Bab 08

1017 Words
08 "Semuanya terserah kamu, Yu. Kalau memang ada rasa suka, jelaskan semuanya pada Imran biar dia nggak kaget nanti. Jujur dari awal akan lebih baik supaya ke depannya nggak ada batu sandungan," tutur Arya, sesaat setelah Dahayu menceritakan tentang permintaan Imran yang mengajaknya menjalin hubungan serius. "Iya, Mas. Walaupun ragu-ragu, tapi aku memang berencana buat ungkapin semuanya ke dia," sahut Dahayu. "Sebenarnya ada satu kendala lagi, Mas. Dia belum punya anak laki-laki. Walaupun Kakak laki-lakinya punya penerus buat keluarga mereka, tapi aku pikir Mas Imran mungkin ingin memiliki penerus sendiri, bukan keponakan," sambungnya. "Sekarang bisa angkat anak, ikat pakai hukum, jadi, deh, penerus keluarga." Dahayu menggeleng. "Takutnya dia nggak mau kayak gitu dan pengen punya anak kandung. Bisa-bisa aku dipoligami lagi. Kapok. Walaupun Ivana itu aku yang milih, tapi saat tahu Mas Zayan jatuh cinta sama dia, tetap aja aku cemburu. Harusnya dari dia belum nikahin Ivana itu, aku udah mundur." "Kalau aku di posisimu dulu juga pasti bingung, ya. Ditambah lagi menyeret Ivana dalam kerumitan kehidupan kalian. Kasihan, dia dianggap pelakor, padahal kenyataannya nggak gitu." "Itu juga yang bikin aku tambah kasihan sama Ivana. Sampai sekarang masih ada omongan miring tentang dia. Padahal aku yang mengizinkannya masuk serta membagi suami. Tapi orang nganggapnya dia nyelonong masuk dan merebut suami." "Orang itu suka salah paham. Nggak mau menelaah permasalahan dengan bijak. Kalau mereka di posisi Ivana, pasti sakit hati digosipin kayak gitu." Arya terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ucapan. "Justru setelah dia menceraikan Zayan, aku makin paham bahwa dia benar-benar nggak bermaksud merebut si brewok itu. Walaupun Zayan jadi luntang-lantung nggak karuan, karena baru sadar hidupnya nggak berarti tanpa istri." "Makanya aku ngedorong mereka supaya rujuk, Mas. Kasihan sama Kaivan dan Zio juga. Tumbuh kembang tanpa orang tua lengkap itu akan membuat mereka nggak bahagia." "Ehh, Kai mau ulang tahun, kan?" Dahayu membulatkan mata. "Aduh, aku lupa. Minggu depan, ya? Mesti ngasih kado mobil balap besar. Dia kemaren minta itu pas aku nelepon maminya." "Kamu mau ke Bali?" "Nggak, aku banyak kerjaan di Jakarta. Setelah dari Malang nanti aku stay di Jakarta sebulanan, baru keliling lagi." Dahayu menatap Arya saksama, lalu bertanya, "Mas, beberapa minggu lagi nikahannya Elang dan Jeehan. Mas mau pergi?" "Insyaallah. Mau bareng? Atau kamu mau pergi sama Imran?" "Sama Mas aja. Aku masih kagok sama dia." Arya tersenyum tipis, kemudian berkata, "Pipimu blushing." "Mana ada!" desis Dahayu sambil mendelik pada pria berkaus biru yang justru terkekeh. "Mas, jangan bilang-bilang ke Mas Zayan," pintanya. "Bilang tentang apa?" tanya Arya seusai tertawa. "Aku dan Mas Imran. Nanti belum apa-apa dia bakal heboh nyuruh nikah. Sedangkan aku masih butuh pendekatan serius." "Iya, tapi kalau dia nantinya tahu, pasti bukan dariku, Yu. Dia itu mata-matanya banyak. Terutama Malik, kelihatan aja kamu jalan sama cowok lain, si Arab KW itu bakal laporan ke Zayan." "Aduh! Ya, udah. Aku nggak bakal jalan sama Mas Imran di Jakarta, ngeri ketemu Mas Malik." Tawa Arya kembali menguar dan tak urung memancing Dahayu melakukan hal serupa. Sepasang sahabat tersebut meneruskan obrolan hingga malam kian larut. Kemudian Dahayu berpamitan untuk tidur bersama anak-anak di kamar mereka di lantai dua. Sedangkan Arya mengecek semua pintu dan jendela terlebih dahulu sebelum mematikan lampu utama. Arya menaiki tangga dan berdiam diri di tengah-tengah koridor. Dia mengamati pintu kamar anak-anak di bagian kiri seraya tersenyum. Kehadiran Dahayu membuatnya senang, karena ketiga putranya tampak sangat bahagia bersama perempuan tersebut. Arya berbelok ke kanan dan memasuki kamar utama. Dia menyalakan mesin penyejuk udara terlebih dahulu sebelum jalan ke kamar mandi. Arya keluar beberapa saat kemudian dengan wajah basah. Dia menunaikan salat sunnah untuk menenangkan hati. Setelahnya, Arya memanjatkan doa khusus agar hatinya dikuatkan dalam menjalani hidup sendiri, serta mampu mengurus dan merawat ketiga anaknya dengan baik. "Kangen, Ma," bisik Arya sambil memandangi mukena Erni yang masih berada di gantungan dekat lemari. "Bantu Papa agar kuat iman dan bisa menunaikan janji ke Mama. Tunggu, ya. Tugas Papa masih panjang. Setelah anak-anak dewasa, baru Papa akan nyusul Mama," sambungnya. Beberapa belas menit berlalu, Arya sudah berbaring miring ke kiri. Dia mengamati bagian kosong dan mengusap tempat tidur. Arya menyadari bila dirinya harus mengikhlaskan Erni, tetapi hatinya masih belum bisa melakukan hal itu sepenuhnya. Arya juga belum berniat mengganti posisi Erni di hatinya pada perempuan lain. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkannya matang-matang, terutama karena ada tiga anak yang harus didahulukannya. *** Pagi harinya, Alfian mengamuk saat Dahayu hendak melepaskan pelukan. Bayi berusia hampir 2 bulan itu meraung hingga wajahnya memerah. Dahayu yang tidak tega, akhirnya memutuskan membawa Alfian dan sang pengasuh ikut bersamanya ke butik. Arya mengantarkan Aldi dan Aldo ke sekolah mereka terlebih dahulu, sebelum mengantarkan Dahayu ke tempat kerja. Sepanjang perjalanan Alfian mencengkeram jilbab hijau muda yang Dahayu kenakan. Seolah-olah takut bila perempuan tersebut akan melepaskan sekaligus meninggalkannya. "Maaf, Yu, jadi ngerepotin," cakap Arya sembari menoleh ke kiri sebentar, sebelum memfokuskan pandangan ke depan. "Nggak apa-apa, Mas. Mungkin Alfian masih kangen sama aku," jawab Dahayu sembari mengusap rambut sang bayi. "Rambutnya udah panjang. Mesti dipotong biar nggak gerah," imbuhnya. "Aku malah pengen dia gondrong." Arya tersenyum ketika Dahayu spontan memukuli tangan kirinya. "Masih terlalu kecil buat kayak gitu. Entar kalau dia umur tiga tahunan, baru bisa." "Omonganmu sama kayak Erni. Dia juga protes waktu Aldo dan Aldi gondrong pas masih playground. Aku dinas ke Jakarta seminggu, pulangnya kids udah cepak. Nggak betah katanya lihat mereka garuk-garuk." "Iyalah, Mas. Mereka masih belum bisa ngerawat rambut." Arya manggut-manggut, tidak bisa menang berdebat dengan Dahayu. Sementara Intan, pengasuh Alfian yang mengamati dari kursi tengah, mengulum senyum mendengar percakapan kedua orang di kursi depan. Intan pernah mendengar pembicaraan Bu Jamilah dan Bu Aminah yang membicarakan hubungan Dahayu serta Arya, yang mereka harap bisa berlanjut ke pelaminan. Intan ikut menyetujui usul kedua neneknya Alfian, terutama karena dia menyadari bila Dahayu bisa menyayangi ketiga anaknya Arya dengan tulus. Intan juga khawatir bila Arya menikahi perempuan lain, mungkin tidak sesayang itu pada Aldi, Aldo dan Alfian. Pada awalnya, Arya hanya berniat mengantarkan Dahayu dan sang putra ke butik, selanjutnya dia akan meneruskan perjalanan menuju kantor. Namun, suasana ramai di tempat usaha Dahayu membuat Alfian tidak enak hati, dan akhirnya memutuskan mengasuh Alfian yang kembali merengek, karena dilepas Dahayu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD