Setelah keluar dari areal pemakaman yang tampak tersusun rapi dan memang dipelihara dengan baik, Andara dan Bara masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam. Saat itu, Andara terus mencoba untuk menyeka air mata Bara agar suaminya lebih tegar dan ikhlas lagi dengan semua ujian yang sudah Tuhan berikan untuk hidupnya. Meskipun Andara sendiri merasa semua ini begitu berat dan serat, tetapi ia harus tampak baik-baik saja di depan Bara demi menguatkan jiwa cintanya. "Tuan, kita mau ke mana?" tanya sopir dengan suara yang terdengar santun. "Tempat yang biasa saya kunjungi, ketika sedang musim semi seperti ini, Pak!" sahut Bara sambil menyandarkan kepala pada pundak kanan Andara. Andara menatap Bara karena ia baru tahu bahwa suaminya memiliki tempat seperti itu. "Jadi penasaran dengan sesuatu

