Nadia duduk. menyandarkan tubuhnya di atas kasur sembari memeluk kedua kakinya. Katakanlah Nadia sedang meratapi kebodohannya sendiri, menolak hubungan yang seharusnya begitu indah untuk dijalani. Dan yang paling bodoh adalah saat ini Nadia menangis dengan segala kesesakkan memenuhi rongga dadanya. ‘Kenapa rasanya seperti ini, apa aku salah dengan keputusanku? Kenapa aku merasa seakan-akan sudah kehilangan Jonathan. Apa ini namanya cinta? Aku juga ingin punya drama percintaan happy ever after, tapi itu hanya khayalan anak-anak kan. Kenyataannya aku melihat sendiri bagaimana buruknya Randy, rupa menyeramkan wajah Jojo disaat mereka marah. Kenapa aku terkesan melebih-lebihkan alasan dibalik kemarahan Jojo. Tapi aku benar-benar sangat takut.’ Cika membuka pintu kamar Nadia perlahan, Nathan

