Six | Let Me Do

3694 Words
“Makasih, Pak.” Nadin membayar ojeknya setelah sampai di supermarket. Sejak datang ke Malang ia belum sempat membeli perlengkapan untuk di apartemennya. Nadin menatap supermarket tersebut untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia masuk dengan langkah mantap. Membeli seluruh kebutuhannya yang belum sempat ia penuhi sejak ia datang ke Malang. “Yang paling urgent adalah underwear. Dari semua barang berharga, kenapa harus koper isi underwear yang hilang? Gara-gara itu, tiap malem gue harus selalu―” ringis Nadin tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia langsung mendorong troli belanjaannya dan menelusuri tiap rak-rak sesuai kebutuhannya. “Ribet banget sih belanja sendiri. Gue bingung mau beli apaan. Banyak barang jadi bikin gue pengen belanjain semuanya. Apa telepon Vera aja? Eh, jangan deh, nanti gue malah kena sindir.” Rupanya belanja seorang diri cukup sulit baginya. Ia terlalu terbiasa mengandalkan Vera untuk membantu dirinya mencari kebutuhannya setiap pergi ke supermarket. Sosok Vera terkadang berkamuflase menjadi sosok ibu yang mengurus putrinya. Tapi Nadin, terlalu sering berkata kasar dan cuek pada sahabat satu-satunya itu. Nadin kembali memasukkan ponsel ke dalam saku outernya. Kali ini ia berhenti di samping rak kopi. Kebutuhan utamanya yaitu underwear langsung menjadi sasaran utamanya, kemudian beberapa cemilan dan alat kebersihan. Kedua mata Nadin meniti tiap-tiap merek kopi yang berjajar di depannya tanpa sadar melepaskan tangan pada troli belanjaannya dan membuat benda itu terus maju perlahan. “Gue pasti butuh kafein buat bertahan di hotel sialan itu. Gue butuh kafein yang banyak biar gue masih bisa waras berhadapan sama bos paling aneh sedunia.” Suara tubrukan dan benda berjatuhan langsung membuat Nadin menoleh cepat. Ia membulatkan matanya kala melihat troli belanjaannya yang sudah terjatuh di sana. Semua belanjaannya berhamburan ke lantai. Bahkan pengunjung yang ada di sana juga hanya sibuk memperhatikan, bukannya membantunya memunguti belanjaannya. Nadin langsung mengembalikan toples kopi di tangannya dan berlari segera untuk menghampiri belanjaannya itu. “Maaf, maaf. Saya nggak sadar kalau trolinya bisa jalan sendiri begini dengan lancar,” ujarnya dengan meringis pada siapa pun yang mungkin jadi korban trolinya. Karena ada satu troli dengan pemiliknya yang belum sempat Nadin lihat wajahnya berada paling dekat dengan letak trolinya yang jatuh saat ini. Tangan Nadin terulur maju untuk memungut kotak transparan yang berisi underwear miliknya. Saat tangannya itu ingin mengambil, sepasang sepatu snikers berwarna hitam berdiri tepat di depan kedua tangannya. Nadin lantas mengangkat wajahnya ke atas. Sebuah wajah yang teramat ia kenali. Sepasang mata tajam dan alis tebal yang begitu ia tahu. Dan bibir yang sering memberikannya senyum remeh padanya. “Pak Wira?!” “Malang pasti kota yang kecil, sampai kita bisa bertemu di sini,” ucapnya dengan wajah datar. “Bapak ngapain di sini?” tanya Nadin sambil beranjak berdiri. “Menurutmu?” Nadin menghela napas kasar mendengar Wira yang hanya bertanya balik padanya. Benar, Nadin yang salah karena sudah pasti Wira datang ke supermarket untuk berbelanja. Ia menoleh dan melirik troli milik Wira. Bola matanya hampir saja menggelinding melihat isi troli milik Wira yang hampir penuh dengan … mie instan. Wira langsung pergi dari hadapan Nadin dan menuju rak kopi. “Untuk apa Bapak belanja mie instan sebanyak itu?” Wira melirik sedikit ke kiri. Rupanya gadis itu mengikuti kepergiannya. “Bukan urusan kamu.” “Itu bukan untuk Bapak makan sendiri, kan?” Nadin sontak berhenti begitu wajah Wira menoleh padanya tiba-tiba. “Pedulikan saja urusanmu sendiri. Jangan pedulikan urusan orang lain,” balas Wira tajam. Nadin sontak bergumam pelan, “Emang dia pikir gue juga mau sok peduliin dia?” “Kalau memang niat bergumam, harusnya kamu jangan biarkan orang lain mendengarnya.” “Udah terlanjur ya Pak,” balas Nadin dengan tersenyum kaku. “Pergi sana,” perintahnya. “Kalau Bapak lupa sepertinya saya bisa bantu ingatkan kalau ini adalah supermarket tempat orang berbelanja. Jadi Bapak tidak bisa memerintah seenaknya orang lain untuk pergi. Ini bukan TM Hotel Malang.” Wira tersenyum sinis. Tangannya bersidekap menatap Nadin yang berbicara dengan berdirinya. “Bapak sendiri yang pernah bilang ke saya untuk bersikap profesional. Jadi saya harap Bapak tidak tersinggung,” ujar Nadin dengan tatapan yang menyipit pada Wira. Kedua mata Wira mengikuti gerak-gerik Nadin yang sepertinya akan pergi, namun ia salah saat tubuh Nadin justru semakin mendekat ke arahnya. “Permisi, tapi Bapak menghalangi kopi yang ingin saya beli.” Masih dengan posisi kedua kaki di tempat semula, Wira terpaksa menarik punggungnya agar wanita itu bisa mengambil kopinya. “Terima kasih atas kerja sama Bapak,” ucap Nadin dengan tersenyum manis yang terlihat terpaksa. *** Hampir lima belas menit Nadin menunggu di pinggir jalan, tetapi tidak ada taksi yang lewat. Tidak mungkin ia menggunakan ojek lagi, karena barang belanjaanya cukup banyak. Ada sekitar 5 plastik besar di samping kakinya. Nadin menggosok tangannya yang terasa dingin. Cuaca malam ini rupanya cukup dingin dan berangin. Saat ia melihat layar ponselnya, rupanya sudah hampir pukul setengah sepuluh. Saat berada dalam penantiannya, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Begitu kaca mobil tersebut turun dan ia bisa melihat siapa pengemudi mobil itu membuat Nadin menahan napasnya untuk beberapa detik. Takdir atau apa? Kenapa harus bertemu Wira lagi? “Butuh tumpangan?” tanya Wira Nadin membuang wajahnya dan berpura-pura tak mendengar tawaran Wira. “Kamu pasti belum pernah dengar, jika di jalan ini pernah ada yang menjadi korban pembunuhan.” Nadin sontak membulatkan matanya dan menatap Wira dengan serius. “Di jalan ini pernah ada kasus pembunuhan. Sampai sekarang pembunuhnya belum juga tertangkap. Sepertinya sih sedang bersembunyi untuk menunggu korban selanjutnya.” “Apa?” Mata Nadin semakin membulat sempurna. “Bapak yang bener? Kapan kejadiannya? Siapa korbannya dan ada berapa?” “Kamu penasaran? Kenapa nggak kamu tunggu aja di jalan ini? Sekalian kamu tunggu taksi, bukan?” Nadin mengerutkan keningnya dalam. “Jadi maksud Bapak ….” Nadin menjeda kalimatnya beberapa detik, “Saya sekalian menunggu―” Nadin ingin melanjutkan kalimatnya, namun tak sanggup. Ia terlalu speechless dengan cerita yang diberikan Wira. “Oh, ada satu lagi informasi penting. Kabarnya si pelaku mulai melacak korbannya dari pukul 9 sampai tengah malam di jalan-jalan yang mulai sepi, termasuk jalan ini sekarang.” Sepertinya cerita Wira terlalu mengerikan untuk Nadin dengar, karena nyatanya wanita itu sedikit bergetar. Ia sedang berada jauh dari keluarga dan sahabatnya. Ia seorang diri di Malang, sehingga sangat menakutkan membayangkan kejadian seperti itu. “Karena kamu menolak tawaran saya tadi, maka saya harus pergi sekarang. Semoga beruntung jika ada taxi yang lewat,” ujar Wira dengan menutup kaca jendela mobilnya. “Apa? Tunggu! Pak Wira! Pak!!” teriak Nadin saat mobil pria itu benar-benar pergi dari hadapannya. Begitu mobil Wira benar-benar pergi dan menghilang dari pandangannya, suasana mendadak jadi kembali sunyi. Hanya ada suara samar serangga yang terdengar. Nadin mendadak bengong menatap jalan di depannya untuk beberapa saat. Tersadar akan dirinya berdiri, ia langsung merapatkan jaketnya. “Pembunuhan? Di jalan ini?” lirihnya yang jadi mengkhawatirkan dirinya sendiri karena cerita Wira yang benar-benar meninggalkan rasa takut untuknya. “Dasar bos sinting! Bisa-bisanya dia ninggalin gue setelah cerita horor kayak gitu?!” seru Nadin dengan menendang angin untuk melampiaskan kekesalannya karena Wira.   *** Wira menenggak kaleng sodanya hingga setengah, kemudian kembali mengempaskan tubuhnya di sofa. Ia mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata. Ia kembali menenggak habis sodanya kemudian meremas kaleng itu hingga tak berbentuk. Seluruh barang belanjaannya masih berantakan di lantai. Suara kunci yang terdengar terburu-buru hingga pintu yang tertutup dengan kencang dari tetanggannya membuat Wira membuka matanya. “Apa harga apartemen ini masih kurang mahal sampai bisa denger suara pintu tetangga?” kesalnya bermonolog. Teringat akan sesuatu, Wira mengambil ponselnya yang tergeletak di sampingnya, kemudian menelepon nomor terakhir di daftar panggilannya. “Halo. Gimana Pak?” tanya Wira to the point pada seseorang di seberang sana. “Saya sudah mengantarkannya sampai tujuan sesuai yang Bapak inginkan.” “Bapak tidak salah orang kan?” “Tidak, Pak. Jaket krem dan celana jeans. Berdiri di pinggir jalan dengan 5 plastik belanjaan.” “Oke, kerja bagus. Saya akan segera transfer ke rekening Bapak.” Wira mematikan ponselnya dan kembali melempar ponselnya ke sofa asal. “Ya, setidaknya itu bayaran karena berhasil buat dia takut,” ujar Wira sambil menahan senyum gelinya. *** Nadin membuka matanya perlahan sambil mencoba mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat ia melihat dengan jelas di layar ponselnya tertera pukul 08.00 WIB. “Hwaaaa!!!” Nadin berteriak kencang kemudian langsung bangkit berdiri menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi. Tak perlu menunggu lama untuk Nadin keluar dan segera memilih pakaiannya yang menggantung. Ia menyisir rambutnya dan menguncir rambutnya asal. Memoles bedak dan lipstick dengan gerakan cepat. “Apa lo nggak bisa bangun lebih siang dari ini, Na?” ringisnya. Ia bergerak cepat ke pintu apartemen dan memakai sepasang heels hitam di kedua kakinya. Ia bahkan tak sadar membanting pintu dan menguncinya dengan cepat. Sesampainya di hotel, Nadin baru bisa menghela napas lega. Ia mengatur napasnya yang memburu. Beruntung ia langsung menemukan ojek saat keluar apartemen, sehingga ia bisa segera sampai Dengan langkah gontai, Nadin kembali melangkah maju dan masuk ke dalam lift. Ia berhenti tepat di lantai bagian eksekutif dan administrasi hotel berada. Saat melihat beberapa kursi dan meja masih tak berpenghuni, detik itu juga kedua bahunya melemas. Ia lupa jika saat ini ia bekerja di TM Hotel Malang. Harusnya ia tak perlu terburu-buru jika datang terlambat. Karena rekan termasuk bosnya pun selalu datang semau mereka sendiri. “Mbak Nadin baru datang juga rupanya?” Nadin menoleh dan menemukan Dewi yang menghampirinya. Nadin memberikan senyum kikuk. “Iya, Mbak, saya kesiangan tadi. Nggak taunya masih banyak yang belum datang juga ya.” “Ya beginilah keadaan di sini, Mbak. Sebenarnya saat awal dulu, semua karyawan patuh dengan perintah Pak Wira, tapi sejak Pak Wira seakan membiarkan semua karyawannya bertindak, mereka jadi besar kepala dan Pak Wira tetap membiarkan itu semua sampai akhirnya seperti ini.” “Kenapa dia berubah?” tanya Nadin pelan sambil menatap ruang kerja Wira dari luar. “Ada rumor yang bilang kalau Pak Wira berubah karena keluarganya yang hancur,” jawab Dewi yang rupanya mendengar pertanyaan Nadin yang hanya bermonolog. “Tapi kita semua nggak ada yang tau pasti sampai sekarang. Pak Wira terlalu tertutup, bahkan kita nggak ada yang boleh sembarang masuk ke ruang kerjanya.” ‘Wira yang aku kenal punya keluarga lengkap yang sayang sama dia. Kalau memang rumor itu benar, berarti dia bukan Wira yang aku cari selama ini. Wira yang dulu dan Wira yang ada di dekatku saat ini adalah 2 orang yang berbeda.’ “Mbak Nad! Kamu bengong?” “Eh, nggak kok Mbak. Saya balik ke meja ya, makasih untuk infonya,” ucap Nadin. “Nggak masalah. Setidaknya kamu juga perlu tau apa yang sebenarnya terjadi di hotel kita ini.” Nadin hanya membalas dengan anggukan kecil. *** Nadin otomatis berdiri dari duduknya saat Wira keluar dari ruang kerjanya, disusul oleh Rizal. Setengah hari sudah berlalu, namun tak ada yang bisa Nadin kerjakan. Wira mengabaikan dirinya seperti biasa. Seolah ia tak terlihat di mata pria itu. “Kamu tidak perlu ikut, Nadin,” bisik Rizal pada Nadin yang kini berjalan di sampingnya. “Saya di sini untuk kerja, Mas. Saya nggak betah kalau cuma duduk manis sambil tarik napas doang.” Rizal tersenyum geli. “Yang paling penting adalah gaji kamu ditunaikan sesuai tanggalnya.” “Saya berasa berdosa kalau makan gaji buta,” balas Nadin dengan menatap tajam kepala Wira yang dipenuhi rambut hitam yang tersisi rapi dan kaku. “Mungkin seharusnya kamu balik ke meja kamu sekarang.” “Nggak mau, Mas,” balas Nadin berbisik. “Keras kepala.” “Zal, saya perlu alasan kuat untuk bikin Pak Hakim membatalkan booking acaranya bulan depan.” Dengan cepat Wira memutar tubuh dan menyebabkan sebuah kepala menubruk tubuh depannya. “Aw!” ringis Nadin sambil mengusap keningnya. “Ngapain kamu ngintilin saya?” tanya Wira tak suka. Nadin mundur selangkah kemudian mengangkat pandangannya. “Saya mau kerja,” jawabnya sedikit dingin. Ia masih ingat bagaimana menyebalkannya Wira yang meninggalkannya seorang diri di pinggir jjalan dengan cerita horor yang membekas. “Kerjamu adalah duduk di kursi, dan jangan merepotkan saya.” “Siapa juga yang akan merepotkan Bapak? Saya tadi denger dari Mba Dewi kalau Bapak mau ketemu calon customer besar.” “Lalu apa hubungannya denganmu?” “Saya ingin membantu.” “Saya pastikan tidak akan butuh bantuanmu.” “Tapi saya ingin membantu, Pak.” “Cukup satu kali saya katakan, kembali ke kursimu dan diam di sana,” ujar Wira yang kemudian melengos pergi dari hadapan Nadin. Nadin mengetatkan rahangnya dan berjalan cepat mendahului Wira. Membuat Wira yang melihatnya langsung membulatkan mata. Ketika tangannya hendak menahan tubuh gadis itu, Rizal dengan cepat menghalangi dengan berdiri di antara Wira dan Nadin. Wira sontak menghentikan langkahnya. Membiarkan Nadin dan Rizal melangkah jauh ke depan. Ia memijat pelipisnya dan menghela napas panjang. Rupanya wanita itu bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dan ia harus mencari cara lain untuk menyingkirkan gadis itu agar tak ada lagi yang bisa mengganggu dirinya untuk menghancurkan hotel yang saat ini berada di bawah kendalinya.   *** Hampir lebih dari 20 menit pertemuan inti dari Pak Hakim selaku Founder Cinta Peduli bersama dengan Wira sepertinya berjalan tanpa hasil. Wira tetap berpegang pada keyakinannya dan tak dapat menerima negosiasi dari Pak Hakim. Sudah Nadin duga, Wira sengaja melakukannya. Padahal Nadin sebelumnya sudah mengecek jadwal akhir bulan, ballroom mereka belum ada booking dari customer mana pun, sehingga seharusnya acara Pak Hakim bisa terlaksana di TM Hotel Malang. “Kami mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, Pak Hakim,” terang Wira dengan menunjukkan raut menyesal. “Saya datang langsung ke sini untuk bertemu dengan Pak Wira karena saya pikir kita bisa menemukan solusi yang terbaik di sini. Saya tidak menyangka jika akan tetap mendapatkan hasil sama yang cukup mengecewakan.” “Jika saja kami memiliki cukup banyak ruang agar Bapak dapat menyelenggarakan acara Bapak dan segenap karyawan, kami pasti juga akan merasa bangga.” “Mmm, Pak Wira, boleh saya izin bicara?” Nadin yang tiba-tiba bersuara langsung membuat Wira sontak menoleh dengan mata membulat was-was. “Kamu bisa sampaikan nanti. Saat ini biarkan Pak Hakim menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.” “Tidak masalah untuk saya. Sampaikan saja apa yang mau kamu bicarakan,” ujar Pak Hakim yang semakin membuat Wira menjadi waspada dengan apa yang dikatakan Nadin, “Mohon maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi saya baru saja mendapatkan info jika customer yang akan melaksanakan agenda dengan menggunakan ballroom sudah mengundur tanggal acara, sehingga Pak Hakim dapat mengadakan pesta di hotel kami.” Wira mendadak tertawa kecil sambil melototkan matanya pada Nadin. “Benarkah itu? Saya bahkan belum mendapatkan laporan itu.” Nadin balas menatap Wira dengan senyum kecilnya yang mengandung banyak arti. Oke, mungkin ia harus siapkan kemungkinan masalah yang akan ia dapatkan setelah ini. “Wah, benar, Mbak?” “Betul Pak. Bukankah ini kabar yang sangat baik dan menguntungkan bagi kita dan juga Pak Hakim?” tanya Nadin dengan mengakhiri tatapannya pada Pak Hakim, tak lupa dengan senyum simpulnya. Pak Hakim yang semula memasang wajah kecewa mendadak menaruh harapan di atas ucapan Nadin barusan. “Apakah kamu sudah memastikan dengan jelas? Tidakkah kamu keliru saat memastikannya?” tanya Wira. Nadin kembali menoleh pada Wira dan menemukan pria itu yang kini sudah menatapnya dengan tatapan tajam, tanpa ada lagi suara tawa yang semula masih pria itu berikan. Ia tahu pasti jika Wira murka padanya saat ini. Ia sudah menghancurkan rencana besar pria itu. Nadin tersenyum lebar pada Wira. “Tidak, Pak, saya sudah mengecek ke bagian administrasi. Acara sebelumnya diakhir bulan diundur, sehingga Pak Hakim bisa menggunakan ballroom diakhir bulan nanti.” “Benarkah di tanggal tersebut ballroom bisa kami gunakan?” tanya Pak Hakim. “Tentu bisa, Pak,” jawab Nadin percaya diri. “Bahkan akan kami berikan diskon 10% karena orang penting seperti Bapak sudah mau repot mendatangi kami seperti ini di sela waktu sibuk Bapak.” Nadin terus menebarkan benih-benih kesan manis pada Pak Hakim. “Mbak Nadin ini bisa saja. Kami justru senang sekali jika TM Hotel akan memberikan diskon 10% pada kami. Alasan besar saya ingin pakai hotel ini karena rekomendasi dari temannya ayah saya. Kebetulan temannya ayah saya adalah Pak Wisnu, jadi kami memutuskan untuk mencobanya.” “Wah, kalau sudah rekomendasi Pak Wisnu, maka kami juga bisa menambahkan diskon sebesar 5% loh, Pak. Lumayan sekali untuk memangkas anggaran perusahaan Bapak.” Wira lantas menoleh dan menaikkan sebelah alisnya atas keputusan mandiri Nadin yang tak berkompromi dengannya. “Wah, terima kasih banyak Mba Nadin atas bantuannya.” “Jadi kita deal, Pak?” tanya Wira ragu dengan jawaban akhir Pak Hakim. “Tentu saja Pak. Saya jadi memesan untuk 200 pack. Uang booking-nya akan segera kami transfer.” Wira tersenyum mencoba menahan luapan amarahnya yang sudah ingin meledak karena Nadin. “Pak Hakim, boleh kami mengajukan satu syarat?” “Apa itu Mbak Nadin?” “Mohon bantu promosikan hotel kami saat acara melalui media sosial ya, Pak. Bebas saja, bisa lewat media sosial perusahaan Bapak, atau langsung dari masing-masing karyawan. Kami akan sangat senang atas kesediaan Bapak.” “No problem, Mbak. Saya akan atur itu semua.” Nadin tersenyum puas. Ia segera beranjak berdiri saat Pak Hakim dengan 2 staff lainnya berdiri. “Terima kasih banyak Pak Hakim untuk hari ini. Hati-hati di jalan,” ucap Wira sambil menjabat tangan Pak Hakim. Nadin pun melakukan hal yang sama dan mengantar kepergian pria paruh baya itu sampai dengan pintu lobi bersama Wira. Mercedes benz berwarna hitam klasik itu pun pergi meninggalkan asap tipis. Nadin merekahkan senyum lebarnya dan berniat berbalik, namun urung saat menemukan kedua mata Wira menajam padanya. “Segera datang ke ruangan saya,” tegas Wira yang tak bisa membiarkan Nadin mengembangkan senyumnya lebih lama. *** “Ada apa Bapak panggil saya ke ruangan?” tanya Nadin sambil memanfaatkan kedua matanya untuk memindai seisi ruangan Wira yang baru kali ini ia masuki. Padahal sebelumnya ia mendengar desas-desus jika Wira sangat selektif membawa orang masuk ke dalam ruangannya, tapi kini ia malah dengan mudahnya memasuki ruang pribadi milik pria itu. Suara gebrakan meja yang tiba-tiba langsung membuat Nadin membulatkan mata karena terkejut. “Berani kamu menghancurkan rencana saya?” tanya Wira. Pria itu terus melangkah maju perlahan hingga Nadin ikut mundur perlahan. “Kamu adalah orang baru di sini. Saya sudah pernah peringati kamu, tapi kamu akhirnya tetap melewati batas. Kalau kamu tidak mau mengikuti rules of the game di kantor ini, saya sering katakan untuk pergi dari sini.” Nadin mengerutkan keningnya bingung. “Bapak memanggil saya ke sini karena―” “Kenapa kamu dengan kurang ajarnya berani melakukan negosiasi di depan saya? Kamu bahkan mengeluarkan diskon 15% untuk mereka? Apa kamu masih waras, hah?” “Saya hanya ingin membantu, Pak. Lagi pula angka diskon itu masih sangat wajar karena kesepakatan yang diambil oleh Pak Hakim juga banyak. Kita tidak akan mengalami kerugian hanya karena memberikan mereka diskon 15%. Lagi pula Bapak yang berbohong karena jelas-jelas di tanggal itu kita sama sekali tidak punya request,” ujar Nadin panjang lebar. “Berani kamu bicara sekali lagi, saya benar-benar akan menendang kamu dari sini.” “Saya tidak pernah butuh bantuan orang kiriman Pak Wisnu sepertimu! Jangan kamu pikir, saya diam dan saya bisa menerima sikap keterlaluan kamu seperti tadi!” Nadin mencoba mengatur napasnya saat ini. Apa yang sudah Wira ucapkan menyinggung perasaannya. Pria itu cukup keterlaluan. “Saya tidak mengerti, mengapa Bapak marah pada saya padahal saya telah membantu hotel ini kembali closing dengan nilai yang cukup tinggi. Saya juga tau kalau selama ini hotel ini sudah lama tidak menerima project dalam nilai yang besar.” Tangan Wira langsung menangkap lengan Nadin. Ia meremasnya dengan cukup kuat sehingga Nadin meringis pelan. Nadin berhenti melangkah mundur, karena punggungnya pun sudah menempel pada jendela lebar. Nadin bahkan hanya bisa fokus pada kedua mata Wira karena pria itu yang terlalu dekat dengan wajahnya. “Apapun yang mau saya lakukan pada hotel ini, itu bukan urusan kamu. Ini adalah terakhir kalinya saya membiarkan sikap kamu yang keterlaluan seperti tadi. Kalau tidak―” “Kalau tidak apa?” tantang Nadin berani menghentikan ucapan Wira yang kini menceramahinya sekaligus ingin mengancamnya. “Saya tau niat buruk Bapak sama hotel ini. Kalau Bapak pikir saya mau duduk diam, itu tidak akan pernah terjadi selama saya masih bernapas di sini.” “Saya tidak membutuhkan penolakan kamu.” “Saya juga tidak mempermasalahkan sikap aneh Bapak ini. Baru kali ini saya melihat pimpinan yang ingin merusak perusahaan yang dipimpinnya.” “Saya tidak butuh penilaian dan perbandingan dari kamu.” Nadin melepas cengkeraman tangan Wira di lengannya. Ia menyentuh lengannya yang terasa perih dengan mata yang tetap menatap lurus ke arah Wira. “Saya sama sekali masih tidak bisa mencoba memahami alasan Bapak bersikap aneh seperti ini. Saya juga tidak mengerti kenapa Bapak berani menjelekkan Pak Wisnu seperti itu. Kalau Bapak tahu bagaimana perjuangan Pak Wisnu menjalankan semuanya sampai bisa membesarkan TM Group seperti sekarang, Bapak tidak seharusnya begini. Jadi biarkan saya melakukan kewajiban saya dengan baik selama saya masih bekerja dan memiliki kontrak di sini.” “Tutup mulutmu itu!” Nadin masih menatap lurus kedua mata Wira. “Biarkan saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Pak. Dan biarkan saya merubah jalan pikir aneh Bapak itu.” Wira tersenyum sinis mendengar kalimat terakhir Nadin yang terdengar begitu percaya diri. “Kamu pikir apa yang bisa kamu lakukan untuk merubah jalan pikir saya yang menurut kamu aneh itu?” “Apa pun akan saya lakukan. Jadi biarkan saya melakukannya, Pak. Bapak boleh halangi saya, dan saya akan tetap melakukannya sampai Bapak yang menyerah dan pada akhirnya mau untuk mengembangkan hotel ini bersama-sama.” Nadin memutar tubuhnya, membuka pintu dan kembali menutup pintu ruangan Wira dengan menghasilkan bunyi debaman tanpa ia sengaja. Nadin menghela napas panjang. Saat ia menatap ke depan, rupanya semua pasang mata sedang menatapnya. Mungkin obrolan ia dengan Wira tadi terdengar sampai luar ruangan. “Bagaimana? Apa Pak Wira marah besar?” tanya Rizal yang sejak tadi berdiri di depan ruang kerja Wira. Alih-alih membalas, Nadin menolehkan kepala dan menatap pintu ruang kerja Wira dengan tatapan tajam. ‘Liat aja, akan gue buktiin kalau yang dia lakukan ke gue itu salah.’ ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD