*** Kupikir pagiku akan disuguhi oleh omelan Mbak Lia yang panjang kali lebar. Kupikir bernapas pun aku tak sanggup lantaran tak nyaman karena Mbak Lia memarahiku. Namun, diriku salah. Semua baik-baik saja meski keterkejutan menghampiriku usai bangun dari tidur lelapku. Mendapati Mas Azam tak lagi memelukku ketika mataku terbuka lebar adalah sesuatu yang mengecewakan. Aku mencari Mas Azam ke mana-mana, berharap ia ada di kamar mandi kamarku. Namun, lelaki itu tidak ada di sana. Buru-buru aku keluar kamar usai mencuci muka dan sholat subuh sendirian. Kucari Mas Azam, tapi tak juga terlihat batang hidungnya. Pagi sekali aku akhirnya bertemu Mbak Lia. Takut yang kurasakan tidak main, tetapi anehnya dia justru tersenyum ramah kepadaku. Mulutnya menyebut nama Mas Azam dengan mesra. “Gitu d

