Wira memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Dengan jemari yang memijat pelipisnya, ia menghela napas panjang.
“Semua ini karena wanita keras kepala itu,” ucapnya nyaris berbisik. Jika bukan karena Nadin yang mengiyakan agenda acara kantor Pak Hakim dan memintanya harus datang lebih pagi.
“Apa ke depannya jadwal Bapak akan berubah lebih pagi seperti hari ini?” tanya sopirnya yang membuat Wira menatap tajam ke arah spion tengah.
“Saya masih waras untuk tidak merubah jadwal saya,” balas Wira tegas.
Perjalanan berlangsung dalam diam, karena sopirnya juga memilih fokus pada jalan di depannya daripada membahas lebih lanjut mengenai jadwal dengan Wira. Sejak pertama kali ia bekerja dengan Wira, baru kali ini ia mengantar Wira ke hotel lebih pagi dari biasanya.
Begitu sampai di hotel, Wira sudah melihat ada sekitar 3 satpam yang berjaga di pintu masuk hotel untuk mengatur tamu yang datang. Keadaan hotelnya juga entah mengapa terlihat lebih rapi dan eyecatching. Saat jemarinya menyentuh pohon replika di tengah sofa melingkar, sudah tak ada lagi debu yang ia rasa saat menyentuh salah satu daunnya. Padahal biasanya, pohon itu sering berdebu, dan sering dilewatkan oleh petugas kebersihan.
“Pak, yang itu masih belum bersih!”
“Yang itu juga, Pak!”
“Nah yang di sana juga perlu dibersihkan ya, Pak!”
Wira menolehkan tajam saat mendengar suara cerewet pagi ini. Nadin terlihat begitu sibuk mondar-mandir dan mengarahkan petugas kebersihan.
“Terlihat senang sekali padahal mengerjakan hal yang sia-sia,” komen Wira sambil memperhatikan ekspresi wajah Nadin yang terlihat senang dari jauh.
“Anda sudah datang, Pak.”
Wira berdeham pelan mendengar sapaan Rizal yang terdengar cerah pagi ini. “Puas?” tanya Wira.
Rizal tertawa kecil kemudian mengangguk cepat. “Sepertinya cara Nadin cukup efektif untuk membuat Bapak datang ke hotel lebih awal.”
Wira melirik Nadin yang jauh sibuk di sana kemudian kembali menatap Rizal tajam. “Jangan terlalu berharap jika kamu tidak ingin kecewa.”
Rizal mendengus sebal. “Bapak mau ke ruangan sekarang? Biar saya buatkan kopi.”
“Kamu atur di sini saja. Minta Nadin ke ruangan saya dan bawakan kopi.”
“Apa?” tanya Rizal.
“Kurang jelas ucapan saya?”
“Kenapa harus Nadin? Tugas dia kan―”
“Melayani dan membantu saya,” jawab Wira sambil berlalu pergi tanpa mau mendengar balasan Rizal.
***
“Buatkan kopi?” ulang Nadin saat Rizal memberikan perintah padanya.
“Iya, dia minta kamu yang buat.”
“Terakhir saya buatkan Pak Wira malah marah-marah karena saya masuk sembarangan ke ruangannya, terus sekarang minta saya yang buat lagi?”
“Pak Wira tidak akan marah lagi karena sekarang dia sudah sampai. Jadi dia nggak akan marah kalau kamu masuk ke ruangannya.”
“Mas Rizal yakin?”
Rizal tersenyum simpul karena Nadin yang masih ragu. “Yakin. Sana, nanti Pak Wira malah akan marah kalau kamu terlambat membawakannya secangkir kopi.”
Nadin menghela napas panjang. “Baiklah. Saya titip sudut selatan sana. Setelah selesai dengan Pak Wira, saya akan segera turun.”
“Kamu sudah sarapan?” tanya Rizal sebelum Nadin sempat melangkah mundur.
“Emm belum Mas. Nanti saya akan sarapan saat sudah ada waktu break.”
Rizal mengangguk singkat dan Nadin pun pergi dari hadapannya. Wanita itu segera masuk ke dalam lift. Begitu sampai ia langsung menuju pantry, mengambil cangkir khusus beserta kopi.
Nadin sudah tau takaran kopi yang disukai Wira, karena Rizal pernah memberitahunya. Wira menyukai kopi yang pahit dan memiliki aroma kuat. Masalahnya adalah, kopi yang sudah digiling habis, sehingga Nadin perlu mengeluarkan alat penggiling kopi dan biji kopinya.
“Bikin kerjaan aja, deh.”
Setelah mendapatkan gilingan kopi yang cukup, Nadin mulai menuangkan air panas dan mengaduknya dalam cangkir putih.
“Permisi,” ucap Nadin sambil mendorong pintu ruang kerja Wira dengan sikunya. Dengan sok sibuknya, Wira berpura-pura tak menyadari kehadiran Nadin.
“Pak!” panggil Nadin setelah meletakkan secangkir kopi untuk Wira.
“Oh, sudah datang rupanya.” Wira melepaskan pulpennya dan mengangkat kepala, menatap Nadin. “Tidak pakai gula, kan?”
“Tidak, Pak. Kalau begitu saya permisi ya, Pak.”
“Mau ke mana?” tanya Wira membuat Nadin kembali berdiri di tempat semula.
Nadin termangu seketika. Mungkinkah Wira ingin membahas mengenai apartemen? Mungkinkah pria itu akan menyuruhnya pergi mencari apartemen lain?
Tidak boleh terjadi. Nadin tidak akan membiarkan Wira semena-mena menendangnya. Lagi pula untuk apa Nadin takut? Ia mendapat apartemen itu langsung dari CEO TM Group. Posisi Wira tidak ada apa-apanya dengan Pak Wisnu.
Nadin meringis kecil. “Ke bawah, Pak. Masih ada yang perlu saya cek kembali untuk persiapan acara nanti malam.”
“Tolong kamu rapikan dulu berkas yang ada di sofa sana.”
“Apa?” bingungnya. Nadin menolehkan kepala. Melihat tumpukan berkas yang ada di sofa ruang kerja Wira. Entah berkas apa itu, Nadin tidak peduli. Persiapan acara Pak Hakim adalah prioritasnya kini, karena itu adalah klien pertama yang berhasil ia dapatkan.
“Saya bantu panggilkan OB ya, Pak?”
“Memang saya ada minta kamu panggil OB?”
“Tidak, Pak.”
“Kalau begitu kerjakan, dan jangan banyak komplain.”
Nadin menghela napas pasrah. Dengan gontai ia mendekati sofa dan mulai merapikan berkas di sana.
“Jangan lupa semua berkas itu kamu masukkan kembali dalam gudang berkas. Rapikan sesuai subjek dan tahunnya.”
Nadin memilih membungkam bibirnya. Jika ia buka suara, sudah pasti ia akan memaki Wira yang suka seenaknya memerintah.
“Jika sudah selesai tolong kamu cek dan periksa laporan keluhan klien tahun 2020 yang ada di gudang berkas. Saya butuh segera, jadi kerjakan dengan cepat,” lanjut Wira yang membuat Nadin sontak menoleh tajam ke arah Wira.
“Bukannya saya mau nolak Pak, tapi saya juga bertanggungjawab untuk acara nanti malam. Masih banyak yang harus saya kerjakan, jadi saya mohon sama Bapak―”
“Saya tidak bisa mengabulkan permohonan,” potong Wira cepat. “Bukankah main job kamu adalah membantu saya?”
Nadin menghela napas panjang. “Tidak. Bapak tidak salah.”
“Kalau begitu keluar.”
Sepertinya Nadin perlu membuka hati lebih lebar lagi untuk mendapatkan kesabaran yang lebih banyak karena menghadapi sikap Wira.
***
Nadin akhirnya baru bisa menghela napas lega saat acara kliennya sudah selesai berlangsung di dalam room Kamboja. Kini waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Klien kali ini memang mengambil waktu di antara pukul 7-10 malam.
Sambil menatap beberapa OB yang sedang merapikan dekorasi ruangan, Nadin duduk di kursi hitam seorang diri. Jika ia melihat sekelilingnya, hanya ialah wanita seorang yang masih tersisa. Sisanya adalah karyawan pria yang memang bertugas untuk bersih-bersih.
Nadin menenggak habis air mineral yang ada di botol. Entah karena terlalu haus atau ia sudah lupa kapan terakhir kali ia minum. Tangan kanannya segera menyentuh perutnya yang berbunyi dengan kencang.
Dengan helaan napas panjang. “Gue bahkan baru makan pie kecil doang tadi siang. Pak Wira bener-bener buat gue kerja gila sendirian.”
“Mba, kok belum pulang?”
Nadin menolehkan kepalanya, menemukan salah satu karyawan paruh baya mendekatinya. “Oh, sebentar lagi, Pak. Saya nggak enak ninggal pergi kalau ruangannya belum rapi dan bersih.”
“Ditinggal aja, Mba. Ini sudah biasa kok kami bersih dan rapikan, jadi Mba tidak perlu khawatir.”
Nadin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dengan tak enak ia bangkit berdiri. “Bapak dan yang lain jangan sampai lupa makan ya. Masih banyak menu makan di pantry.”
“Siap Mba, terima kasih. Mba hati-hati di jalan.”
Nadin tersenyum kecil kemudian berlalu pergi. Ia merapikan barang-barangnya yang masih berserakan di atas meja kerjanya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dengan senyum masam, akhirnya ia melangkah pergi menuju lift.
“Makan apa ya gue udah jam segini? Mie instan pasti bikin muka sebengkak babi besok,” lirihnya sambil menyentuh kedua pipinya yang terlihat di pintu lift.
Lagi-lagi ia meringis sebal mengingat sikap otoriter Wira padanya hari ini. Pria itu terlihat begitu egois dan tak mau mencoba memahaminya. Setidaknya bukankah pria itu harus mengerti bahwa tugas itu akan lebih baik dibagi daripada dibebankan pada satu orang saja?
“Hukum pasti kalau dia emang benci gue.”
***
Sesampainya di depan apartemen, Nadin justru kembali memutar tubuhnya. Ia sudah pasti tidak akan bisa tidur nyenyak jika dalam keadaan lapar. Ia harus mengisi perutnya hingga kenyang.
Nadin mengambil pop mie dan juga sebotol teh hijau yang dingin. Setelah membayarnya, Nadin langsung membuka tutup kemasan pop mie dan menuang air panas. Lebih baik makan di tempat, sehingga saat sampai unit apartemen, ia bisa segera berisitirahat. Begitulah pikirnya.
Nadin langsung membawa pop mie dan tehnya keluar, duduk di kursi yang disediakan oleh minimarket dekat apartemen.
“Langit malam ini entah kenapa kelihatan cerah banget. Andai gue bisa merasa begitu kalau di kantor. Setidaknya cukup dengan dia nggak ganggu apa yang seharusnya gue kerjain di kantor, kan?”
Helaan napas selalu keluar dengan panjang ketika ia memikirkan Elwira. “Ya, gimanapun juga dia bos yang harus gue hormati.”
“Kamu ngomongin saya?”
Suara bariton itu langsung membuat Nadin mendongak ke atas. Mulutnya terbuka saking terkejutnya melihat Elwira yang kini sudah berdiri di depannya.
“Sudah malam bukannya pulang, malah berkeliaran.”
Nadin tersenyum sinis tanpa sadar. Ia menatap pop mie miliknya yang sedang ia aduk-aduk. “Aish, langsung hilang nafsu makan,” lirihnya sebal.
“Kenapa? Nggak nafsu makan karena liat saya?” tanya Wira yang membuat Nadin enggan meliriknya.
“Bapak datang buat ngajak saya debat di sini?”
Wira berdeham pelan. “Memangnya kelihatan begitu?”
Nadin memilih diam dan tak menjawab.
Wira menarik kursi kosong dan segera duduk. “Kalau kamu nggak jadi makan, biar saya yang makan.” Wira merebut pop mie yang ada di tangan Nadin dan langsung memakannya.
Nadin menganga tak percaya. “Benar-benar,” katanya tak sanggup bicara.
“Hmm, rasanya jadi lebih enak ya ternyata karena makan di sini.”
Wira terus menyuap mie panas di genggamannya. “Minumnya mana?” tanya Wira setelah ia menelan makanannya.
“Apa?”
“Apa orang makan tanpa minum?”
Nadin menghela napas panjang. “Minum aja kalau Bapak mau.”
“Kamu kasih saya minuman bekas?”
“Kalau gitu Bapak bisa ambil sendiri, bukan?”
“Kamu nganggur, bukan?”
“Wah, benar-benar menyebalkan,” lirih Nadin pelan sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Saya bisa mendengarnya tau,” ujar Wira tajam. Nadin membiarkannya dan memilih berdiri untuk mengambilkan minuman baru untuk bosnya yang suka memerintah seenaknya.
Wira sontak mendongak dan menatap lurus Nadin yang telah kembali membawakannya minuman. “Apa kamu waras kasih saya kopi tengah malam begini?” protesnya.
“Bapak nggak pesan tadi. Mana saya tau apa yang Bapak suka?”
“Ya kan kamu bisa tanya.”
Nadin memejamkan matanya sambil merapelkan kata sabar dalam hati.
“Bawakan saya teh jasmine yang less sugar. Saya nggak mau kalori saya naik gara-gara kamu.”
“Pop mie yang dia makan bahkan lebih parah.”
“Saya bisa mendengarnya,” pungkas Wira.
“Saya memang nggak berniat berbisik,” balas Nadin dengan meninggalkan Wira beserta senyum samarnya.
Beberapa saat kemudian Nadin kembali ke hadapan Wira dengan membawakan teh jasmine yang less sugar sesuai permintaan pria itu.
“Wah, saya nggak nyangka kalau kamu akan menuruti setiap perkataan saya. Padahal saya tidak bermaksud menyuruh kamu ….”
Nadin meringis sambil mencoba tersenyum. “Ya, terserah Bapak.”
Wira tersenyum tipis melihat Nadin yang kini mengalihkan wajahnya ke arah lain.
***
“Jangan pernah bertingkah seperti sebelumnya jika kamu masih mau bekerja dengan saya.”
Ucapan Wira itu membuat Nadin mengurungkan niat membuka unit apartemen miliknya. Wanita itu menoleh dan menatap Wira. Waktu mungkin sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Suasana apartemen sudah sangat sepi, dan mereka berdua baru saja pulang setelah menyelesaikan makan malam di mini market. Ralat, hanya Wira yang makan, sedangkan Nadin hanya menontonnya dan mengeluarkan duit.
“Saya rasa Bapak tidak mabuk, bukan?”
Wira tertawa tiba-tiba. Ia bersandar pada pintu apartemennya dan bersidekap d**a. Menatap Nadin dengan tatapan lurus.
“Jangan pernah menyentuh klien yang bukan tanggungjawab kamu. Pak Hakim adalah yang pertama dan terakhir untuk kamu.”
“Ini sudah malam, Pak. Lebih baik kita obrolin lagi masalah itu besok.”
“Saya sedang tidak bercanda. Tidak perlu bersikap seolah kamu bisa menyelamatkan hotel dengan sikapmu yang sok tahu dan melewati batas.”
Bolehkah Nadin mengerutkan keningnya saat ini? “Apa? Melewati batas?”
“Iya. Saya akan membiarkan kejadian itu, tapi untuk ke depannya saya tidak akan membiarkan kamu bersikap seenaknya lagi.”
Nadin menganga tak percaya. “Saya tidak menyangka Bapak akan mengungkit itu lagi. Sampai detik ini dan sampai seterusnya, saya masih tidak bisa mengerti letak kesalahan saya. Di mananya letak kesalahan setelah closing ratusan juta untuk hotel kita?”
“Iya, itu kesalahan besar. Kamu tahu kenapa?” tanya Wira.
Nadin hanya diam saja karena sudah malas menanggapi ucapan Wira.
“Karena kamu tidak memiliki hak untuk itu,” lanjutnya.
Nadin tersenyum lirih. “Pak Wisnu pasti akan sangat merasa kecewa melihat bagaimana orang yang ia percayai adalah orang seperti Anda.”
“Begitukah? Jika benar begitu, maka saya akan sangat merasa senang jika orang yang selalu kamu kagumi itu menerima surat pengunduran diri saya.”
Wira menatap tajam kedua mata Nadin, begitupun Nadin yang membalasnya dengan tatapan yang sama.
*****