Nara benar-benar kecewa dengan apa yang didengarnya. Namun, dia tak mau terjebak begitu saja dalam perangkap yang dimainkan Kirana. Ini bukan kali pertama, bisa saja dirinya salah paham lagi. "Kenapa kamu diam, Ra? Kamu meragukanku dan berpikir jika yang kulakukan ini hanya lelucon?" oceh Kirana di seberang sana. "Memang kamu pandai bermain seperti itu, kan? Lelucon, drama, kamu sering sekali melakukannya untuk ambisimu!" sergah Nara, dengan tekanan dalam nada bicaranya. "Kamu seyakin itu?" tanya Kirana lagi, "oke, jika memang kamu ingin menyangkal, aku pun ingin lebih membuktikannya." "Apa maksudmu, Kiran? Jangan pernah sentuh suamiku!" sentak Nara, dia benar-benar sudah di ambang batas. "Angkat panggilan videoku, Nara!" tukas Kirana. Setelah mendengar itu, Nara mengerutkan kening,

