Keliling Lapangan, Tiga Kali!

1089 Words
Arya dan Bagas membungkuk dengan kedua tangan menepuk lutut. Keduanya tengah mengatur napas yang memburu, serta detak jantung yang berdegup kencang. Keringat membasahi pelipis keduanya, tapi tetap saja wajah mereka tampan. Serbuk berlian memang beda, kita lah apa?—salah satu kalimat dari jutaan kalimat yang diambil dari gibahan para siswi insekyur. Cewek aja bisa insekyur sama cowok. Arya mendongak ke atas, dengan posisi masih membungkuk. Menatap langit biru yang membentang luas, serta sinar matahari yang telah berada di atas kepala. Ternyata hari sudah siang dan udara semakin panas. “Gini banget hidup gue,” keluhnya lemah. Padahal ini bukan jadwal olahraga, tetapi Arya dan Bagas sudah berlari mengelilingi halaman sekolah. Kalau halaman rumah, keduanya bisa. Tapi, yang dikelilingi halaman sekolah. Kalau hanya sekali, keduanya sanggup. Tapi, hukumannya tiga kali putaran. Ekspetasi tak seperti realita. “Billa enak banget nggak dihukum.” Bagas berdecak kesal. Dia memilih untuk menegakkan tubuhnya yang cukup dingin setelah tadi berkeringat. Berkacak pinggang dengan salah satu tangan. Selalu, dan selalu. Siswi kelas X pintar menghindari amukan guru. Jarang sekali para siswi mendapat hukuman atau teguran. Langganannya terus saja para siswa. Memang, laki-laki selalu salah. Ucapan Bagas mengingatkan Arya pada kejadian tadi—sebelum dirinya mendapat hukuman mengelilingi lapangan sekolah. “Lah, Billa, Bu?” Bagas menoleh pada Billa dan Bu Nia secara bergantian. Merasa tidak adil jika perempuan itu dapat lolos tanpa menerima hukuman. “Billa? Billa kenapa memangnya?” “Billa, ‘kan, juga ikut teriak, Bu. Bahkan lebih keras.” “Billa memangnya teriak? Kok, ibu enggak denger?” Bu Nia kembali bertanya. Pasalnya, tadi dirinya langsung datang ke kelas setelah mendengar suara meja dan teriakan yang sudah melegenda seantoro sekolah. Siapa lagi kalau bukan Arya dan Bagas? Dua siswa bandel kakean polah. Padahal, belum genap 3 bulan mereka menjadi bagian dari rakyat SMA Permadani. “Bu guru pake headset?” tanya Arya memastikan. Billa yang sedari tadi menyimak akhirnya mengangkat salah satu tangan, “Saya teriak karena Betrand buat ulah, Bu. Namanya membela diri.” “Sudah. Sekarang, Arya sama Bagas ikut bu guru." Keputusan Bu Nia rasanya sangat ingin Arya tentang. Keduanya saling pandang. Sedetik kemudian, Arya dan Bagas bertanya, “Mau ngapain, Bu?” “Piknik.” Arya geleng-geleng kepala saat mengingat semuanya kembali. Piknik kata Bu Nia? Bisa-bisanya gue kapusan. “Masuk kelas yok, Yak!” Bagas merangkul pundak Arya layaknya teman akrab. “Tunggu dulu, Gas. Sekarang jam berapa, ya?” Alih-alih menjawab rangkulan Bagas, laki-laki itu malah bertanya jam berapa. Dengan enteng, Bagas mengedikkan dua bahunya. Pertanda bahwa ia tidak tahu. “Gue nggak punya jam, Yak.” Untuk memastikan, Arya menatap pergelangan tangan sahabatnya. Benar, tidak ada jam tangan yang melekat di sana. Hanya ada beberapa gelang karet aneka warna. Mulai dari ijo, biru, dan kuning. “Estetik dikit, lah, Gas. Masa Lu sekolah pake karet?” “Nyadar! Lu juga pake!” Bagas menatap kesal ke arah Arya. Hampir saja dirinya mengucapkan kata-k********r. Arya cengengesan, “Hehehe. Sae ae, Lu!” Tak sadar diri memang terkadang menjadi kebiasaan keduanya. Padahal lengan Arya juga terdapat beberapa gelang karet, kanan–kiri lagi. Gelang-gelang karet tersebut mereka dapatkan dari bekas nasi bungkus yang dibeli. Ya, sisanya dari memalak siswi yang sudah selesai menghabiskan nasi bungkus. Bukan sebuah kejahatan bukan? Karena, untuk apa para siswi menyimpan gelang karet? Lebih baik diberikan pada siswa yang memang keadaannya gabut— gak tahu mau ngapain. “Ayo ke kelas sebelah!” Kini Arya merangkul pundak Bagas. Keduanya saling merangkul dan berjalan menuju koridor kelas. Rencana, akan ke kelas XI untuk melihat jam dinding. Bagas menghentikan langkahnya saat sampai di samping kelas XI. Tiba-tiba teringat akan tegasan yang tadi disampaikan. Entah siapa, Bagas juga lupa. “Kalau udah keliling tiga kali, langsung masuk kelas. Ikuti lagi kelasnya Bu Ulfa, kejadian tadi nggak boleh terulang. Arya, Bagas! Ngerti?!” Beberapa kali Bagas mengerjapkan kedua matanya. Hingga sedetik kemudian, saat Arya hendak merangkulnya kembali, Bagas bethenti. “Yak, kita, ‘kan, kalau udah keliling tiga kali disuruh langsung ke kelas.” “Tapi, gue mau lihat jam berapa sekarang ini. Lu di sini, deh. Gue mau liat jam.” Arya berjalan meninggalkan Bagas, lalu mengetuk-ngetuk pelan pintu kelas XI yang dibiarkan terbuka. “Assalamu’alaikum, kakak-kakak kelasku,” salamnya ramah. Hening satu detik, lima detik, sepuluh detik, lima belas detik—sebelum akhirnya salah seorang siswi angkat bicara. “Wa’alaikumussalam. Maaf, nggak ada sambutan.” Masih dengan senyum ramah yang dipertahankan, Arya membalas, “Nggak apa-apa. Gue masuk, ya? Mau lihat jam.” “Ehhhh! Jangan!” Salah satu siswi lainnya dengan sigap berdiri. “Kenapa?” “Lo bau keringet. Entar nyebar ke kelas.” “Gue Cuma–“ “Jam sembilan pas, Yak!” *** “Ngapain kita ke kantin? Kita, ‘kan, disuruh ke kelas, Yak!” Arya menoleh ke arah Bagas dengan malas, “Habis ngantin, kita ke kelas, Gas.” “Entar pelajaran Bu Ulfa keburu habis. Bu Nia kalau tahu juga bakalan marah.” Kali ini, Bagas tidak mau ikut-ikutan. Walau, ingin, sih. Kejadian keliling lapangan membuat laki-laki itu trauma. Mungkin jika siswa lain berteriak, Bu Nia tidak akan memberikan hukuman lari keliling lapangan tiga kali. Hanya saja, karena Arya dan Bagas agak spesial, Bu Nia memberikan hukuman. Karena dua siswa itu selalu saja ngeyel meskipun telah diperingatkan. “Gas,” Arya menepuk pundak Bagas dengan mantap. “Kita ke kelas buat belajar. Tapi, belajar juga butuh makanan. Otak nggak akan bisa mencerna kalau kitanya kelaperan, nggak makan. Apalagi sampai kekurangan air. Lu tahu, ‘kan, manfaat makan sebelum belajar itu banyak. Menambah energi, mengoptimalkan metabolisme, meningkatkan konsentrasi, menyehatkan tubuh, menstabilkan emosi, meningkatkan kemampuan otak, dan meningkatkan kecerdasan anak–“ “Ralat, Lu bukan anak. Lu, ‘kan, makhluk tak kasat mata,” potong Bagas mencoba membenarkan. “Lagian, itu manfaat sarapan! Bukan makan siang, woy!” Kepalan tangan mendarat di kepala Arya dengan kekuatan sedang—setara tepukan kuat anak berumur lima tahun. “Udah, deh, Gas. Lu tahu kenapa gue nggak suka belajar?” tanya Arya mulai serius sambil mengganti topik pembicaraan. “Nggak tahu. Kenapa memang?” “Kalau gue belajar, gue pinter. Kalau pinter, nanti guru-guru pada sayang sama gue. Guru-guru sayang gue, temen-temen pada iri. Terus, mereka guna-guna ke gue karena iri. GUE MATI, DONG!” Arya heboh sendiri ketika menuturkan kalimat terakhirnya. Kemudian, laki-laki itu melanjutkan, “Gas, dengerin baik-baik. Ini berita, real! Tetangga gue belajar terus, akhirnya dia meninggal. Kejenuhan berpikir. Ngeri, ‘kan, Gas? Itulah mengapa, belajar adalah hal yang tidak aku sukai dan yang kuhindari.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD