Bab 6: Bayangan di Balik Malam

1436 Words
Rumah persembunyian itu sunyi. Terlalu sunyi. Jam di dinding berdetak pelan, memecah kesunyian malam. Aluna duduk di sofa ruang tamu dengan laptop di pangkuannya. Cahaya layar menerangi wajahnya yang terlihat lelah. Ia sudah memeriksa puluhan dokumen sejak satu jam lalu. Email lama. Transaksi keuangan. Catatan rapat direksi sebelum akuisisi. Tapi masih belum ada bukti jelas yang mengarah langsung pada Surya. “Kalau dia benar pelakunya,” gumam Aluna pelan, “dia sangat rapi.” Arka berdiri di dapur kecil di seberang ruangan, membuat kopi. “Kamu bicara sendiri lagi,” katanya tanpa menoleh. “Aku sedang berpikir.” “Kamu berpikir terlalu keras sejak tadi.” Aluna mendesah. “Kalau Adrian benar…” “Jangan langsung percaya semua yang dia katakan,” potong Arka tenang. “Aku tidak percaya.” “Tapi kamu juga tidak sepenuhnya menolak kemungkinan itu.” Aluna terdiam. Benar. Ia tidak bisa menolak kemungkinan itu. Bukan setelah melihat sendiri bagaimana Surya bereaksi di ruang rapat. Arka berjalan mendekat dan meletakkan secangkir kopi di meja. “Kamu butuh ini.” Aluna menatap cangkir itu. “Aku tidak tahu kamu bisa membuat kopi.” “Aku bisa melakukan banyak hal yang tidak kamu tahu.” Nada suaranya santai. Tapi tatapannya dalam. Aluna memalingkan wajah, mencoba mengabaikan getaran aneh di dadanya. Hubungan mereka terlalu rumit untuk dipikirkan sekarang. Fokusnya hanya satu. Kebenaran. --- Pukul 01.30 Dini Hari Suara notifikasi laptop tiba-tiba berbunyi. Aluna langsung menegakkan tubuh. “Arka.” “Apa?” “Aku menemukan sesuatu.” Arka mendekat. Di layar laptop, ada satu transaksi lama yang sebelumnya terlewat. Tanggalnya tiga hari sebelum perusahaan ayah Aluna dinyatakan bangkrut. Transfer dana besar. Tujuannya— Perusahaan cangkang di luar negeri. Nama penanggung jawabnya bukan Rendra. Bukan Surya. Tapi sebuah inisial. S.M. “Surya Mahendra,” bisik Aluna. Arka menyipitkan mata. “Belum tentu.” “Siapa lagi yang punya inisial itu?” “Kita tidak boleh langsung menyimpulkan.” Tapi bahkan Arka sendiri tahu kemungkinan itu sangat besar. Aluna menghela napas panjang. “Kalau ini benar…” “Kita butuh bukti lebih kuat,” kata Arka. “Tapi ini awal.” Mereka saling menatap. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai— Ada titik terang. Namun tepat saat itu— Lampu rumah tiba-tiba mati. Semua menjadi gelap. Aluna membeku. “Arka?” “Aku di sini.” Suara Arka terdengar tenang. Tapi ia langsung berdiri. Instingnya bekerja. “Listriknya mati?” tanya Aluna pelan. “Tidak.” “Bagaimana kamu tahu?” “Karena lampu jalan di luar masih menyala.” Jantung Aluna langsung berdegup lebih cepat. Berarti— Ada seseorang yang memutus listrik rumah ini. Suara langkah kaki terdengar di luar. Pelan. Hampir tidak terdengar. Arka langsung memegang pergelangan tangan Aluna. “Naik ke lantai dua,” bisiknya. “Kamu?” “Aku di belakangmu.” “Tapi—” “Sekarang.” Nada itu tidak memberi ruang untuk debat. Aluna langsung bergerak menuju tangga. Langkahnya cepat tapi hati-hati. Arka mengikuti di belakang. Suara pintu depan terdengar terbuka. Pelan. Seseorang masuk. Bukan satu orang. Beberapa. Aluna menahan napas. “Arka…” “Terus naik.” Begitu sampai di lantai dua, Arka menariknya masuk ke salah satu kamar. Ia menutup pintu perlahan. Gelap. Hanya cahaya bulan dari jendela yang masuk. Suara langkah kaki terdengar di bawah. Mereka sedang memeriksa rumah. Mencari. Aluna merasakan tangan Arka masih menggenggam pergelangannya. Hangat. Kuat. Protektif. “Apa mereka orang Surya?” bisiknya. “Mungkin.” “Atau…” “Orang lain yang tidak ingin kita menemukan sesuatu.” Suara langkah di tangga. Mereka naik. Jantung Aluna seperti ingin keluar dari dadanya. Arka menariknya lebih dekat ke dinding. Begitu dekat sampai ia bisa merasakan napas Arka di samping wajahnya. “Kalau sesuatu terjadi,” bisik Arka, “kamu lari lewat jendela belakang.” “Tidak.” “Kamu harus.” “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Arka menatapnya. Meski gelap, Aluna bisa merasakan tatapan itu. Serius. Dalam. “Keras kepala,” gumam Arka. “Belajar dari orang yang sama.” Langkah kaki semakin dekat. Tepat di depan kamar mereka. Handle pintu bergerak perlahan. Terkunci. Orang di luar berhenti. Lalu— Suara Adrian terdengar. “Cari di kamar sebelah.” Aluna membeku. Itu jelas suara Adrian. Langkah kaki menjauh. Arka dan Aluna saling berpandangan dalam gelap. Bingung. Kaget. Dan penuh pertanyaan. Kenapa Adrian ada di sini? Dan yang lebih penting— Apakah dia datang untuk menyelamatkan mereka… atau justru menangkap mereka lebih dulu? Di bawah, Adrian berdiri di ruang tamu yang gelap. Matanya menyapu ruangan. Salah satu anak buahnya mendekat. “Bos, tidak ada siapa-siapa.” Adrian tersenyum tipis. “Oh, mereka ada di sini.” Ia menatap ke arah tangga. “Dan mereka sedang mendengarkan kita sekarang.” Di lantai atas, Aluna merasakan napasnya berhenti. Permainan ini semakin berbahaya. Dan untuk pertama kalinya— Ia mulai sadar. Mungkin bukan hanya Surya yang bermain di balik layar. Mungkin Adrian juga. --- Di lantai atas, Aluna merasakan napasnya berhenti. Permainan ini semakin berbahaya. Dan untuk pertama kalinya— Ia mulai sadar. Mungkin bukan hanya Surya yang bermain di balik layar. Mungkin Adrian juga. Namun Arka justru terlihat lebih tenang dari yang ia bayangkan. Tangannya masih menggenggam pergelangan Aluna, tapi kali ini lebih pelan. Seolah memastikan ia tetap di sana. “Dia tahu kita di sini,” bisik Aluna hampir tanpa suara. Arka mengangguk tipis. “Sepertinya begitu.” “Lalu kenapa dia menyuruh orang-orangnya pergi ke kamar sebelah?” Arka tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke pintu yang masih tertutup rapat. Langkah kaki di lorong terdengar menjauh. Lalu sunyi. Sunyi yang terasa mencurigakan. Beberapa detik berlalu. Kemudian suara Adrian terdengar lagi dari bawah. “Sudah. Kita pergi.” Langkah kaki kembali terdengar. Kali ini menuju pintu depan. Pintu rumah terbuka. Lalu tertutup lagi. Sunyi. Benar-benar sunyi. Aluna menahan napas beberapa detik lagi sebelum akhirnya berbisik, “Menurutmu mereka benar-benar pergi?” Arka berjalan perlahan ke arah pintu kamar, mendengarkan sejenak. Tidak ada suara. Ia membuka pintu sedikit. Koridor kosong. Lampu masih mati. Rumah tetap gelap. “Kita tunggu lima menit lagi,” katanya pelan. Mereka tetap berdiri di kamar itu tanpa bicara. Detak jantung Aluna perlahan mulai kembali normal. Tapi pikirannya justru semakin kacau. Kalau Adrian tahu mereka ada di sini… Kenapa ia tidak langsung menangkap mereka? Kenapa malah menyuruh orang-orangnya pergi? Setelah beberapa menit, Arka akhirnya turun lebih dulu untuk memastikan keadaan. Aluna mengikuti di belakangnya. Ruang tamu kosong. Pintu depan tertutup. Tak ada siapa-siapa. Namun di atas meja ruang tamu, ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Sebuah amplop cokelat. Aluna menegang. “Kamu lihat itu?” bisiknya. Arka mengangguk pelan. Ia berjalan mendekat dengan hati-hati. Tidak ada nama. Tidak ada tulisan. Hanya amplop polos. Arka membukanya perlahan. Di dalamnya ada satu lembar kertas. Dan sebuah flashdisk kecil. Aluna mendekat. “Apa itu?” Arka membaca tulisan di kertas itu. Hanya satu kalimat. Kalau kalian ingin kebenaran, berhentilah mencari Surya. Cari yang lebih dekat. Aluna merasakan perutnya seperti jatuh. “Lebih dekat?” Arka menatap flashdisk di tangannya. “Ini dari Adrian.” “Kamu yakin?” “Gaya mainnya.” Aluna mengepalkan tangan. “Dia sedang bermain dengan kita.” “Belum tentu.” Arka menatap flashdisk itu beberapa detik sebelum akhirnya memasukkannya ke laptop. Layar menyala. Satu file muncul. Video. Durasi dua menit. Arka dan Aluna saling berpandangan sebentar sebelum memutarnya. Video itu memperlihatkan rekaman kamera keamanan dari tiga tahun lalu. Ruang rapat direksi. Tanggalnya sehari sebelum perusahaan ayah Aluna bangkrut. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang. Rendra. Surya. Dan— Aluna menahan napas. Arka. Video itu berhenti tepat saat Arka menandatangani sebuah dokumen. Ruangan menjadi sunyi. Aluna perlahan menoleh pada pria di sampingnya. Tatapannya berubah. Bingung. Terluka. “Arka…” Arka menatap layar dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Ini tidak lengkap,” katanya pelan. “Tapi kamu ada di sana.” “Aku tahu.” “Dan kamu menandatangani sesuatu.” Arka menutup laptop itu pelan. “Aku perlu menjelaskan.” Namun sebelum ia sempat melanjutkan— Lampu rumah tiba-tiba kembali menyala. Listrik kembali normal. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan di layar ponsel Aluna, sebuah pesan baru muncul. Dari Adrian. Sekarang kalian sudah melihat bagian dari kebenaran. Pertanyaannya… kalian masih saling percaya? Aluna menatap layar itu lama. Lalu menatap Arka. Untuk pertama kalinya sejak mereka mulai bekerja sama— Keraguan muncul di matanya. Dan di suatu tempat yang jauh dari rumah itu, Adrian menatap layar laptopnya dengan tenang. Rekaman kamera keamanan lain sedang diputar. Memperlihatkan Aluna dan Arka di ruang tamu rumah persembunyian. Ia tersenyum tipis. “Langkah pertama,” gumamnya pelan. Permainan baru saja berubah arah. Dan sekarang— Bukan hanya kebenaran yang dipertaruhkan. Tapi juga kepercayaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD