Chapter 6 Segala Kejutan Yang Suamiku Miliki

3076 Words
Aku mengingat kembali ke masa menjemuhkan yang kulewati sebelas tahun yang lalu. Saat itu aku berusia dua puluh satu tahun dan menyesali jalan hidup yang sudah kupilih. Aku terjebak di sibuknya perkuliahan di fakultas kedokteran. Tugas yang menumpuk, deretan IPK yang seperti sampah, lingkar mata yang semakin hitam dari hari kehari karena kurang tidur. Lelah.. sangat lelaah.. tapi aku tak bisa kabur dari itu semua. Orang tua susah payah mencari uang untuk menguliahkanku dan mereka sudah percaya sepenuhnya bahwa putri mereka bisa melakukannya. Emmh! Sangat memuakkan!! Dan parahnya saat aku sedang berangkat kekampus di jam sibuk dengan tubuh lunglai lemasku aku mendapatkan pelecehan seksual di gerbong kereta. Aku begitu kesal, jijik, marah dan ingin menangis. Aku bahkan tak punya tenaga untuk berteriak pada pria tua yang kegirangan menggesekan benda itu kepantatku. Karena sempitnya tempat aku bahkan tidak bisa bergerak untuk pindah tempat. Hingga terdengar dehaman mengerikan yang membuatku terlonjak. "Oi, paman! Hentikan atau aku tak akan melepaskanmu" ujar suara itu dengan nada yang begitu suram dan mengerikan. Aku menoleh kebelakang. Di belakang pria m***m itu aku melihat sosok pemuda bertubuh sangat tinggi memiliki wajah seperti orang asing, berambut kemerahan dan memiliki mata beriris hijau menunjukan wajah bak pembunuh berdarah dingin yang bisa meremukan kepala orang dengan tangan kosong. Pria tua m***m itu tampak membeku lalu segera menyingkir karena tatapan mengerikan itu. Sebenarnya aku sangat bersyukur ada yang membantuku saat itu. Tapi ketika aku melihat raut wajah si pemuda saat menatapku aku sadar dia tampak sangat kesal karena harus mencampuri urusan orang. Karena tubuhnya tinggi dan dia berada dekat denganku tentunya dia yang paling jelas melihat pelecehan seksual yang terjadi kepadaku. Dan setelah mengusir orang m***m itu dia bahkan tidak menunjukan empati yang baik. Dia derdecak menatapku menggelengkan kepala, memalingkan wajah dan memainkan ponselnya. Kurang ajar sekali, kan? Dan lucunya kami berhenti di pemberhentian yang sama dan tujuan yang sama. Dia mahasiswa baru di kampusku dan juga dia junior di fakultas kedokteran! Wow.. takdir apa yang mempertemukan kami di situasi yang aneh ini. Karena dia tahu aku senior di jurusan kedokteran dia jadi tampak canggung kepadaku. Dia tampak tak menikmati masa orientasi sama sekali dan menjauh menghindari orang-orang yang ingin mengajaknya mengobrol. Ya.. junior kurang ajar itu terlampau overthinking. Dia pikir aku comber mengadukan semua keburukannya keteman-temanku. Aku bahkan tak sempat mengobrol hal lain kepada teman-temanku karena sibuk menyiapkan acara orientasi mahasiswa baru. Saat acara minum-minum kami duduk berjauhan. Dia menatapku terus menerus dengan tatapan curiga. Aku hanya berdecak menggelengkan kepala lalu memalingkan muka. Teman-temanku mulai menangkap sinyal aneh darinya. Mereka menyorakiku yang sepertinya punya pesona untuk menggaet daun muda. Aku tak banyak merespon karena sudah lelah menanggapi hal ini. Setelah menghabiskan segelas bir aku keluar ruangan dan merokok sendirian sambil bermain game di ponselku. Di saat aku sendirian merokok di lorong sempit aku merasakan kehadiran orang lain di belakangku. Ternyata dia mengikutiku kemari. Dan saat itu dia mengungkapkan penyesalannya dan meminta maaf kepadaku. Aku cukup heran dan ingin tertawa. Dengan agak angkuh aku menatapnya dan menjawab omongannya. "Apa yang membuatmu menyesal? Bukannya