? Nama itu otomatis menyeret memorinya kembali pada masa lalu—pada sosok yang dulu pernah menjadi bagian dari pusaran hidup Kirana. Dengan anggun ia keluar dari ruangannya, berjalan menuju lobi kecil yang ada di lantai itu. Pandangannya langsung menangkap sosok tinggi dengan setelan jas hitam rapi. Mata pria itu menatapnya dengan tajam, tapi tak ada permusuhan di sana, melainkan sejenis rasa ingin tahu yang menusuk. “Nona Nada?” suara pria itu berat namun tenang. Nada mengangguk tipis. “Ya, saya sendiri. Anda…?” “Zevan.” Pria itu menyebut namanya singkat. “Saya anak dari Pak Heru Suhendra.” “Oh, anaknya pak Heru. Iya, saya tadi melihat anda di rapat. Maaf kalau saya belum mengenali anda.” Nada mengulurkan tangan, sopan. Zevan langsung membalas. Ketika kulit tangan Zevan dan kulit tangan Nada bersatu, ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja Nada rasakan. Jantung Nada berdegup lebih kencang. Memorinya kembali membawanya ke masa puluhan tahun silam, ke kehidupan Kirana. Bukankah dia Bagas? Ya, aku ingat betul. Dia adalag Bagas. Bagas yang seharusnya tidak mati terbunuh karena fitnah. Kenapa sekarang aku bertemu dengannya lagi? Ternyata dunia ini sangat sempit, batin Nada. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Zevan?” Nada menjaga nadanya tetap dingin, meski di dalam dadanya ada riak aneh membuatnya semakin bingung. Zevan menatapnya lama. “Saya hanya penasaran… siapa sebenarnya Anda? Tiba-tiba muncul, dan dalam waktu singkat bisa mengambil kepercayaan pak Surya. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu tanpa alasan.” Nada tersenyum tipis. “Kalau begitu, mungkin Anda harus menilai saya dari hasil kerja, bukan dari asal-usul.” “Jawaban yang bagus,” Zevan balas tersenyum samar, meski matanya tak melepas tatapan penuh selidik. “Tapi jawaban yang bagus tidak selalu berarti jawaban yang jujur.” Nada mengernyit lembut, lalu menghela napas. Pria ini… berbahaya, pikirnya. Sorot mata pria itu membuat Nada merasa seakan semua lapisan topeng bisa ditembus. Namun Nada tidak boleh goyah. Ia sudah bersumpah, tak akan ada yang bisa menyingkap rahasia reinkarnasinya—identitasnya sebagai Kirana yang bangkit kembali. “Apa Anda datang hanya untuk itu, Pak Zevan?” Nada melangkah sedikit lebih dekat. Senyum di bibirnya halus, tapi matanya dingin. “Atau Anda sekadar ingin menguji saya?” Zevan terkekeh kecil. “Mungkin keduanya. Tapi yang jelas, saya tidak suka kejutan dalam bisnis. Dan Anda, Nona Nada, adalah kejutan terbesar yang pernah saya lihat.” Nada menahan diri untuk tidak merespons lebih jauh. Ia tahu, pertemuan ini belum saatnya jadi pertarungan. Ia perlu mengukur Zevan lebih dalam sebelum memutuskan: musuh, sekutu, atau… sesuatu yang lain. Walau di kehidupan sebelumnya, Bagas yang begitu mirip dengan Zevan adalah pelingdungnsya. “Kalau begitu,” Nada berkata sambil melirik jam tangannya, “izinkan saya menunjukkan bahwa saya lebih dari sekadar kejutan. Waktu akan menjawab semua rasa penasaran Anda.” Zevan mengangguk seraya tersenyum kecil. “Kalau sudah tidak ada lagi, boleh saya pamit?” Nada masih menjaga sikap walau suaranya jelas terdengar dingin. Zevan mengangguk, membiarkan Nada melangkah meninggalkan dirinya. Aroma wangi parfum Nada menyentuh rongga hidung Zevan, melekat begitu kuat dan membuat Zevan ingin bertemu dengan berbincang lagi dengan Nada. *** Flash Back. Juni 1990, Yogyakarta. Di tengah kegelapan malam, Kirana terus berlari menjauhi dua orang suruhan suaminya. Nafasnya terengah, dadanya naik turun, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dua pria itu begitu gigih mengejarnya, pria-pria yang siap mencelakai dirinya. Bahkan sesaat sebelum Kirana berhasil melarikan diri, kedua pria itu nyaris merenggut kehormatannya dengan cara yang paling hina. Dalang di balik semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arya—suaminya sendiri. Lelaki yang selama ini sangat Kirana cintai. Lelaki berwibawa, dihormati di kampung, terpandang, dan selalu tampak gagah di mata orang-orang. Sosok yang pantas bersanding dengan wanita terhormat seperti Kirana. Namun sayang, bayangan rumah tangga bahagia yang didambakan Kirana, sama sekali tidak mampu ia rengkuh. Arya justru memilih mengabaikan, bahkan kini berniat mencelakai istrinya itu dengan cara keji. BUKK!! Tubuh Kirana mendadak membentur sesuatu yang keras. Ia hampir jatuh tersungkur. “Kirana, ada apa?” tanya seorang pria yang baru saja menubruk tubuhnya. Kirana menoleh dengan mata membelalak, wajahnya pucat pasi. “Bagas, tolong aku… Mereka, mereka ingin membunuhku.” Suaranya parau bercampur tangis, bibirnya gemetar. Tangan kanannya menunjuk ke arah semak belukar yang gelap, tempat bayangan dua pria itu masih samar terlihat. Bagas terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Namun tatapannya segera dipenuhi tekad. Ia mengangguk cepat, meraih tangan Kirana dengan erat, seolah berjanji tidak akan melepasnya. “Ayo ikut aku.” Tanpa ragu, Bagas menarik Kirana menjauh, melarikannya ke peternakan sapi yang sepi. Bau anyir kandang dan suara sapi yang sesekali melenguh, menambah tegang suasana. Bagas yakin, setidaknya untuk sementara, di sana mereka akan aman. Begitu sampai di sudut kandang yang remang, Bagas memaksa Kirana untuk duduk. “Kirana, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu berlari di malam buta seperti ini? Kalau ada yang lihat bagaimana? Lagian, ngapain kamu berada jauh dari rumah?” suaranya bergetar, antara khawatir dan marah. Kirana menggigil. Jari-jarinya saling menggenggam erat, tubuhnya seolah tak kuasa berdiri. Bibirnya terbuka, tapi suaranya tercekat, seolah ada sesuatu yang mengunci tenggorokannya. “Kirana, apa yang kamu sembunyikan? Apa Arya tahu? Apa orang tuamu tahu?” desak Bagas. Air mata Kirana pecah, jatuh bercucuran. Ia ingin bicara, tapi hatinya terlalu remuk. “Kalau kamu belum siap cerita sekarang, baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi aku bisa menebak… semua ini pasti karena Arya. Menggeleng kalau aku salah.” Bagas menatapnya tajam. Kirana hanya tertunduk. Ia tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Tubuhnya gemetar seperti daun tertiup angin. Bagas menghela napas panjang, dadanya sesak. Aroma kandang bercampur hawa malam yang lembap, menambah berat suasana. Ada perasaan khawatir yang membuncah, bercampur amarah yang ingin meledak. Bagas lalu menunduk, menatap punggung tangan Kirana yang pucat. Walau dalam temaram, ia masih bisa melihat jelas memar membiru di sana. “Apa Arya menyakitimu? Apa Arya melakukan kekerasan terhadapmu? Kenapa kamu sampai dikejar-kejar orang? Kenapa tadi kamu bilang kamu akan dibunuh?” suaranya meninggi, tak mampu lagi menahan diri. “Dia….” Kirana akhirnya bersuara lirih, nyaris tak terdengar. “Dia berzina… Tapi, malah aku yang disalahkan. Katanya aku sudah menghancurkan impiannya. Pantas selama ini ia mengabaikanku, ternyata ia mencintai orang lain. Ratih….” Suaranya tercekat. Bayangan pergumulan panas suaminya dengan Ratih terus berputar di kepalanya. Luka itu terlalu dalam. Bagas menutup mata sejenak, menahan amarah. Ia menarik napas panjang, suaranya berat. “Aku sudah menduganya. Tapi… kamu tetap memilih menikah dengannya.” Ada nada kecewa dan getir yang sulit disembunyikan. Kirana terisak, tangisnya pecah lagi. Hanya itu yang mampu ia lakukan—menangis dan terus menangis. “Apa Arya sering melakukan kekerasan?” tanya Bagas, kali ini lebih pelan namun penuh tekanan. Kirana mengangguk lemah. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya pada ayah dan ibumu? Bahkan ayahmu adalah orang berpengaruh di sini! Kamu bukan orang biasa, Kirana. Kamu bangsawan, darah biru mengalir di nadimu, dan kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini.” Suara Bagas meninggi, tak terbendung. Ia bahkan tidak sadar suaranya merembes keluar, terdengar hingga luar kandang. Kirana tetap terdiam. Matanya kosong, pikirannya buntu, seolah sudah kehilangan daya untuk melawan. Hingga tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari luar. Suara-suara itu semakin dekat, semakin keras. Semula hanya samar, kini disertai cahaya senter dan obor yang menembus gelap. Bagas dan Kirana saling berpandangan, tubuh mereka menegang. Jantung berdegup kencang. Kirana perlahan mengangkat kepalanya, air mata masih membasahi pipi. Ketakutan membayang di matanya. Ia tahu, sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya dan Bagas, malam ini…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD