Sasha berlari kencang menelusuri koridor kampus. Ia lupa jika hari ini masih ada jam dan dengan bodohnya ia tertidur di perpustakaan dengan buku bukunya. Namun sayangnya saat ia sampai, kelas telah bubar. Yang ada hanya seorang yang mungkin dia adalah dosen yang mengisi jam ini.
Masih dengan nafas yang terenga - enga. Sasha berusaha mendeka lalu meminta agar dosen itu tak menghukumnya.
"Nona Sasha anda sudah meninggalkan jam saya. Bagaimana pun saya harus memberimu hukuman... "
" pak saya mohon jangan kasih hukuman yang berat. Saya harus bekerja sepulang kuliah. Tidak ada waktu yang cukup jika anda memberi saya hukuman... "
" baik karena hari ini hari pertama saya mengajar kamu saya tak permasalahkan untuk ini. Tapi lain kali jangan telat... "
Ragil berjalan meninggalkan Sasha.
Sasha pulang berjalan kaki. Karena rumah dan kampusnya cukup dekat ia tak usah mengeluarkan uang sepeserpun untuk ongkos.
" Mah Sasha pulang.... " ia berjalan menuju dapur. Ia sangat lapar saat ini. Sasha duduk di meja makan dan menatap punggung mamahnya yang tengah memasak." sebentar lagi siap. Tunggu ya Sasha... "
" mamah kenapa gak cari pendamping aja. Sasha gak papa kok. Mamah gak cape harus kerja sambil ngurus rumah sendirian. Sasha kasian sama mamah, mamah gak usah mikirin Sasha.... "
Dian berjalan menghampiri putrinya dengan dua piring nasi goreng masakannya." mamah gak mau cinta mamah kebagi sama yang lain. Mamah udah bahagia kok sama kamu aja. Cukup berdua aja mamah udah sangat bersyukur... "
" Mamahkan masih cantik. Masa gak ada gitu yang suka mamah... "
" udah dimakan dulu nasi gorengnya... "
***
Malam datang dengan sunyi yang ia bawa. Sasha berjalan keluar mencari angin sendirian. Jarak antara rumah dan taman hanya berbeda satu blok. Ia sering menghabiskan waktunya disini hanya untuk bermain ayunan.
Seperti biasa. Sasha selalu membawa komik kemana saja ia pergi. Sekarang ia tengah duduk disebuah kursi taman dengan sebuah lampu taman sebagai sumber pencahayaannya.
"boleh duduk?.... " Sasha mengangkat kepalanya melihat makhluk apa yang berani mengganggu aktivitas sakralnya.
" hem,sepertinya nona Sasha tak begitu suka dengan orang asing... "
Dengan terpaksa Sasha menutup komiknya." pak dosen nggak sibuk?... "
Ragil tersenyum dan menggeleng pelan.
" saya lagi nyari udara segar.... "
Suasana menjadi hening. Tak ada pembicaraan antara mereka berdua. Ragil bingung harus memulainya dari mana. Begitu pun Sasha yang bosan dan canggung.
" sepertinya sudah terlalu malam. Saya pergi dulu... "
" pak.... " Ragil menghentikan langkahnya membalikkan badan melihat Sasha." ada apa?.... "
" bukankah disini tidak ada rumah mewah. Kenapa bapak bisa ada disini?... "
Ragil tersenyum." saya pindah kesalah satu peeumahaan disini tadi sore. Jika kamu mau main, pintu rumah saya terbuka buat kamu... " Ragil berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sasha hanya duduk melihat punggung dosennya yang semakin lama semakin tak terlihat.
Ragil berjalan santai melihat sekeliling. Lingkungan yang baru, sepertinya ia harus bersosialisasi dengan para tetangganya.
Ragil tersenyum saat mengingat kata kata Dad nya. Ia baru mengerti apa maksud Dad nya itu. Pasti alasan ia menyuruh Ragil untuk pindah kesini adalah untuk mengawasi gadis itu. Memang Dad nya selalu total dengan apa yang ia rencanakan.
"mulai hari ini aku nyatakan rencana Dad dimulai... "
Ragil membuka pintu lalu duduk disofa. Ia melihat lihat rumah barunya. Beda jauh memang dengan rumah Dad nya disana. Rumah ini hanya memiliki dua lantai dengan arsitek yang sederhana.
Ragil berjalan menuju lantai dua menuju kamarnya.
Sasha berjalan pulang. Jalanan sangat sepi dengan cahaya remang remang. Sepanjang jalan Sasha terus memikirkan tentang ayahnya. Meski ia tipikal cuek dan acuh, ia masih tak bisa menutup rasa lenasarannya terhadap sosok ayah yang tak pernah ia ketahui. Sejak kecil ia hanya bersama mamahnya, dan mamahnya pun tak pernah menceritakan seperti apa ayahnya. Sasha menjadi bingung, haruskah ia sayang terhadap sosok yang pernah memberinya kasih sayang. Atau ia harus benci dan menjadi anak durhaka.
Apa ayahnya orang jahat sehingga membuat mamahnya menutupi sosok lelaki itu. Atau orang itu telah meninggal dan mamah masih tak bisa menceritakannya. Sasha sangat penasaran dan kesal. Kenapa dan apa alasan mamahnya menutupi itu.
***
"untuk apa kamu menginginkan aku kembali padamu? Apa kau sudah lelah bekerja dan kembali pada keluarga yang pernah kau telantarkan?.... "
Chenlee diam. Ia masih paham jika Dian tak suka ucapannya di potong. Chenlee akan terus diam hingga Dian lelah untuk berbicara lagi. Biarkan wanita itu menyurahkan semua gundahnya. Karena Chenlee tahu, wanitanya selalu menahan semuanya sendirian. Menutup rapat rasa kecewanya. Membendung airmatanya. Mengabaikan rasa sedihnya untuk merawat putri cantik mereka. Chenlee sadar semuanya adalah kesalahan dia. Dan sekarang ia menyesal.
"Kenapa hanya diam..? Apa sekarang kau baru menyadari kesalahanmu?... "
" Kenapa sampai sekarang kamu belum pernah menikah?... " ujar Chenlee merubah topik
" kau menghindari kesalahanmu lagi. Memang kau tak pernah berubah... " Dian hendak berdiri namun tangan kekar itu menahannya dan menarik kembali wanitanya untuk duduk ditempat semula." Apa kamu masih menungguku? .. " Chenlee menatap Dian dengan senyuman yang lebar. Memang sosok Chenlee tak muda lagi namun ketampanan yang ia miliki masih tak terbendung. Bola mata berwarna coklat, dengan beberapa rambut yang mulai memutar. Tak merubahnya menjadi terlihat tua. Rahang yang terlihat tegas namun sedikit lancip. Alis hitam tebal. Bibir tipis namun penuh. Sungguh indah, Tuhan pun pasti tersenyum saat menciptakannya.
"Apa kau tahu begitu bencinya aku padamu... " kini tangis yang selama ia bendung tumpah seketika dihadapkan sumber deritanya. Dian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar. Memalingkan wajah berharap tak ada yang melihat wajah cengengnya.
Untunglah semua tempat diseluruh lestoran telah di pesan Chen, jadi Dian bisa menangis dengan leluasa tanpa ada yang menatapnya aneh. Bukan tak beralasan, kini usianya telah memasuki kepala empat dan ia masih cengeng. 'Oh Tuhan, sungguh memalukan sekali' batin Dian
"Baiklah aku hanya ingin melihatmu baik baik saja. Aku akan pergi... "
Dian kembali kedalam butiknya. Ia merutuki apa yang telah ia perbuat. Menangis didepan orang yang ia benci. Bagai kalah sebelum perang. Sungguh sangat memalukan. Sejam lalu ia bertemu dengan mantan suaminya. Ia masih tak percaya, tak ada hujan tak ada angin tiba tiba Chen mengajaknya untuk bertemu. Kemana selama beberapa tahun ini ia pergi. Ia masih merasa tak enak meminta ayah dari anaknya untuk tak bertemu dengan putrinya sendiri. Namun ini untuk kebaikan Sasha. Dian tak ingin ingatan putrinya kembali, ingatan yang sangat teramat buruk untuk putrinya. Ingatan yang mungkin bisa membuat Sasha membenci Chen dan dirinya.
Cukup Dian saja yang menyimpan semuanya. Putrinya harus hidup bahagia meski tanpa ayahnya.