Ketika pagi tiba, Sagita memutuskan untuk pergi dari rumah kayu dan berjalan-jalan di luar. Seorang diri Sagita berjalan menelusuri pulau itu, ternyata cukup banyak orang yang menghuni pulau itu, yang tanpa sengaja berpapasan dengan Sagita. Mereka juga terlihat sangat ramah. Mereka bersikap sopan dan Sagita membalas mereka dengan tak kalah sopannya.
“Nona sedang liburan di sini ya?” Tanya seorang ibu yang tanpa sengaja berpapasan dengan Sagita. Ibu itu menenteng sebuah kantong hitam di tangan kanannya, sepertinya baru saja berbelanja.
“Iya, Bu,” jawab Sagita disertai senyum.
“Kapan tiba di pulau ini?”
“Hm, kemarin lusa.”
Sang ibu mengangguk-anggukan kepala.
“Datang ke sini bersama siapa?”
Sagita tertegun sejenak, sedikit ragu untuk menjawab bahwa dirinya datang bersama sang suami. Tapi di sisi lain, dia juga tak ingin berbohong pada ibu itu.
“Saya datang bersama suami, Bu.” Akhirnya Sagita memilih untuk menjawab dengan jujur.
“Waah, sedang berbulan madu ya?”
Sagita tekekeh kecil sembari mengangguk pelan, “Begitulah, Bu.”
“Mana suamimu?”
Kini Sagita mematung di tempat. Sudah dia duga seharusnya tadi tak menjawab yang sejujurnya. Lihatlah, kini si ibu menanyakan Orion dan Sagita kembali dibuat kebingungan untuk menjawabnya.
“Dia tidak ikut. Dia sedang istirahat di rumah kayu.” Hingga tak ada pilihan bagi Sagita selain mengarang cerita bohong. Hatinya merasa bersalah pada ibu yang ramah itu, tapi dia juga mustahil mengatakan yang sejujurnya bahwa sang suami pergi mencampakannya karena lebih memilih menghabiskan waktu bersama wanita lain.
“Oh begitu. Lain kali ajak suamimu jalan-jalan bersama. Di sini banyak pemandangan indah. Terutama lautnya.”
“Oh iya, di sini lautnya luas ya, Bu?” Tanya Sagita, sang ibu meresponnya dengan anggukan.
“Pantainya lebih indah. Banyak pasir putih di sana. Kau dan suamimu bisa berjalan-jalan menelusuri pasir putih di pinggir laut.”
Wajah Sagita seketika berbinar senang. Dia jadi tidak sabar untuk melihat laut itu.
“Di sini memang banyak laut, tapi tidak semua ada pasir putihnya.” Si ibu kembali menjelaskan.
“Lalu di mana laut yang ada pasir putihnya, Bu?”
Ibu itu menggulirkan mata ke sekeliling, seolah sedang memastikan letak laut yang akan dia beritahukan pada Sagita.
“Di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah sebelah tenggara dari tempat mereka berdiri. “Pantainya penuh pasir putih. Tapi hati-hati jika kalian jalan-jalan di pinggir laut.”
“Memangnya kenapa, Bu?” Kening Sagita mengernyit, heran.
“Ombaknya kencang di sana. Hati-hati terseret ombak.”
Sagita ber-oh panjang sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Berapa lama kalian berbulan madu di sini?” Ibu itu kembali bertanya, untuk kesekian kalinya membuat Sagita bingung menjawabnya. Dia bahkan tak tahu sampai kapan dirinya dan Orion akan berlibur di pulau ini. Mereka belum sempat membahasnya dan Orion terlanjur pergi meninggalkannya.
“Belum tahu, Bu. Kami belum membahasnya,” jawab Sagita. Gantian ibu itu yang ber-oh pendek.
“Kalian harus mengunjungi semua tempat wisata di pulau ini. Di sebelah sana ...” Ibu itu menunjuk ke arah barat. “Ada laut yang airnya tenang, biasanya banyak turis yang menyelam. Banyak stand-stand yang menyewakan peralatan selam. Pemandangan di bawah laut sangat indah, kau dan suamimu harus melihatnya.”
“Waah, aku tidak sabar ingin melihatnya, Bu,” sahut Sagita sembari tersenyum lebar. Kedua matanya berbinar takjub.
“Di sini juga ada pasar tradisional. Kalian bisa membeli pernak-pernik buatan tangan penduduk di sini. Bisa kalian jadikan oleh-oleh untuk keluarga dan teman.”
Sagita mengangkat ibu jarinya. “Hebat. Aku pasti mengunjungi pasar itu nanti dan banyak belanja souvenir di sana.”
“Kuliner di sini juga banyak ragamnya. Kami memiliki banyak makanan khas pulau ini. kalian harus mencicipinya karena rasanya sangat enak,” kata ibu itu kembali merekomendasikan sambil menyentuh lengan Sagita pelan.
“Makanan ya? Kebetulan aku memang senang makan. Nanti aku pasti berburu kuliner di sini.”
“Ya, harus itu,” timpal sang ibu. “Ya sudah, silakan lanjutkan jalan-jalannya. Maaf, jadi mengganggu.”
Sagita dengan cepat menggelengkan kepala, “Tidak mengganggu. Justru aku berterima kasih karena ibu mau merekomendasikan banyak tempat indah di pulau ini.”
Si ibu terkekeh, “Iya, sekalian promosi. Kalau pulau ini semakin ramai didatangi turis kan, kami juga yang diuntungkan.”
Sagita mengangguk paham, si ibu itu akhirnya berpamitan dan mereka pun berpisah.
Meskipun di kelilingi pemandangan yang indah yang sangat memanjakan mata, saat Sagita sedang sendirian seperti ini, dirinya sama sekali tidak merasa senang. Orion masih tetap menguasai pikirannya. Sagita ingin mencari tahu kemana suaminya itu pergi hingga dengan tega tidak memberinya kabar hingga detik ini.
Sagita terus berjalan seorang diri menuju arah tenggara seperti yang ditunjukan sang ibu. Dirinya ingin melihat laut yang katanya dipenuhi pasit putih di pantainya. Dan benar saja, sesampainya dia di sana, memang ada laut indah yang membentang luas. Airnya begitu jernih hingga dari kejauhan pun, Sagita bisa melihat warna airnya yang biru layaknya langit di atas sana.
Sagita tersenyum semringah sembari melangkahkan kaki untuk mendekati laut. Setelah jaraknya dengan laut tak terlalu jauh, betapa terkejutnya dia ketika melihat Orion sedang bersama wanita itu. Mereka terlihat tertawa bersama sambil bermain-main di pinggir laut. Mereka bermain kejar-kejaran sambil sesekali memainkan air laut.
Sagita meremas d**a kirinya saat melihat Orion yang berhasil menangkap wanita itu, lalu memeluknya erat. Bukan hanya itu, meski dari kejauhan Sagita bisa melihat dengan jelas mereka kini sedang berciuman mesra. Ciuman yang panjang dan dalam hingga tanpa sadar air mata Sagita merembes keluar saat melihatnya.
Hanya dengan melihat kedekatan dan kemesraan mereka, cukup membuat Sagita sadar bahwa mereka saling mencintai. Sagita sadar bahwa tidak ada kesempatan untuknya menarik perhatian Orion, karena hanya dengan melihat penapilan wanita itu, Sagita menyadari dia tidak mungkin bisa mengalahkannya. Sagita sudah kalah telak sebelum mereka bertarung.
Jika membandingkan penampilan Sagita dan wanita itu memang bagai langit dan bumi. Wanita itu memiliki tubuh tinggi dan jenjang layaknya super model. Pasti tubuhnya dirawat sebaik mungkin hingga lekuk tubuhnya tercetak sempurna. Sebagai sesama wanita, Sagita iri saat melihat tubuh ideal wanita itu. Parasnya juga begitu cantik. Wanita itu memiliki rambut panjang yang sengaja dicat dengan warna sedikit kemerahan. Rambutnya lurus hingga menyentuh pinggang. Iris matanya pun sangat indah, berwarna kehijau-hijauan sepertinya dia blasteran. Wajahnya yang memang sudah cantik selalu dipoles dengan make up yang pas, membuat kecantikannya semakin menguar.
Bibir wanita itu selalu dipoles dengan lipstik merah merona. Tentu saja semua pria termasuk Orion, akan terpikat melihat kecantikan wanita itu. Sagita tak heran jika pria seperti Orion tertarik padanya. Selain cara berpakaian wanita itu yang glamour namun elegan, cara wanita itu bersikap juga membuat Sagita menciut. Jika dibandingkan dengan Sagita yang pemalu, wanita itu sungguh agresif dan pemberani. Lihatlah, bahkan dengan tidak tahu malunya dia menyusul Orion ke pulau ini. Dia bahkan berani mendatangi rumah kayu mereka dan secara terang-terangan berciuman dengan Orion di depan Sagita saat di rumah kayu. Wanita itu bahkan dengan teganya membawa Orion pergi di saat seharusnya Orion menghabiskan waktunya bersama Sagita. Padahal ini bulan madu mereka. Kenapa wanita itu harus datang mengganggu? Memikirkan itu selalu membuat Sagita kesal dan marah.
Coba bandingkan dengan penampilan Sagita yang begitu sederhana. Rambut panjangnya selalu Sagita kepang menjadi dua layaknya gadis desa. Sebenarnya Sagita selalu mengepang rambutnya karena secara alami rambutnya memang sedikit ikal. Sagita tak suka jika rambutnya berantakan karena itu mengepangnya merupakan keputusan tepat agar tidak perlu repot-repot mengurusi rambut saat pergi keluar rumah. Sagita juga tak pandai berdandan, dia tak pernah memoles apa pun di wajahnya selain bedak tipis. Bibirnya pun hanya diolesi pelembab bibir agar tidak kering. Seumur hidupnya, mungkin saat dirinya menikahlah untuk pertama kalinya mengenakan lipstick.
Sagita juga begitu hobi membaca hingga matanya minus. Salah satu alasan yang membuatnya selalu mengenakan kacamata. Dan julukan gadis norak mungkin memang cocok disematkan untuk Sagita. Gadis itu selalu mengenakan pakaian sederhana yang sama sekali tak menunjukan bahwa dirinya anak konglomerat sukses. Sagita lebih sering mengenakan pakaian terusan dibandingkan pakaian modis layaknya wanita dewasa seusianya. Seperti saat ini contohnya, di saat wanita itu mengenakan celana pendek super seksi hingga bokongnya nyaris terlihat berserta atasan yang kaos tipis tanpa lengan yang membuat kulit putihnya terekspos jelas. Sagita hanya mengenakan setelan berwarna peach dengan panjang roknya mencapai lutut. Rambutnya dikepang seperti biasa dengan kacamata minus yang bulat dan tebal, membungkus kedua matanya. Sekarang wajar jika Sagita merasa kalah telak dari wanita asing itu.
Melihat kegembiraan Orion dan wanita itu membuat hati Sagita semakin sakit, karenya kini Sagita tidak bisa berpikir jernih. Tanpa Sagita sadari, dia berjalan semakin mendekati Orion dan wanita itu yang sedang bermain air di pinggir laut. Sagita terus berjalan memasuki air laut untuk mendekati mereka. Gadis itu bahkan melupakan fakta bahwa dirinya sama sekali tidak bisa berenang.
Sagita terus berjalan dan menatap ke arah Orion dan wanita itu tanpa menyadari sebuah ombak yang cukup besar mendekat ke arahnya. Deburan ombak sangat besar dan kuat sehingga Sagita terbawa oleh ombak itu. Tubuh Sagita terseret hingga ke tengah laut, memasuki area yang cukup dalam. Sagita yang tidak bisa berenang itu, mulai panik ketika menyadari kakinya tidak menginjak tanah. Sagita meronta-ronta karena dia nyaris tenggelam.
"To ... tolong a ... ku ..."
Air laut itu membuat Sagita semakin nyaris tenggelam. Suaranya bahkan tak bisa keluar karena air masuk ke dalam mulutnya. Di dalam hati, Sagita terus berharap ... berharap Orion akan menyadari kehadirannya yang tengah dalam bahaya itu. Sagita berharap Orion akan menyelamatkannya, meskipun dia tahu hal itu rasanya sangat mustahil. Tidak mungkin pria yang sedang bersenang-senang dengan sang kekasih itu bisa mendengar teriakan minta tolong Sagita dari jarak sejauh itu. Tidak ada yang bisa Sagita lakukan sekarang selain pasrah menerima takdir hidupnya. Termasuk jika tenggelam ke dalam laut merupakan nasibnya, Sagita hanya bisa menerima seandainya inilah saat ajalnya menjemput.
***
Orion sangat senang karena sang kekasih datang menyusulnya ke pulau itu. Sebenarnya ... sebelum berangkat bersama Sagita, Orion memberitahukan tentang pulau itu pada kekasihnya. Tanpa menyuruhnya untuk datang pun, Orion tahu bahwa sang pujaan hati akan datang menyusulnya ke pulau itu.
Seharian itu Orion menghabiskan waktu dengan kekasihnya, dia merasa sangat bersalah pada wanita itu atas pernikahannya dengan Sagita. Untuk menebus rasa bersalahnya itulah, Orion menghabiskan waktu seharian bahkan semalaman dengan kekasihnya.
Hari ini pun, Orion mengajak kekasihnya untuk bermain di pinggir laut. Mereka sudah berpacaran cukup lama, Orion sudah memahami betul kepribadian dari kekasihnya. Tentu saja Orion juga mengetahui bahwa sang kekasih sangat menyukai laut dan pantai. Karena alasan itulah Orion mengajaknya bermain di pinggir laut.
Banyak hal yang mereka lakukan di pinggir laut. Meskipun bagi Orion tindakannya ini sangat kekanak-kanakan, tapi dia sama sekali tidak menolak ketika kekasihnya menarik tangannya memasuki air laut untuk bermain air. Melihat tawa riang di wajah wanita yang dicintainya, ketika Orion menyiramkan air laut ke wajah cantiknya, tentu saja membuat Orion sangat gembira. Merasa dirinya berhasil menebus kesalahannya pada sang kekasih karena telah menikahi wanita lain. Ya, walaupun Orion sudah menjelaskan alasannya menerima pernikahan itu, tetap saja hatinya merasa bersalah.
Namun, tiba-tiba sebuah ombak besar mendekat dan menyeret mereka ke tengah laut. Tapi hal itu justru membuat Orion dan kekasihnya semakin gembira, mereka berdua sangat pandai berenang sehingga mudah saja bagi mereka untuk berenang kembali ke pinggir laut.
"Hahaha ... sangat menyenangkan ya, Orion. Aku senang kau mengajakku kemari," ucap wanita itu sembari merangkul pinggang Orion dengan posesif.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Orion, dia mengusap pipi mulus kekasihnya yang sedang tertawa lebar itu.
"Ayo, kita pergi. Aku lapar," ajak si wanita sembari mengecup ujung bibir Orion.
"Hmmm, baiklah."
Sambil bergandengan tangan dengan kekasihnya, Orion berjalan ke daratan. Namun ... entah kenapa dia merasa ada seseorang yang memanggil namanya. Orion menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, namun dia sama sekali tidak melihat apa pun selain lautan yang membentang luas.
"Ada apa, Orion?" tanya wanita itu heran karena Orion terus memandangi laut seolah sedang mencari sesuatu.
"Ti-Tidak ada apa-apa. Ayo, kita pergi!"
Orion dan kekasihnya kembali melanjutkan langkah. Akan tetapi, sekali lagi Orion mendengar seseorang memanggil namanya. Orion pun berbalik badan dan kembali menatap ke laut.
"Kau kenapa, Orion? Dari tadi kau terus menatap ke belakang?"
"Apa kau tidak mendengarnya?"
Si Wanita mengernyitkan alis, tak paham. "Mendengar apa?" Tanyanya.
"Aku yakin ada seseorang yang memanggilku dari arah laut."
"Haah? Itu tidak mungkin, kan? Memangnya siapa yang memanggilmu dari laut? Itu hal yang mustahil."
Orion mengabaikan perkataan kekasihnya. Dia berjalan mendekati laut dan menajamkan mata menatap lautan itu. Hingga dia menyadari sesuatu, Orion melihat sepasang tangan sedang meronta-ronta. Dia menyadari ada seseorang yang nyaris tenggelam dan membutuhkan bantuannya.
Tanpa pikir panjang lagi Orion berlari dan berenang mendekati orang itu. Orion terus berenang hingga berhasil tiba di tengah laut. Dia menarik tangan orang itu dan membawanya ke pinggir laut. Betapa terkejutnya Orion ketika menyadari bahwa Sagitalah orang yang nyaris tenggelam tersebut. Orion membaringkannya di daratan dan mencoba menyadarkannya. Tapi mata Sagita tetap terpejam. Orion memompa d**a Sagita untuk mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuhnya. Orion pun memberikan napas buatan. Orion terus melakukan itu tanpa menyerah, hingga akhirnya Sagita kembali sadar dan memuntahkan semua air yang telah ditelannya.
"O-Orion ... kenapa kau ..." ucap Sagita, terkejut karena begitu membuka mata, sosok Orionlah yang dia lihat.
"BODOOOH! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI? KALAU KAU TIDAK BISA BERENANG SEHARUSNYA KAU TIDAK BERDIRI TERLALU DEKAT DENGAN AIR LAUT. UNTUNG AKU MENYADARINYA, JIKA TIDAK ... KAU PASTI SUDAH MATI TENGGELAM!!"
Kepanikan yang dirasakan Orion, membuatnya tanpa sadar membentak Sagita dengan sangat kencang.
"JAWAB AKU! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" Bentaknya lagi, kedua matanya berkilat marah. Mungkin karena terlalu khawatir melihat Sagita yang nyaris tak bisa dia selamatkan.
"Aku mengikutimu," balas Sagita dengan kepala tertunduk. Dia tak berani menatap wajah Orion yang terlihat tersulut emosi.
"APA? KENAPA KAU MENGIKUTIKU?!"
"AKU JUGA TIDAK TAHU!” Sagita balas membentak, kali ini dengan berani dia menatap tajam wajah Orion. “Aku juga tidak tahu ... kenapa aku mengikutimu. Kakiku bergerak dengan sendirinya." Air mata Sagita mengalir dengan deras, tidak ada yang bisa dilakukan Orion selain diam.
"Kau benar-benar bodoh," katanya sambil terduduk lemas di samping Sagita.
"Sudahlah, Orion. Jangan membentaknya terus, dia pasti sangat terkejut."
Mendengar kekasihnya mengatakan itu dan berjongkok di samping Sagita, Orion pun kembali berdiri.
"Namamu Sagita, kan?" Sagita menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan kekasih Orion.
"Ayo, kita kembali. Kau harus segera mengganti bajumu. Kau bisa masuk angin."
Dengan dibantu oleh kekasih Orion, Sagita mencoba untuk bangun tapi tiba-tiba tubuhnya oleng dan nyaris terjatuh. Dengan cepat Orion menahan tubuh Sagita. Orion tidak tega melihat tubuh gadis itu yang terlihat lemas, lalu tanpa meminta izin, dia memangku Sagita dan membawanya pulang ke rumah kayu.