“Guys, ayo. Tiga mobil udah nunggu di bawah.”
“Ayo! Dengan senang hati saya ikut, Mbak.”
“Yeay, makan gratis!”
“Saya pasti akan ikut kalau itu menyangkut kesejahteraan perut.”
Dewi tertawa kecil melihat rekan kerjanya yang terlihat excited dengan acara makan malam bersama hari ini.
Melihat hampir seluruh rekan kerjanya sedang bersiap, ia menghampiri meja Nadin.
“Ayo, Nad. Siap-siap ya,” pinta Dewi tak sabar melihat Nadin yang masih sibuk di meja kerjanya.
“Sebentar lagi, Mbak. Aku masih ada hutang laporan ini ke Pak Wira.”
“Ya ampun, itu dikerjain lagi aja besok.”
“Nanti kalau Pak Wira nagih gimana?”
“Nggak mungkin nagih. Beliau juga pasti lupa.”
Nadin berpikir sejenak. “Aku coba tanya dulu ke Beliau deh, ya, Mbak.”
“Oke, nanti sekalian ajak Pak Wira buat nyusul ke restoran ya. Kita berangkat duluan.”
Dewi segera pergi dari hadapan Nadin begitu wanita itu mengangguk mengerti. Nadin melirik jam tangannya sekilas. Waktu sudah menunjukan pukul 5.30 sore. Wira masih terlihat fokus di ruang kerjanya, sedangkan Rizal sudah lebih dulu datang ke restoran. Lagi pula hari ini Rizal yang mengajak semua karyawan untuk makan malam bersama.
“Permisi,” ucap Nadin setelah mengetuk pintu ruang kerja Wira beberapa kali.
“Masuk,” ucap pria itu dari dalam.
Pintu terbuka, Wira mengangkat pandangannya dan menatap Nadin yang mendekat ke arah mejanya. Seharian ini ia baru melihat Nadin saat itu, karena dari pagi hingga sore ia sibuk berada di luar bersama Rizal.
Nadin berdiri di depan meja Wira. Wanita itu menatap Wira dengan tersenyum tipis. Rambutnya yang dikuncir memperlihatkan lehernya yang putih dan tulang selangkanya di balik kerah kemeja. Wanita itu melepas jasnya dan hanya menyisakan kemeja hijau dengan pita berukuran cukup besar di bagian dadanya.
“Apa Bapak sudah siap untuk pergi?”
“Apa yang lain sudah pergi semuanya?”
“Hampir seluruhnya sudah bersiap turun ke bawah menuju restoran, Pak. Jika Bapak sudah siap, saya akan minta Pak Am untuk stand by di bawah.”
“Baiklah. Sepuluh menit lagi saya keluar.”
“Baik, Pak. Terima kasih.” Nadin mundur selangkah kemudian memutar tubuhnya. Saat ia memegang gagang pintu ruang kerja Wira,
“Kamu bagaimana?”
“Saya?” tanya Nadin. “Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini, Pak. Jika sempat nanti saya akan menyusul.”
Wira mengangguk singkat. “Lanjutkan pekerjaanmu. Saya akan cek besok pagi.”
Nadin lantas undur diri. Ia kembali duduk di kursinya dan melempar asal ponselnya ke atas meja karena kesal. “Mana bisa dia basa-basi ngajak gue buat ikut makan malam bareng. Udah jelas tertulis di jidatnya kalau gue emang harus tetep kerja.”
Sudah nasibnya bekerja dengan Wira. Sikap pria itu akhirnya telah kembali seperti sebelumnya. Entah mengapa jika menyangkut hal pekerjaan, Wira benar-benar menjadi sosok yang menyebalkan. Bahkan Wisnu yang memegang dan mengawasi perusahaan induk serta anak perusahaan tak sampai seperti itu.
“Heran banget gue,” lirih Nadin dengan menghela napas panjang dan Kepalanya yang menggeleng heran.
“Saya juga heran.”
Suara dan kedatangan Wira yang tiba-tiba sontak membuat bibir Nadin membungkam rapat. “Eh, Bapak …”
“Saya akan pergi sekarang.”
“Hati-hati, Pak.”
“Kamu sungguh tetap akan bekerja?”
“Setelah selesai saya akan menyusul.”
“Jika menyusul lebih baik tidak usah datang.”
Wira memutar tubuhnya dan pergi menjauh menuju lift. Meninggalkan Nadin yang terdiam di tempatnya dengan bibir menganga. Tangannya meremas gemas. “Anak yang menggemaskan dulunya kenapa bisa jadi menyebalkan seperti itu sekarang?”
Nadin membuang napas lelahnya. Ia kembali fokus mengerjakan tugasnya yang belum sempat ia selesaikan. Sejak pagi ia disibukkan dengan pekerjaan yang sebenarnya tak perlu ia lakukan. Seperti biasa, Wira akan membuang-buang waktunya dengan meminta Nadin melakukan ini dan itu. Bahkan siang tadi ia sibuk berkeliling dengan para OB untuk mengecek kebersihan toilet. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Wira masih memegang pemenang nomor satu sebagai atasan Nadin yang paling aneh sekaligus menyebalkan.
***
“Nadin masih belum juga bisa dihubungi ya?” tanya Rizal. Para staf kompak menggeleng. Setelah melirik jam tangannya sekilas, Rizal memutuskan berdiri menyusul Wira yang sedang berada di toilet. Saat ia masuk ke dalam toilet rupanya Wira sedang mencuci tangannya di wastafel.
Mereka semua bahkan sudah berada di restoran selama satu jam lebih, tetapi Nadin belum juga menyusul untuk datang makan malam bersama. Wanita itu juga bahkan tidak mengangkat panggilan ataupun pesan yang dikirim untuknya.
“Wir.”
Wira menoleh tak senang dengan panggilan Rizal. “Lama-lama lo akhlak-less ya?”
Rizal tersenyum geli. “Harusnya kita dari dulu kayak gini ya? Nggak kaku kayak cumi kering kan jadinya.”
“Gue nggak mau. Kaku aja lo udah cukup ngeselin, apalagi sikap lo yang biasanya, gue nggak sanggup.”
“Mana Nadin?” tanya Rizal mengalihkan topik pembicaraan.
“Lo pikir gue emaknya? Dari tadi juga yang lain udah coba hubungi dia, tapi nggak pernah diangkat.”
“Ya, gimana dong? Bukannya lo harus tanggung jawab?”
“Gue?” Kening Wira mengerut tipis.
“Iya, lo. Lo coba cek ke hotel sekarang, siapa tahu dia masih ada di sana. Nanti kalau sampai dia pingsan karena lupa makan, siapa yang bakal disalahin?”
“Dia sendiri lah. Kan dia yang nggak mau ke sini.”
“Coba kasih tahu gue sekarang, saat lo masih di sana tadi gimana cara lo ngajak dia buat dateng ke sini?”
“Jika menyusul lebih baik tidak usah datang,” jawab Wira jujur.
“Cek ke hotel sekarang.”
Kening Wira mengerut sempurna. Matanya bergerak sebagai bentuk komunikasinya dengan Rizal.
“Gue serius,” ujar Rizal menjawab pertanyaan Wira yang tak terucap.
***
Wira memijat pelipisnya yang terasa pusing. Karena Rizal yang terus mendesaknya untuk melihat keadaan Nadin di hotel, ia benar-benar kembali ke hotel. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ia sampai di lokasi, ia tak melihat ada sosok Nadin di meja kerjanya. Bahkan sejauh matanya memandang ke tiap sudut ruang kerja mereka, tak terlihat batang hidung Nadin.
“Tapi ini masih hangat,” kata Wira yang menemukan setengah isi kopi hitam masih ada di atas meja Nadin. Komputer kerja yang digunakan wanita itu bahkan masih menyala dan memperlihatkan apa yang sedang Nadin kerjakan.
“Ke mana dia sebenarnya?” tanya Wira bermonolog seorang diri. Ia kembali mengelurkan ponselnya dan mencoba menghubungi Nadin. Getaran ponsel di meja itu membuat Wira menghela napas panjang. Nadin entah ada di mana, dan wanita itu pergi tanpa membawa ponselnya.
Wira mencoba mencarinya ke semua toilet yang ada di sana, tetapi tak kunjung menemukannya. Saat ia ingin berbalik, satu ruang penyimpanan gudang berkas membuat Wira berhenti sejenak. Ruang itu biasanya dalam kondisi gelap, tetapi kini lampu ruangan itu masih menyala. Kaki Wira mendekat tanpa ragu. Berpikir jika Nadin ada di dalam sana.
Wira membuka pintunya perlahan. Ia menyusuri tiap-tiap rak yang ada. Langkahnya kembali berhenti saat melihat sosok Nadin yang tertidur di antara rak dengan posisi duduk dan posisi kepala yang menghadap ke arahnya. Wanita itu benar-benar memejamkan matanya. Wira menggeleng heran. Bagaimana bisa Nadin ketiduran dalam ruang penyimpanan gudang berkas?
Dengan tersenyum geli sambil terheran-heran, Wira melangkah mendekat dengan hati-hati. Pria itu duduk tepat di samping Nadin. Memperhatikan wajah Nadin yang tertidur. Apakah selelah itu hingga ketiduran di tempat yang tak seharusnya?
“Nadin,” panggil Wira.
nadin masih belum mau merespons apalagi membuka kedua matanya.
“Nadin,” panggil Wira sekali lagi.
“Hmm?”
Dengan mata yang masih terpejam rapat, Nadin mengangkat kepalanya. Mungkin dalam setengah sadarnya, ia ingin tubuhnya bangun, tetapi matanya malah tetap terpejam sempurna.
“Nad―” Ucapan Wira langsung berhenti saat wajah Nadin mendekat ke arahnya. Bibir mereka nyaris saja bersentuhan jika saja kedua tangan Wira memegang wajah wanita itu.
Embusan napas wanita itu menyapu sebagian wajah Wira. Pria itu mematung di posisinya. Wajah Nadin terlalu dekat dengannya. Matanya beralih menatap bibir tipis Nadin yang sedikit terbuka. Wira menggelengkan kepalanya, mencoba memungut sisa-sisa pikiran jernihnya.
“Hei, Nadin.”
Nadin tersenyum tiba-tiba .
“Kenapa kamu senyum seperti itu?”
“Diamlah, aku mengantuk.”
“Apa?” Kening Wira mengerut sempurna mendengar ucapan Nadin. Ekspresi kagetnya sontak berubah menjadi tersenyum geli karena mendengar kicauan Nadin dalam tidurnya yang aneh. Wanita itu tertidur, tetapi seperti orang yang sedang mabuk.
Wira meletakkan kepala Nadin ke atas bahunya. Beberapa menit berlalu, Wira masih diam di posisinya. Ia bahkan tak bergerak sedikit pun walau sudah merasakan kesemutan di bagian tangan dan kakinya. Pinggangnya juga pegal dan pundaknya sakit. Sesekali ia melirik ke arah wajah Nadin, menengok apakah ada kemungkinan bagi wanita itu untuk segera bangun. Namun rupanya sama sekali tidak ada tanda-tanda jika Nadin akan segera bangun.
Seharusnya Wira lebih berusaha agar Nadin bangun. Namun lelaki itu seolah pasif dan hanya menunggu. Entah mengapa ia ingin tetap dalam posisi seperti itu. Ia cukup merasa senang dijadikan sandaran oleh Nadin. Bibirnya tersenyum tanpa sadar. Berdua dengan Nadin dalam posisi seperti itu sudah cukup untuk membuat bibirnya tersenyum.
***
Nadin membuka matanya perlahan. Ia menggeram pelan karena tanpa sadar benar-benar tertidur dengan pulas saat ia masih ada di ruang penyimpanan berkas. Merasakan adanya benda empuk yang menopang kepalanya, membuat Nadin bangkit duduk. Mulutnya sontak terbuka dengan lebar saat sadar ia baru saja terbangun dengan posisi kepalanya yang tertidur di atas paha Wira. Pria itu juga sedang memejamkan matanya dengan posisi duduk.
Nadin meringis sambil merutuki kecerobohannya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Wira ada bersamanya di ruang penyimpanan berkas? Padahal sebelumnya pria itu bersama dengan staf yang lain makan malam di restoran.
“Pak! Pak Wira!”
“Hm, kamu sudah bangun?” tanya Wira dengan santainya sambil membuka kedua matanya perlahan. Karena
“Bapak sejak kapan di sini? Kenapa saya bisa tidur di paha Bapak? Bapak nggak apa-apain saya, kan?”
Telunjuk Wira langsung mendorong kening Nadin. “Kamu ini, bukannya berterima kasih malah berpikir yang tidak-tidak.”
“Pak, udah jam 11. ayo kita pulang.”
“Saya malah hampir bersiap jika kita benar-benar menginap di sini.”
Mata Nadin kembali membulat. “Bapak, ih. Jangan aneh-aneh. Ayo, kita pulang sekarang.”
Nadin berdiri dan menggandeng tangan Wira agar mereka berdua bisa segera keluar dari hotel. Bagaimana jika ada orang yang melihat dan salah paham pada mereka? Bagaimana jika ada orang yang mengira mereka telah berbuat m***m?
“Nadin, berjalanlah dengan perlahan,” ujar Wira dengan kondisi masih setengah sadar.
Nadin tak mendengarkan ucapan Wira. Wanita itu terus menggandeng tangan Wira dengan erat. Sampai di mejanya, ia segera membereskan seluruh barangnya. Ia membawa tas serta ponselnya. Tangannya kembali menggenggam tangan Wira dan menuju ke lift. Sampai di lobi, ia langsung membawa pria itu keluar dari hotel. Sementara tangan kirinya yang menggandeng tangan Wira, tangan kanannya berusaha menghentikan taksi yang menuju ke arah mereka.
“Kita pulang naik taksi saja ya, Pak.”
Sebuah taksi berhenti di depan mereka berdua. Nadin masuk lebih dulu tanpa melepaskan genggamannya dengan tangan Wira. Entah apakah ia menyadari apa yang telah ia lakukan itu.
Kendaraan roda empat itu mulai melaju dengan kecepatan normal menuju apartemen mereka. Nadin baru bisa menghela napas lega karena ia dan Wira benar-benar pulang ke apartemen. Beruntungnya ia terbangun, dan beruntungnya tidak ada yang menemukan mereka belum pulang dan keluar dari kantor mereka di hotel.
“Nadin.”
Nadin menolehkan kepalanya dengan cepat dan menatap Wira dari samping. “Ya, Pak?”
“Mau sampai kapan kamu pegang tangan saya?”
“Apa?” Kening Nadin mengerut bingung. Ia mengikuti arah mata Wira yang perlahan bergerak ke bawah. Nadin sontak menarik tangannya cepat. Baik Nadin maupun Wira sama-sama sibuk memandang ke arah luar jendela. Menatap jalan besar yang sudah sepi dari lalu lalang kendaraan.
***