TIGA

997 Words
"Tari.. Dengerin gue dulu kenapa sih"   Tari tetap melanjutkan aktivitasnya mengambil jarum suntik tanpa memedulikan keberadaan Elang.   "Gue beliin lo gelato deh, berapapun" ucap Elang berusaha membujuk. Tari menghentikan aktivitasnya sejenak lalu ia menatap Elang yang kini memasang cengirannya.   "Emang gue semurahan itu ya sampai lo sogok pake gelato doang?" tanya Tari datar. Elang tertegun   "Eh.. Enggak, lo mahal kok bahkan lebih mahal dari harga.. Eehm tas branded itu.. Channel? Gucci? Lebih mahal dari jam tangan rolex." ucap Elang cepat. Gantian Tari yang memasang cengirannya.   "Lo pernah gak beliin cewek lo barang branded itu?" tanya Tari. Elang mengerjapkan matanya dan mengangguk. Tak heran jika Elang mampu membeli semua barang branded itu karena kakeknya adalah seorang pengusaha sukses di Palembang.   "Gue mau tas Channel. Gak mau tau."   Elang terbelalak. Tari kalau memeras suka gak kira-kira.   "Tap--"   "Yaudah sana lo pergi, lo buang waktu berharga gue tau gak" ucap Tari cuek lalu mengambil beberapa obat.   "Okee.. Gue beliin, tapi lo maafin gue kan?" Elang menatap Tari penuh harap. Tari menggelengkan kepalanya membuat Elang shock.   "Lo bujuk Ayah gue juga biar gue gak berurusan sama Raja lagi terus bantuin gue agar tetap bisa jadi relawan" jawab Tari santai.   "Bangke ayam! Lo kalau ngambek suka gak kira-kira ya? Banyak mau! Emang upil badak lo!" gerutu Elang sebal, tetapi Tari tau lelaki itu pasti akan membantunya atau Tari akan semakin marah padanya bahkan disogok apapun tidak akan mempan kecuali keinginannya terpenuhi.   "Kapan gue ngadep om Arion?" tanya Elang. Nah kan. Tari tersenyum jumawa.   "Sekarang" jawab Tari tersenyum manis.   "Heh?"   "Udah sana lo pergi, gue ada pasien." usir Tari sambil menarik tangan Elang keluar. Dalam hati Elang merutuki sikap Tari yang menyusahkannya.   ***   Elang menghela napas sebelum mengetuk pintu ruangan Arion. Seragam biru mint nya tampak mencolok diantara seragam hijau gelap yang berseliweran disekitarnya.   "Masuk" suara berat Arion terdengar. Elang berdehem pelan lalu memutar kenop pintu dan tersenyum pada Arion yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Elang memberi hormat lalu mencium punggung tangan sahabat Papanya itu.   "Om apa kabar?" tanya Elang sopan. Arion tersenyum.   "Alhamdulillah baik. Kamu gak pernah mampir ke rumah lagi, Ibunya Tari sampai nanyain terus" jawab Arion. Elang tersenyum canggung membuat Arion segera paham.   "Tari nyuruh kamu bujuk saya untuk apa lagi?" tembak Arion langsung membuat Elang salah tingkah. Saking seringnya ia membantu Tari membujuk Ayahnya, Arion sampai hafal jika Elang sudah memasang senyum canggung.   "Katanya.. Dia gak mau berurusan sama Raja dan om harus izinin dia jadi relawan" jawab Elang. Arion mengusap wajahnya. Hampir satu minggu Batari enggan menemuinya bahkan untuk mengangkat telponnya pun tidak, padahal jika sang Ibu yang menelponnya Batari langsung menjawab panggilan itu.   "Sebenarnya.. Niat saya menjodohkan Batari dengan Raja itu karena dulu.. Ayahnya Raja sudah mempertaruhkan nyawanya untuk saya. Ya, anggap saja ini sebagai balas budi saya untuk keluarga Raja" ucap Arion pelan. Elang dapat melihat raut sendu dari wajah pria yang berpangkat Jendral itu.   "Kamu mau membantu saya Elang? Hanya kamu yang bisa membujuk Tari. Untuk masalah relawan, akan saya izinkan asal kamu bisa membujuk Tari"   Elang jadi serba salah. Jika menolak, ia tidak tega melihat raut sendu Arion. Dan jika ia menerima berarti sama saja ia mengkhianati Tari yang sudah berharap banyak padanya.   "Akan saya usahakan sebisa saya om" ucap Elang yakin. Ia juga ingin melihat Tari bahagia, selama ini gadis manja itu banyak didekati lelaki tetapi tak pernah sampai tahap yang lebih serius.   "Bilang sama Batari, keruangan saya segera untuk urusan perekrutan relawan."   Elang mengangguk patuh lalu ia pamit undur diri.   ***   Tari hendak membalikkan tubuhnya tetapi terlambat, seseorang yang dihindarinya terlanjur menyadari kehadirannya.   "Kamu.. Sibuk?" tanya Raja.   "Banget" jawab Tari cepat. Raja menatap Tari lekat. Gadis itu sudah banyak berubah. Rambutnya yang dulu panjang sepunggung kini terpotong rapi khas Kowad. Pipinya yang dulu berisi kini terlihat tirus walau matanya masih tetap menyorot tajam.   "Saya ingin bicara, tapi bukan disini" ucap Raja. Tari mendengus malas.   "Kan udah bilang, gue sibuk.. Bangett" jawab Tari sinis. Raja menghela napas.   "Sampai kapan kamu mau menghindar Batari?" tanya Raja. Dan pertanyaan itu membuat Tari mengepalkan tangannya. Emosinya selalu meledak jika menyangkut pria sialan yang paling ia benci.   "Fine! Di taman belakang" ucap Tari ketus dan melangkah mendahului Raja sambil dalam hati menyumpahi Raja.   Begitu sampai di taman rumah sakit, Tari memilih tetap berdiri walau Raja menyuruhnya duduk. Ia berkacak pinggang sambil memainkan rumput dengan sepatu laras nya.   "Cepetan ngomong. Kasian pasien gue nunggu" ucap Tari memecah keheningan. Raja tertawa kecil, sejak dulu Tari selalu terlihat menggemaskan jika sedang kesal.   "Kita.. Belum putus kan?"   Hell. Ingin rasanya Tari menendang wajah pria menyebalkan didepannya itu.   "Enak banget lo ngomong. Sejak lo sama tunangan sialan lo itu bersekongkol buat nyakitin gue, kita udah putus. Gue adik lo kalau-kalau lo lupa" jawab Tari.   "Saya punya alasan--"   "Dan gue gak mau tau hal yang lo bilang alasan itu" potong Tari cepat.   "Batari.."   Tari mengepalkan tangannya. Kenangan masa lalunya kembali menyeruak. Raja yang perhatian padanya, mereka berpacaran diam-diam karena saat itu Arion belum mengizinkan Tari pacaran, lalu puncaknya saat Tari tau Raja telah bertunangan di bulan ketiga mereka berpacaran, bahkan pria itu memilih meninggalkan Tari dan yang membuat Tari semakin sakit, Raja hanya mengakuinya adik.   "Percuma lo jelasin, gak akan mengubah apapun. Gue... Terlanjur benci sama lo." ucap Tari dingin. Ia berusaha menahan tangisannya yang sebentar lagi akan pecah.   Raja terdiam, menatap Tari yang kini enggan menatapnya. Raja tersenyum getir.   "Oke. Semoga kamu bahagia. Dan untuk perjodohan itu, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Biar saya yang bicara dengan om Arion."   Lalu Raja berbalik pergi meninggalkan Tari. Tari mengepalkan tangannya.   Jangan nangis sialan.   Air mata Tari luruh, ia menduduki bangku yang tadi di duduki Raja lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan.   Brengsek! Jangan nangis.   Tari semakin terisak dalam tangisannya bahkan napasnya sesak seperti ada beban berat yang menimpanya. Seharusnya ia lega telah mengungkapkan kebenciannya tetapi sisi lainnya juga mengharapkan agar Raja mau berjuang dan tetap tinggal.   Segitu doang bisa lo? Setelah lo sakitin gue, cuma itu yang lo bisa?   Bahkan hatinya semakin terluka seolah belati yang sejak dulu tertancap, menusuknya lebih dalam.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD