Gue mondar mandir di depan pintu kamar mandi menunggu Bianca yang sudah ada di dalam selama sepuluh menit. Mengacak rambut, duduk menyandar di pintu sampai memeluk lutut gue sendiri. Camera recorder menyala dan merekam semua yang gue lakukan seperti yang diinginkan Bianca. Gue sudah seperti orang ambeien yang nggak bisa duduk dan gelisah sampai akhirnya pintu terbuka. "Alhamdulillah." Ucap gue lantang. "Belum aku lihat Mas hasilnya dan pengennya kita lihat sama-sama." Gue mengangguk dan melihat Bianca yang menutupi benda pipih panjang itu di genggaman tangannya. Gue sudah deg-degan nggak karuan. Mengusap-usap telapak tangan dengan ekspresi antusias. "Tapi Mas?" Bianca menatap gue lekat. "Kalau misalnya hasilnya negative, Mas jangan kecewa ya." Gue menghela napas, mengecup puncak kepal

