BAB 20

1414 Words
BAB 20 Ketika sampai di rumah sakit, Sita sudah ada sedang menangisi Ardan. “Kenapa kamu yang meninggal Ardan bukannya Arumi, ini kesalahan, Ardita pasti salah melakukannya. Ardita harus jelaskan ini semua apa yang kamu lakukan.” Sita teriak teriak. Polisi jadi curiga dengan ratapan Sita, “Coba jelaskan Bu sebenarnya ada apa ?” “Ardita salah sasaran, dia yang akan dibunuh kenapa anakku yang mati.” Sita tanpa sadar terus saja ngoceh karena nggak terima anaknya mati. Sita menelpon Ardita. “Halloo… Ardita kenapa kamu buat anakku yang mati, aku akan cari apa yang sudah kamu lakukan.” Sita masih kalap. “Aku nggak peduli siapa yang mati, yang penting mereka tidak bersatu, hahahah…” Ardita tertawa nyaring. “Sialan Ardita, aku akan nuntut kamu, kamu jahat Ardita.” Sita teriak, dia menyesal mengikuti rencana Ardita, ternyata dia nggak peduli siapa yang akan mati. Sekarang baru menyadari kenapa Ardan memilih Arumi. Penyesalan selalu di belakang. “Silahkan tidak ada bukti aku terlibat.” Ardita pongah. Hendra baru sampai di IGD. “Bu, ada pasien yang kecelakaan di puncak ?” Hendra bertanya pada perawat. “Ohh yang pasangan ?” Perawat balik tanya. “Mereka suami istri.” Hendra ingat KTP mereka belum berubah masih tertulis single. “Ohh itu pak di brankar ke empat, suaminya sudah dibawa ke kamar jenazah.” Sebelum perawat selesai bicara, Hendra dan mantan mertuanya sudah melangkah ke arah brankar nomor empat yang ditunjuk perawat. Hendra menyingkap partisi yang menutupi brankar. Terlihat Aisya belum sadar. “Ma, apa kita bawa ke Bandung saja, biar banyak yang diminta tolong.” Hendra memberi saran. Setelah konsultasi dengan dokter dan dibolehkan untuk dibawa ke Bandung, Hendra mengurus administrasi untuk keberangkatan pakai ambulance. Sebelum berangkat Hendra dan orangtua Arumi menemui Sita sekalian memberi tahu kalau Arumi akan di bawa ke Bandung. “Nanti kalau sudah selesai pemulasaraan Ardan, aku akan nengok Arumi, maaf kalau sekarang nggak bisa.” Sita mulai tenang karena saudara-saudara Ardan sudah mulai pada datang. Hendra bertukar nomor telpon dengan Sita untuk saling menginfokan kabar. Hendra hampir lupa mengabari Rena, tentang kecelakaan. Rena yang sudah kebal penderitaan tetap saja ketika mendengar Arumi koma karena kecelakaan malah histeris. Beberapa saat Hendra menenangkan Rena ditelpon, dan minta tetap usahanya jalan supaya Aisya tidak kecewa ketika sadar. Setelah beres semua Ambulance pun bergerak keluar rumah sakit diikuti Hendra menuju rumah sakit di Bandung. = = = = Selama dua minggu Arumi koma, setiap hari Hendra pulang kerja langsung ke rumah sakit. Kalau siang ditunggu adiknya Arumi yang lagi kuliah di luar kota. Karena Arumi koma, adiknya bolos untuk nunggui kakaknya. Tiap hari Zaenab membawakan baju kerja Hendra untuk esoknya, pulang membawa baju kotornya. Sabtu minggu Rasya ikut menunggui sampai sore, Orangtuanya tidak setuju kalau Rasya dibawa ke rumah sakit tapi Hendra ingin Rasya banyak ngoceh siapa tahu membuat Aisya berjuang untuk bangun. Dokter sudah menceritakan dengan detail apa saja yang dialami oleh Arumi. Yang pasti Arumi akan lumpuh tetapi masih bisa dilakukan operasi dan terapi yang terpenting ada kemauan keras untuk sembuh bisa kembali jalan. Rasya belum mengerti yang terjadi terkadang tantrum ingin digendong ibunya. Kalau sudah sulit mengendalikan Rasya, Hendra biasanya sampai manggil Arumi untuk bangun sambil menangis. “Rum, ayo bangun apa kamu tidak kasihan sama Rasya, dia kangen kamu.” Hendra mengajak ngobrol Arumi, lama-lama Rasya kelelahan setelah diberi minum s**u langsung tertidur. Seminggu kemudian. Ceklek pintu ada yang membuka. Hendra mengalihkan pandangan pada pintu, Sita masuk. “Bagaimana Arumi ada perkembangannya ?” Sita mendekati brankar. Hendra bangun mengajak Sita salaman. “Belum Tante.” Ucap Hendra lemah. “Apa dia cedera ?” Sita sedih pernah berusaha memisahkan anaknya dengan Arumi, tetapi bersyukur anaknya meninggal dalam keadaan bahagia bersama istrinya. “Sepertinya dia akan lumpuh.” Suara Hendra nyaris tidak terdengar “Arumi maafkan Mama, karena Mama kalian terpisah dengan Ardan. Hendra menggernyitkan dahinya. Sita menceritakan semua rencana Ardita tapi nggak nyangka dia ingin membunuh mereka, Sita hanya ingin mereka berpisah bukan kecelakaan seperti ini. “Tante, saya sudah beberapa kali bertemu dengan Ardita, saya curiga dia punya kelainan atau psikopat, heran saja kalau Tante dan Ardan tidak bisa mendeteksi dengan cepat.” Hendra ikut menyesalkan. “Ardan berkali-kali memberitahu kelakuan Ardita, tapi Tante tutup mata, Tante fikir itu karena Ardita sangat mencintai Ardan jadi bersikap impulsif begitu.” Sita terisak, “Tante sudah memberi tahu polisi ?” Sita mengangguk ternyata betul kabel remnya seperti di potong tetapi tidak sampai putus, hanya hentakan rem beberapa kali akan menyebabkan kabel itu putus. Tega sekali dia.” “Sekarang tunggu saja penyelidikan polisi. Aku menyesal mengikuti maunya dia, Tante hanya tidak enak karena Ardita anak sahabatku, makanya berusaha jodohkan dengan Ardan bertahan selama dua tahun tapi akhirnya nyerah karena Ardita terlalu mengganggu. Ibu nggak nyangka dia kejam sekali.” “Sudahlah Tante semuanya sudah terjadi, sekarang yang penting fokus penyelidikan polisi, yang jahat tetap harus dihukum.” Hendra menenangkan Sita. Tiba-tiba Arumi memanggil, “Mas Ardan, ini dimana ?” Hendra dan Sita kaget langsung memekan tombol darurat. Dokter dan perawat datang. “Bagaimana Bu Arumi ada yang dirasa ?” dokter bertanya. “Hanya kepala sedikit pusing, ada apa dengan saya dok ?” Arumi masih heran. Mata Arumi berputar menjelajah seluruh ruangan. “Mama… Kang Hendra, ada apa dengan Arumi ?” “Kamu kecelakaan di Puncak.” Hendra tidak mau membohonginya. Arumi menjadi teringat, ”Iya terakhir Arumi dengar mas Ardan teriak remnya blong. Mas Ardan dimana ?” “Arumi, sabar yaa, mas Ardan sudah pergi meninggalkan kita.” Ungkap Sita pelan tapi langsung menghujam d**a Arumi. “Arumi kami tahu ini akan sangat menyakitkan tapi kami tidak mau berbohong.” Hendra menggenggam tangan Arumi. Arumi sudah tidak bisa diajak bicara dia langsung tersedu, melepas tangan yang dipegang Hendra lalu menelungkupkan tangannya pada wajahnya. “Tante titip Arumi sebentar, saya mau telpon orangtuanya dulu.” Hendra beranjak keluar sebelum Sita menjawab. Setelah diluar Hendra menelpon orangtuanya Arumi dan ibunya juga. Hendra kembali masuk untuk menenangkan Aisya yang dari luarpun terdengar tangisannya. “Kenapa bukan Arumi saja yang mati Maa.” “Arumi, lihat kamu punya Rasya, dia masih perlu kamu. Ikhlaskan Ardan yaa.” Sita menyesal menuruti kemaun Ardita. Dia akan membuat perhitungan dengan gadis psikopat itu. Sudah dibaikin malah mencelakai anaknya. “Arumi, siapapun yang membuat kecelakaan ini Mama tidak akan tinggal diam. Akan mengejarnya sampai neraka.” Suara Sita bergetar saking emosi. “Mama… mama… dah angun.” Arumi menoleh mendengar ocehan Rasya. Hendra memangku dan membawa nya mendekat disimpannya Rasya dipangkuan Arumi. “Mama angis, Papa… mama angis.” Rasya jadi ikut menangis. “Arumi yang ikhlas yaa demi Rasya kamu harus kuat.” Akhirnya Aisya berusaha menahan tangisannya. “Kang aku mau ke kamar mandi.” Aisya memberikan Rasya pada Hendra. Deg… Hendra bertatapan dengan Sita. “Arumi, ka…kakimu tidak bisa digerakan.” Hendra bicara pelan lalu meraih tombol memanggil perawat untuk minta bantuan. Sesaat Aisya bergeming. Setelah sadar kakinya tidak bisa digerakan Arumi menjerit jerit, rasanya tidak terima setelah mendengar Ardan tewas dalam kecelakaan itu, mendapati kenyataan kakinya lumpuh. Arumi tak terima hidupnya penuh drama seperti ini. “Apa salah aku ya Allah, dari muda diberi cobaan terus, cobaan apalagi yang akan Allah berikan.” Arumi tak berhenti teriak sampai perawat dan dokter datang. “Arumi, kelumpuhan ini tidak permanen, asal rajin terapi akan bisa kembali normal, percaya sama saya.” Dokter menenangkan. Arumi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Karena ingin buang air kecil untuk senmentara pakai pispot. Orang-orang pada keluar. Ketika nunggu di luar orangtua dan ibunya Hendra datang, heran semua di luar. “Ada apa ini pada diluar ? ada apa dengan Arumi ?” tanya Komar tergesa, takut terjadi apa-apa pada Arumi. “Arumi sedang buang air dia pakai pispot.” Sahut Sita. “Apa dia sudah mengerti kakinya lumpuh ?” Komar prihatin anak kesayangannya dapat cobaan yang sangat berat. Hendra mengangguk, “Dia belum nerima kenyataan Pa.” “Wajar saja, kita harus sabar menghadapinya, pasti dia akan lebih sensitif.” Perawat keluar, semua orang masuk. Arumi membisu dengan tatapan kosong, terlihat sangat mengkhawatirkan. Komar menyentuh tangan Arumi. “Sayang, anakku yang ikhlas sabar yaa, pasti akan kembali seperti semula.” Komar pun berkaca-kaca tak tega melihat kondisi anaknya. “Teteh pasti kuat, aku percaya teteh pasti bisa melewatinya.” Satria adik kesayangan Arumi pun menahan tangis. ***TBC Terima kasih love nya novelku yang lain The Hell of Love The Return of Love Cinta Tak Bertuan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD