Sepanjang Reza bercerita, air mata enggan berhenti membasahi pipi Tania. Gadis itu berusaha untuk tidak kehilangan sosok Rega dalam memorinya dan juga hatinya. Dia berusaha mengingat kembali semua kenangan tentang Rega, dia mengingat senyum khas Rega, suara Rega, panggilan sayang dari Rega untuknya, walaupun untuk mengingat semua itu dia sedikit kesulitan, karena tiga hari dia sempat mengabaikan Rega dengan alasan sibuk menyiapkan pernikahan. Satu mangkuk kecil berisi balok-balok kecil es batu dibawa Reza untuknya, Tania hanya menatapnya tak mengerti, dia tidak sadar jika Reza sempat turun ke bawah untuk mengambil es batu. “Buat apa?” tanya Tania sinis. Dengan sabar Reza duduk di sebelah Tania dia meletakkan mangkuk itu di atas kasur kemudian mengambil satu buah es batu dan meletakkann

