Part 6

2984 Words
Rasa pusing menghantam kepala Nada, ketika matanya telah menatap jelas lingkungan sekitar. Sebuah kamar di d******i warna keemasan bernuansa elegant yang Nada lihat sekarang. Di sebelahnya, ada seorang Wanita paruh baya tengah tersenyum.  “Syukurlah, Nona Nada... Anda sudah sadar.” “Maaf, ini di mana? Terus, Tante kok tau nama saya?” “Ah, maaf sebelumnya, saya lupa memperkenalkan nama. Nama saya Patricia Watson. Istri dari Ryan Watson. Saya adalah kepala Maid di Mansion Helvin. Tentunya Anda mengenal Ryan, bukan? Nah, dari beliau dan Tuan David, saya mengenal Anda.” Nada mengangguk berkali-kali. “Jadi... Ini di dalam Rumah, Pak David?” satu kali anggukan, Patricia berikan. “Terus, Pak Davidnya mana?” Ceklek!  Bunyi pintu terbuka, dan sosok David muncul di baliknya. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Pria itu duduk di Sofa yang berhadapan langsung ke arah kasur, di mana Nada dan Patricia duduk.  “Nona Nada, Sepertinya saya harus pergi keluar.”  Spontan tangan Nada menarik tangan Patricia, sehingga membuat langkah kaki wanita paruh baya itu terhenti. “Nggak! Tante Patricia tetap di sini aja. Soalnya gak baik pria dan wanita yang bukan mahrom berdua saja dalam satu ruangan.” Patricia menoleh ke arah David, sebagai tanda apakah boleh ia menemani Nada. Dan David pun mengangguk, memberikan Izin. Setelah mendapatkan izin dari tuannya itu, barulah Patricia kembali duduk di atas tepi kasur, bersebelahan dengan Nada. “Pak David jahat Seharusnya Bapak gak nampar tante itu! Kalo mau ngusir coba dengan cara baik-baik gak bisa apa?!” Alis David mengkerut. “Tante?” “Iya! Cewek yang di luar tadi!” “Dia masih muda, Nada. Umurnya hanya beda satu tahun denganmu.” Nada langsung terdiam dengan ekspresi cengonya. Melihat ekspresi cengo Nada itu, rasanya David ingin tertawa detik itu juga. “Hah? Seriusan umurnya cuma beda setahun dengan Nada? Tapi, kok kayak udah tante-tante. Apa lagi make up nya menor begitu.” Tidak ada jawaban yang di berikan David. Ruangan mendadak hening. Nada tak menyukai situasi ini, terlebih sedari tadi David memandangnya terus. Dari pada dirinya mati dibuat salah tingkah, wanita itu pun memutuskan bersuara.  “Pak! Nada boleh minta satu permintaan?”  “Apa?”  “Bapak jangan kasar kayak gitu lagi sama wanita. Wanita memang tak sekuat Laki-laki, tetapi Laki-laki tak akan sekuat itu jika tidak di sempurnakan oleh Wanita.” Nada menghela napas, karena David tak kunjung menjawab. “Terkadang kebanyakan pria banyak meremehkan wanita.” setelah Nada menyambung ucapannya, barulah David memberi respon dengan menatap Nada tiba-tiba.  “Bukannya Nada mau meninggikan derajat wanita, karena Nada adalah seorang wanita, tapi, bisakah Bapak berpikir kalau kaum wanita tidak ada di dunia ini, bagaimana seorang lelaki akan terlahir di dunia? Bagaimana seorang Presiden yang berjenis kelamin lelaki itu lahir dan memimpin jutaan nyawa, jika tidak adanya kaum wanita di dunia?” David tetap diam, tidak merespon. Karena itu, Nada masih melanjutkan ucapannya.  “Banyak yang bilang wanita itu lemah dari pada lelaki. Tapi, menurut Nada, malah lelaki yang lemah dari pada wanita. Wanita itu strong! Dia rela mengorbankan nyawa demi melahirkan sang buah hati. Apa itu yang di bilang lemah? Dia mendidik dan mengurus anak di rumah, menyiapkan segala kebutuhan keluarga, memasak, lalu dia juga menyiapkan perlengkapan anak tertua. Yaitu, suaminya. Apa itu yang masih dibilang lemah?”  “Dia menjadi madrasah Al-'ula bagi anak-anaknya. Sebelum anak-anak masuk dalam dunia sekolah, ibunyalah yang terdahulu mengajarinya. Berbagai ilmu yang ia tau, ia ajarkan kepada anaknya. Apa itu yang masih di bilang lemah?” “Wanita itu rela berkorban demi keluarganya, Pak! Begitu dahsyatnya pengorbanan seorang wanita. Dia rela berkorban demi orang yang sangat ia cintai. Contohnya saja seorang ibu yang rela kelaparan agar anaknya bisa makan, lalu dia bilang sudah kenyang. Sedahsyat itu Allah turunkan sifat rela berkorban untuk wanita! Apa itu sudah cukup membuktikan bahwa wanita itu kuat?!” Sama seperti tadi, David tidak memberikan jawaban. Namun, ada perubahan ekspresi dari David. Wajahnya yang semula datar dan dingin, menjadi sedikit menghangat. Matanya sedikit meneduh. Mereka terdiam dalam keheningan, hingga David menghembuskan napas panjang pertanda ia menyerah.  “Baiklah... Dari ucapanmu dan tatapanmu itu, aku tau benar kau ingin aku meminta maaf. Well, kau menang. Aku minta maaf, dan berjanji tidak akan marah-marah, membentak, maupun memukul wanita lagi. Apa kau puas, Lady Riznada?” Apa yang baru saja David ucapkan tadi, sungguh membuat Patricia terkejut. Ia benar-benar menyangka, jika Pria yang telah di asuhnya dari Bayi, tanpa beban meminta maaf kepada seorang Wanita? Patricia ingat sekali, jika David yang ia kenal tidak ingin meminta maaf terlebih dahulu. Namun, sekarang? Patricia merasa ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan.  “Yeaayyyy! Syukron katsiran, Bapak David!!” Nada tersenyum girang sambil mengucapkan terima kasih dalam bahasa Arab. Tentu saja David sama sekali tidak mengerti arti dari yang Nada ucapkan. “Tapi, permintaan maafku ada syaratnya!”  Nada langsung diam begitu David melanjutkan ucapannya. “Syarat? Syarat apa, Pak? Kenapa harus makek syarat segala? Kayak mau lamar kerja aja, harus pakek syarat!”  Segala celotehan Nada, tak ditanggapi David. Ia lebih memilih melanjutkan ucapannya yang sempat terputus. “Syaratnya, ya... Alasan kenapa aku menyuruhmu kemari, supaya dengan itu kau tak bisa menolak.” “Apaan sih, syaratnya, Pak! Seriusan, Nada kepo!” “Kau harus membuatkanku naskah pidato sebagus mungkin, untuk acara lelang Kerajaan Inggris. Kebetulan Perusahaan kita di undang langsung oleh Pangeran William.” “Ha? Seriusan?!” mata Nada membulat sempurna, dengan mulut yang menganga kecil. “Tapi... Tapi, kenapa harus Nada, Pak? Kenapa nggak Bapak sendiri aja? Kalo Bahasa Inggrisnya salah gimana?! Bapak sendiri yang malu!” “Tidak! Aku yakin, Bahasa Inggrismu bagus! Lagi pula, ini sudah Syarat yang aku inginkan dan sesuai perjanjian, kau tak bisa menolak.” Nada berdecak kesal. Ia memandang David sinis. “Kenapa sih, dari awal kita ketemu, Bapak selalu bersikap seenaknya?” “Karena aku David Jun Helvin, seorang Billonaire, handsome, famouse, genius, play boy, and philanthropist. Sempurna sekali, bukan?” Nada tidak menjawab, melainkan ia membatin. “Apa hubungannya sih, Sumanto? Gue salah penilaian nih, kayaknya. Nih, cowok boleh ganteng, tapi otak gendeng.” Perdebatan panjang terus terjadi, namun akhirnya Nada memutuskan untuk pasrah dan pulang saja ke Rumah. Dari pada gajinya di potong. Lebih baik begitu.  °°° “Kau menyukainya kan, Tuan?”  Mata David menajam menatap Patricia. “Apa kau bilang tadi? Menyukainya? Aku tidak akan pernah menyukainya!” “Tuan... Kau tidak bisa membohongiku. Aku yang sudah mengasuhmu sejak kecil, jadi aku tahu jika kau sedang berbohong.”  “Patricia! Aku sangat membenci seorang Muslim! Dan wanita itu seorang Muslim! Bagaimana bisa aku menaruh hati pada orang yang jelas-jelas aku benci?!” “Kau tidak membenci orangnya, Tuan, tapi kau membenci Agama yang dianutnya.” sejenak Patricia mengambil jeda. “Kau tau kepanjangan dari kata Benci? Benar-benar cinta.” Wajah David terlihat sedikit terkejut. “Impossibble!” “Darling, you have no idea what's posibble.” Patricia tersenyum menang. “Setelah huruf B pasti huruf C, maka setelah kata Benci, pasti kata Cinta, bukan?” “Tetap saja aku membenci setiap Muslim!” “Sepertinya kau harus mengubah pandanganmu tentang Islam. Kalau kau ingin menyalahkan ummat Muslim atas kematian o—“ “Hentikan Patricia!” ucapan Patricia langsung berhenti kala David membentaknya. Namun... Wanita itu malah tersenyum, dan tetap melanjutkan ucapannya lagi.  “Jangan kau salahkan Agamanya, tapi salahkanlah orang yang menganut Agama tersebut, karena perbuatan yang telah ia lakukan. Percayalah... Setiap Agama pasti menyuruh manusia ke jalan kebaikan.” setelah mengatakan hal tersebut, Patricia pun melangkah pergi meninggalkan David sendirian. °°° “Mas Faisal! Tunggu!” Langkah kaki Faisal sontak berhenti di ambang pintu keluar. Ia berbalik, menatap Sandryna tajam. “Kenapa?” Sandryna tersenyum, menatap Faisal. “Dari awal kita menikah, Sandryna belum pernah menyalami tangan, Mas Faisal. Boleh gak, sekarang Sandryna salam tangan, Mas Faisal?” “Nggak!” tanpa berpikir lagi, Faisal langsung menolak, namun Sandryna tetap berusaha.  “Tapi, Mas Faisal, Sandryna cuma minta salam aja!” “Nggak akan! Saya gak mau nyentuh tangan, kamu!” “Sebentar aja, Mas Faisal! Nggak sampai tiga detik, kok!” Terjadi pertengkaran sengit di antara pasangan pengantin baru itu. Satu sisi Sandryna terus saja bertekad ingin menyalami Faisal, dan di satu sisi Faisal tidak mau disalami, terlebih lagi menyentuh se-inci kulit Sandrya sedikit pun.  “Please... Sandryna mohon... Sekali aja!" “Nggak akan pernah!” “SEBENTAR AJA!” “NGGAK!!!” Bruk!  Faisal tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan sontak ia terjatuh ke atas sofa yang memang tepat berada di belakangnya. Sedangkan Sandryna? Ia juga ikut terjatuh, karena tangan kanannya sempat ditarik Faisal. Deg! Deg! Deg! Deg!  Bunyi irama jantung mereka berdua sangat terdengar jelas sekali. Apa lagi saat ini posisi Sandryna tengah berada di atas tubuh Faisal. Deru napas mereka saling menerpa satu sama lain. Kedua mata suami istri itu berkedip tak karuan dengan muka cengo. Otak mereka belum bisa merespon kejadian ini sepenuhnya. Sandryna berteriak kencang, bergegas berdiri. “MAAFIN SANDRYNAAAA!”  “Pasti kamu sengaja, kan?!” “Nggak, Mas Faisal! Sumpah demi Allah, Sandryna tadi itu...” "Akh! Udahlah!” Faisal berlalu meninggalkan Sandryna. Seperti biasa setiap kali ia sedang kesal dengan Sandryna, pasti Faisal akan membanting pintu. °°° Dentuman irama musik terdengar sangat keras di ruangan gelap. Lampu berwarna-warni saling memancarkan sinar ke arah orang-orang yang sibuk berjoget ria di sana. Bau Alkohol sangat menyengat indra penciuman. Sepasang insan pun tampak melakukan adegan tak pantas dengan mudahnya. Di antara hingar bingar maksiat itu, ada Daniel dan Faisal yang sedang berbincang.  “Sumpah, gue kesel banget sama tuh, cewek! Udah gue bilang gak mau nyentuh tangan dia, tapi tetep aja maksa!” celotehan Faisal ditanggapi tawa kecil oleh Daniel. Daniel menunangkan segelas wine di cangkirnya, namun saat ia ingin menuangkan ke cangkir Faisal, dokter itu menolak. “Sorry, gue gak minum. Cukup jus jeruk aja.” Daniel mengangguk, dan Faisal segera menyambung ucapannya lagi. “Jadi, gimana menurut, lo? Gue udah gak tahan sama tuh, cewek! Muak! Gue mau cepet-cepet cerai aja sama dia, supaya gue bisa balikan lagi sama Liana.” “Bro, c'mon... Ini pernikahan, bukan ajang bercandaan. Gak semudah itu lo mau cerai-in anak orang. Di saat akad terucap, istri lo berarti udah menyerahkan sepenuhnya hidup dan mati dia, tanggung jawab almarhum Papanya, separuh imannya bahkan kehormatannya. Dan di antara jutaan Lelaki di Bumi, lo mau tau kenapa Mama Sandryna milih, lo?” Faisal menggeleng polos. “Karena dia yakin atas kepemimpinan lo untuk anaknya, dan dia merasa Allah mau pun Syurga akan semakin dekat.” Bola mata Faisal berkedip berkali-kali. Ia memandang Daniel cengo, sekaligus polos. “Kok lo jadi bijak gini, Niel? Biasanya lo ngajarin gue hal yang sesat mulu. Kayak ke bar ini misalnya. Belajar dari mana, lo?” Daniel melemparkan bungkus permen ke arah Daniel. “yeuw, mulut Anda di kondisikan! Bentar lagi gue gak akan ke tempat maksiat ini lagi, kok. Minum ginian juga nggak akan, karena gue mau berubah jadi lebih baik lagi. Ini semua gue lakuin agar berjodoh sama hijabers pujaan hati gue. Nah, karena itu gue bilang lo beruntung dapat istri yang akhlaknya kayak Sandryna. Gue aja lagi mati-matian dapatnya, sementara lo mudah banget.” “Beruntung apanya? Ini kesialan terbesar dalam hidup gue!” Raut wajah Daniel berubah serius. “Sal, penyesalan itu datangnya terakhir. Jangan mengabaikan seseorang yang selalu ada untuk lo, karena penyesalan belum tentu membuat dia kembali. Jaga sesuatu yang masih lo miliki, sebelum dia pergi.” “Emang dia mau pergi ke mana, sih?” “Ke hatimu!” “Setan!” tangan Faisal sudah mengambil ancang-ancang melempari Daniel menggunakan gelas kaca bar, namun ter-urungkan karena masih teringat dosa.  Faisal mengusap wajahnya penuh frustasi. “Gue bener-bener putus asa, woy! Gue itu cintanya sama Liana, bukan dia! Pengen gue tinggalin dia sekarang juga!” Kepala Daniel menggeleng-geleng tak habis pikir. Dia tersenyum, menatap lekat Faisal yang memasang wajah putus asa. “Sal... Sal... Menikah dengan orang yang di cintai itu kemungkinan, sementara mencintai orang yang dinikahi itu kewajiban. Lo udah nikah sama Sandryna, dan itu udah jadi kewajiban lo belajar mencintai dia juga.” “Nggak! Sampe kapan pun, gue gak akan cinta sama dia!” Faisal tetap berpendirian teguh atas keputusannya. Daniel menghela napas panjang, menatap penuh prihatin Sahabatnya ini.  “Kayaknya lo harus banyak-banyak denger tausiah pasal rumah tangga, deh. Gak cukup gue aja yang ceramahi, lo. Harus ada orang lain yang ilmu Agamanya tinggi. Dan gue tau siapa orangnya.” Daniel tersenyum penuh misteri, sedangkan Faisal menatapnya ngeri. °°° Alif menghampiri Khadijah yang menatap hampa ke arah Laptop. “Kenapa kamu, Jah? Kok, lesu begitu?” Khadijah tersentak dari lamunan. Ia tersenyum tipis. “Eh, Pak Alif. Itu, Pak... Saya lagi bingung mikirin skripsi akhir semester. Kira-kira ada yang mau bantuin gak, ya?” “Emang tema skripsi kamu apa? Siapa tau saya bisa bantu, insyaAllah." “Tentang pernikahan, gitu. Hukum pernikahan, syarat, dan pengalaman pernikahan apa yang pernah saya alami. Nah, sementara saya aja belum nikah, gimana mau buat skripsi ini.” mendengar keluh kesah Khadijah, Alif tertawa samar.  “Lagian kamu sih, ambil tema yang susah begitu. Kamu sendiri kan, yang ujung-ujungnya repot.” “Saya suka aja, Pak.” sekilas Khadijah tertawa garing. “Mungkin ini efek kebelet nikah kali, ya?” lantas mereka berdua tertawa kecil.  “Gini... Saya sih, tau-tau aja masalah pernikahan, cuma... Kayaknya kamu harus dapet Guru pembimbing yang sesuai profesi dengan skripsi kamu ini, deh. Saya ada kenalan yang kayaknya bisa bantu, kamu." Kedua bola mata Khadijah berbinar mendengar hal itu. “Siapa, Pak? Kalo bisa bantu, tolong banget ya, bantuin saya.” “Pasti bisalah dia bantu, kamu. Namanya Reza. Dia itu petugas KUA. Penghulu. Cocok kan, jadi guru pembimbing skripsi, kamu?” “Waahh... Iya, Pak! Tapi, apa Mas Rezanya mau?” “Reza itu mau-mau aja. Dia orangnya suka menolong juga. Nanti kalo saya ada waktu, saya temui dia minta tolong bantu bimbingan skripsi, kamu.” Khadijah yang mendengar kebaikan hati Alif, merasa sangat senang. Berulang-ulang ia menyebutkan ucapan terima kasih. “Makasih banyak, Pak Alif! Makasih banget!” “Santai aja. Sekalian kamu jadiin pengalaman.” Pikiran Khadijah tiba-tiba melayang entah ke mana. Ia jadi memikirkan pasal kejadian kemarin, di mana Aisyah dan Alif kenapa bisa saling kenal, padahal mereka bertemu. Karena itu, sekarang Khadijah pikir adalah waktu yang tepat untuk menanyakannya.  “Pak Alif, apa boleh saya bertanya satu hal?” langsung saja Alif mengangguk memperbolehkan. “Pak Alif... Ada hubungan apa sama Bu Aisyah? Kemarin padahal saya belum memperkenalkan kalian berdua, tapi udah saling tau. Maaf, kalo saya terlalu lancang.” Sejenak Alif terdiam untuk memikirkan apakah ia akan menjawab pertanyaan Khadijah atau tidak. Alif berdehem. “Saya itu, bisa dikatakan mantan calon suami Aisyah.” Khadijah membelalakkan mata. “Tapi, itu dulu. Sehari sebelum pernikahan harus kandas, karena Aisyah rela berkorban demi seseorang. Seseorang itu, almarhumah istri saya.” “Hah? Pak Alif pernah punya istri? Berarti duda dong, sekarang?” “Iya, tapi masih tetep ganteng, kan?” Alif tertawa sekilas, lantas kembali melanjutkan ucapannya. “Saya mau menjadi Guru ngaji di sini, jujur setengahnya karena Aisyah. Setengahnya lagi, ikhlas lillahita'ala untuk anak-anak panti. Istri saya meng-amanatkan sebelum meninggal, untuk menikahkan Aisyah kembali. Seperti rencana kami dahulu yang sempat tertunda.” “Terus, apa Bu Aisyah mau nikah lagi sama, Pak Alif?” “Nah, itu yang jadi masalahnya. Aisyah gak mau flashback. Dia gak mau menantang masa lalu. Mungkin, dia betah sendiri. Tapi, saya gak putus asa mendapatkan hati Aisyah lagi.” “Iya, Pak! Jangan cepat putus asa, karena putus asa itu hanya untuk para pecundang!” Lama mereka berbincang, tiba-tiba Aisyah datang. Obrolan di antara mereka pun berhenti. Aisyah menatap penuh selidik dua orang itu.  “Lagi ngomongin apa? Kayaknya seru banget.” “Ah... Ini, Bu... Saya nanya ke Pak Alif, apa bisa bantu skripsi akhir semester saya, tapi ternyata Pak Alif gak bisa.” ucap Khadijah gugup, dan dibalas Aisyah dengan anggukan acuh.  “Tenang aja, Syah. Jangan cemburu begitu. Aku gak ngapa-ngapain kok, sama Khadijah.” celetuk Alif, sukses membulatkan mata Aisyah.  Aisyah membuang muka. Kedua tangannya bersedekap d**a. “Dih, ge'er banget, sih. Gak ada yang cemburu, ya!” Tidak ingin menjadi obat nyamuk antara perseteruan Alif dan Aisyah, Khadijah memutuskan pergi. “Pak, Bu, saya ke dapur, ya. Mau bantu staff panti yang lain. Makan siang sebentar lagi, assalamu'alaikum.” “Wa'alaikumsallam.” mereka berdua bersamaan menjawab salam.  Detik demi detik berlalu, tetap tidak ada yang memulai percakapan. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Aisyah yang sibuk memandangi para anak panti yang sibuk bermain, dan Alif yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sibuk memikirkan obrolan yang tepat saat ini.  “Bunda kamu kapan pulang dari Jeddah, Syah?” tanya Alif memulai sedikit berani memulai percakapan ringan. “Kurang tau juga, sih. Kata Bunda, insyaAllah secepatnya. Kalau mau pulang pasti di kabari. Gitu aja.” “Oh..., pantas aja kamu sering ada di panti, masih sendirian ternyata. Gak takut gitu sendirian terus? Apa bosan?” “Maksud, kamu?” Aisyah memandang Alif bingung. Sebenarnya sedikit curiga akan pertanyaan yang ia lontarkan.  “Andaikan Bunda kamu nyaman di Jeddah terus, dan selamanya mau menetap di sana, yakin tetep mau hidup sendiri? Ini udah hampir setahun Bunda kamu di Jeddah loh, Syah." Maksud dari ucapan Alif, barulah Aisyah mengerti. Ia memasang wajah kesalnya. “Jangan sok basa-basi deh, Lif! Aku tau bener maksud dari ucapan kamu itu apa. Berulang kali aku bilang, kamu itu bagian dari ma—“ “Masa lalu, kamu? Gitu?” potong Alif cepat. “Iya, aku memang bagian masa lalu kamu, tapi insyaAllah segera menjadi masa depan, kamu.” Aisyah dibuat terbelalak. Tentu Aisyah tidak mau kalah. Aisyah kemudian membalas ucapan Alif tadi. “Kalau memang cinta, gak perlu pakai kata insyaAllah segala, karena bukti cinta itu nyata, bukan omong kosong belaka.” Melihat Alif yang tersenyum jahil, Aisyah memutuskan pergi.  “A— aku per— pergi dulu! Assalamu'alaikum!”  “Wa'alaikumsallam...” jawab Alif lembut, tersenyum penuh kemenangan.  °°° °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD