“Ibu tahu persis dia, Hendra, Ibu dekat sekali dengan keluarganya, tahu persis Arumi. Tak pernah sekalipun dia pacaran.”
“Nyatanya dia sudah tidak perawan Bu. Dia sudah membohongi kita.” Hendra kesal.
“Kamu nggak tanya dengan siapa dia melakukannya.” Ibunya menatap penuh selidik.
“Dia tetap tidak bilang Bu, itu yang membuat aku makin benci. Dia bilang tidak tahu siapa yang melakukannya. Berarti dia sembarangan melakukannya.” Hendra emosi.
“Hendra, jangan-jangan Arumi itu yang kamu nodai saat kamu sedang mabok ?”
Hendra tertegun.
“Tidak Bu, bukan dia, berbeda orangnya. Aku masih ingat orangnya, dia berkaca mata tebal, walaupun saat itu aku mabok aku masih ingat. Aku sudah mencari kemana-mana wanita itu tidak ketemu.”
“Seingat Ibu, Arumi kan dulu berkaca mata tebal, mata dia di laser jadi normal.” Zaenab deg-degan.
“Apa, Arumi berkaca mata tebal ?” Hendra kaget.
Dia menyambar gawainya untuk membaca pesan dari Arumi.
Ketika dia membacanya, Hendra lemas langsung memeluk ibunya menangis sampai kejer.
Zaenab membaca pesan yang dibuka Hendra, dia terbelalak. Anaknya kan punya tompel tapi dioperasi jadi sudah hilang tinggal bekasnya yang samar.
“Bu, bagaimana ini aku harus mencari Arumi, ternyata dia wanita yang selama ini aku cari bu.” Hendra sesenggukan.
“Ayo kita ke rumahnya Arumi, kamu bisa merujuknya.”
Hendra menggeleng.
“Kamu bisa jaga rahasia ini kamu pura-pura menerimanya tidak perawan, kalau kamu takut Arumi tidak menerima. Kamu minta maaf ke Arumi. Pasti akan menerimanya.”
“Bu, tadi pagi aku menyerahkan Arumi pada kedua orangtuanya, dia dipukuli sama bapaknya, lalu diusir.”
“Aku akan mencarinya Bu,” Hendra belum berhenti menangis.
“Kenapa kamu segegabah ini Nak.” Zaenab ikut terisak.
“Kamu sudah pernah melakukan hubungan dengan wanita malah menodainnya, tapi kamu tidak menerima wanita yang tidak perawan.” Zaenab prihatin dengan sikap yang diambil Hendra.
“Karena saat melakukan itu aku tidak menyadarinya, jadi aku merasa bukan suka sama suka.”
“Kamu jangan egois Hendra. Suka tidak suka, sadar tidak sadar kamu sudah melakukannya.”
“Sekarang kemana nyari Arumi Bu, apa dia numpang di temannya. Bagaimana aku harus menghadapi keluarganya Bu ?”
“Ya Allah ini harus bagaimana ?” Zaenab tidak tahu harus bersikap apa. Ternyata wanita yang diperkosa anaknya selama ini ada di sekitar dirinya.
“Sekarang kamu cari Arumi, coba telpon dia.”
Hendra langsung menelpon Arumi. Gawainya tidak aktif. Puluhan pesanpun hanya centang satu.
“Arumi dimana kamu, sudah dzolim sama kamu, dua kali aku menyakitimu. Maafkan aku.” Hendra sangat menyesal.
“Ya Allah apa ini yang harus aku lalui, setelah dipertemukan dengan orang yang dicari malah dicampakanku, betapa bodohnya aku.” Hendra bersimpuh di atas sajadah, memohon maaf pada
Illahi.
“Andai aku ikhlas menerimanya, Allah sudah bermurah hati mempertemukanku dengan yang selama ini aku cari, malah aku mencampakannya.” Hendra terus-terusan meratapi kebodohannya.
Malamnya Hendra dan ibunya ke rumah orang tuanya Arumi.
“Assalamualaikum.” Zaenab mengetuk pintu kebetulan pagarnya tidak digembok.
“Wa alaikum salam.” Tati membuka.
“Silahkan masuk Bu Zaenab, Hendra. Ada apa yaa, saya minta maaf Bu, kalau anak saya sudah mengecewakan nak Hendra. Sungguh saya tidak tahu harus bagaimana. Kalau mau nuntut
keluarga kami juga silahkan Bu.” Tati terisak.
“Bu maafkan Hendra ya, Dia ingin merujuk Arumi, Dia khilaf Bu Tati.” Zaenab merangkul Tati.
Hendra hanya bisa menunduk tak berani memandang Tati.
“Bu kalau ada kabar Arumi kabari saya ya Bu, saya akan minta maaf telah menyakitinya.”
Sampai saat ini Arumi tidak bisa dihubungi, saya tidak tahu dimana. Semua saudara sudah dihubungi tidak ada yang didatangi oleh Arumi. Kami khawatir, dia kan terluka badannya.” Tati
makin terisak.
“Ya sudah kalau Arumi ngabari suruh pulang, Hendra ingin minta maaf, dan berharap Arumi mau kembali pada anakku,”
Zaenab dan Hendra pun pamit tidak berlama-lama di rumah Tati karena melihat Tati sangat sedih makin merasa bersalah.
“Untuk mengurangi rasa bersalah, bagaimana kalau kamu transfer uang buat Arumi tiap bulan.” Zaenab ngasih ide.
“Ide bagus itu Bu, aku akan mengirimkan uang buatnya tiap bulan.” Ada sedikit kelegaan dalam hatinya.
***TBC