Pembukaan Kafe

1101 Words
Hari ini adalah pembukaan Kafe. Mereka bertiga memakai seragam masing-masing. Mister X membayar beberapa selegram untuk promo. Beberapa anak muda datang karena tertarik dengan nuansa yang ditawarkan. Mereka pun selfie-selfi dan mempostingnya ke media sosial. Seira memperhatikan Mister X sedang meracik kopi. Terlihat ganteng dan gagah dengan seragamnya itu. Pria itu membantu Bari melayani pengunjung untuk sementara sebelum dapat pekerja. Lagi pula Mister X ingin melihat dulu apakah banyak pengunjung atau tidak sebelum merekrut beberapa pekerja. Tak banyak pengunjung yang datang hari ini. Mereka bisa santai. Meski demikian, tetap saja Seira merasa badan pegal melayani mereka yang kebanyakan adalah remaja. Hari kedua sampai keempat, masih sama. Hanya beberapa pengunjung. Seira memberi ide untuk memperbaiki dekorasi. Lampunya juga diganti karena kurang terang. Dipandanginya Mister X dari jauh. Tampan sekali. Dia jadi punya ide untuk memamerkannya pria itu di media sosial. "Mister, bagaimana jika kau melakukan siaran langsung untuk memberi tahu bahwa kau adalah pemilik," tutur Seira. "Apa kau sudah gila?" Dia malah mengatakan itu. "Beberapa kali, aku sering mendapati para mahasiswi yang datang, diam-diam mencuri fotomu. Aku juga melihat yang datang itu-itu saja. Sepertinya mereka tertarik padamu." "Itu bukan urusanku." "Kita bisa menarik pengunjung wanita dulu. Setelah itu, mereka akan bercerita tentang kafe ini." "Aku tidak akan melakukan hal konyol itu." "Tidak ada salahnya dicoba, Ar," sela Bari. "Tidak akan. Lagi pula, aku tidak punya media sosial." "Kau buatlah dan kita bisa memanfaatkan selegram untuk mempromosikan akunmu." "Tidak akan." Mister X meninggalkan kedua rekannya. Seira menarik napas dalam-dalam. Dasar pria kutub. Hari berikutnya, Kafe semakin sepi. Yang datang itu-itu saja. Padahal kopi racikan Mister X sangat enak dan pas di lidah. Seira kembali mendesaknya untuk melakukan adegan live itu. Mister X tetap menolak. Dia meminjam Handphone Bari dan memperlihatkan beberapa kafe yang dipromosikan lewat media sosial. "Lihatlah, beberapa kafe ini terkenal di i********:. Sekarang itu, apa-apa dipromosikan di media sosial. Kalau gini-gini saja, lama-lama kita bangkrut." Mister X terdiam. Sepertinya dia mulai terpengaruh dengan ucapan Seira. Bari ikut mendesaknya untuk melakukan adegan live dan promosi di media sosial. "Aku tak tahu caranya." Akhirnya pria itu mengatakan hal yang ditunggu Seira. "Biar aku yang melakukannya atas namamu. Aku yang mengendalikan akun media sosialmu." "Terserah kaulah." "Belikan aku handphone keluaran baru yang canggih. Untuk hasil foto maksimal, kita butuh kamera yang bagus pula." Mister X meminta Bari membeli apa yang Seira minta. Setelah itu, Seira mengambil beberapa foto ruangan dan meminta Mister X berpose. Tentu saja dia menolak. Dia dan Bari terus mendesak. Akhirnya Mister X mengalah. Seira pun mengarahkan pria itu berpose. Sudah beberapa gambar yang diambil, hasilnya sama. Tidak ada senyum sedikit pun. "Kumohon, tersenyumlah sedikit agar kau terlihat ramah. Kalau fotomu dengan tatapan dingin itu, yang ada orang malah takut," ujar Seira. Kali ini Mister X berpose sambil tersenyum tapi senyum paksaan. Hasilnya tetap tak bagus. Seira putus asa. Pria itu benar-benar mahkluk Kutub Utara. "Coba kau racik kopi. Rasakan aromanya yang menenangkan!" pinta Seira lagi. Pria itu melakukannya. Dia mengambil foto Mister X yang sedang meracik kopi. Senyumnya terlihat manis. Cepat-cepat Seira mengabadikan moment itu. Akhirnya berhasil juga mengambil foto yang sesuai untuk dijadikan foto profil akun i********:, f*******: dan Twitter Mister X. Dia memposting beberapa tempat dan sajian makanan dan kopi menu yang tersedia di Kafe. Selegram yang disewa Mister X melakukan siaran langsung. Dia juga mengajak Mister X berbicara ketika sedang meracik kopi. Tak lupa dia mempromosikan akun Mister X. Follower pun membludak. Hari ketujuh, pengunjung mulai ramai. Sepertinya promosi dari selegram itu berhasil. Seira kewalahan melayani pembeli. Terkadang Mister X turun tangan ketika selesai meracik kopi. Beberapa kali Seira melakukan kesalahan. Mister X marah. Dia hanya diam. Kali ini, malah menjatuhkan gelas hingga pecah. "Lama-lama gelas di sini akan habis jika kau terus seperti itu!" bentak Mister X. Untung saja dia melakukannya di ruang privat. "Sudahlah, Ar. Seira masih belajar. Dia tidak terbiasa dengan semua ini." "Aku kan sudah bilang padamu untuk mencari pekerja," protes Seira. "Lalu apa gunanya kau di sini?" "A ... aku tidak pernah melakukan pekerjaan berat." Pria itu menatap tajam. Seira tak mau kalah, dibalasnya dengan tatapan seolah siap berperang. "Dasar tak berguna!" umpat Mister X sambil meninggalkan ruangan. Bari menepuk-nepuk bahu Seira, memberi dukungan. Dia menghela napas berat. . Hari demi hari, pengunjung kian ramai. Beberapa remaja putri meminta berfoto bersama Mister X. Seira menyempatkan diri untuk melirik seseorang dari pengunjung memposting foto itu di i********: dengan caption 'Foto bersama pemilik Kafe yang tampan'. Pantas saja yang datang kebanyakan perempuan. "Mister, sepertinya kau harus mencari pekerja. Aku tak sanggup melayaninya," ujar Seira ketika tidak ada lagi pengunjung. "Kita lihat dulu apakah besok masih ramai atau tidak," ujar Pria itu. "Tulang-tulangku rasanya mau lepas. Letih sekali." "Kau mandi sana! Nanti juga akan segar kembali." Dia benar. Seira bergegas mandi. Merendam diri dengan air hangat. Sejak kamarnya direnovasi, sudah tersedia bathum. Dia keluar kamar setelah selesai mandi, menuju dapur. Mister X dan Bari duduk di meja makan. Seira bergabung bersama mereka. Mereka sudah terbiasa makan bersama, jadi dia tidak takut lagi. Biasanya dia lebih sering ngobrol bersama Bari. Mister X hanya diam, menikmati makanannya. "Aku sudah pasang iklan lowongan kerja di internet," ujar Mister X. "Itu bagus. Aku juga kewalahan melayani fans-fans-mu itu, Ar," ledek Bari sambil tertawa. Seira ikut tertawa. "Sitttt," umpat Mister X kesal. "Akhirnya wajah tampanmu itu ada gunanya juga." Ternyata Mister X bisa tersenyum ramah juga. Jika begitu, dia tidak tampak seperti pembunuh bayaran. "Kalau dipikir-pikir, untunglah Seira menghentikanmu membunuh suaminya waktu itu," ujar Bari lagi. "Maksudmu?" tanya Mister X. "Kalo bukan karena insiden itu, kau akan tetap jadi pembunuh bayaran. Aku lebih suka dengan pekerjaan kita yang sekarang." Mister X hanya diam dengan tatapan kosong. Begitu juga dengan Bari. Sepertinya mereka sedang mengingat kenangan buruk yang sudah mereka lalui. "Apa tidak masalah, jika wajah Mister X beredar di i********:?" tanya Seira. "Mister X tidak pernah menampakkan wajah ketika melakukan pembunuhan," ujar Bari. "Lalu, mengapa waktu itu dia memperlihatkannya padaku?" "Kau klien pertama kami yang meminta untuk membunuh suaminya sendiri," ujar Mister X. "Itu bukan alasan yang logis." "Entahlah. Mungkin itu jalannya agar dia berhenti," Bari menimpali. "Baiklah, aku mau istirahat dulu. Badanku capek sekali. Kakiku kram, kebanyakan jalan sana-sini." Seira meninggalkan kedua pria itu dan masuk ke kamar. Entah kenapa dia teringat dengan Roni. Apa dia sudah menikah dengan Hania? Dia terus memikirkan itu, membuatnya susah tidur. Terdengar ketukan pintu. Seira membukanya. Mister X muncul di balik pintu. "Ada apa, Mister?" tanyanya. "Apa kakimu masih kram?" tanya pria itu. "Sedikit." "Oleskan minyak ini." Mister X memberi Seira sebuah botol berwarna hijau. "Terima kasih." Pria itu menatap. Untuk sesaat mereka saling diam. Tanpa sepatah kata, Mister X meninggalkan kamar Seira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD