"Kenapa dosen baru sering tak masuk?.."
"pak dosen gantengnya kok gak dateng.."
"sia sia dong gue dandan eh pak dosennya gak masuk... "
"... ....."
Sasha hanya diam membaca komiknya tak memperdulikan kekesalan yang diutarakan mahasiswa yang ada dalam kelas yang sama dengannya. Sasha justru senang jika seorang dosen tak masuk. Berarti waktunya untuk membaca komik bertambah. Namun Sasha masih belum menikmati waktu, sedari tadi sosok Noah masih mengganggu konsentrasi yang ia buat. Terus menerus menggertakan jari pada meja membuat Sasha terganggu. Oh sungguh tak bisa membuat Sasha senang, selalu saja ada yang mengganggu waktu sakralnya membaca komik. Sasha menarik nafas dalam lalu berjalan pergi meninggalkan Noah yang tercengang menatap kepergiannya. Perpustakaan adalah tempat yang tepat untuk ia datangi. Apalagi pojokkan sepi nan gelap. Ia sangat menyukai spot itu.
Dibukanya satu persatu, halaman demi halaman. Tak bosan ia membaca sambil menghayati isi komik dan alur cerita yang menurutnya sangat menarik.
Waktu menunjukan pukul 12 siang. Setelah ini Sasha memiliki jam pelajaran, sebaiknya ia bergegas sebelum terlambat dan mendapati hukuman yang memberatkan hidupnya.
"Sasha..... " teriakan seseorang namun ia hiraukan. Suara Bariton nan berat itu tak hentinya memanggil namanya, sudah sejauh ini Sasha masih mengabaikan suara itu namun berbeda dengan mahasiswa lain. Sedari tadi mereka terus menatap Sasha sepanjang koridor. Lebih tepatnya menatap aneh dan terganggu. Bagaimana mungkin gadis itu tak mendengar suara bising yang terus memanggilnya. Mungkin itu yang ada dalam benak mahasiswa yang sedari tadi menatap Sasha tak suka.
"SASHA..... BERHENTI DISITU...! "suara terakhir itu entah membuat Sasha berhenti. Sasha berbalik badan menatap lurus sosok benalu dalam hidupnya kali ini. Ya, entah sejak kapan yang pasti sekarang ia telah menganggap Ragil sebagai benalu pengganggu yang harus di basmi.
Masih dengan nafas yang terenga Ragil tersenyum lebar. Memenangi lututnya . Terlihat sangat jelas jika ia sangat kelelahan.
"nanti malam aku kerumah kamu.... "
Sasha hanya diam tanpa berkomentar. Namun saat hendak membuka suara Ragil bergegas pergi tanpa menunggu persetujuan darinya.
" Aneh ~" batin Sasha.
Kelas untuk hari ini sudah selesai. Sasha bergegas untuk pulang. Seperti biasa, ia akan berjalan kaki sendirian menelusuri jalan yang lumayan sepi. Bukan berarti mamahnya tak memberi Sasha mobil atau motor, namun ini adalah keinginan Sasha. Ia tak ingin memberati beban mamahnya. Cukup uang jajan dan kuliahnya yang ditanggung mamah, uang transportasi terlalu membebani. Apalagi untuk mobil, itu sangat tak diperlukan. Toh rumah dan kampus tak terlalu jauh.
"Sasha.... " suara terdengar dibelakang Sasha. Otomatis ia membalik badan memastikan siapa yang menyapanya.
" Pak.... " sapa Sasha ramah. Ragil berjalan cepat mensejajarkan langkahnya dan tersenyum mendapati mahasiswa misteriusnya sedang menatap dirinya." ada yang aneh dimuka saya nona..? " Sasha menggeleng pelan lalu kembali menatap lurus kedepan.
" saya fikir kamu sedang terpesona sama wajah saya... ". Krikk krikk. Leluconnya tak dianggap, Ragil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sasha hanya diam sepanjang perjalanan.
" tadi saat saya masuk ke kelas kamu. Kenapa kamu gak masuk...? " berharap kali ini direpon. Ragil menunggu jawaban dari gadis itu dengan cemas. Sungguh bosan berjalan hanya diam tanpa ada obrolan.
" saya bolos... "
Ragil tersenyum sendiri mendengar jawaban jujur dari gadis itu.
" wah kalo itu sih bisa saya hukum beratloh... " ancan Ragil.
" oh... Ok.. "
" kamu gak takut saya hukum..? " tanya Ragil memastikan. Ragil mulai tertarik dengan obrolan yang terkesan kikuk ini.
" saya cuman takut kalo gak bisa beli komik edisi terbatas... "
"kalo gitu gimana kalau kamu saya kasih hadiah komik dengan syarat, saya mampir kerumah kamu nanti malam" Sasha terdiam menganga,
"bapak yang bener aja. Bisa gak sih bersikap normal."
berjalan lebih cepat berusaha menghindar. tepat setelah itu Sasha berhenti di pangkalan ojek dan pergi menjauhi Ragil yang masih menatapnya sampai akhirnya sosok Sasha hilang setelah melewati belokan.
"Tugas harus di kerjakan sampai tugas gil.lo harus bisa " ia berjalan berbalik arah menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan tak jauh dari tempat ia berdiri.