Bab 5

1580 Words
Leon Alden. Saat mendengar nama itu aku sama sekali tidak mempunyai pikiran apa-apa. Namun ketika dia berdiri di depanku sekarang, dikenalkan oleh resepsionis yang terlihat sekali tergila-gila pada pria yang sedang berdiri di hadapanku ini, rasanya aku akan menerima dengan senang hati jika seseorang melenyapkanku sekarang juga. Leon Alden. Alden. Ald. Oh, Tuhan ... dari sekian juta manusia yang tinggal di Jakarta, kenapa aku harus bertemu orang ini? Di sini? “Bu Dewi jangan khawatir, Mas Leon ini instruktur terbaik yang kita miliki. Dia akan membantu Bu Dewi menurunkan berat badan dengan cepat, tapi tetap sehat,” cerocos Lucy—si resepsionis, aku melihat namanya di name tag yang terpasang di dadanya—dengan bersemangat. Sambil sesekali tangannya menyentuh lengan Leon Alden yang berotot. Sementara aku berusaha sekuat tenaga agar raut mukaku tidak berubah, Leon Alden malah mengangkat sebelah alisnya dibarengi dengan senyuman khas bocah nakal yang menghiasi wajah tampannya. “Untuk jadwalnya, Bu Dewi bisa mengatur sendiri agar tidak mengganggu pekerjaan Bu Dewi. Atau jika dibutuhkan, Mas Leon bisa juga datang ke tempat tinggal Bu Dewi untuk latihannya,” Lucy menjelaskan. “Pokoknya Bu Dew—” “Lucy,” Leon Alden menghentikan ocehan gadis itu, “boleh aku mengajak Bu Dewi melihat-lihat dulu? Biar nanti aku yang menjelaskan semuanya.” Saat berbicara begitu, pandangan Leon Alden sama sekali tidak berpindah dariku. Dia tetap menatapku dengan sorot mata geli yang kurang ajar. “Oh, ya boleh dong, Mas. Apa sih yang nggak buat Mas Leon,” sahut Lucy tersenyum manis. Sikapnya mengingatkanku pada Viona dan itu membuatku merasa ingin muntah. Leon Alden meraih tanganku dan memaksa ikut dengannya. Memaksa? Ya, karena dia melakukannya tanpa izin dariku. Buru-buru aku menarik tanganku sambil melirik Lucy yang terlihat heran. Pria itu berbalik, berjalan mundur di depanku. Sebuah senyuman miring terpasang di bibirnya yang indah saat dia mengangkat kedua bahunya acuh. “Jangan kurang ajar!” bisikku sambil mendelik pada Leon Alden.  “Kamu nggak segalak ini malam itu,” seringai Leon senang. Entah apa yang membuatnya senang. Aku menghentikan langkahku, kembali melirik Lucy, khawatir dia mendengar apa yang Leon ucapkan, tapi untungnya gadis itu sudah kembali sibuk dengan telepon genggamnya. “Aku senang kamu menemukanku,” gumamnya membuatku kembali melotot. “Aku nggak nemuin kamu,” desisku. “Nyari kamu aja nggak. Dasar gigolo!” “Whatever!” Lagi-lagi dia mengangkat bahunya, masih tersenyum. Seolah-olah ucapanku sama sekali bukan kalimat yang menyakitkan. “Ayo ikut! Ajaknya sambil membelakangiku, dia hampir melangkah lagi kalau tidak menyadari aku masih terpatung di tempatku. “Mau ikut atau nggak?” “Kalau aku nggak mau?” tantangku. Leon kembali menghadapku. “Aku akan menggendongmu kalau begitu,” ujarnya sambil bersiap mendekatiku. Mendengar ancamannya, aku buru-buru berjalan ke arah yang dia mau. “Awas kalau berani!” gertakku saat melewatinya. Kekehan Leon terdengar menyebalkan di telingaku. Aku membiarkan pria itu berjalan di sampingku karena aku tidak tahu arah tujuan kami. Leon menjelaskan kalau di pusat kebugaran ini ada tiga ruangan yang digunakan berlatih sesuai masing-masing kelasnya. Standard, tempat yang disediakan untuk umum, Premium dikhususkan untuk orang-orang kalangan menengah ke atas yang lebih membutuhkan privasi, sedangkan Deluxe bagi kalangan elite yang menginginkan latihan eksklusif. Antara satu ruangan dengan ruangan lainnya dibedakan per lantai. Lantai pertama untuk lobi dan ruangan standard, lantai kedua untuk premium, dan lantai ketiga untuk deluxe. Saat ini kami berada di lantai tiga. Leon mengajakku melihat-lihat alat yang mereka gunakan. Aku melihat sekeliling ruangan, sepi … hanya ada kami berdua di sini. Berbeda sekali dengan di lantai satu tadi. “Di sini memang selalu sepi?” tanyaku. “Yeah … di hari-hari tertentu nggak sesepi sekarang, kebetulan hari ini memang lagi nggak ada jadwal latihan.” Ruang untuk kelas deluxe jauh lebih besar daripada yang standard, dengan alat-alat yang lebih lengkap. Sekeliling dindingnya dilapisi cermin hingga terkesan jauh lebih luas. Aku sedang berdiri di depan salah satu cermin ketika Leon menghampiri dan berdiri tepat di belakangku. “So, apa motivasi kamu nurunin berat badan?” tanyanya mengamatiku dari dalam cermin. “Apa itu penting?” aku balik bertanya. “Yup. Sangat penting.” Aku menatap pantulan diriku sendiri di cermin, melihat bentuk tubuh yang tidak pernah jadi idaman wanita mana pun. Tapi sudah kumiliki sejak aku masih remaja. Bahkan almarhum Mama Papa harus membawaku ke dokter karena aku masuk kategori obesitas. Setelah melalui diet panjang dan melelahkan, dan tentu saja drama anak remaja, berat badanku akhirnya berkurang. Tidak sampai menuju ideal tapi setidaknya sudah bukan obesitas lagi. Namun kematian Mama Papa yang mendadak di akhir masa SMU-ku membuat aku stres dan kembali ke hobi lama. Ngemil kapan pun aku mau. “Motivasiku…,” aku bergumam pelan, pandanganku lurus ke depan, mendadak aku merasa benci dengan diriku saat ini. Aku benci dengan tubuh yang kumiliki. Aku benci menyadari Bram tidak pernah menginginkanku bahkan sejak kami menikah. “Tentu saja biar aku terlihat menarik,” lanjutku sambil mendongakkan dagu. “Menurutku kamu sudah terlihat menarik. Sangat menarik.” Bukan jawaban yang kupikir akan kudengar, hingga pandanganku beralih pada Leon dengan sangat cepat. Berpikir akan menemukan ejekan di matanya. Tapi tidak. Leon terlihat sungguh-sungguh saat mengatakan itu. “Menurutmu?” tanyaku menantang. Leon melepas blazerku dan mengikatkannya di pinggangku. Tangannya mengelus bahu telanjangku pelan. “Aku nggak tahu apa yang membuatmu menarik. Tapi kamu memang menarik perhatianku sejak awal,” bisiknya. Napasnya terasa panas menyentuh cuping telingaku. Bulu-bulu di tengkukku meremang, dibarengi debaran halus yang bermain di dalam dadaku. Kini, kedua tangan Leon berada di pinggangku. Dia menarikku ke belakang hingga bokongku menyentuh bagian depan tubuhnya. Aku tersentak ketika merasakan sesuatu yang keras di bawah perutnya. Ini tidak mungkin! Dia tidak mungkin menginginkanku. “No offense, berapa berat badanmu?” Dari dalam cermin aku bisa melihat wajahku memerah. Itu pertanyaan yang sangat sensitif. “Jangan malu. Katakan saja.” “83,” sahutku pendek. Tinggi badan?” dia menatapku dari dalam cermin, mengangkat sebelah alisnya. “171.” “Kamu punya tubuh yang enak dipeluk,” gumam Leon tersenyum miring. Aku ingin memakinya, tapi merasakan benda keras di bokongku kembali bereaksi aku menelan salivaku, tidak sanggup berkata apa-apa.  Dan ketika tangannya bergerak turun ke pahaku, aku hanya bisa memprotes dengan menyebut namanya. Namun suaraku terdengar serak dan tenggelam tanpa daya. “Leon!” protesku lagi. “Hmm…” gumamnya sambil mengendus belakang telingaku, aku tak berkutik. Semakin tak berkutik ketika tangan pria itu sampai pada ujung rokku dan menyelusup masuk menyentuh paha bagian dalam. Napasku tertahan, jemarinya yang hangat bermain sangat dekat dengan intiku, sementara bibirnya dengan berani mencumbu tengkukku. Leon melingkarkan tangan kirinya di bagian dadaku, sehingga ketika jemari kanannya menyentuh permukaan kewanitaanku, aku berpegangan pada lengan berotot di depanku. Mengambil napas panjang dan meloloskannya diiringi erangan. Lututku terasa lemas, aku hampir terjatuh kalau saja Leon tidak membiarkan dirinya menjadi sandaranku.  Tangan kiri Leon kini meremas payudaraku, sementara celana dalam yang kukenakan sudah tercampak ke lantai tanpa bentuk lagi. Aku agak tesentak ketika tadi dia menariknya dengan tiba-tiba. Kemudian terlena saat telapak tangannya menangkup kewanitaanku dengan hangat. Napasku memburu, jantungku berpacu kencang dibarengi rasa seperti ditusuk-tusuk dalam perutku. Aku merasakan milikku sudah sangat basah, dan sepertinya Leon menyadari hal itu. Dia menyelipkan jari tengahnya ke intiku, sementara telunjuk dan ibu jarinya bermain dengan klitorisku. Erangan lolos dari bibirku. Saat aku merasa naik, Leon menarik tangannya, membuatku kehilangan. Tapi segera terlupakan begitu menyadari pria berotot ini hanya ingin melepas blus yang kukenakan. Aku hampir melarangnya ketika dia juga ingin membuka bra-ku, tiba-tiba merasa malu. “You’re beautiful,” bisiknya serak, meyakinkanku. Hingga aku biarkan dia melepas semua kain yang menempel pada tubuhku. Reflek aku mendekap tubuhku dan berusaha membelakangi cermin. Mungkin aku bisa tidak peduli saat mabuk, tapi sekarang aku dalam keadaan sadar sepenuhnya. Aku sadar aku tidak memiliki tubuh yang bagus untuk diperlihatkan pada pria mana pun. Leon dengan hati-hati membalikkanku lagi menghadap cermin. Dia melepas tanganku dan meluruskannya ke samping. “Lihat,” bisiknya, “kamu punya p******a yang indah.” Aku melihat pantulan diriku di cermin. “Dengan ukuran yang didambakan setiap wanita,” bisiknya lagi, sambil menyentuh payudaraku. “p****g kecoklatan yang terlihat seksi….” Aku menahan napas. Memperhatikan jemari Leon yang sedang bermain di puncak dadaku. Sementara tangan yang satunya menarik salah satu pahaku hingga aku agak mengangkang, kemudian mengelus intiku perlahan. Jantungku kembali berpacu kencang, mulai terhanyut dengan kalimat-kalimat menggoda yang diucapkan Leon. Leon mengangkat kedua tanganku dan meletakkannya pada palang besi di depan cermin, Aku tersentak saat kemudian dia menarik panggulku ke belakang. Dari dalam cermin aku melihat mata pria itu terbakar, aku bis amendengar suara napasnya yang memburu. Dia membungkukkan tubuhnya dan mencium punggungku. Seolah mendapat sentuhan dari ujung belati yang dingin, aku melentingkan tubuhku ke belkang. Saat itulah Leon mendekap kedua payudaraku dan meremasnya lembut. Aku merintih, menyebutkan namanya. Aku tidak tahu kapan, tapi sepertinya Leon sudah melorotkan celana pendeknya. Hingga kejantanannya yang keras sudah berada dalam milikku. Dia meletakkan kedua tangannya pada bokongku dan mengayunkan pinggulnya, membuatku berkali-kali tersentak karena sentuhannya pada dinding rahimku. Dari dalam cermin, aku melihat caranya menatapku, caranya menyentuh punggungku, dan caranya mendesahkan namaku setiap kali aku mengetatkan dinding kewanitaanku. “Yeah … Babby…” desisnya saat dia menekan pinggulnya dengan kuat. Aku merasakan ledakan dari dalam diriku, membuatku melayang di atas kenikmatan selama beberapa saat. Sebelum akhirnya merasakan lemas pada sekujur tubuhku. Leon menyanggaku dengan lengannya, kemudian dia mengangkatku seolah-olah aku bukanlah beban yang berarti baginya, membaringkanku perlahan pada sebuah matras dan menutupi tubuhku dengan pakaianku sendiri. Dia tersenyum menatapku. Senyum yang tidak akan pernah aku lupakan. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD