Bab 3

1532 Words
Serangan balik dari Bram tidak menunggu waktu lama, hari itu juga aku mendapat panggilan dari CEO sekaligus direktur utama, yang entah sejak kapan ikut repot mengurusi pemecatan karyawan. Di depan ruangan beliau, aku berpapasan Bram, dia melirikku sekilas, tapi aku pura-pura tidak melihat. Seperti biasa, wajah atasanku selalu terlihat ramah. Namun senyum ramah, rambut putih, dan kulit keriputnya tidak menutupi ketegasan yang ada pada sorot mata tajam miliknya, sorot mata yang menurun pada putranya. Sayangnya sang putra tidak menuruni keramahan ayahnya. Beliau mempersilakan aku dan Bram duduk. “Jadi Dewi, aku dengar kamu memecat Viona? Kenapa?” tanya atasan sekaligus ayah mertuaku itu  to the point. Sudah jadi ciri khasnya untuk langsung menuju inti permasalahan jika membicarakan sesuatu. Selain itu, dia juga sangat teliti, jangan berharap kamu bisa membohonginya dalam hal apa pun. Jadi satu-satunya pilihan, aku harus mengatakan yang sebenarnya pada atasanku itu. “Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Bapak, saya memang harus memecat Viona,” kataku memulai. “Dia bercinta dengan suami saya di ruangan saya,” lanjutku tanpa menghindari mata atasanku. Aku bisa melihat ekspresinya berubah sesaat. Kaget dan marah, tapi bukan Om Adhi namanya jika tidak bisa menutupinya dengan baik. Seperti dugaanku, Bram tidak diam saja mendengar ucapanku. “Sebenarnya, Pa. Sejak beberapa bulan terakhir Dewi sudah jadi pecandu alkohol.” Aku menoleh ke arahnya dan melotot tak percaya mendengarnya. What the hell! Kebohongan macam apa yang dia bicarakan? Dan satu lagi, sejak kapan dia memanggil Om Adhi dengan sebutan papa saat berada di kantor? Tapi dia tak mengindahkanku. “Ketergantungannya pada minuman keras itu sering membuat dia tidak bisa membedakan hal nyata atau hanya imajinasinya semata,” lanjutnya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Mataku semakin melebar ketika dia menunjukkan fotoku saat di klub semalam. “Contohnya tadi malam, Dewi bukannya pulang ke rumah malah mabuk-mabukan. Papa bisa lihat kelakuan dia di foto ini. Jadi Pa, aku berani bersumpah apa yang dikatakan Dewi tidak benar. Dia hanya berimajinasi aku berselingkuh dengan Viona dan menganggapnya nyata,” ucap Bram dengan nada sedih yang dibuat-buat. Om Adhi menatapku, matanya meminta penjelasan. Aku tahu meski Bram putra satu-satunya, mertuaku itu tidak pernah bersikap berat sebelah, dia juga menyayangiku seperti putrinya sendiri. Aku diam masih menetralisir perasaanku. Menunggu lebih tenang untuk bisa membalas serangan Bram. Tapi sepertinya laki-laki licik itu memanfaatkan kediamanku sebagai alat untuk lebih memojokkanku. “Jika Dewi tidak merasa bersalah, dia tidak akan diam saja, Pa. Percayalah padaku. Dewi butuh pertolongan, biar aku membawanya ke psikiater.” Tanganku terkepal sempurna mendengar ucapan Bram, dia benar-benar membuatku marah sekarang. Saatnya menyerang balik. Aku berdeham, bertanya dengan sopan pada mertuaku apa aku bisa memakai laptopnya. “Tentu saja,” jawabnya sambil mendorong benda itu ke arahku. Aku membuka dompet yang selalu kubawa ke mana-mana dan mengeluarkan micro SD yang sudah kusiapkan. Benda kecil yang akan membantuku membalas Bram. Dia punya fotoku, aku punya rekaman saat dia bercinta dengan Viona di ruanganku, jadi siapa yang akan tertawa paling akhir menurut kalian? Setelah memasang benda itu, aku melirik Bram dan tersenyum miring. Wajahnya terlihat pucat, dia pasti sudah menduga apa yang akan kutunjukkan. Ceroboh sekali jika dia tidak menduga aku memasang kamera pengawas di kantorku. Aku memutar laptop sehingga kami semua bisa melihat layarnya. Sebelum jariku menyentuh touchpad untuk menyalakan video rekaman, aku menatap mertuaku dengan sorot mata meminta maaf.  Lalu dengan sekali gerakan, layar laptop dipenuhi gambar m***m Bram dan Viona, bahkan suara desahan mereka terdengar dengan jelas. Wajah Om Adhi terlihat murka, dia segera mematikan video dan berpaling menatap Bram dengan marah. “Saya hanya merasa terluka dan sedih, Pak. Itu sebabnya saya berada di bar malam itu. Saya bukan pecandu,” kataku datar namun dalam. Satu pukulan terakhir untuk Bram dan membuat mertuaku berada di pihakku.  ****** Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian siang tadi. Berada di bar mini pribadi yang ada di dapurku, dengan segelas anggur untuk merayakan kemenangan saat ini benar-benar membuat perasaanku jadi lebih baik. Sambil memainkan gelas, aku menikmati momen tersebut. Mertuaku benar-benar murka, dia langsung memecat Viona saat itu juga. Seperti harapanku. Sekali lagi, kuteguk minumanku. Saat memutuskan untuk berhenti bersenang-senang aku mendengar suara berisik dari arah ruang tamu, disusul suara orang yang terdengar sedang berbincang. Aku menajamkan indera pendengaranku, namun jarak yang tidak dekat membuat suara itu tidak terlalu jelas di telingaku. Akhirnya aku beranjak mendekati asal kebisingan tersebut. Aku tidak menemukan apa-apa di ruang tamu, tapi pintu depan terbuka lebar. Seingatku aku sudah menguncinya tadi. aku mendekati pintu berniat menutupnya, tapi seseorang membekap mulutku dari belakang, dalam hitungan detik aku kehilangan kesadaranku. Saat membuka mata, aku sudah berada di kamarku. Namun dalam keadaan terikat di sebuah kursi dengan mulut yang tertutup plester. Jika saja tidak melihat Bram yang duduk di depanku, aku pasti sudah luar biasa panik. Pria itu duduk bersandar pada sofa, kakinya disilang dengan tangan kanan yang diletakkan di atas lutut sementara tangan kirinya memegang gelas anggur. Aku melotot padanya berusaha memakinya tapi yang keluar hanya suara-suara tidak jelas karena bekapan. “Sepertinya si jalang ini ingin bicara,” kata Bram menyeringai, “Honey, tolong buka plesternya,” lanjutnya lagi sambil memandang ke belakangku. Aku semakin mendelik, kemudian menoleh. Melihat Viona tersenyum culas sambil menghampiriku. Dia menarik plester dengan kasar. “f**k!” jeritku begitu bisa bersuara. “Hoo ... punya nyali juga dia,” kata Bram sambil berdiri. Menghampiri Viona dan mencium bibir wanita itu dalam. “Thanks, Honey,” ujarnya yang membuatku muak. “Omong-omong, Bu Dewi ... kamu membeli lingerie yang cocok buatku.” Viona berdiri di depanku dan memutar tubuhnya bak seorang model. Aku melotot, baru menyadari dia memakai lingerie yang kubeli dalam usahaku memperbaiki hubungan dengan Bram. Dengan bodohnya menyuruh Viona memesan benda itu sebulan yang lalu, berencana memakainya pada hari ulang tahun pernikahanku dengan Bram. Itu sebelum aku mengetahui perselingkuhannya dengan Viona. Dan sialnya, aku baru ingat kalau hari inilah ulang tahun pernikahan kami seharusnya dirayakan. “b***h! Lepasin baju gue,” teriakku marah, menendang-nendangkan kakiku yang terikat. Bram terkekeh, dia mendekati Viona dan membelai bahu telanjang wanita itu di depanku. “Kamu beli baju ini buat ngerayu aku, bukan begitu, Dewi?” katanya sambil melirikku dari balik bulu matanya. “Sayangnya pilihanmu tidak cocok untuk postur tubuhmu. Gaun seseksi ini hanya pantas dikenakan wanita seksi,” lanjutnya berbisik, sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku merasakan darah yang mengalir naik ke mukaku, tanpa bisa kukontrol, rahangku mengetat menahan rasa malu sekaligus marah. Ejekan Bram membuatku seperti wanita tidak berharga. Sudut mataku memanas, aku menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak keluar. Kudongakkan daguku dengan angkuh dan berkata, “Jarang ada pria yang mengategorikan d**a kecil sebagai seksi.” Tatapanku tertuju pada d**a Viona. “Dia terlihat seperti nenek-nenek dengan lingerie itu,” sambungku sambil melemparkan senyuman mengejek. Aku terkekeh senang melihat wajah Viona yang merah padam seperti kepiting rebus. “Aku tidak menganggapnya seperti itu,” gumam Bram, mendekatkan bibirnya ke leher Viona. Tawaku terhenti. “Viona wanita terseksi yang pernah aku kenal, yang selalu membuatku b*******h setiap melihatnya.” Dadaku terasa panas saat melihat tangan Bram menyelusuri tubuh Viona, sementara wanita jalang itu terlihat menikmati sentuhan suamiku, menggerakkan tubuhnya dengan sensual. “Kamu masih mencintaiku kan, Dewi? Berharap aku akan bersikap mesra padamu?” Aku terdiam, pandanganku tertuju pada tangan Bram yang meremas d**a Viona. “Sayangnya aku sudah tidak tertarik padamu, jadi lupakan saja usaha sia-siamu itu.” Kualihkan pandanganku pada mata Bram, menatapnya dengan sorot terluka. Namun pria itu sama sekali tidak memedulikanku, dia semakin berani menyentuh daerah-daerah sensitif pada tubuh Viona. Aku tidak tahan mendengar rintihan penuh nikmat wanita jalang itu. “Lakukan apa yang ingin kalian lakukan, tapi lepaskan aku dulu, b*****t!” teriakku marah. Bram terkekeh. “Justru aku ingin menunjukkan padamu apa yang akan kulakukan pada Viona,” ujarnya dengan senyuman licik. “Sebagai hadiah ulang tahun perkawinan kita.” Ucapan terakhirnya membuatku berang, aku berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan ikatan pada tubuhku, namun semuanya sia-sia. Ikatan ini terlalu kencang. Pada akhirnya aku hanya bisa menyerah dan diam. menundukkan kepala, menahan diri agar tidak menangis. Karena aku tahu Bram akan semakin senang jika melihatku mengeluarkan air mata. Baiklah. Aku akan membuat ini tidak pernah kulupakan. Akan kujadikan hinaan ini sebagai bumerang yang akan menyerang balik padamu, Bram! Aku mendongakkan kepalaku, menguatkan hati untuk melihat apa yang kedua orang itu lakukan padaku. Memastikan agar semuanya terekam jelas dalam ingatanku. Hingga jika aku menyerah dengan keputusanku, ingatan ini akan kembali menguatkanku. Viona sudah berbaring di atas sofa, salah satu kakinya ia naikkan ke atas sandaran hingga lidah Bram bisa mengeksplor daerah kewanitaannya dengan leluasa. Perutku terasa bergejolak menyaksikan hal itu, seolah ada cairan yang mendorong untuk dikeluarkan, tapi aku menelannya kembali. Tidak akan kutunjukkan kelemahanku di hadapan dua binatang itu! Aku akan membalasnya, berkali-kali lebih menyakitkan! Entah berapa lama aku bertahan dengan posisiku. Beberapa kali posisi bercinta yang dilakukan Bram dan Viona, kusaksikan dengan hati yang semakin membatu. Hingga akhirnya mereka merasa puas dan memutuskan untuk meninggalkanku. Sebelum pergi, mereka melonggarkan ikatanku, tapi tetap membutuhkan waktu hampir setengah jam untukku bisa bebas sepenuhnya. Aku berlari ke toilet begitu talinya terlepas semua, memuntahkan seluruh isi perutku. Mata dan hidungku terasa panas, aku tidak bisa menahan tangisanku lagi. Setelah menyalakan keran untuk menyiram muntahanku, aku menutup kloset dan menangis tersedu di atasnya.  Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD