Ciri-ciri orang stress:
1. Muka kusut kayak baju belum di setrika.
2. Suka marah-marah nggak jelas lalu nangis-nangis kayak abis diputusin doi.
3. Ngomong sendiri kayak orang gila.
4. Badan lemas, lesu, loyo, kayak iklan obat.
5. Penderitanya bernama Salsabila Andira Mahesa.
Mitha yakin, yakin seribu persen sahabatnya itu tengah stres bin depresot. Pasalnya, sedari tadi, tidak ada angin tidak ada hujan, Dira tiba-tiba menggerutu dan mengomel-ngomel tidak jelas di kubikelnya. Mitha yang merupakan tetangga kubikel Dira bisa mendengar dengan jelas gerutuan gadis itu. Dari yang ia dengar, Dira sesekali menyebut nama bosnya saat menggerutu.
"Dasar monyet! Mentang-mentang calon suami seenak jidat dia nyuruh-nyuruh gue. Liat aja, gue aduin entar lo ke emak gue, Fadli!"
Mitha mengernyitkan dahinya begitu telinganya kembali mendengar gerutuan sahabatnya. Ada kata-kata yang membuat jiwa-jiwa kepo nya keluar. 'Ca-lon sua-mi'. Kata-kata itu yang membuat Mitha bingung sekaligus penasaran. Kepalanya bergerak ke samping, hingga telinganya menempel di sekat pembatas. Ditajamkannya indera pendengarannya itu agar bisa lebih jelas mendengar gerutuan sahabatnya.
"Arghh! Kenapa pula harus dia yang dijodohin sama gue. Kenapa nggak jodohin gue sama Jaehyun, aja? Kenapa harus Pak Fadli?! Dia itu nyebelin, titisan alien, galak. Untung ganteng."
"HAH?! LO DIJODOHIN?!" Mitha refleks memekik sambil menggebrak meja kuat-kuat. Gadis itu bangkit dari duduknya, lantas melangkahkan kaki menuju kubikel Dira yang berada di sebelahnya. Diputarnya kursi kerja Dira hingga gadis itu menghadap ke arahnya. "Serius, beb? Lo dijodohin sama Pak Fadli?! Serius?!" tanyanya sambil mengguncang-guncang bahu Dira.
"Monyet lah lo, Mit!" Ditepisnya kedua tangan Mitha yang bertengger di bahunya. "Pusing kepala gue lo guncang-guncang begitu!"
Mitha nyengir. "Sori beb," ucapnya. Kemudian, "Lo belum jawab pertanyaan gue. Serius lo dijodohin sama si muka triplek itu? Jujur, Dir!"
"Iya." Bibir Dira maju lima senti. "Nyebelin banget, kan? Ya Tuhan... dosa apa hamba sampai-sampai mau dijodohin sama laki-laki titisan nenek lampir itu? Pokoknya gue nggak mau nikah sama dia! Amit-amit! Alergi tingkat dewa!"
Mendengar jawaban itu, membuat Mitha mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya sahabat hamba nggak jones lagi." Tatapan berbinar-binar terpancar dari kedua bola mata Mitha. "Selamat ya, beb. Semoga lancar sampe hari H pernikahan. Hiks... turut berbahagia gue," ucapnya mendramatisir sambil seolah-olah menyeka air mata di ujung matanya.
Bibir Dira mengerucut, tangannya memukul pelan tangan Mitha. "Lo mah gitu. Kok malah bahagia sih? Harusnya sedih dong karena sahabat lo yang cantik jelita ini dijodohin sama laki-laki titisan nenek lampir, eh, kakek lampir."
"Ngapain gue harus sedih?" tanya Mitha terheran-heran. "Gue harus bahagia dong! Kan lumayan, entar gue makan daging gratis. Eh, nanti jangan lupa ya, kalo makanannya sisa banyak, bungkusin buat gue. Bungkusin daging yang banyak ya, Dir. Mau gue bagi sama si babi di rumah. Kasian, dia meong-meong mulu kalo gue kasih makan ikan asin. Emang songong itu kucing. Masih untung dia gue tolongin waktu nyungsep di got."
Dira geleng-geleng kepala. "Astaga Mitha... itu kucing kenapa lo kasih nama babi? Pasti tertekan kucing lo karena dikasih nama begitu."
Mitha nyengir. "Keren Dir. Berani beda. Anti-mainstream namanya. Biasanya orang-orang ngasih nama kucing itu yang gemoy-gemoy gitu. Tapi beda sama gue yang ngasih nama kucing gue babi. Abisnya itu kucing prik banget anjir. Kesel gue, tapi kadang-kadang kasian. Apa sekalian gue cat aja ya, itu kucing jadi warna pink. Biar lebih mirip."
Dira mentoyor kepala Mitha. "Ngadi-ngadi lo!"
Mitha kembali nyengir. "Hehe, biar keren Dir. Kucing langka. Omong-omong, selamat ya. Gue doain lo sama Pak Fadli bahagia, langgeng sampai maut memisahkan. Jangan lupa juga, kasih gue ponakan yang gemoy-gemoy."
"Mit...." Dira merengek, digoyang-goyangnya tangan Mitha. "Gue nggak mau nikah sama dia... nggak mau."
"Aduh, duh, jangan digoyang-goyang, Didir. Nanti tangan gue putus gimana?" Mitha menarik tangannya yang tadi dipegang Dira. "Kenapa lo nggak mau? Pak Fadli itu ganteng, lho. Banyak duit. Apanya sih yang kurang dari dia? Mungkin minusnya ya, dia galak, sama nggak pernah senyum. Itu doang. Tapi kalo dari fisik dia itu tipe-tipe suami idaman. Mukanya itu lho, baby face, kulitnya mulus. Aaaa, bisa memperbaiki keturunan, Dir, kalo nikah sama dia."
Dira memutar bola matanya malas. "Ya udah, lo aja sana yang nikah sama dia. Gue mah ogah."
"Entar kalo gue yang nikah sama dia lo cemburu," goda Mitha.
"Hih, ngapain gue cemburu? Nggak guna. Sana lo aja yang nikah sama dia!"
"Oke, gue yang nikah sama dia. Nanti pas ijab qobul jangan mewek-mewek ya lo? Jangan iri karena gue dapet cogan kaya raya."
"Siapa yang mau nikah?"
Pertanyaan itu berhasil membuat kedua gadis itu menoleh ke sumber suara. Keduanya mendapati Firman—wakil CEO yang gantengnya nggak ada obat. Laki-laki itu bersedekap d**a sambil memasang raut wajah penasaran. Melihat kedua gadis itu malah cengo membuat Firman kembali melangkah hingga berhenti tepat di samping kedua gadis itu.
"Siapa yang mau nikah?" Firman mengulang kembali pertanyaannya yang belum sempat dijawab.
Mitha mengerjap-ngerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya. "Hah? Lo nanya apa? Kuping gue swasta jadi suka b***k mendadak."
"Siapa yang mau nikah?"
Mendengar pertanyaan laki-laki itu membuat Mitha ber-oh ria. Tatapannya beralih menatap Dira lalu ditunjuknya sahabatnya itu dengan dagunya. "Noh, yang mau kawin, si Didir. Dan lo tau nggak sih, yang jadi calonnya siapa? Pak Fadliii! Gile, kan?"
Firman manggut-manggut paham. "Oh."
"Cuma oh, doang? Lo nggak mau ikut kaget juga gitu? Lo nggak mau jungkir balik, salto, sama kayang karena saking kagetnya? Masa respon lo cuma oh, doang?" Mitha bertanya dengan tatapan tidak percaya.
"Saya udah tau dari Fadli," jawabnya santai. Kemudian pandangannya beralih menatap Dira. "Selamat ya. Semoga lancar sampai hari H," ucapnya. Detik berikutnya ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kedua gadis itu.
"Kenapa semua orang pada ngucapin selamat, sih?! Gue kan nggak mau nikah sama dia!" Dira mengacak-acak rambutnya kesal.
Mitha menepuk-nepuk bahu Dira. "Sabar, Dir. Terima aja kalo ternyata lo memang jodoh Pak Fadli."
***
"Annyeonghaseyo oppa~ mwohae?" Dira menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruangan Fadli. Dilihatnya bosnya itu sedang sibuk berkutik dengan laptop dan beberapa berkas yang berserakan di meja.
"Kalau ngomong yang jelas. Saya nggak ngerti tadi kamu ngomong apa."
Dira nyengir. "Hehe. Maaf, maaf. Lagi ngapain, Pak?"
Fadli mendongak sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap layar laptopnya. "Lagi nyangkul sawah," jawabnya dengan nada jutek.
"Saya boleh masuk?"
"Hm."
Dira membuka pintu ruangan Fadli, menutupnya kembali lalu melangkahkan kaki menghampiri bosnya. Jika dilihat-lihat lebih jelas, laki-laki itu memang tampan. Dira jadi merasa sayang jika menolak laki-laki tampan macam bosnya. Kapan lagi kan, ada laki-laki setampan bosnya yang mau dengan makhluk titisan umbi-umbian sepertinya.
Benar kata Mitha, bosnya itu merupakan tipe-tipe suami idaman. Laki-laki itu tinggi, sangat tinggi sampai-sampai jika Dira berdiri di sampingnya merasa seperti kurcaci. Tinggi laki-laki itu 188 cm. Bentuk tubuhnya memang tidak begitu atletis, tapi masih terlihat sedikit otot-otot kekarnya. Kulitnya putih mulus, tidak ada jerawat, kutil, atau lainnya di kulit laki-laki itu. Matanya sedikit sipit, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Dan yang ia tahu, bosnya itu merupakan keturunan Tionghoa. Jadi wajar saja jika melihat kulitnya yang putih mulus begitu.
"Mau ngapain kamu kesini? Mau ngehasut saya untuk batalin perjodohan kita? Mau kamu ngehasut saya sampai bibir kamu dower, saya tidak akan membatalkan perjodohan itu. Saya tetap akan menikahi kamu." Fadli bertanya dengan suara tegasnya.
"Apa sih, sotoy banget jadi orang. Saya kesini itu karena mau ngasih kopi untuk calon suami tercinta. Cinta duitnya maksudnya. Nih, diminum. Tenang aja, nggak saya kasih sianida, kok." Dira tersenyum sambil meletakkan secangkir kopi hitam panas yang tadi ia bawa.
"Tumben baik. Saya curiga ini kopi rasanya asin." Fadli menyipitkan matanya curiga.
Dira mengibaskan tangannya. "Tenang, Pak. Nggak asin kok, saya jamin itu manis. Soalnya itu kopi dapet nyolong dari mejanya Pak Tono."
Fadli membelalakkan matanya. "Astaghfirullahal adzim, Andira. Balikin kopinya! Kualat kamu nyolong kopi orang tua!"
"Bercanda, elah," kata Dira sambil mengibaskan tangannya. "Itu saya kok yang buat. Bukan nyolong. Suwer tekewer-kewer. Tanya aja sama Mitha kalo Bapak nggak percaya. Seratus persen kopi halal! Jadi nggak usah takut sakit perut karena minum kopinya."
Fadli mengangguk singkat. "Saya percaya. Terima kasih."
"Sama-sama, bebeb." Dira mendudukkan diri di sofa yang berada di ruangan Fadli. Tubuhnya sedikit miring menghadap bosnya. "Pak, setelah saya pikir-pikir, saya nggak akan ngehasut Bapak lagi buat batalin perjodohan ini. Dan juga, apa yang saya bilang kemarin itu cuma bohongan, Pak. Jangan percaya. Saya seratus persen naksir sama laki-laki! Suwer. Yang kemarin saya cuma bohongin Bapak."
"Saya udah tau. Lagian KPopers kayak kamu mana mungkin suka sama sesama jenis. Kerjaan kamu setiap hari aja muji-muji cowok-cowok Korea. Kamu jadi jomblo ngenes juga karena terlalu mencintai—"
"Enak aja bilang saya jomblo ngenes! Saya punya pacar tau! Cuma sayang aja pacar saya adanya di Korea," protes Dira tidak terima.
Fadli menghela napas. "Jadi, intinya kamu mau terima perjodohan ini?"
Dira mengangguk.
"Kenapa?" tanya Fadli.
"Karena Bapak ganteng."
"Selain itu?"
"Karena Bapak banyak duit."
"Selain itu?"
"Enggak ada lagi. Itu aja alasan saya."
Fadli manggut-manggut paham. "Oh. Tapi kamu suka sama saya?"
"Sedikit. Eh, nggak. Eh nggak tau deng." Dira menggelengkan kepalanya kemudian menyengir.
Fadli geleng-geleng kepala. Kini fokus laki-laki itu sudah sepenuhnya pada Dira. Kedua tangannya dilipat di atas meja, tatapannya tertuju pada gadis bertubuh mungil yang duduk anteng di sofa sambil melempar cengiran lebar.
"Andira," panggil Fadli dengan suara pelan.
"Iya Pak?"
"Setelah kita menikah, kamu siap, saya buat jatuh cinta sama saya untuk selamanya?"
***