Lucas Point of View
Jam berjalan setiap detiknya menghasilkan suara yang konstan.
Sama seperti tanganku yang tak berhenti mengetukan bolpoint diatas meja karena gelisah.
Tadi malam, saat aku baru menjemput Alena.
Kebetulan malam itu aku melewati bandara yang tak jauh dari agency Alena.
Dan aku tak sengaja berpapasan dengan mobil Mike yang baru saja keluar dari bandara.
Yang membuatku bertanya-tanya, Mike selalu memakai mobil pribadinya jika ia keluar sendiri.
Semalam, mobil yang keluar dari bandara merupakan mobil yang biasanya digunakan Mike jika pergi dengan orang banyak.
Entah kenapa aku jadi sangat penasaran.
Entah kenapa aku merasa ada sesuatu.
Mungkin itu adalah hal sepeleh, tapi, hatiku seolah tahu apa yang terjadi.
Aku menghubungi orang kepercayaanku untuk mencari tahu.
Tapi, katanya, mereka masih belum tahu siapa yang ada di dalam mobil itu mengingat orang tua Mike, ataupun orang tua Jasper tidak pergi kemanapun.
Yah, orang tua Jasper.
Mereka sudah seperti orang tua kedua Mike setelah Jasper tiada.
Mike juga yang mengurus segalanya saat Jasper tiada dan disaat Alice pergi...
Alice pergi entah kemana setelah pemakaman Jasper. Ia membawa putrinya dan menghilang tanpa jejak.
Wanita itu, wanita bermanik mata hijau yang menarik perhatianku saat pertama kali bertemu.
Aku ingat jelas, saat itu manik matanya menatapku takut. Menatapku dengan perasaan benci.
Dan aku ingat juga, saat mata itu pernah menatapku hangat, menatapku bahwa aku adalah orang yang berarti di hidupnya.
Aku rindu akan tatapan itu. Aku rela melakukan apapun asal aku bisa bertemu Alice lagi.
Aku mulai lelah mencarinya, tapi, aku ingat pesan Jasper bahwa aku tidak boleh menyerah seidikitpun.
Ketukan pintu membuat lamunanku terbuyar seketika.
Seorang pria yang berprofesi menjadi sekretarisku masuk sambil membawa beberapa lembar dokumen kedalam.
Aku dengan cepat membenarkan posisi dudukku dan merapikan kemejaku.
"Ada apa vin?",
Levin namanya, ia menyodorkan dokumen yang tertata rapi di dalam sebuah map bening.
"Dokumen apa ini?", tanyaku sambil menerima map itu.
"Itu dokumen yang berisi perusahaan milik Sam Lengowaski yang Sir minta kemarin",
Aku mengangguk dan membulatkan bibirku membentuk huruf O.
"Terima kasih", kataku.
Levin segera beranjak pergi dari ruanganku.
Saat itu, Alena juga masuk kedalam ruanganku dengan langkahnya yang anggun.
Jujur, saat Alena masuk tadi. Aku berpikir bahwa itu Alice karena pakaian yang dikenakannya mirip dengan pakaian Alice yang pernah ku beri.
Bodohnya! Pasti pakaian itu dijual di ritell besar.
Aku bangkit dan berusaha tersenyum pada Alena.
"Hai Lucas", sapanya ceria sambil memelukku singkat.
"Hai... Kau ada apa kemari?", tanyaku pelan.
Alena menggeleng, "Tak ada apa-apa sih. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama. Tadi aku tidak sempat mengirimkanmu makan siang",
Aku mendesah pelan. "Ah, makan siang",
"Kau tidak sibuk kan?",
Aku terdiam sejenak mencoba berpikir dan Alena menatapku menunggu jawaban.
Kenapa dia harus kesini? Batinku.
Aku lagi-lagi harus membohongi hatiku sendiri. "Tidak. Kau mau makan siang dimana?", tanyaku pada akhirnya.
Tuhan, ampuni aku jika aku berbohong.
Tapi, aku juga tidak bisa membuat Alena sedih karena aku bukanlah Lucas Graves yang dulu.
Lucas yang sangat b******k.
Senyuman di wajah Alena semakin lebar. "Kita makan siang di Aston saja bagaimana?", tanyanya senang sambil menggenggam kedua tanganku tiba-tiba.
Aku sempat terkejut. Selama ini aku dan Alena tidak pernah saling bersentuhan. Memegang tangannya saja aku tidak pernah, apalagi merangkul, atau memeluknya.
Alena yang sepertinya tahu akan reaksiku langsung menyengir pelan. Ia dengan cepat melepaskan tangannya dari tanganku.
"Ma-maaf Lucas", cicitnya.
Kutarik napasku. Ku coba untuk tersenyum, "Tak masalah. Kita berangkat sekarang?", tanyaku.
Alena mengangguk.
...
Lonceng kecil berbunyi.
Suaranya yang khas langsung menyambut kami saat pintu baru saja dibukakan oleh seorang pelayan.
Pelayan dengan seragam putih dan hitamnya itu membungkuk kearah kami dan tersenyum, "Selamat siang Tuan dan Nona. Apa sudah reservasi?",
Aku melirik Alena. Lalu Alena menggeleng.
"Belum, kami belum reservasi", jawabku.
"Baiklah, mohon ikut saya untuk mencari meja", katanya lagi.
Kami berdua berjalan mengikuti pelayan itu masuk kedalam restaurant bergaya classic modern itu.
Aroma woody spicy langsung masuk menerpa indra penciumanku.
Saat kami sudah berada di sebuah meja yang sudah dituju.
Pelayan itu membantu aku dan Alena untuk duduk.
"Tuan dan Nona diharap untuk menunggu. Pelayan lain akan membawakan buku menu",
Aku mengangguk, segera kukeluarkan uang dari dompetku untuk memberinya tip.
Namun, pelayan itu menolak,
"Maaf tuan. Di restaurant ini, tip harus diberikan di bagian kasir",
Aku tersenyum, "Aku tahu. Apa aku tak boleh memberimu secara pribadi?", tanyaku.
Pelayan itu mengangguk kaku. Ia dengan perlahan mengambil uang itu dari tanganku. Lalu ia mengangguk beberapa kali sebagai tanda terima kasih sebelum pergi.
Dan saat pelayan itu baru saja pergi. Aku melebarkan mataku karena melihat sesuatu.
Seseorang yang tadinya tak terlihat karena tertutup oleh tubuh pelayan tadi.
"Kau mengenal mereka Lucas? Kenapa kau tak sapa saja", tanya Alena seperti tahu apa yang ada di pikiranku.
Saat aku hendak memanggil orang itu.
Orang itu, yang duduk di meja yang tak jauh dari sebelah meja kosong kami. Menoleh kearahku dengan pendangan tak kalah terkejutnya,
"Lucas?", panggil orang itu.
...