“Boleh aku memikirkannya lebih dulu?” Ethan mengangguk tanpa berpikir seolah sudah menduga kalau Dira akan mengatakan itu. “Pikirkanlah. Aku bisa menunggu meski bukan orang sabar. Sebentar.” Dira menatap Ethan yang berjalan ke mejanya dan kembali dengan memegang sebuah dokumen. Dira sama sekali tidak punya petunjuk tentang apa yang akan dibahas pria itu lagi. Kerja sama lainnya? Atau perjanjian lainnya? “Ini,” ujarnya, mendorong dokumen tersebut pada Dira. “Apa ini?” tanyanya waswas, sebelum membuka dokumen tersebut. “Itu daftar nama-nama sekolah untuk Noah mengingat sebentar lagi dia akan memasuki usia TK, kupikir bagus jika kita memiliki beberapa pilihan.” Mulut Dira mendadak kering. Sesuatu membuat kerongkongannya tiba-tiba tersumbat. Ia memandang Ethan. “Tapi… waktu itu kau bilan

