Semua yang kurencanakan ternyata tidak berjalan mulus. Aku yakin bisa menyatukan Sherin dan Daniel tetapi ternyata ruang diantara kita malah semakin melebar. Aku yang gak peka dengan segala kecemburuanmu dan rasa sakit hatimu yang ternyata lambat kusadari. “Halo Ayaang kamu di kantor yah?” “Iya, kenapa?” nada bicaramu sudah berubah dingin. Aku juga ingin sekali bertanya mengapa pesanku kadangkala kamu gak bales atau hanya di read aja. Aku telponin kamu, butuh berapa kali kamu baru angkat. “Kita ketemuan yah pulang kantor atau kamu ke Apartemen aku deh. Sory, aku sibuk di kampus kemarin. Mungkin minggu depan aku ujian, dan wisuda terus lamar kamu deh” ucapku menggebu-gebu. “Oh iya” kamu lagi-lagi gak bersemangat. “Kamu kenapa sih?” tanyaku khawatir. “Gak, kok” “Aku ada salah yah?” “

