Aku merasa bersalah setelah melihat perubahan wajah Mas Evin. Namun, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku terkaget saat mendapat tepukan dari Althan.
“Aku masuk dulu bentar. Mau ambil minum,” ucap Althan sambil berlalu.
Aku mengangguk. Lalu, aku kembali melirik Mas Evin. Dia seperti mengusap sudut matanya. Apakah aku berdosa telah membuatnya menangis? Ah, entahlah.
“Mas … kamu nggak apa-apa?” tanyaku pelan.
Mas Evin menoleh dan tersenyum padaku. “Memang Mas kenapa? Baik-baik aja, kok.” Mas Evin memegang kedua bahuku. “Yang penting kamu bahagia, Mas sudah sangat bahagia,” lanjutnya.
Aku menggigit bibir bawah, Mas Evin begitu baik. Dia selalu mengutamakan kebahagiaanku. Tanpa memikirkan kebahagiaannya. Semoga kamu segera menemukan cinta sejatimu.
“Kamu nggak usah mikir soal Mas.” Mas Evin mengangkat daguku.
Aku mengangguk. “Mas Evin juga harus bisa segera mengubur rasa cinta Mas buat aku. Mas Evin harus bisa menemukan cinta sejati,” ucapku.
Mas Evin mengangguk. “Pasti Citya.”
Terdengar derap langkah mendekat, kami menoleh ternyata Althan. Mas Evin segera menjauh dariku, mungkin tak enak pada Althan. Althan menatap kami bergantian. Aku tersenyum pada Althan dan melangkah menuju Althan.
“Nggak usah lihat kami kayak gitu, ah. Aku sama Mas Evin ini saudara, kakak adik, jadi biasa aja,” ucapku. “Nggak usah cemburu,” lanjutku.
“Yey, siapa yang cemburu? GR amat,” ejek Althan lalu tersenyum.
Aku pun memukul lengan Althan. Lalu, kami semua tertawa terbahak-bahak. Setelah itu kami pun masuk ke rumah, untuk berbaur dengan keluarga.
Selepas acara makan bersama, pihak keluarga Althan bersiap-siap untuk pulang. Aku mencium tangan semua keluarga Althan.
Aku membantu Mama memberikan seserahan balasan yang juga berisi makanan atau kebutuhan sehari-hari untuk keluarga Althan.
Setelah pihak keluarga Althan sudah meninggalkan rumah, aku bernapas lega.
“Ehm.” Mas Evin berdehem.
Aku menoleh. “Apa sih Mas?”
“Nggak usah senyum-senyum sendiri gitu. Ayo masuk. Ntar kesambet.” Mas Evin terbahak.
Ah, Mas Evin ... selalu saja menggodaku. Semoga dia segera menemukan cinta sejatinya. Jodoh yang baik dan pas untuknya. Aku tersenyum.
***
Sekarang aku sudah resmi menjadi Nyonya Althan. Sebelum mempunyai rumah sendiri lelaki Timur Tengah itu, mengajak tinggal di apartemen miliknya. Sebenarnya aku menolak, tidak enak rasanya. Lebih baik mengontrak saja dulu, biaya hidup lebih hemat. Namun, Althan bersikukuh mengajak tinggal di apartemen miliknya. Dia bilang karena dekat dengan kantornya. Selain itu berlokasi dekat dengan keramaian jadi mudah menjangkau tempat-tempat strategis seperti mall, rumah sakit dan sebagainya. Huniannya juga relatif nyaman dengan pemandangan gedung-gedung tinggi. Bila malam menjelang kami bisa melihat gemerlapnya kota di ketinggian gedung. Menambah suasana menjadi romantis.
Bahagia rasanya, tak terasa sudah hampir tiga bulan aku menikah dengan Althan. Sudah sekitar satu minggu, kembali bekerja menjadi dosen di kampusku dulu. Althan mengizinkan tetap berkarier, tidak melarang apa pun asal bisa menjaga kesehatan dan membagi waktu dengan keluarga.
Aku mengerjapkan mata, silau. Ternyata hari sudah pagi. Cahaya matahari menembus melalui celah jendela yang dihiasi tirai tipis. Aku menggeliat, menoleh ke arah Althan. Tampak dia masih sangat nyenyak tidurnya. Aku mengecup lembut pipinya. Tiba-tiba saja dia menarik tubuhku ke pelukannya. Aku terkejut.
“Althan! Aku pikir kamu masih tidur,” ucapku manja.
“Memang masih tidur, terbangun karena merasa ada benda kenyal menyentuh pipi. Sudah sini aja dulu, masih pagi. Lagian sekarang, kan hari minggu, Sayang.” Althan menatapku dalam.
Aku terkekeh, geli rasanya. Kumis tipisnya menyentuh pipi.
“Tapi aku mau masak. Ntar kalau lapar gimana?”
“Nggak bakal lapar kalau sama kamu terus.” Althan tersenyum genit.
“Althan. Aku mau masak dulu. Kamu cepat mandi. Biar nggak bau asem.” Kemudian aku berlalu ke dapur.
Setiba di dapur, melihat isi kulkas, memasak sesuai dengan stok yang ada.
Ketika sedang memotong sayuran Althan datang dan langsung memeluk dari belakang.
Aku langsung berbalik arah. “Althan … jangan ganggu dulu. Aku mau masak, biar cepat selesai.”
Bukannya pergi malah semakin menggoda.
“Althan!” teriakku gemas.
Althan terkekeh. “Iya, iya maaf, Sayang. Habisnya tiap lihat kamu bawaanya pingin nempel mulu.”
“Jangan ganggu dulu. Sebaiknya kamu tunggu sambil nonton dulu sana!” perintahku.
Althan pun berlalu. Aku bernapas lega.
Beberapa saat kemudian, ketika menyiapkan makanan di meja makan, Althan telah muncul dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos yang sedikit ketat menunjukkan otot-otot badannya, serta rambut yang basah. Terlihat sangat sexi. Aku semakin terpesona.
“Kenapa lihat aku sampai segitunya, sih? Terpesona ya?” tanya Althan sambil tersenyum.
“Idih, PD banget sih,” ucapku sambil duduk.
Aku mengambilkan nasi dan lauk untuk Althan. Kami pun menyantap sarapan pagi dengan candaan, suasana yang sangat menyenangkan. Di hari minggu memang waktu bagi kami menghabiskan waktu bersama. Setelah selama satu minggu jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
“Sayang, habis ini kita jalan-jalan, ya? Menikmati hari minggu.”
Aku mengangguk. Kami pun melanjutkan makan sambil bercanda. Entah, sampai sekarang aku masih belum bisa memanggil Althan dengan sebutan sayang. Mungkin terdengar tidak sopan memanggil suami dengan namanya saja. Terkadang Althan marah ketika hanya dipanggil namanya saja. Aku pun terkekeh dan semakin menggodanya.
Setelah selesai sarapan kami segera pergi jalan-jalan. Ke taman kota, tempat yang paling berkesan bagi kami. Tempat kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Memang setiap akhir pekan kami selalu menghabiskan waktu bersama. Entah itu hanya berdiam di rumah atau pun jalan-jalan.
Di dalam mobil aku suka menggoda Althan. Setidaknya supaya tidak sepi. Tiba di taman, suasana sangat ramai banyak pasangan muda mudi yang menghabiskan hari libur bersama. Ada juga beberapa keluarga, mereka sangat menikmati kebersamaan yang jarang terjadi. Aku bahagia sekali. Tak ingin kebahagiaan ini berakhir.
Ketika malam menjelang, kami menyaksikan pemandangan kota dari gedung apartemen. Situasi yang sangat romantis. Bulan tampak malu-malu hendak keluar dari persembunyiannya. Seakan iri melihat kebersamaan kami.
***
Sudah hampir seminggu Althan sangat sibuk di kantor. Mengurus banyak hal. Terkadang sampai larut malam baru pulang. Aku selalu setia menunggu kedatangannya hingga tertidur di sofa ruang tamu.
“Sayang.” Terdengar samar-samar suara memanggilku.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, tampak Althan sudah duduk dan tersenyum.
“Sayang, kamu sudah pulang? Maaf aku ketiduran.” Aku mencoba untuk duduk.
Althan mencium keningku. “Kan aku sudah bilang nggak usah nunggu pulang, langsung tidur aja. Aku bawa kunci, kok. Nanti kamu capek. Jaga kondisi kamu dan calon anak kita,” ucap Althan sambil mengelus perutku lembut.
Ucapan Althan menyadarkan, bahwa kini di dalam rahimku ada kehidupan baru. Sudah menginjak usia sepuluh minggu. Aku mengelus perut yang masih rata sambil tersenyum. Aku senang karena bisa dengan cepat hamil. Ya, walaupun aku tak percaya pada Allah, ternyata malah hidupku penuh kebahagiaan. Beda dengan dulu.
“Ayo tidur ke kamar.” Althan membopongku.
Aku terkaget. “Althan! Aku bisa jalan sendiri.” Aku memukul d**a Althan.
“Sudah diam. Harus nurut sama suami.” Althan menatapku dalam.
Aku sangat bahagia rasanya mempunyai suami seperti Althan. Selalu siap siaga kapan pun aku butuhkan. Semoga selamanya seperti ini.
“Kamu tidur lagi, ya. Aku mau mandi dulu, gerah.” Althan berlalu menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, dia pun keluar dengan wajah yang tampak segar. Aku menatapnya. Sungguh memesona. Ternyata suamiku begitu keren.
Althan menoleh. “Belum tidur? Kan, tadi sudah aku suruh tidur duluan.” Althan mendekat dan berbaring di sebelahku.
“Nunggu kamu, dedek bayinya minta ditemani papanya,” ucapku manja.
“Dedek bayi atau mamanya.” Althan menjawil ujung hidungku.
Aku tersipu malu, lalu membenamkan wajah ke d**a bidang Althan.
"Citya ...." Althan memanggilku.
"Ya," jawabku sambil mendongak.
"Emm, kalau aku minta kamu untuk kembali berjilbab gimana?" tanya Althan sambil menatapku dalam.
Aku langsung terbelalak. Tak percaya dengan apa yang Althan katakan.
"Althan, bisa nggak ngobrolin yang lain?" tanyaku.
"Citya ... aku tahu kamu benci sama Takdir dan Allah. Aku pun belum sempurna. Tapi, aku sekarang suamiku, jadi ya sebisa mungkin membawaku ke jalan kebaikan." Althan mengusap rambutku dengan lembut.
"Althan, dulu waktu aku berbakti pada Allah kamu, kehidupanku sangat terpuruk. Aku kehilangan semuanya. Bahkan calon suamiku. Sedangkan setelah aku menjauh justru kebaikan selalu menyertaiku."
"Citya, kamu nggak boleh ngomong gitu. Bisa aja semua itu ujian." Althan terus bersikeras menasihatiku.
"Ah, udahlah. Males. Aku mau tidur!" sentakku.
"Citya jangan gitu. Ya udah maafin aku."
Aku tetap merajuk dan membelakangi Althan. Althan terus merayuku. Dan aku tak bisa jika harus marah lama pada Althan.
"Citya, maafin aku ya?" pinta Althan lagi.
Aku pun menghadap pada Althan lagi dan tersenyum.
"Pokoknya jangan pernah paksa aku!" sungutku.
"Iya, aku janji." Althan mencium keningku dengan lembut.
Setelah itu, kami pun melewati malam dengan penuh cinta. Seolah-olah tak ingin berpisah sampai kapan pun.
***
Bersambung