waktu itu kau menolongku?" ujarku membuatnya mengatupkan bibirnya rapat. Aku melihat bibirnya bergetar. Sirat matanya memperlihatkan jika dia takut kepadaku. Dia memelas dan memohon agar aku mengampuninya. Heran kan? Kemana perginya pemuda mengerikan yang mengusir pria m***m yang melecehkanku tadi pagi. Siapa yang bisa menebak siapa junior menyebalkan itu? Ya.. dia adalah suamiku saat ini, Risey Antonio Del La Cruz Malkovitz. Begitulah sosok Risey yang selama ini bagaikan misteri di hadapanku.Dia memiliki kepribadian gelap dan terang yang hidup berdampingan, tergantung dia ingin menggunakan yang mana. Di hadapanku dan orang lain yang mengenalnya dia tampak seperti orang suci yang polos dan naif. Tapi ada sisi gelap yang muncul jika dia berhadapan dengan musuh atau saat dia sedang dalam keadaan terancam bahaya. Karena latar belakang masa lalunya yang besar di medan perang Risey memiliki gangguan kejiwaan pasca trauma atau di sebut PTSD. Sejak kecil dia tidur dengan senjata api berada di sisinya. Saat itu dia memiliki visi hidup yaitu membunuh atau di bunuh. Semakin lama visi hidup itu mendarah daging pada dirinya dan juga merusak kejiwaannya. Orang tua Risey berniat untuk memberikan Kehidupan yang layak untuk putranya sehingga mereka mengungsikan Risey ke Jepang. Mereka berharap dengan menjalani kehidupannya di Jepang anak mereka bisa tumbuh dan bisa memiliki pilihan hidup yang lebih baik ketimbang harus mati membusuk di medan peperangan. Tapi sayangnya apa yang orang tua Risey harapkan begitu jauh dari kenyataan yang ada. Begitulah segelintir cerita tentang latar belakang suamiku dari adiknya Yuuta. Di bandingkan adik-adik suamiku yang lain hanya Yuuta yang begitu dekat dengan kakaknya. Dia sangat mengenal Risey baik luar maupun dalam. Banyak waktu yang sudah lama mereka lewati bersama. "Masa saat awal dia berada di Jepang itu sangat mengerikan. Dia bahkan sarapan dengan mengantongi senjata api di balik bajunya. Ya, memang agak sulit untuk merubah kebiasaan di medan perang jika kau punya orang tua Yakuza" ujar Yuuta. "Ayahku bahkan menggunakan ancaman jika dia masih membawa senjata api dia akan memotong jari-jari kakakku. Tapi hal itu tidak sembuh begitu saja. Saat dia di sekolah dia bisa menusuk tangan seseorang yang membully-nya dengan pensil sampai pensil yang dipakai menusuk itu tembus. Dia benar-benar berbahaya jika dia merasa terancam. Dia bahkan merasa menghilangkan nyawa orang juga bukan suatu kesalahan yang besar karena dia sebelumnya hidup dengan membunuh orang lain" jelas Yuuta. "Memang mengerikan, sih.." ujarku merinding mendengar cerita itu, "Tapi aku cukup heran juga. Bukankah keluarga kalian keluarga Yakuza. Memiliki orang yang memiliki mental seperti itu juga mungkin... bermanfaat untuk bisnis yang kalian kelola, bukan?" Yuuta menatapku dengan mata yang sinis, dia menghelah napas panjang, "jadi seperti itu ya yang orang awam pikirkan" ujar Yuuta membuatku heran. "Memangnya ada yang salah dengan hal itu?" tanyaku mengendikan bahu. "Kalau begitu Nagai-san.. Jika seandainya kau memiliki anak dengan kakakku besok, apa kau ingin anak itu menjadi seperti ayahnya?" pertanyaan Yuuta membuatku menelan ludah. "Jawabannya tentu tidak. Bagitupun ayahku. Dia begitu berbakat. Di kelompok kami dia mendapat julukan 'anjing gila' karena dia tidak segan menyerang orang dengan bengis. Tapi sebagai orang yang memiliki bakat seperti itu dia juga tidak ingin bekerja sebagai Yakuza. Dia juga tidak ingin anak-anaknya memilih jalan yang salah seperti dirinya" ujar Yuuta, "Dan begitu juga kakakku. Ayahku sangat berharap banyak agar dia bisa hidup dengan tenang dan merasa aman di negara ini. Tapi kakakku tidak bisa menjalani hidup setenang itu. Kau bahkan masih ingat kejadian buruk yang menimpa kami beberapa waktu yang lalu.." Yuuta membuatku kembali mengingat peristiwa mengerikan itu. Saat aku sedang berjaga di rumah sakit Christian-san datang dengan penuh darah. Darah itu bukan dari dirinya. Tapi dari dua orang yang ada di gendongannya. Saat itu dia membawa Risey yang dia angkat dengan dua tangannya dan Seichi yang dia ikat menempel di punggungnya. Tak lama adiknya Ken-san datang membawa dua orang terluka lagi yaitu Gion dan Yuuta. Yang paling mengerikan adalah luka-luka itu sangat parah, dan itu juga bukan karena kecelakaan tapi upaya pembunuhan. Kejadian itu terjadi saat Risey dan Yuuta mengantar adik dan sepupunya untuk berangkat kekarya wisata karena mereka terlambat dan di tinggal oleh rombongan. Di perjalanan mereka bernasib buruk. Mereka di culik orang orang-orang jahat yang memusuhi orang tua mereka. Karena melakukan perlawanan mereka disiksa dengan kejam. Sebelum mereka di bunuh Christian-san dan Ken-san datang menolong mereka. Penjahat itu juga menyekap Nenek Miyainuichi, Mahiru-san dan Christina di tempat yang berbeda. Ketiga perempuan itu berhasil selamat dengan luka ringan. Tetapi empat orang itu.. mereka nyaris meregang nyawa. "Saat itu karena Risu-Niichan kami bisa melarikan diri. Kemampuannya berkelahi bisa menahan pergerakan musuh. Dia meminta kami segera lari untuk minta bantuan. Tetapi kami tentu saja tidak bisa meninggalkannya sendirian dan benar saja mereka berniat untuk membunuhnya. Aku benar-benar kesal saat itu. Jika saat itu kami memiliki kemampuan untuk melawan kami tak akan membahayakan nyawa saudara kami. Meskipun orang tua kami tidak ingin kami jadi anggota Yakuza tidak seharusnya kami menjadi orang yang lemah" ujar Yuuta. "Aku mulai mengerti apa yang kau rasakan. Dan mungkin suatu saat aku akan menjadi beban bagi Risey jika ada kejadian semacam itu" ujarku menghelah napas berat. "Memangnya kau siap dengan hal itu?" tanya Yuuta. "Tentu saja tidak" ujarku mengembungkan pipi, "karena kejadian mengerikan itu aku sempat menyerah untuk pada perasaanku sendiri. Tapi sekarang aku tidak akan mundur!" "Tapi orang tuamu tidak merestuinya, kan?" ujar Yuuta, "Sekarang belum terlambat jika kau memang mau menyerah. Toh, banyak hal rahasia yang belum kubagi denganmu. Jika kau tahu hal mengerikan yang kakakku sembunyikan jangankan kabur. Hidupmu pasti akan penuh terror" ujar Yuuta. "Sudahlah Yuuta" aku menghelah napas berat, "ceritakan saja kepadaku semuanya. Jika itu mengerikan aku sudah siap menanggung konsekuensinya." Yuuta menyeringai, aku curiga dengan eskpresinya ini. Dia tampaknya sedang mengujiku. Aku menatapnya dengan tatapan serius. Rasanya ingin sekali aku mendesaknya dengan paksa agar bisa bicara semuanya. Dia bangkit dari tempat dia duduk lalu memintaku mengikutiku. Dia membawaku kedalam kamarnya. Dia menunjukan tempat dimana suamiku tidur. Dia membuka kasur dan kami menemukan sebuah peti yang memiki sistem keamanan berupa layar komputer sebagai kuncinya. "Aku yakin kau akan kabur setelah melihat ini. Karena dari sini sudah tampak mencurigakan. Untuk apa dia membuat peti rahasia seperti ini di rumah dengan teknologi canggih sebagai pengamannya" ujar Yuuta. "Memang apa sisinya? Pintu rahasia? Narkoba?" tanyaku, "Ah, pasti isinya uang haram! Uang haram yang dia dapatkan karena sogokan keluarga tersangka yang jenazah korbannya di otopsi olehnya!" ujarku berapi-api. "Bisa jadi" ujar Yuuta menyeringai lagi. "Dasar, dia masih dokter residen! Dari mana dia dapat uang banyak, hah! dia pasti melakukan bisnis haram! Dia pasti selamat karena dia bekerja sama dengan polisi korup selama ini! Yah, pasti itukan yang dia sembunyikan!" ujarku makin bersemangat. "Jika kau menyimak pembahasan kita tadi kau tahu permasalahan kakakku apa, kan? Masih ingat dengan kode yang di bagi kakakku sebelum dia pergi? Aku memiliki semua kode itu di ponselku. Jika aku mengetiknya disini.." Yuuta mengetikan kode yang panjang di layar sentuh peti itu dan setelah itu peti itu tidak terkunci lagi. Yuuta pun membuka isi peti itu dan saat melihatnya mulutku ternganga lebar. Berbagai macam senjata api berbahaya ada di peti itu. Ukurannya pun berbeda-beda. Dia juga punya berbagai macam jenis pisau, granat dan juga pelindung peluru. Ada beberapa botol berisi cairan berwarna warni yang mencurigakan dan juga benada-benda anek yang wujudnya seperti mainan. Jika dulu masa kecil aku begitu senang melihat brangkas senjata agen rahasia yang ada di film kini aku melihat semua itu langsung dan semuanya berada di bawah tubuh suamiku saat dia tidur. "Inilah obat tidur nyenyak kakakku selama ini. Senjata api" Yuuta mengambil salah satu laras panjang yang ukurannya dua kali lebih besar dari lengannya. Melihat senjata itu dari dekat saja membuat jantungku serasa mau copot. "Yuuta-kun, jika kakakmu tahu kau mengotak-ngatik benda ini bukannya nyawamu terancam bahaya?" ujarku dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningku. "Untungnya dia sedang pergi. Dia juga meninggalkan ponselnya. Jika saja dia membawa ponsel itu ada kemera yang aktif di dalam peti ini yang terhubung keponselnya" ujar Yuuta, "Ugh.. berat juga" ujar Yuuta memasangkan kembali senjata itu ketempatnya. "Jika kau sudah tahu hal ini kau tidak akan kakakku biarkan kabur. Bahkan dia juga akan mengawasi setiap pembicaraanmu dengan orang lain. Jika salah bicara sedikit saja kau akan habis" ujar Yuuta. "Hmm.." aku kembali menelan ludah, "banyak hal yang masih ingin ku tanyakan" ujarku. "Baiklah, tanyakan saja" ujar Yuuta. "Jadi bagaimana dia bisa mendapatkan senjata seperti itu di Jepang?" heranku. "Jadi ibu kandung kakakku itu sembilan bersaudara. Dan mereka semua adalah tentara bayaran. Ada beberapa yang sudah pensiun dan memberikan barang ini cuma-cuma kepada keponakannya. Yang menjadi masalah utamanya bagaimana dia bisa membawanya masuk, kan? Itu bahkan masih jadi misteri" jelas Yuuta. "Oh.. jadi barang bekas toh.. hahaha" Kenapa aku bisa sepanik itu. "Ya. Tapi semua benda ini berfungsi dengan baik" ujar Yuuta membuat napasku sesak kembali. "Apa dia memakainya untuk membunuh orang?" tanyaku. Yuuta tersenyum lebar sambil menaikan kedua alisnya, "Jadi menurutmu bagaimana?" tanya Yuuta. "Ini benar-benar gila.." aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, "untuk apa dia membawa barang seperti ini? Apa ini karena PTSD yang dia derita? Dia butuh psikiater bukan pistol!" "Memang PTSD yang di derita kakakku sangat mempengaruhinya. Dia bilang jika dia dekat dengan benda ini dia bisa merasa tenang" ujar Yuuta, "Dan memang benar dia butuh psikiater.. kakakku juga masih rutin konseling dan minum obat sampai sekarang, sih.. tapi ternyata tak membawa perubahan juga, kan! Mengobati maniak senjata yang tinggal di keluarga Yakuza itu sama saja dengan menguras air di lautan. Sia-sia!" "Entah aku harus takut atau merasa empati. Jika aku membicarakan