Bab 02 - Srparuh Jiwa

1120 Words
02 Rintik hujan siang itu mewarnai acara pemakaman Erni, tepat 4 hari setelah dia melahirkan. Perjuangan panjang Erni untuk bertahan hidup telah usai dan kini dia kembali pada Sang Pencipta, dengan meninggalkan Arya sendirian untuk merawat ketiga buah hati mereka. Satu per satu pelayat berpamitan pada Arya dan keluarga, hingga tersisa segelintir orang yang merupakan sahabat-sahabat pria tersebut. Termasuk pasangan Zayan dan Ivana yang datang bersama dengan Ferdi, Berliana dan Malik. Dzaki dan Raid, kedua saudara Ivana juga turut hadir untuk berbelasungkawa, demikian pula dengan rekan-rekan kerja Arya. "Ar, ayo kita pulang, anak-anak pasti nungguin kamu," tukas Zayan sambil memegangi lengan kanan sahabatnya. "Aku mau di sini sebentar lagi," jawab Arya. Tatapan sendunya mengarah lurus ke makam yang dipenuhi taburan bunga beraneka warna. "Kamu belum makan dari semalam, nanti sakit." "Aku ...." Tiba-tiba Arya merasa tubuhnya ditarik dan mau tidak mau harus berdiri. Kedua pria tersebut saling beradu pandang sebelum Zayan mengguncangkan bahu Arya sambil berkata, "Kamu harus makan, berjiwa kuat dan bertahan hidup demi ketiga anakmu. Ingat, Ar, itu pesan Erni sebelum dia wafat. Kamu nggak boleh kayak gini terus." "Tapi aku ...." "Mas masih bisa berkunjung lagi besok, lusa, bahkan tiap hari pun boleh," sela Ivana yang sejak tadi memerhatikan perdebatan kedua pria tersebut. "Sekarang, tolong jangan egois, isi perut biar bertenaga, karena selama tiga hari nanti Mas bakal sibuk dengan acara takziah, setelah itu harus ngurus anak-anak," sambungnya. Dengan gerakan pelan Ivana memegangi lengan kiri Arya dan mengarahkan pria itu jalan menjauh. Berliana turut memegangi lengan kanan Arya dan membantu Ivana menggusur pria tersebut. "Memang harus perempuan yang merayu, baru luluh dia," tutur Malik, direktur utama cabang Hatim Grup, sekaligus sahabat Arya dan Zayan. "Karena laki-laki nggak bisa selembut itu, dan Mas Arya bakal sungkan nolak Teteh sama Berliana," timpal Ferdi, Adik ipar Zayan. "Yok, kita juga nyusul. Aku takut Arya pingsan lagi kayak tadi pagi," ajak Zayan. Kelompok tersebut bergerak menuju tempat parkir dan memasuki mobil-mobil yang berada di tempat itu. Beberapa menit berikutnya tiga mobil MPV mewah beranjak menjauhi area pemakaman, tepat pada saat langit memuntahkan air dalam jumlah banyak. Arya menyandarkan tubuh ke pintu sambil memejamkan mata. Kenangan bersama sang istri kembali berputar dalam otak. Pria berkumis tipis berusaha keras untuk menahan tangis karena teringat pesan Erni, yang mengatakan agar Arya jangan menangisinya, dan menginginkan pria itu ikhlas melepasnya pergi. Ivana dan Berliana yang duduk bersebelahan di kursi tengah, saling beradu pandang sesaat, sebelum sama-sama menunduk dan menyeka sudut mata mereka yang berair dengan tisu. Zayan yang bertugas menyetir, tidak sanggup berkata-kata dan hanya bisa melirik sahabatnya di kursi samping kiri yang tengah terpuruk. Pria bercambang tipis memahami jika saat itu hati Arya tengah hancur. Kala deretan mobil tiba di depan rumah, Zayan mematikan mesin dan turun terlebih dahulu. Dia membukakan pintu untuk Arya. Kemudian pria bercambang memegangi pundak sahabatnya, saat mereka jalan menuju rumah yang masih dipenuhi para pelayat. Arya memaksakan senyuman ketika Aldo dan Aldi, kedua putra kembarnya, berseru sambil lari menghambur ke arahnya. Pria berambut lebat merunduk untuk menggendong kedua anaknya secara bersamaan. Arya terus melangkah menuju ruang makan. Kemudian menurunkan kedua lelaki kecil, sebelum dia duduk di salah satu kursi dekat meja panjang besar di tengah-tengah ruangan. "Kamu harus makan banyak, setelah itu istirahat," ujar Jamilah, ibunya Arya sembari menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring. Lalu memberikannya pada sang putra. "Kalian juga makan, ya, temani Arya, ibu mau meladeni tamu dulu," lanjutnya sambil memandangi teman-teman sang putra. "Iya, Bu," jawab Zayan mewakili yang lainnya. "Alfian di mana, Bu?" tanya Arya sebelum menyuapkan makanannya. "Lagi diboboin Ayu, dari tadi Alfi nangis terus." Jamilah menghela napas panjang sebelum berbalik dan menjauh. Sementara itu di kamar anak-anak yang berada di lantai dua, Dahayu mengamati wajah mungil Alfian yang merupakan hasil perpaduan wajah Papa dan mamanya. Perempuan berkulit kuning langsat, menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya sedikit demi sedikit, berharap hal itu bisa menenangkan hatinya yang sangat sedih. Dahayu tahu, kesedihan yang dirasakannya mungkin tidak ada separuh daripada yang dirasakan Arya saat itu. Aldo dan Aldi masih belum terlalu paham bila Mama mereka telah pergi dan tidak akan pernah kembali, tetapi hati Arya pasti benar-benar patah, hancur berkeping-keping ditinggalkan belahan jiwanya. "Ibu, diminta turun. Rombongan sudah sampai," cakap Intan, pengasuh Alfian yang baru saja memasuki ruangan. Tanpa menjawab Dahayu beringsut ke pinggir tempat tidur dan berdiri. Perempuan bertubuh langsing, berpindah ke depan cermin untuk merapikan jilbab hijau muda dan tunik berwarna senada, sebelum beranjak ke luar dan menuruni tangga. Sudut bibir Dahayu terangkat membentuk senyuman ketika melihat Ivana yang berdiri untuk menyambutnya. Kedua perempuan tersebut berpelukan erat, kemudian Dahayu mundur dan mengusap perut Ivana yang membuncit. "Apa kabar anakku? Sudah bisa bersilat di dalam?" tanya Dahayu. "Alhamdulillah, dia sehat dan mulai sering menendang ulu hati," sahut Ivana seraya tersenyum. "Duduk sini, Mbak, kita makan sama-sama," ajaknya. "Aku udah makan tadi, kalian lanjutkan aja, aku mau ngecek kondisi Bu Aminah." "Nggak mau lepas kangen sama aku?" seloroh Zayan yang langsung didelik tajam Dahayu. "Males kangen sama Mas. Makin ge er nanti," tolak Dahayu sembari berpindah untuk menyalami Malik dan yang lainnya. "Masih judes aja," keluh Zayan. "Sama Mas itu nggak boleh manis-manis, pasti ngelunjak! Ya, kan, Na?" Dahayu tersenyum ketika Ivana membalas dengan anggukan. Sementara Zayan menggeleng pelan, karena lagi-lagi kalah berdebat dengan mantan istrinya tersebut. Dahayu pernah menikah dengan Zayan selama enam tahun lebih. Sebab rahim Dahayu diangkat karena kanker yang telah menyebar, menjadikan keduanya tidak bisa memiliki keturunan. Atas desakan keluarga Zayan yang menginginkan penerus keluarga, Dahayu mengalah. Dia mencari sosok perempuan yang paling tepat untuk menjadi pengantin kedua buat suaminya. Pertemuan Dahayu dengan Ivana di suatu tempat, membuat perempuan bermata besar tertarik untuk menyelidiki salah satu karyawan hotel milik keluarga Zayan di Kota Bandung. Setelah yakin dengan pilihannya, Dahayu menyampaikan hal itu pada Firman Hatim, Ayah Zayan yang ternyata telah lama mengenal Ayah Ivana. Firman menyetujui perempuan pilihan Dahayu dan langsung melamar Ivana. Setelah menikah hampir setahun, Ivana hamil. Dahayu memutuskan untuk mundur dan bercerai dengan Zayan. Meski ikut senang dengan kehamilan madunya, tetap saja hati kecil Dahayu menjerit. Dahayu merasa yakin jika Ivana-lah yang paling pantas menjadi satu-satunya istri Zayan. Keputusan Dahayu untuk bercerai, sebetulnya ditentang Ivana yang juga hendak mundur dari pernikahan poligami tersebut. Akan tetapi, Dahayu bersikeras bercerai. Kemudian dia pindah ke Kota Malang untuk menenangkan diri, sekaligus mengelola cabang butiknya yang cukup terkenal di kota tersebut. Hubungan Dahayu, Zayan dan Ivana masih berlangsung baik. Mereka tetap bersahabat, bahkan Dahayu cukup akrab dengan kedua putra pasangan tersebut yang memanggilnya dengan nama Ibu Ayu, seperti halnya anak-anak Arya yang juga dekat dengan Dahayu. Dahayu beranjak menuju kamar tamu untuk mengecek kondisi Aminah. Perempuan tua tersebut langsung duduk, dan mengusap wajahnya yang basah dengan ujung jilbab. Tanpa banyak bicara, Dahayu duduk di pinggir tempat tidur dan memeluk Aminah, yang kembali menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD