"Apa itu ... femme fatale?" tanyaku masih dengan nada ragu. Takut salah melafalkannnya.
Kami sekarang beralih berbincang di dalam bus, karena, setelah pembahasan singkat tentang konsep tadi, busnya datang.
"Semacam ini 'hai kamu cowok ganteng! Akan kumakan kamu. Haaaoommm!" Kedua tangan Emma terangkat sampai dekat pipi, lalu mengepal secara bersamaan, berakting seperti mau menerkam mangsa dengan rakus.
"Eh?" latah seorang penumpang ibu-ibu yang duduk di seberang kami, menatap Emma sambil geleng-geleng kepala.
Dan aku? Entah mengapa rasanya kepalaku malah penuh dengan tanda tanya besar mendengar penjelasan menggebu-gebu Emma. Aku sama sekali gak paham yang dia maksud dengan 'akan kumakan kamu.'
Melihatku gak konek, gadis manis itu mulai memberi penjelasan tambahan, "kamu tahu playgirl?"
Aku mengangguk, tentu saja aku tahu apa itu playgirl.
Sejenak, aku tak menghiraukan kalimatnya, aku mengambil botol air mineral yang dari tadi dipegang Emma. Aku haus. Sejak berjalan dan naik bus, sebenarnya dari tadi aku kehausan. Untung aja nih anak selalu bawa botol air minum.
"Semacam itu tapi lebih ganas."
Aku menatapnya sambil membuka tutup botol air mineral tapi agak sulit, dahiku mengernyit, antara kesusahan membuka botol dan masih tidak mengerti arah pembicaraan Emma.
Setelah beberapa kali mencoba memutar tutup botol, akhirnya aku berhasil membuka botol mineral itu dan segera menegaknya. Siang hari yang panas dipadu dengan air mineral, lumayanlah. Sebenarnya lebih enak dan seger kalau es sih tapi mana ada di dalam bus.
"Masih belum mengerti?" tanya Emma agak greget karen aku nggak paham-paham.
Kujeda meneguk minumku, menggeleng sebentar, lalu meneruskan minumku lagi.
"Maksudku, jika playgirl hanya memainkan hati dan perasaan cowok, maka femme fatale, selain mempermainkan hati, dia juga suka mempermainkan para cowok di atas ranjang."
Uhuk. Pfffttt. Byuuuuurrrr.
Emma kaget setengah mati mendapati semprotan air minumku di wajahnya. Dan lebih kaget lagi ketika penumpang ibu-ibu yang di seberang tadi, tiba-tiba berdiri lalu menuding Emma dan berteriak, "Dasar cah wadon keplek!!!!" Lalu berjalan serampangan ke bus depan dan turun di halte 7.
Aku dan Emma hanya saling berpandangan bingung.
########
"Jangan tebal-tebal Em!" cegahku ketika dia mau membubuhkan bedak lagi di wajahku. Sudah hampir 30 menit gadis ini mencoret-coret wilayah kecantikanku. Memberi berlapis-lapis cream, entah itu cream pembersih, toner, pelembab, primer, foundation, dan entah apa lagi namanya. Wajahku terasa menebal seperti memakai topeng.
"Nggak papa, Ra. Biar nggak kelihatan wajah aslimu. Kalau rencana kita lancar dan kencan itu gagal, kamu gak mau kan suatu hari nanti jika takdir mempertemukan kalian lagi, dia masih mengenalimu."
Iya juga sih, benar juga apa yang dikatakan Emma. Tapi riasan ini benar-benar begitu tebal. Wajahku sampai terasa berat. Huuuffftttt.
Oh ya mengenai kejadian di bus tadi, setelah ibu-ibu itu turun, kami diam seribu bahasa. Ternyata selama ngobrol ngalor ngidul di dalam bus, suara kami lumayan keras. Buktinya, walau si ibu sudah turun tapi beberapa penumpang yang masih duduk, tetap melihat kami semua. Membuat kami menunduk malu dan tidak berani melanjutkan berbicara.
"Merah banget Em!" protesku melihatnya mengeluarkan lipstik.
"Dih protes melulu nih anak. Udah diem. Mingkem. Serahkan pada temanmu yang cantik ini saja. Aku jamin setelah dipoles dengan tangan ajaibku, kamu pasti akan takjub dengan hasil riasanku," sombongnya.
Sekarang kami berada di apartemen Emma. Apartemen yang begitu mewah dan luas. Bahkan tempat make up-nya pun elegan. Lihat saja! Lipstiknya aja ada berpuluh-puluh biji. Dan semua itu keluaran dari merek Guarlian Rouge G Jewel. Lipstik yang dibandrol mulai harga tiga ratus ribu rupiah sampai jutaan rupiah sesuai dengan serinya.
Kagum? Iri? Takjub?
Tidak. Aku merasa biasa saja. Karena dulu aku juga pernah merasakan yang Emma rasa sekarang ini. Jadi aku nggak merasa insecure dengan keadaanku sekarang. Walau, well kamu tahu, sangat berbeda 180°. Tapi aku nggak malu. Aku menjalani hidupku penuh dengan semangat. Dari dulu -ketika aku masih diatas-, sekarang -tiap detik aku dibawah-, dan akan datang -semoga hanya ada kebahagiaan- aku selalu positif thinking dan penuh semangat.
"Taraaaaaaaa!!!!"
Aku melongo melihat koleksi baju Emma. Bukan. Bukan karena banyaknya baju atau gaun. Bukan pula karena bahan kainnya sehalus sutra atau selembut kapas. Tapi karena modelnya. Model seksinya.
Aku segera beranjak keluar dari ruang ganti yang penuh baju itu.
"Eits mau ke mana?" Tapi nih anak gercep banget halanginnya.
"Kamu gila ya Em, baju-baju itu .... " aku kehilangan kata-kata, "ogah. Aku ogah pakai baju kayak gitu," putusku.
"Dari kemaren kamu demen banget sih Ra ngatain aku gila," ganti gadis itu yang protes, " bodo amat kamu gak mau pakai. Mau nggak mau kamu tetep harus pakai."
"Ihhhh maksa!" cibirku, "nggak mau Emma. Aku nggak mau. Titik."
"Tapi kan kita udah setuju dengan konsepnya Fara sayang," gregetnya, "please! Mau ya?" rayunya.
"Tapi nggak gini juga Emma." Aku menjumput satu baju kurang bahan yang paling dekat denganku, "ini baju kayak belum selesai dijahit."
"Yaaaahhhhh sejak kapan kamu jadi kolot gini sih Fara?"
"Sejak kapan juga kamu mulai koleksi baju-baju aneh kayak gini Emma?" tandasku.
Emma mendadak diam.
Aku tahu bocah ini bukanlah gadis nakal. Tapi ada apa ini? Kenapa anak ini tiba-tiba punya koleksi baju mengerikan kayak gini? Apa ada yang aku lewatkan tentangnya?
"Apa kamu sering ke diskotik?"
Si bawel masih diam. Dan aku tahu, itu artinya 'iya'.
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu mengalami kejadian itu. Dan orang tuaku nggak mau membantumu. Padahal dulu keluarga kita sangatlah dekat. Aku benci mereka karena mereka memalingkan wajah darimu."
Aku terharu. Tak kusangka, si tukang bikin rusuh ini begitu memperdulikanku.
"Ini adalah bentuk pembelotan ku, pembangkangan ku. Tentu saja setelah pembangkangan ku yang pertama. Keluar rumah dan hidup sendiri di apartemen." Dia tertawa. Tawa yang hambar.
Aku memeluknya. Aku nggak bisa membalas kata-katanya dengan pujian atau kalimat terima kasih. Bagiku, itu semua nggak cukup. Jadi aku memeluknya alih-alih berterimakasih. Dan aku yakin dia tahu arti pelukanku.
"Tapi nggak harus pakai kata 'pembelotan' kali Em. Kayak mengkhianati negara aja pakai kata 'pembelot'," dan kami tertawa lirih di sela pelukan.
"Jadi kamu bersedia kan memakai gaun ini?"
Jiahhhh kumat lagi ni anak.
Segera kulepaskan pelukanku. "NGGAK!"
"Aku kan sudah berkorban untukmu sampai segitunya Fara. Masak kamu nggak mau. Nggak adil." rajuknya becanda. Ya, aku tahu rajukannya itu hanya becanda untuk menghilangkan kecanggungan yang sempat tercipta tadi.
"Nggak mau. Pokok aku nggak mau. Titik." Aku segera berlari keluar dari ruang ganti. Kali ini bocah itu nggak sempat menghalangiku.
"Jangan gitu dong Ra! Fara! Ayo dong!" Segera dia menyambar satu gaun seksi dan menyusul lariku.
"Nggak mau! Iiiihhh malu tahu pakai begituan!"
"Sekali ini aja Ra! Setelah kamu pakai pasti kamu langsung terbiasa."
"Bohong!"
"Nggak."
"Pokok nggak mau!"
"Faraaaaaaa!!!!!!"
Dan kami pun terus berlari, saling mengejar memutari ruang tamu yang luas itu.
Beberapa jam kemudian aku sudah terdampar di sini. Di depan sebuah restoran yang indah dan elegan. Di depan restoran ada patung berbentuk seperti cabe merah dengan mata dan bibir tersenyum. Di bawahnya ada tulisan "THE CHILI"
Segera aku menuju pintu masuk. Sepatu high heels ini membuatku susah melangkah. Apalagi rok super pendek dan ketat yang hampir menyentuh p****t. Gaun yang melekat erat dengan belahan d**a yang rendah ini bener-bener membuatku risih dan sebal. Belum lagi riasan yang super duper menjengkelkan. Akhirnya Emma berhasil juga meriasku sesuai dengan ekspektasinya dan jangan lupa, dia juga berhasil membuatku memakai pakaian laknat ini.
Sampai di pintu restoran, seorang pelayan membukakan pintu untukku.
"Maaf dengan nona Emma Jayendra?"
"Iya."
"Silahkan nona lewat sini!"
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran. Kok sepi? Jangan-jangan ....
"Maaf kok sepi banget ya?"
"Iya nona, seluruh restoran memang di pesan untuk acara ini." Mbak pelayan tersenyum menjelaskan dengan tetap berjalan.
Nah kan. Benar dugaanku.
"Silahkan duduk di sini nona!" Mbak pelayan menarikkan kursi untukku, "tunggu sebentar ya!"
Aku hanya mengangguk dan mbak pelayan pun pergi.
Tadi Emma sempat berpesan 3 hal padaku.
Pertama. Jika si cowok sudah datang duluan sebelum aku datang, maka aku harus memberikan ekspresi wajah menggoda dulu sebelum tindakan yang menantang.
Kedua. Jika si cowok belum datang dan aku sudah datang, maka ketika dia datang aku harus memberikan ekspresi, kata-kata dan tindakan menggoda secara bersamaan.
Ketiga. Nama cowok itu Barra.
Sebuah tepukan di pundak dari arah belakang menyadarkanku. Dan kini saatnya aku beraksi.
Aku berdiri, "Hai cowok gan ... " dan berbalik, "teng."
Loh? Kok gini? Kok cewek? Eh ... bukan. Kok wanita?