Dhika membuka kamar Kala yang sejak dua jam lalu ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Pintu berpelitur cokelat itu menampakkan tubuh yang berselimut tebal di atas tempat tidur. Matanya terbuka, hanya saja tidak ada kegiatan berarti oleh sang empu.
"Kok bengong? Tumben banget nggak main hp?" Dhika bertanya kemudian duduk di pinggir tempat tidur milik Kala. Ia mengelus pelan rambut putri satu-satunya itu. "Papa lihat, belakangan Kala jarang main hp ya? Ada masalah?"
Kala beringsut memeluk tubuh Dhika, ia merindukan ayahnya yang dulu selalu bersedia memeluknya setiap hari. Gelengan kepala Kala menjadi jawaban, Dhika masih berusaha mengulik jawaban dari semua pertanyaan yang sudah ia sampaikan.
"Kala bosen aja main hp. Lagian, sudah nggak ada grup kelas lagi."
Dhika menarik perlahan dagu Kala, memposisikan kepalanya hingga mata mereka saling bertatap. "Kala nyesel pilih home schooling? Kemarin Papa udah yakinin Kala loh ya, baru seminggu tapi kamu sudah muram begini." Helaan napas yang tiba-tiba saja memberat membuat Kala tertunduk. "Bahkan, guru Kala kemarin aja mikir ada apa-apa sama kamu loh."
"Nggak, nggak nyesel. Gurunya baik kok, kalau nggak paham juga Kak Juna masih mau bantuin Kala."
"Tapi kamu kelihatan banget lagi nyembunyiin sesuatu." Dhika tak lagi memaksa Kala untuk menatapnya. "Papa kenal kamu dari kamu lahir loh, sayang."
Kala justru lebih sibuk menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang ayahnya. Gadis itu bukannya ingin menambah beban pikiran, hanya saja menjauh justru tidak memberikan hasil yang baik bagi dirinya. Terkadang, Kala masih ingin menghubungi Diandra atau Chandra. Bahkan beberapa kali juga, gadis itu mengetikkan sesuatu di grup. Hanya saja, semua pesan itu tak lantas ia kirimkan. Justru ia hapus dan memilih untuk tidak membuka ponselnya terlalu sering.
"Sebenarnya Papa mau sampaikan sesuatu sama kamu. Karena semakin lama di pendam juga ini bukan hal baik yang kamu nggak perlu tahu. Tapi, ngeliat kamu yang banyak pikiran begini Papa jadi bimbang."
Kala menjadi tertarik setelah mendengar penuturan Dhika, ia memfokuskan semua inderanya pada orang yang sedari dulu tulus menyayanginya itu. "Kenapa, Pa? Soal kondisi aku ya?"
Kali ini Kala merubah posisi menjadi duduk menghadap Dhika. Mata lelaki paruh baya itu tak lagi memancarkan percaya diri yang seperti biasanya. Tangan besarnya yang dulu hangat, kini terasa dingin di lengan Kala. Gadis itu seakan paham, sepertinya ini berkaitan dengan kondisi tubuhnya. Ia tidak memungkiri jika ketakutan semakin menggerogoti dirinya, hanya saja Kala berusaha sekuat mungkin menghadapi takdir yang selalu mempermainkannya.
"Pa?" tanyanya sekali lagi setelah tak mendapat jawaban dari Dhika. Matanya menelisik netra legam milik lelaki itu, tatapan menyakitkan dan sedikit kasihan dapat Kala tangkap setelah memandangnya beberapa waktu. "Aku sekarat, ya?"
Seperti menghujam jantungnya, kata-kata yang selalu ia hindari ketika menggambarkan keadaan putrinya saat ini. Dhika tiba-tiba saja menangis, memeluk Kala dengan erat dan berulang kali mengucapkan "Jangan tinggalin Papa." Kala hanya berusaha tegar, ia masih belum tahu keadaan yang sebenarnya. Gadis itu hanya tidak ingin melihat Dhika lebih khawatir dengan keadaannya. Lengan kurus Kala mengusap pelan punggung yang sedari dulu menjadi favoritnya itu.
"Kala masih disini, Pa. Walaupun sekarat, Kala masih ada disini."
Gelengan kepala Dhika semakin kuat, ia tidak ingin mendengar kata sekarat itu. Terlebih, kata-kata itu berasal dari mulut putrinya sendiri. "Papa mohon, jangan bilang diri kamu sekarat. Kamu itu masih seperti yang dulu."
Kala tersenyum, menatap wajah memerah Dhika. "Kalau memang Kala nggak sekarat, Papa nggak mungkin nangis sebegininya."
Dhika terdiam, ia kembali memeluk tubuh kurus Kala. Memberikan kehangatan yang ia sadari sudah lama menghilang. "Kala mau ngaku sama Papa. Tapi, Kala takut kalau Papa bakal jauhin Kala."
Kerutan di dahi Dhika menjadi jawaban, karena ia pun tak bisa menebak apa yang mengganggu pikiran putrinya itu. "Kenapa sayang?"
"Sebenarnya, semua teman Kala lagi ngejauh dari Kala," terdengar nada suara gadis itu semakin bergetar. Entah karena takut atau karena mengkhawatirkan sesuatu.
"Iya..., Papa tahu. Keliatan banget kok, teman-temanmu kemana?" Dhika hanya mengelus pelan rambut hitam milik Kala.
"Soalnya...," suaranya semakin bergetar, tak mengira jika air matanya justru luruh begitu saja. "Soalnya Kala buat mereka nggak percaya lagi."
"Hah? Coba Kala ceritain dulu sama Papa. Gimana maksudnya?" Dhika kini memposisinya dirinya untuk lebih tegap, membiarkan tubuh Kala bersandar lebih nyaman.
"Kala sering diam-diam beli junkfood." Usapan pada kepala Kala terhenti begitu saja, rasanya jantung Kala nyaris terhenti karena ia pun tahu betapa orang tua dan kakaknya menjaga dirinya. "Maaf, Pa. Maafin Kala."
Dhika terdiam, ia masih mencerna setiap ucapan dari putrinya itu. "Sebentar..., jadi selama ini kamu sengaja makan sembarangan?"
Degup jantung Kala seakan berlomba, rasa nyeri pun tak bisa ia hindari. Begitu kerasnya degup jantung miliknya hingga seperti ingin lepas dari tempatnya. "Iya, Pa. Waktu itu-"
"Kala!" Nada bicara Dhika berubah lebih tinggi, Kala pun beringsut menutupi wajahnya. "Kamu tahu nggak, kamu merusak diri kamu sendiri!"
Bentakan demi bentakan yang diterima Kala justru membuat gadis itu semakin ketakutan. Tangannya bergetar, ia berkali-kali menelan salivanya. "Ma- maaf, Pa."
"Papa nggak habis pikir! Kamu tahu, hasil tes kesehatan kamu jauh dari kata baik." Dhika mencoba meredam emosinya yang sudah terlanjur tinggi. "Kamu kemarin sampai collaps dan ternyata kamu gagal ginjal Kala!"
Kala hanya mampu terdiam, ia pun terkejut. Hanya saja tidak mampu memberikan ekspresi lain, sejujurnya yang membuat keadaannya memburuk pun dirinya sendiri. "Maaf, Pa. Maaf Kala nggak bisa jaga diri sendiri. Maaf Kala sudah buat kalian sedih dan kecewa."
Dhika menatap tak percaya pada Kala, ia tidak mendengarkan penuturan gadis itu dan memilih untuk pergi. Dhika merasa emosinya tengah tinggi, ia tidak ingin berlaku kasar pada putrinya. Tanpa sadar pun, pintu kamar ditutupnya dengan kasar. Kala menangis menenggelamkan wajahnya di dalam selimut.
"Memang, lo bodoh Kala."
***
"Pa, tadi sudah bicara sama Kala? Gimana dia Pa?" Ariana membuka suara ketika Dhika baru saja duduk di meja makan. Tidak ada Kala diantara mereka, Dimas pun terlihat acuh ketika Ariana menanyakan perihal Kala.
Tak ada jawaban dari Dhika, meja makan terasa begitu sepi. Arjuna kemudian berinisiatif memanggil adiknya itu. "Aku panggil Kala dulu, deh."
"Duduk Juna. Biar aja, dia nggak seharusnya manja dan di kamar seharian."
Arjuna dengan ragu duduk kembali ke kursi yang sebelumnya sudah sempat berdecit karena ia dengan cepat berdiri. "Iya, Pa."
Jujur saja, kondisi ini sangat jarang terjadi. Bahkan Juna sudah lupa kapan terakhir kali Papa emosi seperti ini. Seakan semua perkataannya kali ini adalah perintah. Keempatnya makan dalam diam. Biasanya Kala juga bergabung di tengah mereka, meja makan juga akan dipenuhi suara Jian yang bercerita tentang kesehariannya.
Ariana menyiapkan nampan yang berisi makanan setelah Dhika pergi dari ruang makan. Arjuna masih setia menemaninya, berbeda dengan Jian yang ternyata harus mengikuti langkah besar Dhika. "Aku yang anter ya, Ma." Juna menawarkan diri setelah melihat mangkok terakhir yang berisi sayur sop itu memenuhi nampan. Ariana mengangguk, ia masih akan menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
Arjuna berjalan perlahan, kemudian mengetuk pintu kamar Kala. Tak ada sahutan, dengan susah payah Arjuna membuka pintu kamar dan menampilkan tubuh Kala yang terbungkus selimut. "Kal, makan dulu yuk."
Tidak ada sahutan, hanya ada isak yang terdengar di telinga Juna. Kalap pemuda itu menaruh nampan dan menanyakan keadaan gadis itu. "Kal, kenapa? Ada yang sakit?"
"Kak...," ia bangkit, kemudian dengan cepat memeluk Arjuna. "Memang aku yang salah, bukan orang lain. Tapi aku adalah orang yang paling salah."
"Maksud kamu apa sih?"
"Aku pantes nerima kalau semua teman-teman ninggalin aku. Kalau Papa, Mama, Kak Juna sama Jian benci pun aku pantes."
Arjuna hanya mengernyikan dahi karena ia pun tak mengerti apa yang dibicarakan Kala. "Apa sih Kal, kamu itu kenapa?"
"Aku gagal ginjal, kan?" Arjuna mengangguk kaku, ia tak tega menjelaska keadaan adiknya itu. "Aku Kak yang ngebuat keadaan memburuk."
Sesegukan Kala menahan air matanya untuk tidak lagi meluncur, walaupun tidak bisa ia tetap berusaha. "Selama ini..., aku makan semua pantangan."
Suara Kala seperti hilang ditelan masa. Tak ada sahutan juga dari Arjuna, lelaki itu masih memproses setiap kata yang berhasil Kala keluarkan. "Ma-maksud kamu?"
"Aku Kak! Aku yang buat keadaanku memburuk. Kenapa aku malah nyusahin kalian? Aku nyesal kak."
Tangan Arjuna terlepas dari punggung Kala, ia tak lagi mendekap erat gadis yang tengah menangis itu. Sepertinya, ia pun gagal menjaga Kala. "Kal... Kakak keluar dulu ya," ucapnya kemudian meninggalkan Kala dalam keheningan. Tangisan Kala seperti kumpulan penyesalan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Semua tak ada lagi harapan setelah vonis itu keluar. Gadis itu diam menahan isak, menggigit bibirnya yang kemudian merembes cairan kental berwarna merah. "Gue emang manusia paling bodoh."