hal ini padanya apa.." mendadak aku mengerti Yuuta akan menjawab apa. "Kau punya nyali juga untuk membicarakannya.." ujar Yuuta tertawa, "tidak masalah sebenarnya. Keterbukaan pasangan memang sepertinya ide yang bagus. Tapi kau tidak tahu kan kalau dia akan bereaksi seperti apa?" ujar Yuuta. "Hmm.." aku jadi ingin menangis rasanya, "Oohh, memang apa manfaatnya kau menyimpan barang seperti ini. Jika itu hanya koleksi putri kerajaan loli mungkin aku bisa memakluminya" geramku. "Setahuku senjata ini adalah sumber income untuk kakakku" penjelasan Yuuta membuatku makin tak percaya lagi, "Jadi dia menyewakan senjata yang dia miliki kepada orang lain. Dan hasilnya cukup menjanjikan dari pada gajinya sebagai dokter yang hanya.. yaa.. memang sedikit, sih" ujar Yuuta. "Aku tak membayangkan apapun. Banyak hal kotor yang di lakukan oleh dokter yang berpartisipasi dengan organisasi terlarang untuk mencari penghasilan tambahan. Tapi menyewakan senjata.. astagaa.. aku jadi ingat jika sebenarnya dalam hati dia adalah tentara, bukan? Lisensi dokter hanya kedok saja agar dia bisa menyusup" ujarku mendapat acungan jempol dari Yuuta. "Apa yang kalian lakukan disini?" tiba-tiba saja Gion muncul melongok apa yang kami lakukan dari balik punggungku. Saking terlonjaknya aku jantungku seperti mau copot. Aku cukup panik. Anak SMA yang satu ini pasti sangat kaget karena kami membongkar hal-hal mengerikan yang tersimpan di kamar yang dia tiduri bersama kakak-kakaknya. Saat aku melirik wajahnya juga tampak terkejut. "Yuu-Niichan serius memberi tahukannya?!" serunya. Ternyata anak ini sudah tahu semuanya. Percuma aku merasa panik berlebihan. "Kau juga tahu kakak tertuamu hobi menyimpan senjata, Gion-kun?" tanyaku. "Eh-hemm" dia mengangguk mengambil beberapa senjata api juga, "bahkan Seichi juga tahu" ujarnya lagi. "Jadi semua orang di rumah ini tahu?" heranku. "Sebenarnya tidak semuanya juga. Terutama ayah. Jika saja ayah tahu.. dia sudah bersumpah akan memotong tangan Risu-Niichan jika kedapatan memegang senjata lagi" ujar Gion. "Jadi kalian berempat saja yang tahu dan merahasiakan ini" begitulah yang kusimpulkan, "bukannya sebagai adik jika kalian mementingkan kebaikan kakak kalian seharusnya kalian mengadukannya. Ini bukannya sangat berbahaya?!" tanyaku. "Tapi Risu-Niichan itu jauh lebih mengerikan dari pada ayah loh.." ujar Gion, "dia sangat peka dengan niat jahat orang lain. Instingnya mengerikan sekali. Demi keselamatan hidup kami memilih untuk merahasiakannya. Lagi pula karena berbagai rahasia seperti ini dia juga membagi pekerjaan untuk kami dan menggaji kami dengan uang" jelas Gion. Jadi dalam menjalankan bisnis persewaan senjata ini, Risey membuat aplikasi yang hanya bisa di akses oleh kalangan tertentu. Biasanya orang yang akan menyewa akan melalui prosedur screening yang ketat dengan sistem AI yang berjalan dalam aplikasi tersebut. Gion dan Seichi selama ini membantu menjalankan server dari PC mereka. Persewaan senjata ini sudah tersusun begitu rapi. Jika sudah memenuhi persyaratan sebagai penyewa akan ada drone yang datang untuk mengantarkan senjata kepada penyewa. Dan drone itu juga terdapat kamera pengintai yang akan mengikuti pergerakan si penyewa. Dan jika ada pencurian atau perusakan pada drone biasanya Risey akan turun tangan untuk melakukan eksekusi. Dan yang seperti mereka tahu kemampuan Risey sebagai penembak jarak jauh sebenarnya sangat bagus. Dia akan melakukan penembakan dengan peluru setrum untuk melumpuhkan klien yang mencuri itu lalu mengambil kembali senjata yang dia miliki. Memang keren juga. Tapi jika ini film pasti akan sangat luar biasa. Aku tidak membayangkan hal ini terjadi di depan mata kepalaku. Memang benar apa kata Yuuta. Seharusnya aku kabur sebelum tahu semua ini. Aku tidak ingin genre indah dari teman menjadi kekasih berubah jadi kekasih menjadi musuh! Semua orang juga mengerti jika Risey tak pernah mengampuni musuh-musuhnya. "Aku ingin kalian jujur sebenarnya berapa penghasilan dari menyewakan senjata seperti ini?" tanyaku. "Wah.. sebenarnya banyak sekali. Aku juga tidak menyangka. Setiap bulan aku bahkan dapat gaji tiga ratus ribu yen" ujar Gion, "Aku bahkan bisa ikut kelas vocal dan kelas dance karena uang dari pekerjaan ini. Yang di peroleh Risu-Niichan sendiri pastinya sangat banyak" ujar Gion. "Benarkah? Meskipun hanya menyewakan senjata yang ada di peti ini?" heranku. "Sebenarnya tempat penyimpanan senjatanya bukan di peti ini. Ini hanya perlengkapan untuk berjaga-jaga. Bagi kakak peti ini seperti kotak P3K di tiap rumah" jelas Yuuta. "Benar" ujar Gion mengaggukan kepalanya. "Jadi.. menurut kalian ada gudang senjata lain yang dia miliki?" tanyaku. "Iya tentu saja. Dan kami juga tidak mengetahui keberadaannya yang pasti. Hanya kakak yang tahu tempat penyimpananya" jelas Gion. "Jujur saja aku yakin pasti salah satu gudangnya ada di rumah sakit. Kau masih ingat kan ada seorang pasien gawat darurat yang mendadak punya pistol di tangannya dan melakukan penyandraan" ujar Yuuta, "lagi pula bagaimana dia bisa menemukan beda seperti itu di rumah sakit. Sudah begitu tiba-tiba saja dia langsung lemas pingsan di tengah-tengah aksinya tanpa di ketahui penyebabnya. Waktu memeriksanya aku pun menemukan bekas peluru setrum. Ya, siapa lagi pelakuknya kalau bukan dia, kan." Aku masih menggelengkan kepalaku, "Yuuta-kun, kau benar! Seharusnya aku kabur saja sebelum kau menjelaskannya" ujarku. "Maafkan kami" ujar Yuuta dan Gion bersamaan dengan sangat menyesal. "Sebaik-baiknya kami berusaha menutupi keterlibatanmu sekarang Risu-Niichan pasti akan segera tahu. Dia itu selain punya persiapan yang baik juga punya kepekaan yang kuat dengan keadaan sekitar. Misalnya tiba-tiba saja dia tahu jika dia membuka data kamera yang ada di peti ini" ujar Gion. "Ya. Tapi memang ada baiknya jika kita tidak menyembunyikan hal ini terus. Sebenarnya aku punya rencana untuk membongkar semua ini saat dia pulang nanti. Karena momennya sangat bagus sekali" ujar Yuuta, "Dan kami bisa meminta bantuanmu untuk berpartisipasi" mendadak dia memintaku. "Hah? Memang apa yang bisa kulakukan?!" aku benar-benar bingung dengan ide tersebut. Yuuta dan Gion sama-sama melempar pandangan dan tersenyum mencurigakan. Mereka pasti merencanakan sesuatu di belakangku. Bisa saja hal itu akan sangat merugikanku. Mereka bisa saja berpikir licik kepada orang awam yang culun sepertiku. Tapi jika saja aku tidak mengetahui hal ini terlebih dahulu aku juga akan kesulitan. Tiba-tiba saat aku sedang mengandung suamiku tertangkap atas kepemilikan senjata ilegal. Hancur hidupku sudah. Aku akan pulang kerumah orang tuaku dengan di sambut dengan wajah penuh kekecewaan. Bisa saja Mitsu kakakku akan mentertawakanku dan menjadikan kisah sialku sebagai jokes saat ada kerabat yang berkunjung kerumah kami. Aku harap aku bisa membangun komikasi yang bagus dengan Risey saat membahas hal sensitif seperti ini. Jika dia beraksi berlebihan mudah-mudahan saja Tuhan masih mengampuniku dan menjauhkanku sejauh-jauhnya dari bencana dan mara bahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD