Bertemu Orang Tua Althan

1060 Words
“Hei!” Aku menepuk pundaknya ketika sudah sampai di kafe. “Duh jeleknya kalau kusut kayak gini,” godanya. “Aku capek.” Aku menarik kursi dan duduk. “Gimana, lancar?” Aku mengangguk. Setelah itu, langsung memesan coklat hangat. Tak lama kemudian pelayan mengantarkan pesananku. Segera menyesapnya. Bahagia rasanya setelah beberapa hari tidak bertemu Althan. Rasa rindu yang menggebu dalam jiwa sudah terobati. “Citya ... nanti malam orang tuaku mengundangmu makan malam di rumah.” Aku langsung terbatuk kaget mendengar perkataan Althan. “Apa? Nanti malam?” tanyaku meyakinkan. “Iya. Kenapa jadi gugup? Lebih cepag lebih baik, kan?” Althan mengerling genit. “Apa, sih, genit.” Aku memukul lengan Althan pelan. “Nggak ada salahnya, dong, genit sama calon istri sendiri,” ucapnya. “Belum. Kamu belum melamar secara resmi,” sahutku. “Makanya nanti malam diundang ke rumah, biar kenal dulu sama kamu.” “Tapi ... aku takut.” Aku menggigit bibir bawah. “Nggak perlu takut. Papa dan mama nggak galak, kok,” ucapnya. Aku benar-benar gugup. Kenapa secepat ini Althan mengajak bertemu orang tuanya? Aku benar-benar belum siap. Kami terdiam sambil menikmati hidangan kafe diiringi musik klasik yang mengalun lembut. Setidaknya bisa membuat sedikit rileks dengan mendengarkan musik. Kami mengobrol banyak hal. Mengobati rasa rindu yang membuncah dalam hati. Ditemanj dengan suasana kafe yang romantis serta alunan musik yang lembut. *** Dada berdebar tak karuan. Napas terasa sesak. Gugup. Itulah yang kurasa. Gadis mana yang tidak takut, jika akan bertemu dengan orang tua pasangan? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati. Bagaimana kalau nanti mereka tidak menyukaiku? Lalu, tidak merestui hubungan kami? Aku menarik napas panjang. Semua itu dipikir belakangan. Yang paling penting bisa mengambil hati mereka. Aku gamang harus memakai gaun apa nanti. Akhirnya, setelah mengobrak-abrik isi lemari menemukan sebuah gaun yang pas. Atasan blus dengan panjang tigaperempat lengan yang bermotif bunga warna pastel. Lalu, bawahan celana bahan polos warna krem. Flat shoes putih. Kurasa sudah cukup sopan untuk bertemu dengan calon mertua pertama kali. Lalu, aku mematut diri di depan cermin. Memoles wajah dengan make up sederhana agar tampak natural, tetapi tetap cantik. Tak lupa mengoleskan foundation di wajah serta bedak secara tipis. Kemudian, mengoleskan concealer di bawah mata supaya terlihat fresh. Lipstik warna pink agar tidak pucat. Setelah selesai, aku tersenyum puas. Sudah cocok dan tampak pas. Tepat pukul 19.00, Althan datang menjemputku. Wow! Dia sangat keren, tampil elegan dan maskulin. Althan memakai kemeja bermotif kotak-kotak dan celana jeans body slim fit. Serta tercium aroma parfum Marine Note, baunya sangat menyegarkan seperti angin laut. Membuatku terhipnotis. “Sudah siap?” tanyanya mengagetkanku. Aku mengangguk. “Nggak usah takut, ada aku.” Althan tersenyum, lalu membukakan pintu mobil, dan mempersilakanku untuk masuk. Mobil melaju dengan lambat. Suasana sunyi. Hanya ditemani suara musik yang mengalun lembut. Aku tegang dan gugup. Tubuhku rasanya panas dingin. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatiku. Bagaimana kalau ternyata nanti kami tidak bisa cocok? Bagaimana kalau orang tua Althan tidak menyukaiku? Masih banyak imajinasi lain yang terlintas di kepala. Entah, aku bingung. “Citya, nggak usah tegang dan gugup.” Althan menoleh sekilas. “Aku takut. Gimana kalau nanti orang tuamu nggak suka sama aku?” Aku menggigit bibir bawah. “Tenangkan dirimu. Yakin aja orang tuaku suka sama kamu. Percaya, deh, sama aku,” ucap Althan menenangkanku. Aku hanya membisu. Dunia seolah-olah cepat berputar. Rasanya aku tak ingin segera sampai di rumah Althan. Pikiranku benar-benar berkelana ke mana saja. “Udah sampai.” Aku tergagap mendengar perkataan Althan. “Makanya jangan suka melamun. Kebiasaan, deh. Ayo, turun.” Althan turun, lalu membukakan pintu untukku. Aku menelan ludah. Setelah turun, aku melihat ke sekeliling, halaman rumahnya saja sangat luas. Terdapat taman bunga di bagian samping halaman. Pasti rumahnya sangat mewah dan luas, seperti istana ... mungkin. Menyaksikan keadaan sekitar, membuatku semakin minder. Bagaimana kalau orang tua Althan hanya menganggapku wanita matre yang menginginkan harta mereka saja? Aku semakin takut dan gugup. Althan menggenggam tanganku untuk menguatkan dan menenangkan. Ketika berjalan menuju rumahnya, kami disambut satpam dan seorang wanita yang merupakan salah satu asistennya. Saat sudah berada di depan pintu, mamanya sudah menunggu. Terlihat sangat berwibawa. Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan. Beliau memakai baju elegan. Wajahnya asli Indonesia. Berarti yang Turki, mungkin papanya. Keringat dingin semakin banyak saja. Namun, aku sedikit lega, ketika melihatnya tersenyum ramah. “Ini, Citya, ya?” “Iya, Tante,” jawabku sambil mencium tangannya. “Ayo masuk. Kami sudah menunggu dari tadi,” ucapnya. Aku mengangguk. “Tante mereka belum datang, ya.” Tiba-tiba ada seorang wanita keluar dari rumah. Mataku menyipit. Siapa dia? Bukannya Althan anak tunggal? Lalu, siapa wanita ini? Garis wajahnya menyimpan gurat khas Asia dan Eropa yang menyatu dengan sempurna. Postur tubuhnya semampai, hidung mancung, bulu mata lentik, dan alis tebal tanpa sulam. Jika dilihat dari cirinya, sepertinya dia keturunan Turki juga. Namun, kenapa Althan tidak pernah cerita soal perempuan ini? Aku semakin gelisah. Dia saudaranya atau bukan? Apa yang disembunyikan Althan dariku? Althan menoleh padaku dan tersenyum, lalu dia menggenggam tanganku dengan erat. *** Kehadiran wanita Turki itu, membuatku serasa berhenti bernapas. Dunia seolah-olah sempit. Hatiku terasa nyeri bagai ditusuk jarum berkali-kali. “Althan ... siapa wanita itu?” bisikku. “Anak rekan bisnis Papa. Santai, dong, jangan tegang,” sahut Althan sambil tersenyum. “Kenapa kamu nggak bilang kalau bakal ada orang lain juga?” tanyaku sambil mengerucutkan bibir. “Aku nggak tahu. Mama nggak bilang.” Perempuan berkulit putih itu tersenyum ke arahku. Lalu, katanya, “Oh, sudah sampai ternyata, ya. Ini yang namanya Citya?” Aku mengangguk dan tersenyum. “Kenalkan aku Beyza,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Acitya.” Aku menyambut uluran tangan perempuan di depanku ini. Rasanya, aku sangat minder ketika melihat kesempurnaan fisik Beyza. Kulitnya putih bersih seperti s**u, sedang punyaku sawo matang khas Indonesia. Tubuhku pun mungil, seperti anak kecil saja jika bergabung dengan mereka. Beyza memang cocok dengan Althan. Wajahnya juga sama-sama khas Timur Tengah. Tingginya hampir sama. Aku menarik napas panjang. “Kenapa tegang? Biasa aja. Jangan gugup,” ucap Althan sambil tersenyum menatapku. Segaris senyum di bibir Althan membuatku sedikit lega. Lesung pipit di pipinya menghipnotisku. “City, ayo masuk.” Ajakan mamanya Althan mengagetkanku. “I-iya, Tante.” Aku melirik Beyza, dia tampak tersenyum dan sepertinya tulus. Namun, aku juga tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati Beyza. Aku hanya menarik napas dalam. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD