3 - We Have Done

1255 Words
Aku sampai rumah ketika malam sudah larut. Kami berenam sedang puas-puasnya menghabiskan waktu bersama karena Vernon dan Xavier akan lanjut kuliah di Singapura. Sementara Viona di Jepang karena orang tuanya yang Kedubes bekerja disana. Sedangkan Zana akan ke Bandung. Lalu di Jakarta, tinggal aku dan Mingyu. "Besok tidak usah menjemput. Aku mau tidur sampai siang," kataku seraya melepas helmet dan menyerahkannya pada Mingyu. Cowok itu mendengus. "Siapa juga yang mau menjemput." Aku berusaha tabah karena hari ini Mingyu bersedia menjadi supirku seharian. "Ya sudah sana pulang," usirku sehalus mungkin yang membuatnya mengetuk kepalaku kesal. Sekejap kemudian, motor matic putihnya sudah melesat pergi. Aku beranjak ke rumahku, tepat saat pagar di belakangku terbuka, pagar di seberang rumahku. "Lyra." Jantungku mencelos. Itu suaranya. Aku enggan berbalik, tapi bahuku sudah diraih sampai kami berdiri berhadapan. Untuk sesaat aku terpaku pada netra cokelat muda di hadapanku, yang menatapku sendu. Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan oleh angin malam dan tanganku hampir terulur untuk merapikannya. Hanya saja, itu terasa salah dan aku menahan tanganku di sisi tubuh, mengepal. Tidak, aku tidak boleh lagi merapikan riap rambutnya dengan tanganku. "Sudah lulus ya," ia mengawali percakapan, aku mengangguk kaku. "Mau lanjut kemana?" "UNJ." "Ambil jurusan apa?" "Tata Boga." Ia langsung tersenyum lebar, senyum yang kurindukan. Matanya menyipit bak bulan sabit. Dan binar matanya,, seperti segala hal baik-baik saja. "Lain kali masakkan lagi sesuatu untuk kakak, bagaimana?" Tenggorokanku tercekat karena permintaannya yang sederhana itu terasa berat kali ini. Aku mengendikkan bahu dengan lemah. "Tidak janji." Ia lantas memberiku paper bag yang isinya lumayan berat. "Sampaikan terima kasih kakak untuk Mama, bolunya selalu yang terbaik." Demikian juga kakak, sudut hatiku seperti mendengar suaranya. Kadang aku masih terngiang semua kenangan itu, saat berpikir bahwa lelaki di hadapanku ini adalah yang terbaik. Tapi aku tau itu hanya imajinasiku, yang bercampur dengan harapan masa lalu padahal saat ini waktu terus berputar. Aku menerimanya dan berlalu ke dalam, tanpa kata meningalkannya di depan pagar. Pertahananku hampir runtuh ketika menatap netra cokelat muda itu. Meski aku tidak tau pertahanan macam apa yang sedang kubangun. Mungkin semacam pertahanan 'Dilarang jatuh cinta kepada suami orang!' Oh, sial. Itu terdengar memalukan sekali. Dan mengenaskan. Tapu sebelum memasuki pintu rumah, sempat-sempatnya aku menoleh ke belakang, mendapati dia masih disana, tersenyum lembut kepadaku di bawah pijaran lampu jalan.  Aku cepat-cepat memasuki rumah dengan mata berair dan perasaan sesak. Seharusnya aku tidak perlu seperti ini. Semuanya sudah selesai. ??? Pagi-pagi sekali aku terbangun, bukan karena kebiasaanku, tapi karena mendadak perutku mulas. Pasti karena semalam aku terlalu banyak menaruh sambal di kuah sotoku. Setelah memenuhi panggilan alam, aku tidak bisa tidur lagi dan turun ke dapur. Aku tidak menyampaikan titipannya pada Mama, hanya menaruhnya di meja dapur. Kulihat Mama sedang memasak nasi goreng untuk sarapan. "Kacang polongnya yang banyak, Mam." Aku nyempil dari balik bahunya, membuat Mama berjengit kaget. "Bisa tidak, tidak membuat Mama kaget?" "Aku kan tidak mengagetkan Mama. Maksudnya, tidak dengan sengaja." Mama mendengus melihatku cengengesan. "Oiya, itu dari siapa?" "Dari dia." "Kamu sudah minta maaf?" Aku menaikkan sebelah alis. "Memang aku salah apa?" Mama betulan hampir melemparku dengan spatula kalau Ayah tidak muncul, lengkap dengan pakaian olahraganya yang lepek oleh keringat. Pasti baru selesai lari pagi. "Ayah lari pagi lama sekali," komentar Mama. Nasi gorengnya sudah matang dan sedang dipindahkan ke piring. "Ayah lari pagi bersamanya, sambil mengobrol juga. Sepertinga dia jadi lebih dewasa setelah menikah," sahut Ayah seraya duduk untuk meneguk segelas air mineralnya, sebelum meraih koran di sudut meja. "Memangnya pernikahan seajaib itu? Kalau begitu aku juga mau menikah biar cepat dewasa," sambungku asal. Ayah menjitak kepalaku pelan. "Kasihan suamimu kalau punya istri masih kekanakkan begini." "Tidak juga, Ayah. Kalau Lyra menjadi seorang istri, suaminya bakal bahagia karena ia ceria." Aku menoleh ketika suaranya terdengar di dapur. Dia melangkah mendekat, tubuhnya terbalut pakaian olahraga yang juga sudah lepek oleh keringat. Rambutnya yang berkeringat tampak berantakan. Sialnya lagi, dia duduk di sebelahku. "Pagi," sapanya ramah. Aku membuang muka dengan pura-pura batuk lantas meneguk air mineral. Aku cepat-cepat mengambil piring nasi gorengku dan beranjak pergi. "Kamu mau kemana?" Ayah menatapku heran. "Kamar. Aku mau menonton oppa." Mama berdecak malas, namun pada akhirnya membiarkanku dan langsung mengajak dia ngobrol, berbicara seputar kehidupan barunya sebagai suami, dan lain-lain. Untung saja aku melarikan diri. Kupingku tidak perlu jadi panas dan berasap. Atau seseorang tidak perlu mendapati wajahku tampak murung dan,, hampir menangis lagi. ??? Ponselku berbunyi tak lama setelah aku menikmati nasi goreng sekaligus oppa berwajah bening. Rasanya nasi goreng ini jadi lebih enak berkali lipat. 'Sedang apa?' Dari Mingyu, tumben sekali pagi-pagi mengirimi pesan. Aku langsung membalas, 'makan oppa' 'Dasar kanibal!' 'Maksudku, makan dan lihat oppa' 'Dasar rakus! Pagi-pagi sudah makan' Memang aku ini nista sekali di mata Mingyu. Lagipula ia mengataiku seperti ia bersih dari dosa dan maksiat saja. Namun aku mengabaikannya karena pesannya tidak berfaedah dibanding nasi goreng dan oppa. Tak lama ponselku berdering oleh telepon. Masih dari Mingyu. "Apa?" Sentakku kesal. Ia mengganggu pagi tenangku yang damai. Cowok itu terkekeh di seberang sana. "Cuma mau mengganggu." Aku berdecak malas. "Sahabat jahanam." "Tolong berkaca siapa yang jahanam." "Lalu apa maumu?" "Aku bosan. Ayo keluar." "Nanti siang saja." "Oke. Nanti siang kujemput." "Hmm." Aku mematikan ponsel, tidak bertanya lebih lanjut kemana tujuannya. Kalau bersama Mingyu, pos ronda yang kumuh bisa serasa bioskop. Bersama Mingyu, bioskop yang classy juga bisa berasa pos ronda. Intinya, semua sama saja kalau bersama Mingyu. Sungai Han pun bisa berasa parit kalau bersamanya. ??? Mingyu akan datang sebentar lagi. Rumahnya hanya beda beberapa blok dari rumahku, tapi kadang ia bertingkah seperti tinggal di planet lain. Bawel menyuruhku bersiap saat ia sendiri baru selesai mandi. Aku sudah siap dengan pakaianku. Hanya jeans hitam dan kaus hitam belel yang kata pegawai tokonya sedang tren. Ya sudahlah, toh juga aku tidak punga kaus belel begini. Masalahnya, Mama pernah hampir menyumbangkan kaus yang baru kubeli itu karena katanya sudah lusuh. "Ya ampun, Mam, ini namanya tren." Aku membantah sok tau, padahal hanya menggubah kalimat pegawai toko saja. Setelah mengenakan sepatu, yang akhirnya kuganti lagi dengan sandal Cortica favoritku, aku duduk di kursi teras, menunggu Mingyu. Namun tanpa kuduga, dia membuka pagar rumahku. Tubuh tinggi tegapnya yang dibalut setelan kerja beringsut menghampiri. "Mau kemana?" "Keluar." "Dengan Mingyu?" "Hmm. Yang bisa kusuruh menjemput hanya Mingyu," sahutku cuek tanpa menatap matanya. Dia menghela napas pelan. Ditatapnya sandal yang kukenakan, sebelum meraih sepatuku dan berlutut di hadapanku. Dilepasnya sandalku dan menggantinya dengan sepatu, mengikat talinya dengan simpul pita yang kusuka. Sudut hatiku berdenyut sakit saat dia berlutut dan mengikatkan tali sepatuku. Rambut cokelat gelapnya seolah memanggilku dengan bisikan halus, usap aku seperti kamu selalu melakukannya! Serius, aku bisa gila kalau berdekatan dengannya seperti ini terus. Jadi aku menarik kaki kiriku yang tali sepatunya belum diikat, dan membungkuk untuk mengikatnya sendiri. Dia lantas mengusap rambutku dengan lembut, sentuhan pertamanya padaku setelah pernikahan itu, membuat tenggorokanku tercekat lagi. Tahan, Lyra. Jangan nangis lagi,, "Bisakah kamu tidak sedekat itu dengan Mingyu?" Pintanya dengan suara lirih. Aku menghela napas keras. "Bukan urusan kakak." "Urusan kakak." Dia menekan nada suaranya. Namun suara itu terdengar frustasi. "Kamu masih urusan kakak, Lyra. Selamanya begitu." Aku mendongak ke arahnya, netra cokelat mudanya balas menatapku lekat. Ketika melihat binarnya yang frustasi, aku takut kalau aku jadi lebih frustasi dari ini. Aku tidak mau berpikir bahwa sebenarnya dia tidak bahagia di hari pernikahannya yang bahkan belum seminggu. Tapi sialnya pikiran itu menyelusup ke benakku begitu saja. Jadi aku berdiri, menyamankan posisi sepatuku sebelum beranjak, dan berujar dingin. "Bukankah kita sudah selesai?" ",,," Kemudian aku melanjutkan dengan kekecewaan yang terasa menyayat, "Iya, kita sudah selesai. Tanpa kata." ??? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD