Salat Khusyuk

1332 Words
Tambatkanlah jangan tanggung-tanggung Peluk hingga habis waktumu Jalani angan cinta-Nya untukmu Dari muara hati Persembahkanlah Dari dasar lidah Jangan sendiri saja *** ''Sebenar-benarnya manusia yang menganggap jika Allah itu Mahabesar adalah yang memaknai dan memercayainya di dalam hati, tak sekadar suara yang memenuhi langit pendengaran.'' *** Lima buah buku lain-lain judul itu telah menjadi penghuni baru rak buku besar itu. Dipandang serta merta dipikir-pikir jua sekali belanja buku lagi, maka padatlah rak tersebut. Tiada ruang tersisa barang sejengkal saja. Bisa-bisa ambruk dan menumpahkan segala isinya. Sedangkan sang empunya-- sebelah tangannya mengetuk-ngetuk dagu. Memroses daya pikirnya yang nanti hendak bagaimana berbicara kepada Abi agar mau membelikan rak buku baru. UDara dari mulutnya diterbangkan jua ke udara. Ia terduduk di tepi kasur. Senyumnya lantas terbit amat cerah. Posisi matahari siang ini pun laksana berpindah ke bibirnya. Pun jua dengan gula-gula yang ada di dapur rumah. Katanya, ''Minta dibeliin rak baru sama Abi pastu dimarah.'' ''Sok tau, ya.'' Mendadak sebuah suara menyahut usai terbukanya pintu kamar. ''Loh, Abi?'' ''Masa Jihan ke Abi suka suudzon gitu? Belum juga bilang minta dibeliin rak.'' Digaruk pelan jua siku Jihan. ''Eh, ya takut aja, Bi.'' ''Kapan, sih Abi melarang apa yang Puteri Abi mau selagi itu ada manfaatnya?'' Usai dikatakan demikian, tersenyum sajalah Jihan menanggapinya. Abi terduduk di samping Jihan dan menatap intens ke arah rak buku. Wajahnya jadi masam serta mengundang simbol-simbol tanya sari sorot mata Jihan. ''Tuhkan Abi gak--'' ''Kayaknya perlu ruangan khusus untuk buku, nih.'' Respons Jihan tak sampai di seribu kata. Ternganga jua pada akhirnya lantas memeluk Abi erat-erat. Isi kepala telah dimonopoli imajinasi tentang suatu ruangan yang khas bau buku baru dan buku lama. Disegarkan dengan pemandangan sebuah lemari yang diisi cokelat bubuk dan air panas. Sedang Abi terkikik kecil dengan kelakuan puteri semata wayangnya itu dan tiada tahu Jihan sedang merasa tak bersamanya. Dalamnya imajinasi Gadis itu diselami hingga lupa diri. Tibalah ia kembali tatkala Abi menepuk-nepuk bahunya pelan. ''Makan siang dulu, yuk! Abi udah laper.'' ''Eh. Oke, Bi.'' Maka pergilah dua insan itu ke ruang makan. Sederhana saja menunya. Cukup sayur lodeh, kerupuk, ikan asin, dan tempe goreng. *** ''Akhirnya nyusul juga lu ke kantin, Han.'' Meringis sajalah Jihan menanggapinya. Sudah sempat ia tolak ajakan Wafa dan Salsa ke kantin tersebab hendak ke perpustakaan. Hanya saja, ia mendadak tak suka dengan suasana perpustakaan karena di sana cukup ramai dihuni dari salah satu kelas bahasa. Katanya, mencari referensi buku yang akan diresensi. Maka Jihan pinjam saja lah sebuah buku nonfiksi Islam. ''Kamu gak makan atau minum apa gitu, Han?'' tanya Wafa. ''Enggak. Numpang baca aja.'' ''Kondisinya rame gini lu mau baca? Ah elah emang nyaman?'' Sekali Jihan berdehem. Mengecek kondisi suaranya yang hendak diperdengarkan kepada dua sahabatnya itu. Sebab, tetiba saja pikirannya ditepikan pada sebuah kisah di dua hari yang lalu. Tentang sebuah pertemuan yang singgah di angan saja. ''Aku penasaran akut, nih.'' Jihan memulainya. ''Kayak diare aja,'' celetuk Salsa. ''Kenapa emang?'' Wafa lah menjadi seseorang yang paling paham arah perbincangan Jihan. Hendak ditujukan kepada curahan hati dan Wafa peka--peduli. ''Kamu tau kan, Fa waktu itu aku hadir di acara launching buku baru karya Aksa Buana?'' Dilemparkan jua lirikan Jihan ke arah Wafa. Setelahnya ia mendapat anggukan dari Gadis itu. ''Nah. Aku kecewa! Aku makin dibuat penasaran! Aksa gak hadir, tau!'' ''Bisa begono? Bukannya kalau launching gitu hadir, ya? Kalau gak hadir gimana tuh si Aksa bisa diajak ngobrol-ngobrol tentang bukunya?'' ''Dia sangat cerdas! Jadi acara waktu itu dibuat live video call sama nomor WA-nya di ruangan gelap.'' ''Tapi kamu jadi tahu, dong dia ikhwan atau akhwat?'' tanya Wafa. Bibir Jihan mengerucut kecil. Seraya menggeleng jua kepalanya dengan pelan. ''Suaranya kayak ala-ala penjahat yang disamarkan gitu.'' ''Ya udah sih, Han. Nikmati karyanya aja. Bisa-bisa semakin lu pengin tahu, semakin dia sembunyi, tuh. Lu biasa aja.'' ''Gak bisa. Pokoknya gak bisa--'' Lantas bel masuk memutus percakapan mereka sampai di sana. Makanan usai diangkut ke dalam perut, buku bacaan Jihan terlalai, dan lembaran-lembaran rupiah masuk ke dompet ibu kantin. Murid-murid pun melepas diri dari tempat itu. *** Langit sudah kembali ramai dengan cahaya-cahaya kecil yang tampak jauh di ujung mata. Kian diramaikan jua dengan hiruk-pikuk raga manusia yang enggan diam pada aktivitasnya. Ibukota kembali sibuk usai adzan Maghrib lewat sejak tadi. Pusat-pusat tempat berkumpulnya manusia didatangi banyak batang hidung lagi. Sebuah gedung dengan logo bintang di puncaknya itu laksana tersenyum hendak menyamakan dengan bintangnya yang Allah ciptakan. Gedung tersebut ditangkap pandangan mata Jihan dari balik kaca mobil. Melewati saja tanpa bersinggah barang sejenak. Lagi pula, aktivitasnya para pustakawan dan kutu buku di sana telah usai sejak sore. Kini Abi mengemudi mobil ditujukan ke masjid Istiqlal. Sepanjang keempat ban mobil itu berputar, lantunan murrotal ayat-ayat suci Al-Quran membersamainya. Indah dan syahdu. ''Abi.'' Gadis berkerudung hijau itu mengeluarkan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah tadi. ''Ada apa, Jihan?'' ''Abi serius, kan mau bikin ruang perpustakaan khusus di rumah?'' Tampaknya ingatan Abi sempat hilang dari tempatnya. Sepersekian detik pun datang dan membuat sang empunya jadi tertawa. Mengerut jua lah dahi Jihan. Tidak paham apa yang dimaksud lelaki itu sampai tertawa renyah tersebab pertanyaan Jihan. ''Insya Allah, Sayang. Tapi Abi maunya bukan ruang perpustakaan.'' ''Hah? Kok gitu?'' ''Abi jangan janji-janji, deh.'' Umi melihat ke arah Abi lantas melirik kepada air muka Jihan lewat sebuah cermin di dalam mobil. ''Bukan begitu, Umi, Jihan. Maksud Abi gini. Kan gak baik kalau kita punya koleksi barang-barang seperti itu. Mereka nanti turut dihisab. Biar lebih bermanfaat, rencananya Abi ingin membangun rumah buku khusus di suatu tempat. Supaya bisa dipinjam oleh orang lain yang membutuhkan. Nantinya kalau begitu insya Allah kita akan dapat pahala, kan?'' Kepingan-kepingan rasa kesal sebelum Abi berkata demikian jadi meluruh dengan sendirinya. Perlahan menjelma sebuah kasih yang kian bertambah. Antara cinta, sayang, dan kagum sudahlah Jihan rasakan untuk Abi. Tingkahnya jadi mendarat ke permukaan--memeluk bahu Abi dari arah belakang. Sedangkan Umi menggeleng-geleng saja menanggapi tingkahnya. Perjalanan yang tak panjang itu telah tiba di tempat tujuan. Lima belas menit lagi adzan salat Isya siap dikumandangkan, maka Jihan memilih untuk terduduk lebih dulu pada salah satu kursi di dalam sana. Sedangkan Abi dan Umi sudah naik ke lantai atas menpersiapkan diri sebelum adzan Isya. Tak sia-sia jua yang Jihan kehendaki pada waktunya di 15 menit itu. Ia baca dengan saksama buku yang sejak di sekolah tadi dicekal saja. Membuka isi kata pengantar dari penulisnya sudah mampu memutar balikkan ingatan Jihan kepada Umi Lusi. Kalimat-kalimat yang sampai di gendang telinga Jihan dan hingga kini masih menetap di ingatannya. Hasilny kinu Gadis itu jadi memikirkan perihal kekhusyukan-nya saat salat. Jiwa yang sempat hilang, pikiran yang sempat terbang, dan ingatan yang sempat melanglang buana jadinya membawa lupa. Iya, Jihan manusia yang masih kerap tak ingat rakaat berapa salatnya, terpikirkan beberapa urusn dunia sebelum salat ia laksanakan. ''Jadi begini, anak-anak Umi yang saleh dan salehah. Kalau mau salat biar khusyuk Umi punya beberapa tips. Dengarkan baik-baik ya, Sayang.'' Jihan menjadi bagian dari salah satu pendengar ceramah Umi. Hanya saja posisinya tak di samping wanita itu. Dipilihnya jua duduk di antara anak panti agar bisa disyukuri kehidupannya ini. Sungguh Allah menempatkan hidup Jihan lebih baik daripada mereka. Namun maksud yang demikian itu bukan berarti jalan hidup mereka buruk. Sebab Allah sudah menempatkan keindahan hidup masing-masing hamba-Nya yang telah sesuai dengan ukuran. ''Pertama, coba setidaknya 5 menit sebelum kita mau salat, kita berhenti dari urusan dunia. Seperti makan, bersih-bersih, belajar, dan laib sebagainya. Kedua, wudu yang benar. Jangan tergesa-gesa. Pastikan juga pakaian dan tempat kita salat itu bersih. Ketiga, sebelum salat tenangkan pikiran. Tarik napas dalam-dalam, ingat kebesaran Allah dan kasih sayang Allah yang kita rasakan. Ingat, saat itu kita akan menunjukkan bukti cinta kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-Nya. Saat itu Allah sedang tersenyum menyambut kita. Kita rasakan kasih sayangnya. Keempat, coba kita pahami arti bacaan salat kita. Kita dalami maknanya. Kelima, nikmati kebersamaan kita dengan Allah. Jangan tergesa-gesa melaksanakan salat.'' Hati yang kosong dari penerangan perihal salat khusyuk itu laksana menciut. Kata-kata yang terjulur dari lidah Lusi laksana membungkusnya dengan amat baik. Dan kini Jihan menutup buku bacaannya. Ia urung menjelajah aksara-aksara di sana. Malah tenggelam dalam lamunan dan jadinya menjelajah ruang ingatan. Sebelum bangkit dari sana, ia lirik waktu yang tertera di ponsel. Tujuh menit lagi adzan akan menyejukkan panasnya kota Jakarta. Maka saat itu juga, Jihan menunaikan tips dari Lusi. Pergilah ia mengambil air wudu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD