Orang bilang, kalau kamu mengamati sekitarmu dengan cukup baik, kamu akan melihat mata yang sama pada orang yang berbeda. Mata itu mencerminkan jiwa dan perasaan yang kita coba sembunyikan. Darkness, pain, tragedy, desperation. Semua rasa yang tidak bisa dibahasakan oleh lidah. Dan sekarang, ketika aku berdiri di depan cermin, menatap perempuan berkulit pucat di hadapanku itu, aku melihat mata ibuku di sana. Ibuku merupakan seorang perempuan yang kuat dan tegar. Dia adalah tipe wanita, yang bisa terluka begitu dalam, tapi masih bisa tersenyum dengan sinar kehidupan di matanya. Seperti rumput liar yang tetap tumbuh meski terinjak. Seperti bunga yang tetap tumbuh meski di neraka. Bahkan setelah bapak pergi meninggalkan rumah, ibu tidak meneteskan setetes pun air mata. Ibuku tersenyum, berdir

