BAB 1

683 Words
DIA YANG MENODAIKU BAB 1 “Sekarang kamu katakan dengan siapa kamu melakukannya ?” Hendra marah mendapati malam pertama istrinya tidak perawan. “Aku tidak tahu Kang.” Arumi menunduk dalam, dia benar-benar tidak tahu jangankan nama, wajahnya pun tidak ingat yang menodainya, yang dia ingat ada tompel di punggung kanannya ketika saat dia memunggunginya dia melihatnya. Di luar itu semua dia terus-terusan menangis, jadi mencopot kaca mata tebalnya. Jadi tidak bisa melihat dengan jelas. “Jangan bohong. Apa susahnya kamu jujur mengatakan sebelum menikah kalau kamu tidak perawan, aku akan menerimanya. Kalau dibohongi begini nggak enak banget tahu.” Hendra langsung keluar untuk meneruskan tidur di kamar sebelah. Airumi sangat sedih dan mengutuk laki-laki yang menodainya, dia membenci seumur hidupnya. Dengan dinodai beban mentalnya down dia menjadi penyendiri dan menutup diri dari pergaulan yang dulunya dia nikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Setelah diperkosa dia berubah total, semua teman dan keluarganya heran tapi tidak tahu apa yang terjadi, hanya Tuhan, dia dan laki-laki yang memperkosanya. Lima tahun lalu petaka itu menghampirinya. Menjelang dini hari Arumi langsung beranjak, tak sekejap pun dia tidur, rasa sakit hati yang teramat besar membuat dirinya kehilangan kantuk. Arumi ke kamar mandi, berwudhu lalu shalat malam mengaji dan sampai shalat subuh. Suaminya lamat-lamat mendengar alunan merdu sang istri, “Kelihatan alim, pake ngaji segala tapi jalang.” Walaupun Hendra pernah melakukan hubungan intim. Tetapi dirinya sangat menginginkan istrinya perawan. Hendra dulu melakukannya tanpa sadar jadi dia merasa tidak melakukannya. Pagi-pagi Hendra mengajak Aisya ke rumah orang tua Arumi, tak punya kecurigaan apapun, Aisya menurut saja. Sesampainya di rumah Arumi, kedua orang tua Arumi kaget baru kemarin mereka dari rumah ini sekarang sudah balik lagi. “Assalamualaikum.” Ucap Arumi dan Hendra berbarengan. “Waalaikum salam.” Tati yang sedang mengurus tanaman dihalaman menyambut anak mantunya. “Arumi, masa kamu baru sehari sudah balik lagi ke sini ? kamu jangan nyusahin suamimu, ingat kamu sudah menikah Nak.” Tati menegur anaknya. “Iya bu, yang ngajak ke sini kang Hendra.” Arumi melirik suaminya bingung. “Bapak ada Bu ?” “Ada, ayo masuk.” Tati membuka pintu ruang tamu, “Ibu panggil dulu Bapak sekalian bawa minum.” Hendra dan Arumi duduk menunggu tanpa bicara. “Ayo diminum.” Setelah menaruh minum di meja. “Ada apa Nak pagi-pagi sudah ke sini.” “Begini Pak, saya langsung saja tidak perlu basa-basi, saya mengembalikan Arumi pada Bapak, saya talak Arumi saat ini. Arumi ternyata sudah tidak perawan saya merasa dibohongi olehnya.” Ucap Hendra dengan mantap. Arumi membelalak. Orangtuanya sangat kaget. “Arumi, kamu benar tidak perawan ?” Komar berteriak. Arumi menunduk dalam-dalam. “JAWAB ARUMI.” Komar malu dengan kenyataan anaknya bukan orang baik-baik. Arumi mengangguk pelan. “Siapa yang memerawanimu ?” Komar masih emosi. Arumi menggeleng. “Arumi tidak tahu Pak.” Suaranya tercekat karena tangisan sudah lebih dulu keluar. Komar mendekati Arumi, PLAK… PLAK… Komar menampar kedua pipi Arumi dengan sekencangnya. Arumi tersungkur. “Pak jaga dulu emosi, kita tanya baik-baik apa yang telah terjadi padanya.” Tati menenangkan suaminya. Dia membuka sabuk dari pinggangnya, lalu memukulkan ke anaknya yang sebelumnya ditarik ke lantai. Sabetan sabuk terdengar memilukan. Arumi diam tanpa menjerit. Hanya air mata yang menandakan dirinya kesakitan. Sakit sabetan sabuk ayahnya tidak seberapa dengan sakit karena penolakan suaminya tanpa bisa membela diri. Akhirnya Tati memeluk punggung Arumi. “Pak sudah, bagaimanapun Arumi anak kita, maafkanlah dia.” Tati memeluk erat Arumi. Hendra tidak menyangka Komar akan semarah itu pada Arumi, ada sedikit penyesalan di hatinya terlalu cepat mengambil keputusan. “Keluar dari rumah ini. Aku tak sudi melihatmu, kau sudah bukan anaku lagi.” Teriak Komar. “Kamu tahu bapak sangat menjungjung tinggi moral, kamu sudah rusak tanpa Bapak tahu.” Arumi bersujud dikaki Bapaknya, “Pak tolong dengarkan dulu, Arumi bukan perempuan murahan.” Arumi menghiba. “Kalau tidak perawan sebelum menikah itu namanya apa Arumi.” Komar teriak. Komar bukannya melembut tapi menendang kepala Arumi, “ PERGI." ***TBC Maaf reader ada pergantian nama dari Aisya ke Arumi jadi kalau masih tertulis Aisya anggap saja Arumi, mojon maaf
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD