Malam turun perlahan, menelan seluruh langit kota dengan warna biru tua yang kelam. Lampu-lampu restoran di tepi danau mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke permukaan air yang tenang. Tempat itu tampak romantis—terlalu romantis, bahkan—untuk sekadar makan malam biasa. Nada datang sedikit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Ia memilih duduk di meja paling ujung, menghadap danau yang berkilau oleh pantulan lampu-lampu taman. Angin berembus lembut, membuat ujung rambutnya berayun ringan. Ia menatap ke arah air, mencoba menenangkan pikirannya, tapi hati kecilnya tahu: malam ini tidak akan berjalan semudah itu. Zevan datang beberapa menit kemudian, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung. Wajahnya tampak sedikit letih, tapi senyum yang ia berikan masih sama hangat sepe

