Lyra terkejut mendengar ucapan wanita itu, raut wajahnya yang ramah berubah pucat, senyumannya yang begitu sumringah seakan hilang ditelan bumi. Zen yang mendengar ucapan kasar dari wanita itu juga menunjukan wajah tidak senang. “Kenapa ku berbicara kasar seperti itu Wina!” tegur Zen marah. “Memang apa yang salah, kalian para laki-laki menatap wanita baru seperti itu. Bukankah itu menjijikkan?” kata Wina menimpali. “Hey Wina, kau kan juga sama saja. Bukankan kau senang dipandangi lelaki dengan tatapan seperti itu.” seru salah satu pria yang bernama Rifano. “Heyy, jangan samakan aku dengan gadis kampung yah.” teriak Wina marah. “Wina jaga bicaramu!” bentak Zen. “Zen, kenapa kamu membentakku seperti itu?” katanya sembari bergelayut manja di lengan Zen. Lyra tercekat, mendengar ucapan

