Alika merasa terkucilkan di rumah mertuanya. Erna menanggapi pembicaraan Alika hanya sakadar lewat, bahkan ibu mertuanya hampir tidak di rumah setiap hari. Sementara Davin? sudah seminggu menganggapnya bagai patung hidup yang tidak perlu disapa apalagi diajak bicara. Di Kota ini, Alika sendirian tidak memiliki seorang sanak saudara pun, tetapi suami dan mertuanya sedikit pun tidak memiliki hati. Mengabaikannya hanya untuk seorang wanita gila. Saat ia mengadu pada kedua orang tuanya di Surabaya, justru Alika yang mendapat nasehat dan petuah. Sungguh hebat pemikat wanita gila itu, walaupun kedua orang tuaku tidak mengenalnya, tetapi bisa menghadirkan simpati untuknya. Batin Alika. Rasa benci semakin menjadi di hati wanita yang kecantikannya bagai gadis remaja. Ia ingin menemui Vidya dan m

