episode 6.

1083 Words
Rama pov. Awalnya aku mengira lia hanya marah sesaat, sehingga aku memberikan dia waktu untuk berpikir, tapi ternyata ia benar - benar marah. Setiap telephone tak pernah ia angkat, chat pun tak pernah di balas jangankan di balas di baca pun juga tidak oleh lia. Setiap aku ke kantornya ia tidak pernah mau menemui ku, berkali - kali kantor nya aku datangi hanya ingin melihat dan menjelaskan supaya ia mau memaafkan ku, tapi apa pun dia tak pernah mau. Hingga akhirnya hari ini aku izin ke kampus untuk bisa makan siang bersama lia. Akhirnya terwujud pas aku melihat lia keluar dari lif aku langsung menarik tangannya dan langsung ku masukan dalam mobil. Aku bahkan tidak peduli ia berteriak marah kepadaku. Yang ku lakukan hanya diam sampai kami tiba di cafe tempat langganan kami aku tetap diam . aku langsung membawa ia masuk ke dalam dan memesan makanan dan minuman kesukaannya. Aku menjelaskan bahwa walaupun aku dan siska ada hubungan, hubungan aku dan lia tidak akan putus. Tapi ternyata itu malah membuat lia marah dan berteriak padaku , aku yang tersulut emosi malah ikut membentaknya, hingga akhirnya lia menamparku untuk pertama kalinya semenjak kami berpacaran. Rasa tak percaya mengalahkan rasa sakit yang aku rasakan di pipi ku. Lia ku tega menamparku bisik ku dalam hati. Kulihat lia menangis... Ya Tuhan kenapa lagi - lagi aku membuat lia menangis, jerit batin ku. setelah lia mengeluarkan semua gundah yang ada di hatinya, lia langsung pergi. Sedangkan aku masih terkejut dengan hal itu. " Maafkan aku lia tapi aku masih mencintai mu.. sayang.. !! " Bisik ku lirih. ## Benar yang di katakan orang, jangan terbang terlalu tinggi sebab kalau jatuh sakitnya tak terkira. Dulu aku kira Rama juga sangat mencintai aku tapi ternyata salah. " Lia kamu terlalu cepat jatuh cinta.. " bisik ku dalam hati. Aku masih berada dalam taxi setelah dari cafe setelah aku bertemu Rama. "Ah..Rama brengsek.. " umpat ku dalam hati, entah kenapa beberapa hari terakhir aku jadi senang mengumpat laki - laki itu. Setelah sampai aku langsung membayar ongkos taxi, dan pergi ke toilet yang berada di samping lobby. Aku yakin penampilan ku sekarang jauh dari kata baik, tapi aku akan bersikap baik - baik saja. Begitu sampai ke meja kerja yang biasa aku gunakan Laras dan Desi langsung menginterogasi ku yang tadi langsung di seret Rama pergi. " Kamu pergi kemana.. ? " tanya laras to the point. " Kamu bertengkar kan dengan Rama .. ? " Desi tak mau kalah. " Sebab yang aku liat kayaknya beberapa hari ini, kamu selalu mengabaikan kalau ada Rama, baik ketika dia datang kesini atau pun telephone. Aku liat kamu gak pernah mau mengangkat atau menemuinya.. ! " sambung laras lagi tak mau kalah. Suasana hati yang camelia rasa tadi sudah membaik, seketika sakit kembali. Iya langsung menangis memeluk Desi yang kebetulan ada di sebelah lia, ia mengeluarkan semua kesakitan yang ia tahan sejak hampir dua minggu ia rasa. Ia menangis dengan keras sambil tetap memeluk Desi, setelah di rasa keadaan lia mulai tenang Laras memberikan air putih yang ia ambil dari dispenser yang ada di ruangan mereka. Dengan masih dengan segukan yang masih ada akhirnya lia memutuskan untuk membagi kesakitan yang ia rasa, dengan para sahabatnya. Menarik nafas sejenak akhirnya lia mulai bercerita. Dari awal ia mengetahui dengan tidak sengaja, bahwa kekasih dan sang kakak telah menjalin hubungan di belakangnya selama ini. Sang kakak yang mengatakan bahwa ia dan Rama juga saling mencintai, hingga barusan Rama yang bilang bahwa mereka bertiga bisa berhubungan dengan baik dengan menjadikan Rama sebagai kekasih ia dan sang kakak. Semua iya ceritakan tidak ada yang terlewat satu pun. Brak.. " b******k banget si Rama, berani banget dia menghianati kamu... !! " maki Desi tak tahan, sambil menggebrak meja tempat lia duduk. " Eh ayam.. " laras yang berdiri di samping meja kaget, sedangkan lia hanya mengelus dadanya dengan kaget. " Eh kampret kamu kalau mau marah jangan ngagetin kita donk... " marah Laras sambil menaruh tangan di pinggang. " Eh Larasati gue lagi kesel tahu, liat temen kita di kayak gituin... ! " Desi tak merasa bersalah sedikit pun atas perbuatannya barusan. Camelia yang melihat kelakuan dua temannya begitu, bisa sedikit melupakan masalah yang ia hadapi. Ia berdiri lalu memeluk ke dua temannya bersamaan yang dia tarik paksa. " Makasih ya ...! kalian selalu ada buat aku.. " ucap tulus lia tidak memperdulikan ke dua temannya yang masih kaget, dengan tarikan dan pelukan yang dia paksa. Seakan mengerti kalau sang teman sudah mulai tidak bersedih, Desi yang paling lebay langsung mengatakan. " Yang penting besok kita di traktir makan siang ya ...Lia.. !! " sambung Desi merusak suasana.. " Ha.. Ha.. Ha.. " tawa ketiga nya seketika terdengar. " Dah... ah !! Yuk kita kerja dulu, nanti kalau di pecat jadi pengangguran kita berjamah kita.. " canda Laras. camelia bersyukur bisa memiliki teman - teman sebaik mereka. ### Hari minggu tiba, sekarang lia dan ayahnya sedang berada di dalam mobil menuju kearah bogor. padahal waktu masih menunjukkan masih pukul lima pagi, tapi mereka sudah berangkat ke tempat janjian ayahnya dan teman - temannya. Iya lia pergi menemani ayahnya pergi dengan perkumpulan teman - teman semasa kuliah dulu untuk sekedar mendaki gunung. Bukan gunung yang besar, tapi lumayan untuk usia ayahnya yang bisa di bilang tidak muda lagi. mereka akan berkumpul di post awal dan berangkat di jadwalkan pukul setengah tujuh pagi. Setelah sampai parkiran ayah dan lia langsung keluar dari mobil. " BENI... " ucap salah satu teman ayah lia. " Oh hallo.., !! " sapa Beni ayah lia tak kalah semangat, lia yang melihat ayahnya dan temannya begitu bersemangat hanya tersenyum geli, melihat para lelaki parubaya itu saling menyapa. " Ayah .., aku ke toilet dulu ya.. " bisik lia kepada ayahnya, " Mau ayah antar... ? " tanya Beni kepada lia, lia langsung menggelengkan kepalanya cepat. " Aku bisa sendiri ..." balas lia cepat. Setelah mencari akhirnya lia menemukan juga letak toilet yang lumayan agak jauh. Setelah selesai lia hendak keluar tapi . Bruk.. Lia jatuh bersama seseorang yang ia tabrak, yang ternyata laki - laki. " Kamu tidak apa - apa tanya lia.. ? " kepada seseorang yang tadi jatuh bersamanya. " Ah.. Tidak apa - apa, apa kamu juga terluka... ? " tanya balik laki - laki tersebut. Seakan tersadar lia langsung pamit pergi. " Ah maaf aku harus segera pergi.. " pamit lia buru - buru, karena takut ayahnya mencemaskannya. " sepertinya aku pernah melihatnya,.. tapi dimana ya.. ? " tanyanya ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD