Prolog

818 Words
Hari Sabtu adalah hari merdekanya bagi para kaum kerja lembur bagai kuda. Hari Sabtu, hari waktunya bersantai ria dan harinya berkencan mesra dengan kasur selama seharian. Hari Sabtu, hari dimana kita bisa cuci mata dengan melihat wajah tampan aktor-aktor Korea Selatan yang gantengnya nggak ada obat. Tapi, di hari Sabtu ini bukannya bersantai-santai ria, Dira malah terduduk dengan keadaan mengenaskan di lantai begitu mendengar ucapan ayahnya. Baru saja ia bangun dari tidur nyenyak nya yang semalam bermimpi dipeluk Song Joong Ki, Dira langsung dibuat terkejut begitu ayahnya secara tiba-tiba menyuruhnya untuk segera keluar dari kamar dan berkumpul bersama seluruh anggota keluarganya di ruang keluarga. Saat bokongnya menyentuh kursi, perasaan Dira mendadak tidak enak begitu matanya melihat seluruh anggota keluarganya menatapnya dengan intens. Dan, feeling-nya benar. Jantung Dira serasa ingin melompat dari tempatnya begitu mendengar ayahnya mengatakan... Dia akan dijodohkan. Duar! Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh Dira langsung merosot ke lantai dengan ekspresi wajahnya yang syok. Demi apa? Dijodohin? Kepala Dira refleks menggeleng kuat dengan dua kaki yang digerak-gerakkan seperti anak kecil. "Enggaaak! Dira nggak mau dijodohin!" teriaknya. Kepalanya menoleh ke arah sang Bunda yang duduk di sebelahnya. "Bun... Dira nggak mau," rengeknya sambil menggoyang-goyangkan kaki Bundanya. Tiana—Bunda Dira hanya bisa mengelus bahu sang anak dengan lembut. "Nurut aja ya. Ini yang terbaik untuk kamu." "Enggak mau, Bun! Nggak mau! Dikira Dira nggak laku, sampai mau dijodoh-jodohin segala? Bunda nggak kasian, sama anak Bunda yang cantik jelita ini? Yang cantiknya ngalahin Dilraba Dilmurat. Nggak kasian, kalau Dira nikah sama orang yang bahkan nggak Dira kenal? Kalau nanti dia KDRT gimana? Nggak! Dira nggak mau!" "Emang lo nggak laku makanya masih jomblo sampai sekarang," celetuk Alfarizi—kakak Dira. Dira memicingkan matanya. "Enak aja! Sekate-kate lo bilang gue nggak laku! Gue laku tau! Cuma males aja pacaran." "Hilih." Tatapan Alfarizi berubah menjadi tatapan mengejek. "Lo bukan males pacaran, tapi karena nggak ada cowok yang mau sama lo makanya lo jomblo. Udah sih terima aja, daripada lo jadi perawan tua. Masih untung ini cowok mau sama cewek titisan nenek lampir kayak lo." Dira mendengkus. Baru ingin menimpuk kakaknya dengan sandal, suara ayahnya yang menginterupsi membuat Dira mengurungkan niatnya. "Ayah akan tetap jodohkan kamu dengan laki-laki pilihan ayah ini. Mau kamu siap atau nggak, ayah nggak akan mengubah keputusan ayah. Bulan depan kamu sudah harus nikah," ucap Heru—ayah Dira dengan tegas. Dira merengek, kedua tangannya kembali menggoyang-goyangkan kaki Bundanya, berharap Bundanya itu iba kepadanya dan mau berpihak padanya untuk menolak perjodohan ini. Namun yang ia dapatkan adalah, Bundanya tetap menyuruhnya untuk nurut dan menerima perjodohan ini. "Bun ... Yah ... Dira belum siap nikah. Please ... jangan jodohin Dira. Ini udah jaman modern, bukan lagi jamannya main perjodohan. Ini udah jamannya Siti Badriah, bukan lagi jamannya Siti Nurbaiti," ucap Dira mendramatisir, lengkap dengan wajah melasnya. "Siti Nurbaiti, Siti Nurbaiti! Siti Nurbaya yang bener!" ralat Alfarizi sambil menimpuk Dira dengan kulit kacang bekasnya. Dira mendelik, menatap sinis ke arah kakak k*****t nya itu. "Hih, suka-suka Dira dong! Terserah Dira. Mau Siti Nurbaiti kek, mau Siti Nurbaya kek. Sama aja, sama-sama Siti!" "Eh, udah, udah! Malah ribut," ucap Tiana menghentikan perdebatan kedua anaknya. "Ayah~" panggil Dira dengan wajah melasnya. "Dira nggak mau dijod—" "Nggak ada penolakan!" potong Heru dengan cepat, membuat Dira menghela napas dan menunjukkan wajah cemberut. Bibir Dira maju lima senti, wajahnya diketuk. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa membelanya, semua anggota keluarga akan berpihak kepada ayahnya. Lagi-lagi ia menghela napas, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah, dan nurut dengan keputusan ayahnya. "Ya udah, Dira mau. Tapi cowoknya ganteng, kan? Banyak duit kan? Masih muda kan? Kalo ganteng modelan Wei Zhe Ming, Dira mau!" kata Dira akhirnya. Alfarizi menggeleng. "Enggak. Cowoknya b***k, Dir. Item, dekil, bau ketek, cebol, perutnya bulet, giginya tonggos, tuwir. Udah bau tanah." "Ih, yang bener?" Seketika tubuh Dira merinding, kepalanya menoleh menatap sang ayah. "Bener, Yah? Cowoknya tuwir? Jangan-jangan temen ayah yang namanya si Budi, Budi, itu ya? Yang kakek-kakek tua bangka bau tanah. Yang duda anak sebelas itu. Hih! Nggak mauuu!" "Izi!" tegur Heru dengan mata yang memelototi anak sulungnya, dan segera dibalas cengiran kuda oleh Alfarizi. Detik berikutnya kepalanya kembali menoleh ke arah putri bungsunya yang duduk di lantai. "Abang kamu bohong, jangan percaya. Mana mungkin ayah jodohin kamu sama kakek-kakek. Ayah sayang sama kamu, nggak rela anak gadis ayah nikah sama kakek-kakek. Laki-laki yang mau ayah jodohin sama kamu ganteng kok, masih muda, ayah yakin kamu suka sama dia. Dan kamu juga udah kenal sama orangnya," ucap Heru menjelaskan. Seketika kepala Dira langsung mendongak menatap ayahnya. "Serius? Siapa Yah? Kasih tau Dira." "Mang Cecep beogel satpam komplek," sahut Alfarizi dan langsung dihadiahi pelototan oleh Heru dan Tiana. Melihat kedua orang tuanya melotot, Alfarizi segera pasang cengiran sambil mengibaskan tangannya. "Bercanda. Abang cuma bercanda, kok. Jangan percaya sama Abang. Abang ini pembawa hoaks." "Yah, siapa orangnya?" Dira mengulang kembali pertanyaannya. Heru tersenyum. "Rahasia." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD